NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Bisikan yang Tidak Memiliki Nama

Kabut tipis masih menggantung di Akademi Kerajaan Averion.

Langit pagi tampak pucat, seperti tidak sepenuhnya siap menyambut hari.

Aula utama dipenuhi para murid, namun suasananya tidak ramai seperti biasanya. Ada ketegangan halus yang tidak diucapkan siapa pun.

Hari ini adalah ujian elemen dasar.

Bukan pemanggilan.

Bukan kontrak.

Tapi pengukuran “resonansi mana”.

Di Akademi Kerajaan Averion, seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang ia miliki.

Tapi juga dari apa yang dunia “akui” dalam dirinya.

Sakura berdiri di antara murid kelas C.

Sendirian, seperti biasa.

Tidak ada yang mendekat.

Tidak ada yang mencoba berbicara.

Seolah jarak di sekitarnya bukan keputusan manusia, tapi sesuatu yang terbentuk secara alami.

Di sisi lain aula, Claudia berdiri dengan tenang.

Wajahnya sempurna seperti biasanya.

Namun kali ini, ada sesuatu yang sedikit berbeda dalam cara ia memperhatikan ruangan.

Bukan lagi sekadar merendahkan.

Tapi mengamati.

Peristiwa di pemanggilan binatang roh masih tersisa di ingatannya.

Bukan karena Sakura kuat.

Tapi karena sesuatu “tidak seharusnya terjadi” di sana.

“Selanjutnya, ujian elemen,” ucap pengawas utama.

Suaranya menggema di aula besar.

“Air, api, angin, dan tanah.”

“Resonansi mana akan diuji melalui lingkaran kristal.”

Satu per satu murid maju.

Api muncul stabil.

Air mengalir lembut.

Angin berputar ringan.

Tanah bergetar kuat.

Semua berjalan sesuai sistem.

Sesuai aturan.

Sesuai logika dunia.

Hingga—

“Berikutnya. Sakura.”

Suasana langsung berubah.

Bisikan muncul.

Seperti gelombang kecil yang menyebar cepat.

“Itu dia lagi…”

“Yang tidak punya mana…”

“Kenapa masih diuji?”

Sakura melangkah maju.

Tidak ragu.

Tidak juga berharap.

Hanya berjalan.

Ia berdiri di tengah lingkaran kristal.

Kristal itu tidak bersinar seperti peserta lain.

Hanya… diam.

Seolah tidak mengenali kehadirannya.

“Letakkan tanganmu di kristal,” ucap pengawas.

Sakura menurut.

Tangannya menyentuh permukaan kristal.

Dingin.

Kosong.

Detik pertama.

Tidak ada cahaya.

Detik kedua.

Tidak ada reaksi.

Detik ketiga—

retakan halus muncul di dalam kristal.

“Apa itu…?”

Pengawas langsung menegang.

“Bukan pola mana normal…”

Kristal itu tidak menyala.

Tidak juga hancur.

Tapi… seperti menolak sesuatu dari dalam Sakura.

Di dalam dirinya—

Sakura merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan panas.

Bukan dingin.

Tapi seperti “ruang kosong” yang bergerak.

“…Noctyra?”

Nama itu muncul di pikirannya lagi.

Namun kali ini—

tidak ada jawaban.

Dan untuk pertama kalinya—

ada sesuatu yang “menjawab” dari dalam dirinya sendiri.

Bukan suara.

Bukan makhluk.

Tapi getaran.

Sangat kecil.

Namun nyata.

Seperti sesuatu yang tidur di dalam dirinya… membuka satu mata.

Udara di sekitar Sakura berubah tipis.

Bukan tekanan.

Bukan aura.

Tapi distorsi halus.

Seperti dunia tidak sepenuhnya sinkron dengannya.

Beberapa murid mundur tanpa sadar.

“Aku… tidak nyaman…”

“Kenapa rasanya seperti ruangnya salah…”

Claudia mengernyit.

Matanya sedikit menyipit.

“…lagi.”

Fuko menatap kristal.

“Itu bukan mana.”

Yuki perlahan berkata pelan.

“Bukan juga ketiadaan…”

“Ini sesuatu yang tidak punya kategori.”

Kristal itu akhirnya berhenti bergetar.

Lalu—

diam.

Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Pengawas utama terdiam lama.

“…tidak dapat diukur.”

Kalimat itu jatuh berat.

“Resonansi tidak termasuk dalam sistem elemen.”

Bisik-bisik langsung pecah.

“Tidak terukur?”

“Apa maksudnya itu?”

“Dia benar-benar tidak punya mana?”

Sakura menarik tangannya.

Pelan.

Matanya sedikit menurun.

Namun tidak ada emosi besar.

Hanya… pemahaman baru.

“Aku tidak kosong…”

gumamnya dalam hati.

“…aku hanya tidak termasuk.”

Di sisi lain—

Claudia akhirnya berbicara.

“Jadi ini bukan ketidakmampuan.”

Suaranya dingin.

“Tapi kesalahan sistem.”

Ia melangkah sedikit ke depan.

Matanya menatap Sakura.

Namun bukan lagi seperti melihat sampah.

Tapi seperti melihat sesuatu yang mengganggu tatanan.

“Menarik.”

Tapi bukan pujian.

Lebih seperti peringatan.

Fuko tersenyum tipis.

“Kalau tidak bisa diukur…”

“berarti dia di luar sistem.”

Yuki tidak tersenyum.

Hanya diam.

“Di luar sistem… atau tidak berasal dari sistem yang sama.”

Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah.

Sakura berbalik.

Kembali ke barisan.

Namun kali ini—

jarak yang dibuat orang-orang bukan hanya karena jijik atau takut.

Tapi karena ketidakpahaman.

Dan sesuatu yang tidak dipahami manusia…

selalu dianggap berbahaya.

Di dalam dirinya—

Sakura merasakan sesuatu lagi.

Sangat pelan.

Seperti bisikan jauh.

Bukan suara.

Bukan kata.

Hanya… kesadaran yang tidak dikenal.

“…kau mulai bangun?”

Ia tidak tahu dari mana itu berasal.

Tidak tahu apakah itu dirinya.

Atau sesuatu di dalam dirinya.

Tapi satu hal jelas.

Ini bukan lagi tentang mana.

Bukan lagi tentang elemen.

Ini tentang sesuatu yang bahkan Akademi Kerajaan Averion…

tidak pernah dipersiapkan untuk menghadapinya.

Dan di kejauhan—

Claudia menatap Sakura sekali lagi.

Lebih lama dari sebelumnya.

“Dia bukan kosong…”

gumamnya pelan.

“…dia hanya belum menjadi sesuatu.”

---------

Hai semua

mimin mau bilang maaf dulu jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.

Jangan terlalu berharap ya

Mimin baru mencoba kembali setelah beberapa lama..

terima kasih🥰🥰🥰

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!