NovelToon NovelToon
Poppen

Poppen

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Rebirth For Love / Reinkarnasi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:33.5k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Bayangkan jika boneka porselen antik di kamar tiba-tiba hidup dan berubah menjadi manusia. Itulah yang dialami Akasia, seorang gadis SMA biasa yang kehidupannya mendadak penuh keanehan. Boneka pemberian ayahnya saat ulang tahun keenam ternyata menyimpan rahasia kelam: ia adalah Adrian, seorang pemuda Belanda yang dikutuk menjadi boneka sejak zaman penjajahan. Dengan mata biru tajam dan rambut pirang khasnya, Adrian tampak seperti sosok sempurna, hingga ia mulai mengacaukan keseharian Akasia.
Menyembunyikan Adrian yang bisa sewaktu-waktu berubah dari boneka menjadi manusia tampan bukan perkara mudah, terutama ketika masalah lain mulai bermunculan. Endry, siswa populer di sekolah, mulai mendekati Akasia setelah mereka bekerja paruh waktu bersama. Sementara itu, Selena, sahabat lama Endry, menjadikan Akasia sasaran keusilannya karena cemburu. Ditambah kedatangan sosok lain dari masa lalu Adrian yang misterius.
Tapi apa benar kehadiran Adrian hanya membawa masalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

...Batavia, 1941...

Di sebuah ruang kerja kantor kolonial, seorang wanita duduk tegak di balik mesin tik. Jemarinya bergerak tangkas, menghasilkan deretan denting yang rapat dan berirama tubuhnya ramping, rambut hitam panjangnya diikat rendah, berkilau di bawah cahaya mentari yang menerobos dari jendela besar. Sesekali ia menunduk memeriksa tumpukan berkas di sebelahnya.

Tidak jauh dari sana, seorang pemuda Belanda berdiri bersandar di lemari arsip, kedua tangannya terlipat. Mata birunya mengamatinya tanpa jeda.

“Njonja… eh, Nona, bolehkah saya… menanyakan sesuatu?” suaranya memecah sunyi.

Kemuning tidak mengangkat kepala, hanya menjawab datar, “Kalau pertanyaan itu akan membuat pekerjaan saya tersendat, Tuan, sebaiknya ditunda saja.”

Pemuda pirang itu tersenyum kecil, seolah mendapat tantangan. “Mengapa Nona tidak menoleh barang sebentar? Saya merasa seperti bercakap dengan dinding.”

Kali ini Kemuning menghentikan ketikannya. Ia mengangkat wajah, menatapnya langsung. “Tuan, sudikah berhenti menatap saya sedemikian rupa? Sukar bagi saya menulis rapi apabila diawasi laksana pesakitan di pengadilan.”

Pemuda itu terperangah sejenak, lalu terkekeh. “Ah… apakah Nona selalu setegas ini kepada setiap orang baru?”

“Saya berlaku sewajarnya saja,” jawab wanita itu singkat. ”Lagipula, kita belum saling mengenal. Apa kiranya sebab Tuan berlama-lama di sini, bukankah Tuan punya urusan lain?”

Pemuda itu mengangkat bahu. “Saya terkejut menemukan seorang inlander, terlebih seorang perempuan, duduk di posisi ini. Biasanya… mereka di rumah, berkutat dengan dapur, sumur, dan—”

Kemuning memotong cepat, “—kasur? Saya masih mengurus rumah. Dan itu bukan pekerjaan remeh, Tuan. Perempuan rumah tangga tak kalah terhormatnya dari saya. Yang jarang bukanlah perempuan pribumi yang cakap, melainkan kesempatan yang diberikan,” bibirnya melengkung tipis. “Tuan sebaiknya mencuba mengurus rumah barang sehari. Nanti Tuan akan tahu kecakapan yang dibutuhkan untuk itu tidaklah remeh.”

Pemuda itu menggaruk tengkuknya, malu.

“Maaf, bukan maksud saya mengkerdilkan kaum perempuan, melainkan ingin memujimu. Saya akui, saya terlampau gegabah menilai kemampuan perempuan dengan sebelah mata. Saya malahan senang, pekerja perempuan dengan kepandaian seperti anda berada disini. Papa saya tidak keliru memilih pekerja.”

“Rupanya Papa anda petinggi di sini? Tak heran anda bisa leluasa di sini, Tuan Adrian Van Ankeren?” perempuan berkulit kuning langsat itu menyeringai sinis. Sepasang mata biru di hadapannya terbelalak, menandakan tebakan itu tepat.

“Kembalilah ke istana anda yang nyaman, atau bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Ini bukan tempat bermain,” saran wanita itu dengan nada tajam.

Pemuda pirang itu menunduk. “Saya sungguh-sungguh memohon maaf.”

“Maaf hanyalah awal, yang lebih penting adalah perbaikan selepasnya,” perempuan itu menjelaskan. “Apakah anda sungguh paham kesalahan anda, ataukah permintaan maaf ini sekadar menyudahi masalah?”

Pemuda pirang itu menunduk, “Saya paham letak kesalahan saya, sayangnya semakin banyak saya berbicara, tampaknya semakin mengganggu anda. Sungguh saya sekadar ingin menyuarakan kekaguman saya terhadap Puan. Sekali lagi mohon maaf, saya undur diri,” ia berbalik dan menjauh dengan gontai.

“Lakukan selain di waktu bekerja,” pesan wanita pribumi itu mengembuskan angin segar. Adrian sontak memutar kepalanya demi menatapnya haru. Matanya berkilauan layaknya anjing terlantar yang baru saja menemukan pemilik baru.

“Apakah anda tidak keberatan berbincang lagi dengan saya setelah ini?” pria berkulit putih itu memastikan pendengarannya dan kesimpulan yang ia tangkap.

“Jika saya punya waktu luang dan anda tidak bermaksud buruk, ya,” jawab wanita pribumi itu sambil membolak balik kertas di mejanya, seolah tak peduli.

“Baiklah, siapa nama Puan?” rasa tidak sabar menyelimuti Adrian. Ia ingin semakin mengenal sosok wanita di hadapannya kini.

“Kemuning,” wanita berbusana kerja rapi itu menjawab singkat sambil tersenyum kecil.

...-oOo-...

Sore itu, selepas jam kantor, Adrian menunggu di dekat pintu keluar. Ketika Kemuning muncul, ia menyapanya dengan senyum penuh harap.

“Boleh saya meminta waktu Nona sebentar?”

“Hanya satu jam,” Kemuning berkompromi.

Pemuda berkulit putih itu mengajaknya menuju halaman kantor. Di bayangan pohon trembesi tua itu Adrian membentangkan Bataviaasch Nieuwsblad yang dikumpulkannya sebagai alas duduk. “Silakan duduk, Nona.”

Wanita berkemeja putih itu tertawa kecil melihat sisi kekanakan di diri pria Nederlander di hadapannya. “Seperti hendak piknik saja.”

“Memang. Piknik kecil. Apakah Nona sering piknik?”

“Tak pernah,” jawab Kemuning sambil menatap rerumputan.

Adrian membuka tas kulitnya, mengeluarkan bungkusan kertas berisi roti. “Kalau begitu, biarkan ini menjadi piknik pertama Nona. Alsjeblieft (silakan).”

Kemuning menatap roti itu, “Benarkah saya boleh ambil?”

“Boleh. Saya bahkan jemu menyantapnya,” pemuda Belanda itu mengangguk.

“Tak patut mencela makanan seperti itu. Andaikata Tuhan tidak lagi berkenan memberimu makanan, bagaimana?” wanita bijaksana itu menasihati.

“Tuhan, ampuni saya, terima kasih. Mohon maaf roti, saya tarik kembali ucapan saya.” Adrian segera menyesali tindakannya, bahkan sampai mengajak bicara roti di depannya.

Kemuning terkekeh melihat aksi pemuda tampan di depannya, “Tuan sungguh jenaka!”

“Saya tahu,” sahut Adrian singkat, binar mata birunya penuh optimisme.

Kemuning meraih roti di depannya, “Dank je wel (terima kasih),” ia menyantapnya sambil memerhatikan pria percaya diri itu.

Tidak bisa ia pungkiri ketampanannya, dengan sikapnya yang menawan pasti melenakan bagi wanita yang ia beri perhatian. Ia tidak mengerti alasan pemuda ini mendekatkan diri padanya, sedangkan ia bisa menebak, pasti banyak wanita bersedia mengantre demi memperebutkan pemuda memesona dari keluarga makmur ini.

“Mengapa mengajak saya?”

“Nona menarik. Nona mampu menatap mata saya ketika bercakap. Kebanyakan perempuan bumiputra menunduk pada Nederlander seperti saya, seakan rendah budi.” Adrian menjelaskan alasannya.

Kemuning menghela napas, “Begini Tuan, perempuan bumiputra itu acap kali menunduk bukanlah lantaran rendah budi, melainkan karena tekanan dan timpangnya kedudukan. Ancaman dari bangsa Anda, nyata ataupun tersirat, membuat banyak di antara mereka segan mengangkat muka. Semestinya Tuan beriba hati dan bertanya-tanya, apakah gerangan yang membikin mereka bergidik seperti melihat hantu tatkala bertemu seorang Nederlander.”

Uraiannya tak pelak membuka pandangan Adrian, seakan tersadar dari pemikiran sempitnya. “Alangkah buruknya, rupanya, perlakuan bangsaku terhadap bangsamu,” katanya dengan nada berat.

“Izinkan saya, mewakili kaum saya, menyampaikan maaf. Sejujurnya, Nona, saya malu mendengarnya.”

“Saya benci akan perbedaan yang dijadikan alasan untuk merendahkan,” lanjutnya perlahan. “Di keluargaku, usaha ini didirikan dengan tekad memberi kesempatan yang setara, tanpa memandang warna kulit atau asal-usul. Vader dan Moeder sama sekali tidak menyukai pembedaan bangsa.”

“Saya percaya akan niat baik itu, Tuan.” Kemuning tersenyum tipis, “Di sini kami diperlakukan dengan patut, dan itu lebih dari sekadar upah. Kami merasa dihargai. Tolong sampaikan terima kasih kami kepada ayahanda Tuan. Beliau pemimpin yang bijaksana.”

Adrian mengangguk, meski dalam hati menyesal, Mengapa pula pembicaraan ini jadi menyerempet keluargaku? Bukankah ini terkesan aku menyombongkan diri sebagai anak majikan? pikirnya.

Ia menengadah menatap langit, berusaha mencari topik lain. “Mengapa langit siang itu biru?” cetusnya spontan, “Apakah lantaran memantulkan warna laut?”

Kemuning terkekeh halus, “Ah, itu keliru yang kerap terjadi. Semua warna dihamburkan oleh molekul udara, Tuan. Hanya saja, sinar matahari lebih banyak memancarkan cahaya biru, dan mata kita pun lebih peka terhadapnya. Itulah sebabnya langit tampak biru pada siang hari.”

Adrian menatapnya takjub, “Nona selalu berhasil mengejutkan saya. Dari mana kiranya pengetahuan itu diperoleh?”

“Saya gemar membaca,” jawab Kemuning sambil mengingat-ingat. “Sepertinya saya membacanya dalam ensiklopedi pengetahuan alam.”

“Bisa kuterka Nona termasuk murid pandai di sekolah. Boleh tahu, pernahkah Nona bersekolah?” Adrian penasaran.

“Ya, saya sudah lulus dari AMS—Algemene Middelbare School,” sahut Kemuning. “Bukan lantaran saya bangsawan, melainkan kebetulan Ibu mengajar di sana, sehingga saya bisa bersekolah.”

Mata biru pemuda itu menunjukkan binar kekaguman, “Ibu Nona pasti seorang yang terpelajar dan berbudi, hingga membentuk putri yang gemar akan ilmu. Beliau pasti berbangga hati.”

“Terima kasih, Tuan. Saya anggap itu sebagai sanjungan,” jawab Kemuning sambil menunduk malu.

“Aha, rupanya Nona senang disanjung juga?” goda Adrian.

“Saya pantas tersanjung apabila yang dihargai adalah kemampuan, bukan sekadar paras.” jawab wanita itu. “Sering kali kaum lelaki hanya memandang perempuan sebagai pemanis mata.”

Adrian terkikik. “Tenang saja, paras Nona tidak semenarik itu.”

Kemuning menepuk punggungnya pelan dengan kesal. “Terima kasih atas kejujuran yang tidak diminta.”

Namun Adrian segera menambahkan dengan nada lembut, “Tetapi Nona tetap menarik. Cantik tidaklah selalu menjadi syarat untuk menarik hati, bukan?”

“Ah, Tuan ini mengolok-olok lagi,” sahut Kemuning pura-pura merajuk. “Kalau begitu, saya pergi saja,” ia bangkit, hendak melangkah.

Adrian segera menahan tangannya. Tatapannya kini serius. “Saya berbohong. Nona cantik.”

Dalam hatinya tersirat pikiran, Itu pula yang membuatku terpikat selain kepintaranmu.

Bujukan itu berhasil membuat Kemuning duduk kembali, “Aku pun bergurau. Tidak mengapa disebut buruk rupa, asalkan tidak buruk hati,” ia tersenyum geli.

Sejenak mereka saling pandang, hingga Adrian memberanikan diri berkata, “Boleh saya berkawan dengan Nona seterusnya?”

“Bukankah kita telah berkawan, Tuan?” Kemuning menjawab dengan senyum manisnya. “Mestinya justru saya yang bertanya, sudikah Tuan Muda Eropa ini berkawan dengan kasta bumiputra seperti saya?”

“Hei jangan menyindirku,” respon Adrian sambil tertawa. “Nona tahu benar, saya bukan seperti Nederlander kebanyakan, yang sombongnya menyaingi tingginya matahari.”

Mereka menikmati sore itu dengan perbincangan penuh gurauan dan sesekali gelak tawa, seperti sudah berkawan sejak lama. Itulah kali pertama perjumpaan Adrian dengan Kemuning. Semenjak itu Adrian, Nederlander sang anak pemilik perusahaan, terus mengekori Kemuning, Inlander yang penuh potensi, di luar waktu bekerjanya. Mereka menjadi sering menikmati waktu makan bersama sambil berbincang di tengah waktu istirahat siang, atau sepulang mereka bekerja. Kedua insan yang unik itu saling melengkapi, layaknya kawan yang telah ditakdirkan untuk bertemu dan berbagi sudut pandang yang berbeda.

1
JEJE @●@
sudi krna cantik ya mba muning
Serenarara: Bisa jadi karena kompeten, tegas, cerdas? who knows? 🤭
total 1 replies
JEJE @●@
mwmbaca batavia eraaaa popen
falea sezi
bagus bgt ne novel
Serenarara: Terima kasih loh. 🥺
total 1 replies
falea sezi
enak bgt ya harusnya diceraikan laki tukang selingkuh ini anak nya malah istri suruh rawat laki egois
falea sezi
novel bagus gini np sepi like novel yg beda lo dr yg lagi ada kayak transmigrasi horor komedi percintaan jd satu
Serenarara: Iya nih. Promosiin ke temennya kak. 🤭
total 1 replies
falea sezi
suka novel yg cht nya nyata gini hehehe
Serenarara: Aku juga suka... pembaca jeli gini... 🤭🤭
total 1 replies
viemah
itu yg terbaik.maknanya kau msh panjang Umur..drpda emakmu hidup lalu kau mati ditgn emakmu
viemah
/Smile//Joyful//Joyful//Curse/
viemah
jatuh cinta sma gadis pribumi kah?
viemah
ok,paham/Good/
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
masih penasaran, karna masalah apa sampai adri di kutuk
Serenarara: Nanti di spill
total 1 replies
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
kalo boneka nya gitu, mau juga dong 1 kak /Facepalm/
Serenarara: Aku juga mau. Makanya bikin cerita beginian. /Joyful/
total 1 replies
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
kamu wanita yang kuat akasia, walau topeng tapi kamu bisa menutupi air mata dengan senyuman indah mu
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
makanya terkadang bertanya tanya, adakah cinta yang sempurna
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
keren sih, gak memandang kasta dan harta.
dengan kesetaraan dan kesederhanaan juga bisa membuat perkawanan jadi bahagia.
baru bisa hadir kak 😁
Serenarara: Gpp say.
Iya kan...pertemanan gak bersyarat.
total 1 replies
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
pas sekali, setuju banget
Rana Syifa
kok kesanx Akasia trlalu mudah jatuh cinta yaa
Serenarara: Gpp... namanya jg ABG. /Tongue/
total 1 replies
Rana Syifa
ceritax keren..makasih thor semoga sehat selalu/Heart/
Serenarara
Bhagasasi, alias Bekasi... /Tongue/
Sarah
aku orang bogor thor!

salam dari bogor barat! ☺

kalau author orang mana nihh?

btw ini novel bakalan di up di lapak app mana? aku liat di akun kakak belum ada, apa belum rilis aja?
Sarah: ok thorr nanti kulihat
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!