NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 30

Untuk sesaat, Jason diam. Lalu senyumnya berubah lebih tipis, lebih dalam. “Kamu tidak boleh menolak,” katanya pelan. “Kalau kamu penasaran dengan sepatu kaca itu.”

Kalimat itu jatuh seperti ancaman yang dibungkus santai. Ella menegang. Jadi dia tahu. Sebelum ia sempat merespons suara lain masuk.

“Untuk apa kamu di sini?” Leo. Nada suaranya tajam, langkahnya cepat mendekat dari arah pintu samping rumah. Ia berhenti tidak jauh dari mereka, posisinya langsung jelas di antara Ella dan Jason, tanpa benar-benar berdiri di tengah.

Jason mendesis pelan, jelas tidak menyukai kehadiran itu. “Kenapa juga jaksa itu harus ada di sini…”

Leo menatapnya dingin. “Aku yang tanya dulu.” ia menegaskan.

Jason menghela napas seolah bosan, lalu membalas santai, “Harusnya aku yang bertanya. Kamu itu PNS, kan? Jam segini bukannya harusnya di kantor?”

Ia melirik jam tangannya dengan dramatis. “Kenapa di sini?” lanjutnya. “Atau jangan-jangan… kamu lagi korupsi waktu?”

Leo tidak terpancing, tapi tatapannya mengeras.

“Atau,” Jason menambahkan dengan senyum tipis, “kamu sedang menyelidiki calon kekasihku?”

Udara langsung berubah.

Leo melangkah sedikit lebih dekat. “Jangan main-main.”

Jason tertawa kecil. “Urusan hati aku tidak pernah main-main.”

Ketegangan itu nyaris pecah sampai suara lain tiba-tiba memotong.

“Wow.” Sisil. Ia muncul dari pintu rumah, langkahnya santai tapi matanya langsung berbinar melihat pemandangan di depannya. “Sepagi ini sudah ada dua pria tampan di halaman rumahku?” katanya dengan nada setengah menggoda, setengah penasaran.

Ia melirik Jason. Lalu ke Leo. Lalu kembali ke Ella. “Ini aku yang ketinggalan cerita… atau memang kamu yang terlalu cepat?” lanjutnya, senyumnya tipis tapi penuh arti.

Ella menghela napas pelan, merasa situasi itu semakin rumit.

Jason justru tersenyum lebih lebar, tidak terganggu sedikit pun. “Aku suka rumah ini,” katanya santai. “Selalu ramai.”

Leo tidak menanggapi. Matanya tetap pada Jason. Dan di antara mereka Ella berdiri. Bukan lagi di tengah percakapan biasa. Tapi di tengah sesuatu yang mulai terasa seperti perebutan. Bukan hanya tentang kebenaran. Tapi tentang siapa yang akan lebih dulu mengambil langkah berikutnya. Dan kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar mundur.

Keheningan yang muncul setelah itu bukan keheningan yang tenang, melainkan yang penuh tekanan, seolah setiap orang sedang menunggu siapa yang akan bergerak lebih dulu.

Sisil masih berdiri di ambang pintu dengan senyum yang sulit ditebak, matanya berpindah-pindah antara Leo dan Jason seperti sedang menikmati tontonan yang jarang ia dapatkan. Sementara itu, Ella bisa merasakan jelas situasi ini sudah tidak lagi netral.

Jason memecahnya lebih dulu. “Jadi,” katanya santai, melirik Leo tanpa benar-benar kehilangan fokus pada Ella, “kamu selalu muncul setiap kali aku mulai bicara serius?”

Leo tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tajam, tidak bergeser sedikit pun. “Kalau kamu menyebut itu serius, aku mulai khawatir standar kamu terlalu rendah.”

Sisil terkekeh kecil di belakang, jelas menikmati pertukaran itu.

Jason menghela napas pendek, lalu menggeleng pelan. “Kamu ini menarik. Selalu ingin jadi yang paling benar di ruangan.”

“Aku tidak perlu jadi yang paling benar,” balas Leo dingin. “Cukup tahu mana yang salah.”

Kalimat itu jelas diarahkan. Jason tersenyum tipis, tapi kali ini tidak sepenuhnya santai. Ada sesuatu yang lebih tajam di baliknya.

“Kalau begitu kamu harusnya tahu,” katanya pelan, “kamu lagi berdiri di tempat yang bukan wilayahmu.”

Udara kembali menegang. Ella bisa merasakan arah percakapan itu mulai berubah, bukan lagi sekadar sindiran, tapi penentuan posisi. “Cukup,” potong Ella tiba-tiba.

Semua mata langsung beralih padanya. Ia melangkah sedikit ke depan, cukup untuk menarik kembali kendali yang mulai lepas.

“Ini rumahku,” lanjutnya, suaranya tidak keras, tapi jelas. “Kalau kalian mau bicara… kalian bicara dengan benar. Bukan saling lempar kode seperti ini.”

Sunyi. Beberapa detik. Jason menatapnya, lalu tersenyum lebih lembut dari sebelumnya, tapi justru terasa lebih berbahaya. “Aku suka itu,” katanya. “Kamu mulai ambil kendali.”

Leo tidak mengatakan apa-apa, tapi jelas tidak menyukai nada itu.

Ella tidak menanggapi pujian itu. Ia langsung ke inti. “Kamu mau apa?” tanyanya pada Jason. Langsung. Tanpa basa-basi.

Jason tidak menjawab segera. Ia melangkah sedikit lebih dekat, tapi kali ini tidak melewati batas yang tadi sempat ia langgar. “Kamu,” katanya akhirnya.

Sederhana. Tapi cukup untuk membuat suasana kembali menegang.

Ella mengangkat alis. “Itu jawaban yang terlalu mudah.”

“Justru yang paling jujur biasanya sederhana,” balas Jason.

Leo menghela napas pendek, jelas mulai kehilangan kesabaran. “Kalau kamu tidak punya urusan jelas, kamu pergi sekarang.”

Jason meliriknya, lalu tertawa kecil. “Kamu ini lucu. Selalu merasa punya hak untuk mengatur." Lalu ia kembali ke Ella, nada suaranya berubah sedikit lebih serius. “Kamu penasaran, kan?” katanya. “Tentang itu.” Ia menyentuh kalung di lehernya sepatu kaca kecil itu berkilau di bawah cahaya pagi.

Tatapan Ella tidak bisa disembunyikan kali ini. Jason melihatnya. Dan itu cukup.

“Aku bisa jawab semua pertanyaan kamu,” lanjutnya pelan. “Tapi bukan di sini.”

Ella tidak langsung menjawab. Pikirannya bergerak cepat. Kesempatan. Atau jebakan.

“Kamu mau aku ikut kamu?” tanyanya akhirnya.

Jason tersenyum. “Aku lebih suka kamu memilih sendiri.”

“Tidak,” potong Leo tegas. “Dia tidak ke mana-mana dengan kamu.” Nada itu tidak lagi netral. Itu larangan.

Jason menoleh perlahan ke arah Leo, matanya menyipit sedikit. “Kamu terlalu sering bicara untuk orang yang tidak dia pilih.” Kalimat itu sengaja. Dan berhasil.

Sisil langsung menahan napas kecil, jelas menikmati arah baru ini.

Ella mengangkat tangannya sedikit, menghentikan potensi ledakan sebelum benar-benar terjadi. “Aku belum bilang iya,” katanya tenang.

Jason kembali menatapnya.

“Dan aku juga belum bilang tidak,” lanjut Ella. Hening. Kali ini lebih dalam.

Jason tersenyum puas.

Leo mengatupkan rahangnya, tapi tidak berkata apa-apa. Dan di antara mereka, sesuatu berubah lagi. Bukan keputusan. Belum. Tapi arah.

“Aku kasih kamu waktu,” kata Jason akhirnya. “Pikirkan baik-baik.” Ia mundur satu langkah, lalu dua, sebelum akhirnya berbalik. “Karena setelah ini,” tambahnya tanpa menoleh, “kamu nggak akan bisa pura-pura nggak tahu lagi.” Langkahnya menjauh. Meninggalkan halaman itu dengan cara yang sama seperti ia datang tanpa suara yang berarti, tapi dengan dampak yang tertinggal.

Sunyi kembali turun.

Sisil menghela napas panjang. “Aku nggak tahu kamu lagi main di level apa sekarang…”

Tidak ada yang menjawab. Leo masih berdiri di tempatnya, matanya sekarang beralih ke Ella. Lebih serius. Lebih dalam. “Jangan ikut dia,” katanya pelan. Bukan perintah. Tapi peringatan.

Ella tidak langsung membalas. Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar mempertimbangkan. Dan itu yang paling berbahaya.

***

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!