"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"
Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.
Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!
Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Saat Dunia Mulai Terbangun
Raungan mesin jet tempur memenuhi hanggar bawah tanah Svalbard Sanctuary. Suara logam beradu, roda pengunci terbuka, dan lampu merah darurat berkedip di sepanjang lorong baja yang dingin. Di luar pintu peluncuran, badai salju menggila seperti ingin menelan seluruh gunung es tempat fasilitas itu berdiri.
Lin Qingyan duduk di kursi pilot dengan tubuh tegak. Sabuk pengaman melintang rapat di dadanya. Tangannya berada di atas panel kendali, namun jari-jarinya tetap tenang.
Tak ada getaran takut.
Tak ada keraguan.
Hanya sorot mata yang dingin dan fokus.
Wanita yang dulu dikenal sebagai istri Gu Beichen, malam ini berubah menjadi seseorang yang bahkan dirinya sendiri belum pernah kenal.
Professor Aris berdiri di samping kokpit terbuka sambil membawa sebuah kotak logam kecil. Wajah tuanya terlihat tegang, seolah ia sedang menyerahkan sesuatu yang tak seharusnya disentuh manusia biasa.
Ia membuka kotak itu perlahan.
Di dalamnya terbaring gelang hitam berlapis ukiran tipis berwarna emas. Simbol-simbol kuno bergerak samar seperti makhluk hidup.
“Ini penghubung saraf untuk sistem Dragon’s Breath,” ucap Aris pelan. “Mesin itu tidak dikendalikan dengan tombol biasa. Ia membaca niat, emosi, dan reaksi biologis operator.”
Qingyan mengulurkan tangan tanpa ragu.
“Risikonya?”
Aris menatapnya cukup lama.
“Jika tubuhmu ditolak, jaringan sarafmu bisa terbakar dari dalam.”
“Kalau diterima?”
“Kau akan menjadi satu dengan senjata itu selama beberapa menit.”
Qingyan memasang gelang tersebut di pergelangan tangan kanan. Logam itu langsung mengunci sendiri dan terasa dingin menusuk kulit.
“Aku hanya butuh beberapa menit.”
Aris menarik napas berat. “Nyonya Lin... pria seperti Gu Beichen selama ini melindungimu dari dunia gelap karena ia ingin kau hidup normal.”
Qingyan menatap lurus ke depan.
“Dan karena itu, sekarang giliranku melindunginya.”
Pintu kokpit menutup.
Mesin utama menyala.
Dalam satu hentakan keras, jet tempur Astra-X melesat ke depan, menembus lorong peluncuran dan keluar menuju badai salju.
Di ruang isolasi frekuensi, Chenyu berdiri di dekat ranjang kecil sambil memeluk Qingyu yang baru terbangun. Bayi itu tidak menangis. Ia hanya menatap langit-langit dengan mata bening yang terlalu tenang untuk anak seusianya.
Seluruh ruangan diterangi cahaya biru lembut dari dinding sensor.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Lampu di langit-langit berkedip cepat.
Monitor menampilkan gelombang acak.
Suhu ruangan turun drastis.
Chenyu menggigil. “Paman Aris bilang ruangan ini aman...”
Qingyu menoleh ke arahnya lalu tersenyum kecil.
Detik berikutnya, kedua mata bayi itu berubah putih bersih.
Chenyu membeku.
Dinding baja ruangan mendadak dipenuhi bayangan bergerak. Seperti proyektor tak terlihat sedang menampilkan kenangan dari masa yang bukan milik manusia.
Ia melihat langit berwarna ungu.
Menara kristal hitam menjulang di atas lautan.
Makhluk-makhluk bercahaya berdiri melingkar di sekitar inti energi raksasa.
Lalu semuanya runtuh.
Api jatuh dari langit.
Samudra terbelah.
Dan dunia tenggelam ke dalam kegelapan.
Chenyu mundur ketakutan.
“A-adik...?”
Suara kecil keluar dari mulut Qingyu, namun itu bukan suara bayi. Nada bicaranya datar dan berlapis, seperti banyak orang berbicara sekaligus.
“Penjaga telah bangun.”
Seluruh monitor meledak bersamaan.
Sementara itu, di tengah Samudra Pasifik, kapal Phoenix terombang-ambing di atas laut yang terlalu tenang.
Tak ada angin.
Tak ada ombak.
Tak ada suara mesin.
Keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada badai mana pun.
Gu Beichen berdiri di ujung dek dengan jas hitam yang masih berlumur darah. Kain kasa di matanya sudah dilepas. Penglihatannya belum pulih sepenuhnya, tetapi cukup untuk melihat sepuluh sosok berjubah perak berdiri di atas permukaan air.
Mereka tidak tenggelam.
Tidak bergerak.
Tidak menunjukkan tanda kehidupan.
Seolah dunia sedang menahan napas menunggu siapa yang akan menyerang lebih dulu.
Commander Phoenix terdengar dari earpiece.
“Tuan Gu, seluruh persenjataan siap menembak. Perintah Anda?”
“Jangan.”
Beichen melangkah maju satu langkah.
“Senjata manusia tidak akan menyentuh mereka.”
Salah satu Sentinel mengangkat tangan perlahan.
Tanpa ledakan, tanpa kilatan, seluruh kapal mati total.
Lampu padam.
Radar gelap.
Mesin berhenti.
Bahkan suara generator cadangan lenyap seketika.
Para kru panik.
Beichen justru tersenyum tipis.
“Setidaknya kalian sopan. Meminta duel tanpa gangguan.”
Ia menggigit telapak tangannya sendiri. Darah hitam menetes ke dek logam.
Namun kali ini darah itu tidak diam.
Cairan gelap tersebut merayap seperti ular hidup, menyebar ke seluruh lantai kapal dan membentuk pola melingkar yang rumit.
Aura dingin langsung memenuhi udara.
Para kru mundur ngeri.
Sentinel di tengah melangkah maju.
“Subjek inti ditemukan.”
Suaranya seperti gema dari ruang kosong.
“Planet ini akan direbut kembali.”
Beichen mengangkat kepala.
“Kalian datang terlambat.”
Tubuhnya menghilang dari tempat semula.
Ledakan udara terdengar sesaat kemudian.
Tinju Beichen menghantam wajah Sentinel pertama hingga sosok itu terpental menembus permukaan laut dan menciptakan kawah air raksasa.
Empat Sentinel lain menyerang bersamaan.
Mereka bergerak tanpa suara, terlalu cepat untuk ditangkap mata biasa.
Beichen berputar, menahan satu serangan dengan siku, menendang satu tubuh logam hingga melayang, lalu menangkap lengan musuh ketiga dan membantingnya ke dek kapal sampai baja retak.
Namun Sentinel keempat telah berada di belakangnya.
Sebuah telapak tangan menyentuh punggung Beichen.
Tubuh Beichen terlempar keras menembus ruang kendali kapal.
Kaca pecah berhamburan.
Api kecil mulai menyala.
Para kru menjerit.
Beichen berdiri dari reruntuhan sambil menghapus darah di bibirnya.
Ia tertawa pelan.
“Lumayan.”
Darah hitam di dek bergerak lebih cepat, naik ke tubuhnya seperti kabut cair dan membentuk garis-garis gelap di leher, dada, dan lengannya.
Matanya berubah merah.
Tekanan udara di sekitar kapal meningkat drastis.
Tujuh Sentinel yang tersisa mundur satu langkah bersamaan.
Untuk pertama kalinya, mereka merasakan ancaman.
Jet Astra-X menembus lapisan awan terakhir.
Qingyan melihat lautan gelap terbentang luas di bawah sana.
Lalu ia melihatnya.
Kapal Phoenix yang rusak.
Kilatan energi di atas ombak.
Dan seorang pria berdiri sendirian dikelilingi monster.
Beichen.
Dada Qingyan menegang.
Namun ia tak memberi waktu bagi emosinya untuk tumbuh.
“AI, aktifkan Dragon’s Breath.”
Sinkronisasi dimulai.
Arus listrik menjalar dari gelang di pergelangan tangannya ke seluruh tubuh. Saraf-sarafnya terasa terbakar. Napasnya tercekat.
Kecocokan genetik parsial terdeteksi.
Sinkronisasi 43%... 58%... 71%...
Matanya berair karena sakit.
Namun ia tetap menggenggam kemudi.
Sinkronisasi 89%.
Operator diterima.
Bagian bawah pesawat terbuka perlahan. Sebuah meriam panjang berlapis kristal merah muncul dari badan jet.
Di bawah, empat Sentinel menoleh ke langit bersamaan.
Seolah mengenali senjata kuno itu.
Qingyan mengunci target.
“Untuk keluargaku.”
Ia menekan pelatuk.
Langit malam seketika terbelah cahaya merah keemasan.
Sinar itu menghantam permukaan laut tepat di tengah formasi musuh.
Ledakan cahaya membutakan mata.
Air laut terangkat puluhan meter.
Kapal Phoenix terguncang hebat.
Ketika cahaya mereda, tiga Sentinel telah lenyap tanpa sisa.
Dua lainnya terpental jauh.
Beichen berdiri di tengah gelombang sambil menatap ke atas.
Suara Qingyan masuk ke earpiece miliknya.
“Kau masih hidup?”
Beichen mendecak pelan.
“Kubilang tetap di tempat aman.”
Qingyan mengarahkan jet berputar rendah di atas kapal.
“Dan aku bosan mendengarkanmu.”
Sudut bibir Beichen terangkat.
Di tengah perang, ia justru tersenyum.
Jauh di bawah lapisan es Sanctuary, retakan panjang membelah ruang purba yang terkubur jutaan tahun.
Rantai kristal hitam patah satu per satu.
Bongkahan es runtuh seperti hujan batu.
Di dalam kegelapan, sesuatu bergerak.
Sepasang mata emas terbuka perlahan.
Pupilnya vertikal.
Napas pertama makhluk itu keluar sebagai kabut panas yang melelehkan dinding es di sekitarnya.
Sensor terakhir fasilitas menyala satu kali, lalu menampilkan tulisan merah:
ENTITY IDENTIFIED
Di berbagai penjuru dunia, seluruh Sentinel yang baru bangkit mendadak berhenti bergerak.
Mereka menoleh ke arah utara.
Lalu menundukkan kepala.
Seolah menyambut penguasa yang baru saja terbangun.
Langit dunia mulai memerah.
Dan umat manusia belum tahu bahwa malam ini... sejarah lama sedang menagih kembali bumi yang pernah hilang.
BERSAMBUNG