NovelToon NovelToon
SHINIGAMI The Shadow Of Hero

SHINIGAMI The Shadow Of Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Voltigern

Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.

Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.

Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : Pemuda Berbau Logam

Langit malam telah tiba, tidak dihiasi dengan bintik-bintik bintang melainkan dinodai oleh awan hitam yang terus mengeluarkan salju tanpa henti. Angin berkecamuk hebat, tetapi untungnya setiap rumah dilapisi oleh sesuatu tak kasat mata yang menghangatkan orang-orang dari kegilaan hawa dingin—sebuah sihir.

Malam semakin larut, satu persatu pencahayaan yang terbuat dari lilin atau lampu minyak tanah mulai dimatikan, menandakan orang-orang akan tidur di malam yang dingin itu. Sebuah bangunan berlantai dua berdiri dengan kokoh walau atapnya tertimbun oleh salju yang hempir mencapai dua meter. Pencahayaan di lantai kedua bangunan itu telah padam, namun tidak dengan lantai pertama.

Dentingan logam terdengar dari dalam lantai pertama itu, seorang pengrajin tua bertubuh pendek namun sangat kekar tengah menghantam besi panas menggunakan palu miliknya. Tak jauh di sebelahnya, seorang pemuda bertubuh kekar dan tinggi melakukan hal serupa dengan apa yang pengrajin tua itu lakukan.

Pengrajin tua berhenti sejenak lalu menatap ke arah pemuda tersebut. "Sebaiknya kau bergegas tidur, besok kau harus sekolah... Ardius!"

Pemuda yang dia panggil Ardius tersebut ikut menghentikan pekerjaannya. Dia menatap ke arah pengrajin tua dengan wajah datar. "Ya, setelah aku membereskan yang terakhir ini."

Ardius, dia memiliki rambut berwarna hitam dengan mata merah yang sangat menonjol. Usianya baru mencapai 15 tahun dan dia merupakan salah satu murid dari akademi penyihir dari benua Gradecya, yaitu Akademi Mysticorum yang merupakan sekolah akademi nomor satu bagi seluruh penyihir di benua Gradecya.

Beberapa menit berlalu, Ardius menyelesaikan satu pekerjaan terakhirnya. Dia duduk di atas kursi panjang sembari meneguk air dari gelas bening. Tubuhnya mengeluarkan banyak sekali keringat karena suhu di ruangan tersebut cukup panas—keterbalikkan dengan suhu di luar.

"Sebelum kau tidur, jangan lupa mandi! Keringatmu sangat bau," ucap pengrajin tua.

"Aku tahu, setidaknya tidak perlu berkomentar tentang bau tubuhku." Ardius berdiri dan mulai pergi meninggalkan tempat itu. Sebelum menutup pintu ruangan, dia berkata kepada sang pengrajin tua, "Selamat malam, Paman Arba!"

Pengrajin tua yang bernama Arba terus fokus kepada besi yang dia tempa, dia menjawab, "Ya, selamat malam."

Sebelum pergi tidur ke kamarnya yang berada di lantai atas, Ardius terlebih dahulu mandi untuk menghilangkan bau badan sekaligus menyegarkan dirinya. Udara di luar memang sangat dingin, namun berkat pelindung sihir membuat udara dingin tersebut tak masuk ke dalam rumah.

Setelah membersihkan tubuhnya, dia pergi ke kamarnya dan tanpa banyak pikir segera tidur.

.

.

.

"Hey Ard, ayo bangun! Kita akan terlambat jika kau terus tidur." Suara seorang perempuan terdengar sedikit panik.

Ardius merasakan tubuhnya tengah diguncangkan, dia perlahan membuka kedua matanya lalu melihat kedua temanya. Gadis Elf remaja yang memiliki rambut putih, telinga yang cukup panjang dan sedikit runcing, mata hijau, kulit putih bersih, dan tentunya sangat cantik. Teman keduanya adalah remaja Dwarf laki-laki yang memiliki rambut coklat, tubuh yang lebih kekar dari Ardius, dan juga dia mengenakan sebuah kacamata.

"BANGUNLAH BODOH!!" teriak teman laki-lakinya yang merupakan seorang Dwarf.

Mata Ardius seketika melebar dan melotot. Dia segera bangkit dari tidurnya. "Luna... Axel... matahari belum muncul, kenapa kalian membangunkanku?" tanya Ardius dengan datar.

"Hari ini kami berdua ada jadwal penilaian kompetensi. Jadi, kita harus berangkat sangat awal," jawab gadis Elf bernama Luna.

"Sarapan telah siap, lebih baik kau bergegas!" tukas Axel sambil melemparkan baju seragam akademi ke wajah Ardius.

Keduanya kembali pergi meninggalkan Ardius sendirian di dalam kamarnya. Beberapa menit berselang, usai mencuci muka dan mengenakan seragam, Ardius pergi ke lantai bawah. Sesampaimya di ruang makan, dia melihat kedua temannya tengah duduk untuk menunggunya.

Ketiga remaja itu menyantap sarapan nereka dengan lahap. Sepanjang waktu sarapan, Luna dan Axel terus membicarakan hal mengenai penilaian kompetensi. Ardius tak bergabung dalam pembicaraan, hal tersebut dikarenakan karena dia adalah siswa yang dianggap sebagai produk gagal. Bukan tanpa alasan, mayoritas orang di nenua Gradecya adalah penyihir. Hal tersebut membuat Ardius dipandang rendah oleh semua orang di Akademi Mysticorum.

Keluarga Ardius juga merupakan penyihir, terlebih keluarga besarnya juga merupakan salah satu keluarga penyihir ternama, yaitu Leonheart. Kedua orang tua Ardius memiliki harapan besar kepadanya, sehingga saat umur Ardius baru mencapai 6 tahun dia masuk ke Akademi Mysticorum. Namun harapan itu seketika runtuh dan berubah menjadi sebuah rasa kecewa usai mengetahui fakta bahwa putra mereka tak dapat menggunakan tongkat sihir. Pada akhirnya mereka tidak membiayai lagi biaya sekolah Ardius dan seakan membuangnya. Kehadiran Ardius yang terlahir di keluarga penyihir namun tak mampu menggunakan tongkat sihir dianggap sebagai aib keluarga.

Ardius juga memiliki adik perempuan bernama, Arlena Leonheart. Kehidupannya berbeda jauh dengan dirinya, dimana Arlena sangatlah berbakat menggunakan sihir. Hal tersebut membuatnya menjadi anak emas dan kebanggaan dari kedua orang tuanya.

Untuk menghidupi dirinya sendiri dan biaya sekolah, Ardius saat di usianya yang masih kecil terpaksa harus melakukan pekerjaan apapun. Untungnya dia bertemu dengan si pengrajin tua—Arba. Dia merupakan seorang Dwarf yang berprofesi sebagai pendai besi. Pada akhirnya Arba mengadopsinya beserta kedua anak lainnya yaitu Luna dan Axel. Luna dan Axel bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran, sementara Ardius bekerja di toko pandai besi milik Arba.

Alasan mengapa Ardius bertindak sejauh itu untuk tetap tak sekolah karena satu hal, yaitu dia sangat tertarik dengan sihir. Terlebih dia memiliki sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri, yaitu dia adalah orang dari dunia lain yang bereinkarnasi ke dunia ini.

Usai sarapan, ketiganya mengambil peralatannya masing-masing. Luna menhambil tongkat sihir berukuran kecil dan penjang seukuran lengannya yang disebut dengan Wand. Axel mengambil tongkat sihirnya yang lebih besar dan penjang dengan ukuran hampir sepantaran dengan tubuhnya yang disebut Staff. Berbeda dengan kedua temannya, senjata yang dibawa Kiriya adalah sebuah pedang yang memiliki satu bilah—sebuah katana.

Ketiganya membuka pintu keluar. Udara dingin menyambut kehadiran mereka. Dinginnya hujan salju ditambah dengan suhu dini hari merupakan kombinasi mematikan bagi menusia biasa.

Axel mengangkat tongkatnya beberapa centi ke atas lalu menghantamkannya ke tanah. Saat itu juga muncul sebuah barrier merah transparan di sekeliling mereka yang membuat suhu di dalamnya tetap hangat sekaligus memudahkan mereka berjalan di atas salju.

Sekitar 2 jam berjalan, mereka tiba di Akademi Mysticorum. Akademi tersebut sangatlah besar bahkan terdapat asrama untuk para pelajar yang ingin tinggal. Tentunya mereka bertiga tak dapat tinggal di asrama karena masalah biaya.

Luna dan Axel berpamitan dengan Ardius. Keduanya pergi menuju ruang penilaian. Jam pembelajaran dimulai pukul 8, Ardius memiliki waktu sekitar 3 jam. Untuk mengisi waktu kosong itu, dia pergi menuju aula latihan untuk berlatih.

Sesampainya, suasana masih sepi dan tenang. Tak ada orang lain selain dirinya. Ardius membuka pedang miliknya lalu mengatur kuda-kuda, ritme napasnya teratur dengan baik, fokusnya tertuju hanya ke depan.

Targetku minggu ini adalah 100 tebasan dalam 10 detik. Kau bisa, kau pasti bisa!

Kedua tangan dan kakinya memunculkan garis-garis sihir yang disebut garis rune berwarna putih. Seiring berjalannya fokus dan ritme napas, garis rune tersebut semakin terlihat dengan jelas.

"Sihir kecepatan : Acceleration aktif!"

Kedua tangannya menebaskan katana ke udara dengan begitu cepat. Sekitar tujuh sampai sembilan tebasan yang dia lakukan selama satu detik. Tak lama, Ardius berhenti di detik sepuluh. Napasnya sedikit terengah-engah.

"88 tebasan... tidak buruk. Aku butuh 12 tebasan lagi," gumamnya dengan nada pelan dan suara datar.

Tak berselang lama, kedua matanya sedikit melebar. Dia merasakan kehadiran sesuatu yang datang untuk melukainya. Dengan sigap, Ardius berbalik ke belakang lalu melayangkan tebasan. Katana miliknya berhasil memotong sebuah bola api berukuran bola basket.

Tatapannya tajam, tak senang dengan kedatangan tiga orang siswa yang datang untuk mengganggunya.

"Huufh...." Dia menghembuskan napas berat. "Ini terlalu dini untuk bertemu orang bodoh," serunya dengan suara tenang namun bermaksud sarkas kepada mereka.

Salah seorang murid maju beberapa langkah, wajahnya membuat senyum licik yang merendahkan. "Hey kau aib akademi! Pelajar yang bangun pada dini hari karena hari ini ada penilaian keterampilan, sungguh lucu sekali melihat produk cacat sepertimu bangun terlalu dini untuk memainkan tusuk gigi itu." Dia berkata dengan nada sangat sombong dan merendahkan.

"Ya, terlebih lagi kau dengan sampahmu itu tidak akan dinilai," tambah temannya di belakang.

Ketiganya tertawa setelah menghibur diri mereka seolah mengolok-olok pemuda itu.

Ardius tetap tenang dan tak terprovokasi. Matanya menatap mereka dengan tatapan malas. "Eric Argentum, kau tahu? Menjadi aib akademi sepertinya sedikit lebih baik daripada keluarga yang pernah menjadi aib kerajaan.'

Wajah Eric yang sebelumnya dipenuhi oleh senyum penuh kesombongan mendadak berubah. Tatapan tak senang terlihat jelas usai mendengar balasan dari Ardius.

"Apa maksudmu menghina keluarga Argentum, sialan." Eric mengeluarkan Wand miliknya, menandakan jika dia menantang Ardius untuk berduel.

Wajah Ardius menunjukan rasa semakin malas. "Waktu latihanku lebih bernilai daripada harus melayani putra penyihir terkenal yang hanya mampu mengeluarkan korek api," sindirnya sekali lagi dengan begitu tajam.

Eric semakin dibuat kesal, dia mengarahkan Wand miliknya tepat ke arah Ardius. Sebuah lingkaran sihir merah muncul di ujung tongkat tersebut.

Tepat sebelum Eric menyerang, sebuah suara terdengar keras dan menghentikan aksinya, "Eric Argentum! Hentikan keributan yang kau buat sekarang juga!"

Eric dan kedua temannya menoleh ke sumber suara. Alisnya mengerut saat melihat siapa yang datang.

"Arlena Leonheart." Eric segera menghentikan perbuatannya saat melihat seorang gadis remaja berambut pirang dengan wajah tegas dan berwibawa datang menghampiri. Sengan segera, Eric segera pergi meninggalkan Ardius.

Ardius menatap ke arah gadis itu dengan tatapan datar dan wajah tanpa ekspresi. "Terima kasih atas bantuannya!"

Gadis bernama Arlena itu memasang wajah khawatir dan sedih. "Kakak, tidak perlu bersikap kaku seperti itu. Aku adikmu!"

"Secara struktur itu benar, tapi aku tidak termasuk dalam ikatannya. Karena itu orang tuamu menyuruhku untuk berbicara dengan formal kepadamu," balas Ardius.

Arlena memalingkan memalingkan wajahnya, kedua tangannya mengepal secara kuat karena kesal dan marah atas keadaan yang menimpa sang kakak. Meskipun Ardius dianggap sebagai aib keluarga, namun Arlena tetap menerimanya sebagai seorang kakak.

"Hari ini Nona Arlena mengikuti penilaian kompetensi, bukan?" tanya Ardius sembari berlatih kembali melayangkan tebasannya.

"Ya, aku juga berpapasan dengan teman-teman Kakak."

"Kudoakan yang terbaik. Semoga penilaianmu berjalan dengan lancar."

Arlena tersenyum senang mendengar perkataan sang kakak. Meskipun sikap sang kakak sangatlah dingin, namun dibalik itu semua apa yang dia katakan sangatlah tulus.

Arlena berpamitan dengan Ardius dan kembali pergi, meninggalkan Ardius sendirian di tengah aula latihan.

1
Erna Wati
Kereen
Tuxedo Mask
Seru banget deh!
Ahmad Voltigern: Makasih udah baca novel saya kak🙏🥰
total 1 replies
ella ellie
Banyak air mata terbuang untuk cerita ini, tapi worth it!
Ahmad Voltigern: makasih udah baca cerita ini!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!