NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHAR DI ATAS PUSARA

Langkah kaki yang terburu-buru bergema di koridor rumah sakit, memecah keheningan yang mencekam setelah kepergian Muzammil. Maheer berdiri mematung di sudut lorong, kemejanya masih bercak darah kering yang mulai menghitam. Dari kejauhan, seorang wanita berlari kecil sambil mendekap erat seorang anak laki-laki.

Maheer terpaku. Penampilan wanita itu telah berubah drastis dari ingatannya lima tahun lalu. Assel Salsabila kini mengenakan hijab panjang yang membingkai wajahnya yang pucat. Tanpa sapuan kosmetik sedikit pun, kecantikan alaminya justru terpancar lebih kuat, meski kini tertutup oleh kabut ketakutan. Assel melewati Maheer begitu saja seolah pria itu tidak ada, matanya hanya tertuju pada pintu ruang IGD yang tertutup rapat.

Brak!

Assel menerobos masuk. Langkahnya mendadak gontai saat melihat sebuah ranjang di tengah ruangan. Tubuh di atasnya telah tertutup kain putih dari ujung kaki hingga kepala. Dunia seolah runtuh seketika. Ia menurunkan Razka dari gendongannya dengan tangan gemetar.

"Ini tidak mungkin. Tidak, Mas Muzammil tidak mungkin..." bisik Assel parau.

Ia mendekat perlahan, jemarinya yang dingin meraih ujung kain putih itu. Begitu wajah pucat Muzammil terlihat, tangisnya pecah tanpa suara. Assel mengguncang bahu kaku itu dengan putus asa.

"Bangun, Mas! Jangan bercanda seperti ini! Kau janji akan menjemput kami untuk makan siang, kan? Bangun!"

Hening. Tidak ada napas, tidak ada senyum yang biasanya menyambutnya.

"Mas Muzammil! Bangun Mas!" jerit Assel histeris. Ia memeluk tubuh tak bernyawa itu, meraung hingga suaranya serak. Kesedihan yang teramat dalam membuat oksigen di paru-parunya seolah habis. Seketika, tubuhnya melemas dan ia terkulai pingsan di samping ranjang suaminya.

"Mama! Mama bangun!" Razka menangis kencang, menarik-narik ujung hijab ibunya.

Maheer segera masuk dan menyambar tubuh Assel sebelum menghantam lantai. Ia mengangkat wanita itu dengan perasaan berkecamuk. Ada rasa asing yang menyengat saat kulitnya bersentuhan dengan Assel, namun ia segera menepisnya. Ia menyerahkan Assel ke penanganan medis, sementara jenazah kakaknya segera dipersiapkan untuk dibawa pulang.

Beberapa jam kemudian, di dalam ruang perawatan, Assel perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah Maheer yang duduk di samping ranjangnya sambil memangku Razka yang tertidur kelelahan. Tanpa aba-aba, Assel bangkit dan merenggut paksa infus di tangannya hingga darah segar menetes.

"Berikan anakku!" desis Assel, merebut Razka dari pangkuan Maheer.

Maheer berdiri, wajahnya kembali mengeras. "Kau belum pulih, Assel."

Assel menatap lurus ke depan, enggan melihat wajah pria yang selalu menghinanya itu. "Apakah sekarang kau puas? Bukankah ini keinginanmu sejak dulu? Memisahkan kami dan melenyapkan Mas Muzammil dari pengaruhku?"

Maheer tertegun. Kata-kata itu menghujam jantungnya seperti belati. Sebelum ia sempat membalas, Assel sudah melangkah pergi dengan sisa tenaga yang ada, menggendong putranya keluar dari ruangan itu.

Tiba-tiba, suara Muzammil di parkiran tadi kembali terngiang di telinga Maheer. Jangan sampai kau menyesal karena telah menyalahkan orang yang tidak bersalah. Benarkah semua kebenciannya selama ini hanyalah hasil fitnah teman-temannya?

Mansion keluarga Arasyid sudah dipenuhi pelayat. Kolega bisnis Muzammil memadati halaman, memberikan penghormatan terakhir bagi pemimpin perusahaan besar yang disegani itu. Prosesi berjalan cepat. Setelah disholatkan, jenazah segera dibawa ke pemakaman keluarga saat matahari mulai condong ke barat.

Tanah merah itu akhirnya menutup liang lahat Muzammil. Satu persatu pelayat pulang setelah ustadz selesai memimpin doa. Kini hanya tersisa keluarga inti, sang Ayah, Maheer, dan kakak perempuan Maheer. Ibu mereka masih terbaring di rumah sakit, tidak diberitahu tentang pemakaman ini demi keselamatannya.

"Assel, ayo pulang, Dek. Hari sudah hampir gelap," bujuk kakak perempuan Maheer lembut.

Assel menggeleng pelan. Ia bersimpuh di samping gundukan tanah yang masih basah, memeluk Razka yang tertidur pulas dalam dekapannya. "Biarkan aku di sini sebentar lagi, Kak. Aku ingin menemani suamiku."

Maheer menatap pemandangan itu dengan dada sesak. Ia berpaling ke arah ayah dan kakaknya. "Ayah pulanglah dulu dengan Kakak. Biar aku yang mengurus sisanya di sini."

Setelah mereka pergi, suasana pemakaman menjadi sunyi senyap. Hanya suara terdengar suara Isak Assel dan gesekan daun kamboja yang tertiup angin sore. Maheer berdiri beberapa langkah di belakang Assel, menatap punggung wanita itu dengan tatapan dingin yang dipaksakan.

"Besok jam sembilan pagi, bersiaplah. Kita harus ke kantor KUA," ujar Maheer tiba-tiba dengan suara ketus.

Bahu Assel menegang. Ia tidak menoleh sedikit pun. "Apa maksudmu?"

"Ini bukan keinginanku. Kak Muzammil memberikan wasiat sebelum napas terakhirnya. Dia menyuruhku menjagamu dan anakmu," jawab Maheer datar. "Satu-satunya cara agar kau tetap dalam lindungan keluarga Arasyid adalah dengan menikahiku."

Assel perlahan berdiri, memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan. Matanya yang sembab menatap Maheer dengan sorot kebencian yang sama besarnya dengan yang dimiliki pria itu.

"Itu tidak perlu," jawab Assel ketus. "Aku bisa menjaga diriku dan anakku sendiri tanpa bantuan pria yang menganggapku ular."

Maheer maju selangkah, menipiskan jarak di antara mereka. "Bagus kalau kau merasa sehebat itu. Tapi kau lupa satu hal, Assel."

Maheer mencengkeram lengan Assel saat wanita itu hendak melangkah pergi. "Serahkan hak asuh Razka pada kami. Secara hukum dan status keluarga, kami adalah pihak yang paling berhak atas darah daging Muzammil. Kau tidak punya harta, tidak punya pekerjaan, dan tidak punya dukungan."

"Kau mengancamku?" suara Assel bergetar karena marah.

"Ini pilihan, bukan ancaman. Menikahlah denganku dan kau tetap bisa menjadi ibu bagi Razka, atau tolak aku dan kau tidak akan pernah punya kesempatan melihat anakmu lagi selamanya. Arasyid tidak akan membiarkan pewarisnya hidup menderita dengan wanita miskin sepertimu."

Assel terengah, matanya berkaca-kaca menahan amarah yang meledak. Di bawah langit senja yang mulai menggelap, di atas pusara pria yang paling mereka cintai, sebuah janji pernikahan yang lebih mirip dengan vonis penjara baru saja diucapkan.

"Kau benar-benar iblis, Maheer," bisik Assel tajam.

Maheer hanya menatapnya tanpa ekspresi, meski di dalam hatinya, rasa bersalah dan benci sedang berperang hebat. "Aku tunggu jawabanmu besok pagi. Jangan terlambat jika kau masih ingin Razka memanggilmu Mama."

1
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
Nur Halida
berarti maheer amat sangat bodoh banget sekali😁
Nur Halida
kok bisa langsung menikah ya bukannya nunggu masa iddah dulu baru boleh menikah??walau selama masa iddah gak akan di sentuh ..
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah
Nana Biella
semangat untuk semuanya
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪
Lia siti marlia
mudah mudahan kedepannya baik santi mertua assel berubah mau menerima assel dengan tangqn terbukq begitu jugq si bayi kolot pasti bentar lagi bakalan bucin tuh bayi kolot🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!