Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
***
Malam di Paris seolah sengaja melambat untuk memberi ruang bagi ketegangan yang menyesakkan di dalam suite mewah Hotel Plaza Athénée. Setelah makan malam yang penuh dengan aroma kemenangan hukum di tepi Seine, suasana kembali menjadi sunyi dan kaku begitu pintu kamar tertutup rapat, menyisakan mereka berdua dalam keheningan yang sarat akan antisipasi.
Karina berdiri di balkon, membiarkan angin musim dingin Paris menerpa wajahnya yang terasa panas. Di kejauhan, Menara Eiffel berpendar keemasan, cahaya lampunya seolah mengejek kegelisahan yang melanda batinnya. Ia meremas pagar balkon besi yang dingin, mencoba menunda waktu selama mungkin. Pikirannya melayang pada map hitam di restoran tadi tentang betapa besarnya kekuatan pria yang kini menjadi suaminya itu, dan betapa besarnya "harga" yang harus ia bayar malam ini.
Tuk. Tuk.
Suara langkah kaki yang mantap terdengar di atas karpet tebal, mendekat ke arah balkon. Karina tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma sandalwood yang dominan dan maskulin sudah lebih dulu memberitahunya.
"Paris adalah kota saksi, Karina. Jangan biarkan pemandangan di luar sana membuatmu lupa bahwa malam ini kita punya janji yang belum ditunaikan," suara bariton Darma terdengar rendah, bergetar tepat di belakang tengkuknya, mengirimkan gelombang listrik ke sepanjang tulang belakang Karina.
Darma muncul di sisi Karina, gerakannya perlahan namun sangat terarah. Pria itu melepas jam tangan Richard Mille-nya, meletakkannya di atas meja kecil balkon dengan denting yang terdengar seperti lonceng peringatan. Satu per satu, kancing kemeja putihnya dilepaskan dengan tenang, menampilkan leher dan sedikit bagian dadanya yang tegap dan kokoh.
"Saya tidak ingin mendengar kata 'kontrak' keluar dari bibirmu malam ini," lanjut Darma, kini meraih bahu Karina dan memutar tubuh wanita itu agar menghadapnya. "Di restoran tadi, saya sudah membuktikan bahwa saya adalah pria yang menepati janji. Sekarang, saya ingin kamu menyadari bahwa kamu adalah milik saya. Bukan hanya di atas kertas, tapi sepenuhnya. Tubuhmu, napasmu, dan kepatuhanmu."
Karina mendongak, menatap mata tajam yang kini tampak lebih gelap dari malam Paris itu sendiri. Ada dominasi mutlak di sana. Namun, darah Jenderal yang mengalir di nadinya membuat Karina menolak untuk sekadar menjadi mangsa yang pasrah begitu saja.
"Mas terlalu percaya diri," bisik Karina, mencoba memberikan senyum menantang meski jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan. "Mas pikir dengan memulihkan nama baik saya, saya akan langsung tunduk dan memuja Mas? Mas pikir saya semudah itu?"
Darma hanya mengangkat satu alisnya, sebuah senyum tipis yang berbahaya tersungging di bibirnya. "Saya tidak meminta pemujaan, Karina. Saya hanya meminta hak saya. Dan kita lihat saja, seberapa lama pertahanan 'sang idol' ini bisa bertahan di bawah kendali saya."
Karina memutuskan untuk mengambil kendali demi menutupi kegugupannya. Ia masuk ke dalam kamar mandi mewah yang berdinding marmer. Setengah jam kemudian, ia keluar dengan jubah sutra putih yang tipis dan provokatif, sengaja membiarkan rambut hitam panjangnya yang sedikit lembap tergerai menutupi bahunya. Ia berjalan dengan langkah anggun yang dipelajarinya di panggung-anggung dunia, melangkah menuju ranjang di mana Darma sedang menunggu sambil membaca sebuah laporan bisnis di tabletnya, masih dengan kemeja setengah terbuka.
Karina duduk di tepi ranjang, tepat di samping Darma, sengaja menyenggol lengan pria itu hingga ia bisa merasakan panas tubuh suaminya. "Mas bilang waktu adalah uang. Jadi, seberapa besar waktu yang Mas siapkan untuk saya malam ini? Atau Mas mau kembali menghitung saham?" tanya Karina dengan nada menggoda yang berani.
Darma meletakkan tabletnya perlahan. Matanya yang sedingin es kini mulai berubah menjadi lebih gelap, penuh dengan kabut gairah yang berusaha ia tekan namun mulai pecah. Ia melihat betapa cantiknya wanita di depannya gabungan antara keluguan yang tersisa dan kemewahan yang ia berikan.
"Seluruh malam ini, Karina," sahut Darma, suaranya kini terdengar lebih parau dan dalam. "Dan saya jamin, kamu akan memohon agar waktu berhenti berputar saat fajar tiba karena kamu tidak akan sanggup menanggung apa yang akan saya lakukan."
Darma tidak lagi menahan diri. Kendali diri yang selama belasan tahun ia bangun dengan tembok beton seolah luluh lantak hanya dengan satu tatapan menantang dari Karina. Ia menarik pergelangan tangan Karina dengan satu gerakan cepat, membawa wanita itu ke tengah tempat tidur king-size yang luas. Di bawah naungan lampu kristal yang berpendar temaram, suasana berubah drastis dari dingin menjadi mencekam.
"Permainan berakhir di sini, Karina," bisik Darma. Suaranya bukan lagi bariton yang tenang, melainkan geraman rendah yang berbahaya.
Sebelum Karina sempat membalas, Darma sudah mengunci bibirnya. Itu bukan ciuman lembut layaknya di film romantis itu adalah ciuman yang ganas, penuh tuntutan kepemilikan yang kasar namun sangat posesif. Darma seolah ingin menghisap seluruh napas Karina, menyatakan dengan cara paling primitif bahwa wanita di bawahnya ini adalah miliknya mutlak.
Napas mereka saling memburu, memenuhi setiap sudut suite mewah yang kedap suara itu. Darma bergerak dengan otoritas seorang pemimpin, menjelajahi setiap inci kulit Karina yang sehalus porselen dengan jemarinya yang kini terasa panas membakar.
"Mmhh... Mas Darma... ahh..." lenguh Karina. Suaranya terdengar antara pasrah dan tenggelam dalam dominasi suaminya. Ia mencoba mengimbangi, namun kekuatan Darma terlalu besar.
Namun, saat intensitas di dalam kamar itu mencapai puncaknya, sebuah kenyataan menghantam Darma layaknya petir di siang bolong. Saat ia memberikan tekanan terakhir untuk mengklaim haknya, ia merasakan tubuh Karina di bawahnya menegang hebat, kaku seperti senar gitar yang ditarik paksa.
"Akhh! Sakit, Mas... hiks... berhenti... perih sekali..." rintih Karina.
Suara itu pecah bersama isakan kecil yang tertahan. Air mata mulai mengalir deras di sudut matanya, membasahi bantal sutra. Rasa panas dan perih yang luar biasa menjalar di bagian intinya, membuat seluruh tubuhnya gemetar ketakutan dan rasa syok.
Darma tertegun. Ia segera menghentikan seluruh gerakannya. Napasnya masih menderu, namun matanya langsung tertuju pada wajah Karina yang memerah dan basah. Saat ia melihat ke bawah, noda merah yang merembes di atas seprai putih bersih itu tampak begitu kontras dan nyata. Darah segar.
Darma mematung. Dadanya naik turun dengan cepat, mencoba memproses realita yang tak ada dalam rencana bisnisnya. "Karina...?" suaranya pecah, serak karena gairah yang mendadak berubah menjadi keterkejutan luar biasa. "Apakah... apakah ini benar-benar yang pertama bagimu?"
Karina tidak sanggup bersuara. Ia hanya mengangguk pelan sambil terus terisak, menutupi wajahnya dengan lengan. Ia merasa begitu terbuka dan rapuh. Dunia mengenalnya sebagai idol yang penuh rumor, namun di balik kemilau panggung Korea, ia adalah wanita yang menjaga kesuciannya dengan taruhan nyawa demi kehormatan keluarganya.
Darma terpaku. Rasa bersalah menghantam dadanya seperti godam besi karena telah bersikap terlalu keras. Namun, di saat yang sama, muncul rasa hormat dan kepuasan primitif yang tak terlukiskan ia adalah pria pertama dan satu-satunya.
"Maaf... Maafkan saya, sayang," bisik Darma. Suaranya kini melunak total, sisa-sisa keangkuhannya menguap. Ia mengecup dahi Karina dengan sangat lembut, menghapus air mata di pipi istrinya dengan ibu jari yang kini gemetar. "Saya benar-benar tidak tahu. Saya pikir kamu... maafkan prasangka buruk saya selama ini."
"Mas pikir saya... hiks... sama seperti berita sampah itu?" potong Karina dengan tatapan terluka yang membuat pertahanan Darma runtuh.
Darma menggeleng cepat, lalu memeluk Karina erat, menyalurkan kehangatan untuk meredakan rasa perih itu. "Bukan begitu. Saya hanya tidak menyangka kamu begitu tangguh menjaga dirimu di tengah dunia yang sekejam itu."
Darma kini bergerak dengan strategi baru, kelembutan yang mematikan. Ia tidak lagi mengejar kepuasan sepihak. Ia memberikan waktu, membisikkan kata-kata penenang yang hangat, memandu Karina melewati rasa trauma fisiknya.
"Sstt... ikuti napas saya, Karina. Perlahan saja," bisiknya lirih di telinga Karina.
Ketika Darma kembali memulai dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati, desahan yang keluar dari bibir Karina berubah. Bukan lagi rintihan sakit, melainkan suara pasrah yang mulai menemukan kenikmatan.
"Nnhhh... Mas... ahh..." erang Karina kecil, jemarinya meremas bahu kokoh Darma hingga kuku-kukunya membekas di sana. Sensasi perih itu perlahan memudar, digantikan oleh gelombang panas yang membuatnya kewalahan.
Darma tidak membiarkan Karina bernapas lega. Ia terus memacu ritme dengan presisi, membuat Karina terengah-engah, tubuhnya melengkung menerima setiap sentuhan suaminya.
"Ya, teruslah mendesah seperti itu, Nyonya Darma. Biar saya tahu seberapa besar kamu menginginkan saya," sahut Darma dengan suara serak yang sangat maskulin.
Malam itu, di bawah saksi bisu Menara Eiffel, Karina benar-benar dibuat kewalahan. Darma seolah memiliki energi yang tak habis-habis, menuntut balasan atas setiap perlindungan yang telah ia berikan. Karina merasa seolah seluruh energinya diperas habis, jiwanya seakan terbang melayang di atas langit Paris.
"Mas... cukup... saya capek... ahh..." gumam Karina dengan sisa tenaga, napasnya tersengal-sengal saat Darma memberikan ciuman terakhir yang dalam di lehernya.
Darma akhirnya berhenti, menatap istrinya yang kini terkulai lemas dengan rambut berantakan namun tampak sangat cantik. Ia menyelimuti tubuh Karina, menariknya masuk ke dalam pelukannya yang protektif.
"Tidurlah. Kamu sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik malam ini," bisik Darma sebelum mengecup puncak kepala Karina.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Paris, menyinari dua insan yang kini bukan lagi sekadar mitra kontrak. Di tengah kelelahan yang luar biasa, Karina menyadari bahwa pelukan "beruang es" ini adalah tempat teraman yang pernah ia miliki.
****
Bersambung.....