Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.
Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.
Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.
Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahlah Denganku!
"Mohon maaf, Dek. Sebelum Adek melunasi biaya perawatan, maka jenazah nenek belum bisa dibawa pulang. Jadi, beberapa obat dan prosedur itu tidak ditanggung asuransi kesehatan," ucap Titik, seorang petugas administrasi rumah sakit, sambil menyerahkan berkas berisi rincian biaya perawatan kepada Amara.
Amara menelan ludah dengan susah payah. Tangannya gemetar menahan duka yang menghantamnya bertubi-tubi bak sudah jatuh tertimpa tangga pula.
"Memang, berapa total biaya?" tanya Amara lirih penuh keraguan dan ketakutan.
"Sepuluh juta. Untuk rinciannya, semua ada di berkas ini. Ini belum termasuk biaya kepulangan jenazah," jawab Titik penuh iba dan menunjukkan lembar yang menunjukkan rincian biaya.
"Ya Rabb, banyak sekali. Gimana saya bayarnya? Apakah bisa dicicil, Kak? Saya tidak punya uang sebanyak itu," nego Amara lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Dicicil berapa kali, Dek? Biar saya tanyakan ke atasan," tanya Titik begitu sabar.
Amara pun terdiam sejenak. Dengan gaji guru honorer 300.000 per bulan dan cair 3 bulan sekali, ia tak bisa membayangkan harus berapa tahun mencicil biaya sebanyak itu. Rasanya ingin ambruk di tempat karena duka benar-benar mengguncang kewarasannya. Namun ia mencoba menguatkan diri sebab tak ada siapa-siapa lagi dan harus bisa berdiri di atas kaki sendiri.
"Gunakan ini untuk membayar seluruh biaya pengobatan dan kepulangan jenazah nenek," ucap seorang lelaki tiba-tiba berdiri di sebelah Amara dan menyerahkan kartu ATM kepada petugas administrasi.
Amara pun tercengang dan otomatis menoleh kepada seseorang di sampingnya. Ia makin tertegun karena sama sekali tak mengenal wajah lelaki itu. Wajah yang begitu dingin dan terlalu asing baginya. Penampilan kasual dan aura badboy yang kuat sangat kontras dengan suara dan cara berdiri lelaki itu yang tampak penuh wibawa.
(Visual Sagara. Sumber: pinterest)
"Pak Sagara?" sahut Titik dengan mata membola.
Sagara? Siapa dia? Apakah dia malaikat yang Tuhan kirim? Batin Amara pun berkecamuk namun mulutnya bungkam tersihir pesona Sagara.
"Dia temanku. Cepat urus! Aku sedang banyak urusan," desak Sagara dengan sorot mata yang menajam.
"Baik, Pak," jawab Titik segera melakukan tugasnya dengan wajah tegang.
Bahkan sampai pembayaran berhasil, Amara benar-benar tak bisa berkutik dan berkata sepatah pun. Tatapannya masih lekat kepada Sagara yang mendadak jadi dewa penolongnya. Namun, di sisi lain, ia pun merasa sungkan menerima bantuan sebesar itu, terlebih dari orang tak dikenalnya. Ketakutan pun mulai menyusup ke pikirannya akan segala konsekuensi yang harus diterimanya setelah ini, tetapi bantuan itulah yang ia butuhkan saat ini. Nenek adalah harta satu-satunya yang dimiliki gadis yatim piatu itu sehingga bisa memakamkan beliau dengan baik adalah sebagai tanda bakti terakhirnya sebagai cucu yang sudah dibesarkan dari kecil hingga sekarang.
"Terima kasih," ucap Amara lirih sembari menunduk karena air matanya mendadak tak dapat dibendung lagi.
"Ikut aku," ajak lelaki itu dengan suara datar beserta wajah dingin yang khas.
Amara pun menurut meski tak tahu apa ke mana lelaki itu akan membawanya. Di satu sisi, ia merasa lega karena bisa memakamkan nenek dengan layak. Namun, di sisi lain, ia seperti terkungkung oleh balas budi yang belum tahu bagaimana cara membayarnya.
Setelah sampai di depan rumah sakit, Sagara pun pun berhenti dan duduk di kursi panjang yang lengang. Ia pun menyilakan Amara serta memberi jarak satu kursi kosong di sampingnya. Tatapannya benar-benar lurus ke depan dan tak pernah menoleh kepada Amara sama sekali.
"Kenapa Anda begitu baik kepada saya? Saya sampai speechless. Bantuan Anda sangat berarti bagi saya," tanya Amara sambil duduk dan menunduk.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini," jawab Sagara sembari menyeringai dengan tatapan kosong.
"Saya janji akan membayarnya. Namun, tolong kasih tenggat waktu yang agak lama. Saya hanya guru honorer yang per bulan hanya digaji 300.000," sahut Amara mulai panik dan cemas.
"Aku nggak butuh uang. Aku hanya butuh tubuhmu," cetus Sagara membuat Amara membelalak.
Sontak saja, hati Amara pun mencelos. Wajahnya langsung menegang. Ia pun berdiri gusar karena merasa harga dirinya sudah dilecehkan oleh lelaki asing itu.
"Maaf. Saya bukan pelacur," tegas Amara sembari berdiri dengan tatapan menyorot tajam Sagara.
"Jangan salah paham. Maksudku, aku butuh kamu. Tenang saja, aku pun nggak bernafsu denganmu. Aku hanya butuh bantuanmu," ralat Sagara meluruskan.
"Bantuan apa?" tanya Amara sangsi penuh waspada.
"Soal itu nanti. Sekarang, fokuslah ke pemakaman nenekmu. Setelah tujuh hari nenekmu selesai, temui aku di Denara Cafe jam 9," jawab Sagara penuh penekanan dan ekspresi yang misterius.
Belum juga Amara menyahut, Sagara sudah beranjak dari hadapannya tanpa pamit maupun salam. Amara hanya dapat menatap punggung lelaki itu dengan perasaan campur aduk antara bingung yang mengambang dan takut yang mencekik pelan-pelan. Ia tak tahu apakah kehadiran Sagara layak disyukuri atau perlu diwaspadai namun feelingnya berkata bahwa ia harus lebih hati-hati.
"Nenek..." rintih Amara tiba-tiba tatkala mengingat kembali semua momen bersama mendiang nenek yang selalu menyayanginya.
Amara pun menutup mata dengan kedua tangannya dan membiarkan tangis menguasainya. Ia baru ingat bahwa semenjak nenek meninggal subuh tadi, ia bahkan tak bisa menangis karena sibuk memikirkan bagaimana cara merawat neneknya dengan baik untuk terakhir kali. Setelah 12 tahun lalu kecelakaan tragis merenggut nyawa kedua orang tuanya, nenek menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki. Kini, ia tak harus takut lagi menemui kehilangan sebab hanya tinggal ia seorang diri. Namun, harapannya juga lenyap seketika karena tak tahu harus berjuang untuk siapa lagi.
Amara pun tersentak dari lamunan setelah tepukan lembut singgah di pundaknya.
"Dek Amara, ini semua sudah selesai. Jenazah nenek akan segera dibawa ke ambulans dan bisa segera dibawa pulang. Turut berdua cita, ya. Yang tabah," ucap Titik seraya menatap Amara dengan air mata yang hampir tumpah di sudut bola matanya.
Amara pun menoleh dan berdiri menerima berkas neneknya dengan duka yang masih menekan dadanya kuat-kuat. Ada juga keharuan melihat ketulusan Titik yang begitu memahami keadaannya semenjak ia membawa nenek ke rumah sakit.
"Kak, boleh saya memeluk Kakak sebentar saja? Saya tak punya siapa-siapa lagi. Saya nggak tahu harus nangis ke siapa lagi," tangis Amara pun pecah dan badannya gemetar menahan duka yang menjalarkan nyeri tak tertahan di rongga dadanya.
Tanpa menjawab, Titik segera memeluk Amara penuh kasih sayang sekaligus iba. Air matanya pun tumpah juga pada akhirnya. Ia tak dapat membayangkan bagaimana kesepiannya gadis malang itu setelah kehilangan sang nenek yang begitu disayanginya. Ia pun hanya bisa mengusap punggung Amara yang terisak lirih begitu mengiris nan memilukan.
"Aku paham. Nggak ada orang yang kuat menghadapi kematian orang yang sangat disayangi. Tapi, kamu harus bangkit setelah ini. Nenek pasti sangat bangga punya cucu sebaik kamu, Amara," ucap Titik penuh perhatian sekaligus dada yang sesak.
"Terima kasih, Kak," sahut Amara masih larut dalam tangis dan dukanya.
Di kejauhan, sepasang mata menatap Amara dengan penuh iba namun tak dapat melakukan apa-apa.
...****************...
Seminggu setelah kepergian sang nenek, Amara ternyata belum sanggup menerima sepenuhnya. Ia masih sering tiba-tiba menangis atau refleks memanggil nenek seperti kesehariannya. Bahkan, rumah yang biasanya hangat oleh harum aroma minyak angin nenek, kini menjadi dingin dan menyesakkan. Ia tak menyangka harus menanggung duka sedalam ini. Setelah 12 tahun hidup sebagai yatim piatu, ternyata di usianya yang ke-22 harus ditambah menjadi sebatang kara.
Waktu menunjukkan pukul 7.30, Amara pun sudah siap untuk memenuhi undangan Sagara. Lokasi kafe itu ternyata ada di tengah kota dan cukup jauh dari rumahnya yang berada di desa. Ia pun berangkat lebih awal karena takut telat sampai tempat tujuan. Dengan duka yang masih menggantung di pelupuk mata, ia paksakan diri untuk tetap menjalani hidup seperti sedia kala meskipun rasanya takkan pernah sama.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang menggunakan motor matic tua pemberian nenek, Amara pun sampai di depan Denara Cafe pukul 8.45. Ia pun segera duduk di kursi paling pojok karena bisa leluasa melihat berbagai tanaman di luar dinding kaca kafe tersebut. Suasana di sana begitu menenangkan dengan desain klasik ditambah alunan musik yang mendayu lembut hingga memanjakan inderanya.
"Kamu datang lebih awal," cetus Sagara yang mendadak sudah berdiri di seberang meja Amara.
Amara pun sontak saja menoleh ke sumber suara. Matanya pun langsung menangkap sosok Sagara dengan kaos yang dipadu dengan jeans serba hitam. Ekspresi lelaki itu masih sama, sama dingin dan misteriusnya.
"Eh... Iya. Takut telat," jawab Amara sedikit gagap.
"Oke. Komitmen awal yang bagus. Sepertinya kita bisa bekerja sama," ucap Sagara sambil duduk di seberang Amara dengan tatapan lebih bersahabat meski belum sepenuhnya hangat.
Amara pun mengernyit dan mengangkat alis kirinya. Ia masih belum paham yang dimaksud oleh lelaki itu.
"Menikahlah denganku!" ajak Sagara dengan begitu tenang seakan tanpa beban dan tak menunjukkan sebuah tawaran.
Mata Amara membeliak. Bagaimana mungkin lelaki asing yang tak pernah berinteraksi dengannya secara normal, tiba-tiba mengajaknya menikah tanpa pendekatan atau perkenalan sebelumnya.
Dia gila apa nggak waras sih? Pekik batin Amara tak menyangka.
...----------------...