Desri Winandra, gadis yang dibayar menikahi lelaki lumpuh untuk melunasi hutang-hutang biaya pengobatan almarhum ayahnya.
Ternyata lelaki lumpuh itu Arkhan Ghani, dia tak lain CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Lelaki yang selama dua tahunan ini dia kagumi. Lelaki yang begitu dingin dan seolah bersikap tidak menyukainya.
Dibalik kisah hidupnya yang penuh lika-liku dan penderitaan yang selalu datang bertubi-tubi, Desri memiliki sikap tegas, baik, tulus dan penyayang.
Di dalam kisah mereka, kalian juga akan tertarik dengan beberapa karakter pendukung lainnya yang menjadi lakon utama pada diri mereka masing-masing. Terutama sang pengawal tampannya keluarga Arkhan.
Mampukah Desri melalui penderitaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Dapatkah dia memikat hati Arkhan yang dikaguminya selama dua tahun itu?
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN
Setelah semalaman berpikir, Desri masih saja terlihat kebingungan. Ya, karna dia belum mendapatkan jawaban yang tepat.
"Bagaimana dengan hari ini, ya? Yaa Allah, bisakah aku mendapatkan jawaban dari semua ini, jika aku bekerja lagi untuk hari ini...?" Gumamnya sambil beranjak untuk bersiap ke kantor.
Tidak butuh waktu lama, Desri sudah rapi dengan pakaian kantornya yang terlihat sopan. Desri bergerak ke dapur menemui ibunya dan mengambil satu piring nasi goreng hangat yang telah di siapkan ibunya.
"Kamu sudah siap, Sayang?" Tanya Wiwit tanpa menghentikan aktifitasnya
"Sudah, Bu... Tinggal habisin sarapan enak buatan ibu ini saja." Jawabnya dengan suara yang tidak jelas karena di dalam mulutnya dipenuhi nasi goreng buatan ibunya itu.
"Hmmm... Kamu paling bisa memuji ibu, ya." Ucap ibunya yang entah ke berapa kali. Karena apapun yang di buat dan di lakukan Wiwit, selalu akan dipuji nya.
"Beneran kok, Bu.. Tuh, kan habis, Bu... Sebenarnya Desri mau nambah, tapi takut nggak kuat jalan ke kantor, Bu." Ucapnya cengengesan.
"Ya sudah, Bu, Desri pamit ya... Assalamu'alaikum." Pamit Desri sambil mencium punggung tangan ibunya dan berlalu dengan sedikit berlari ke arah pintu.
"Wa'alaikumsalam, Sayang... Hati-hati ya, Nak." Teriak Wiwit menyahuti pamitan anaknya.
^^^^^
Desri berjalan di bawah pepohonan yang tumbuh menghiasi pinggiran kota. Sesekali matanya terpejam dan tangannya di katup kan seolah tengah memanjatkan harapan dan doa-doa.
Sesampainya di kantor, Desri malah menekuk wajahnya. Sepertinya harapan Desri tak sesuai. Entah apa yang sebenarnya Desri harapkan.
"Des, kamu lagi apa?" Tanya seseorang dari belakangnya dengan sedikit berteriak.
Desri tersentak akibatnya. "Aku mau berhenti, Val." Jawabnya pelan seolah tak bersemangat sambil beranjak meninggalkan mesin print yang ditungguinya sedari tadi.
"Tapi kenapa, Des...?" Tanya temannya lagi dengan nada mulai memelas dan mengikuti Desri seperti anak bebek mengikuti induknya.
"Nggak ada alasan khusus sih, mau istirahat saja." Jawabnya asal tanpa meninggalkan rasa penasaran di benak temannya itu.
"Apa kamu mau menikah?"
"Kamu apaan sih, Rival? Nebak-nebak gitu..." Potong Desri cepat
"Padahal aku mau mengajak dia untuk menikah denganku..." Gumam teman Desri yang ternyata akrab disapa Rival. "Hmmm kapan-kapan saja aku datang ke rumahnya sambil menemui ibunya sekalian." Gumamnya lagi.
*****
"Assalamu'alaikum..." Ucap Desri sambil menyelonong masuk ke dalam rumah dan berjalan kearah ibunya yang tengah duduk di sofa usang ruangan utama.
"wa'alaikumsalam... Loh, kok kamu pulang cepat, Nak?" Tanya Wiwit sambil menerima tangan anaknya yang hendak mencium punggung tangannya itu.
"Desri... Emm... Desri sudah putuskan untuk menerima tawaran wanita itu, Bu..." Ucapnya pelan dengan keyakinan penuh.
"Apa???" Wiwit melongo tak percaya dengan ucapan anaknya.
"Iya, Bu, makanya Desri pulang cepat.. Desri sudah mengundurkan diri dari kantor..." Jelasnya tanpa penyesalan.
"Tapi, Nak..." Ibunya menghempaskan napas kasar sebelum melanjutkan ucapannya.
"Bagaimana mungkin kamu akan menikah dengan laki-laki lumpuh yang belum kamu kenal?"
"Bu, Desri mohon... Desri lelah, Bu.. Ibu pikir Desri tidak tau ibu ketakutan setiap kali mereka datang menagih hutang-hutang kita dengan cara kasar dan mengancam?" Ucap Desri memelas dan mata yang sudah berkaca-kaca. "Bahkan sisa gaji Desri tidak cukup untuk makan kita sebulan setelah membayar angsuran hutang itu..." Tambahnya dengan air mata yang sudah mulai mengalir deras.
Wiwit hanya diam dan tersedu mendengar ucapan putrinya.
"Ayolah, Bu, Desri mohon... Tolong hubungi wanita itu lagi, Ibu... Desri yakin pasti dia meninggalkan nomor teleponnya... Iya, kan, Bu?" Desak Desri penuh isak tangis.
"Tidak, Nak... Jangan lakukan itu, Sayang." Pinta ibunya sambil menggelengkan kepala dengan cepat. "Ibu juga akan bekerja jika itu diperlukan..."
"Nggak, Bu... Ibu nggak boleh bekerja... Ibu tidak boleh kecapean... Ibuuu..." Desri memelas sambil menggenggam erat kedua tangan ibunya.
.
.
.
.
.
dulu iparku anemia , bukan amnesia biasa ada jenisnya jg , selalu operasi melahirkan anaknya ... Alhamdulillah selamat .
semoga ada keajaiban untuk Desri .
kasihan klo Desrinya metong .
perempuan utama baik begitu.
sementara ayah arkhan bisa aja sengaja di celakai jg , sama halnya seperti arkhan.
jodoh Yuni siapa ya .
rival atau Endro
kasihan jg si Endro .
apa maksudnya dengan mentari yang sama?🤔
enakan melawak aja ndro jangan ganti profesi🤭😁
kakak ipar idaman
menantu idaman.