Dada Theo masih mengencang dan berdebar keras karena pergantian peristiwa yang tiba-tiba tersebut, dia mulai lega hanya ketika Kelabang raksasa berhenti menggeliat.
Theo masih termenung beberapa saat. "Aku benar-benar selamat!" dia bergunam pada dirinya sendiri.
Theo memandangi mayat Spirit beast Kelabang raksasa dihadapannya, terlihat berfikir beberapa saat, kemudian dia memutuskan berdiri dan mendekat kearah mayat Kelabang tersebut.
Dia melihat sekeliling, kemudian mengambil batu besar berbentuk lancip yang dia temukan tak jauh dari mayat kelabang raksasa tersebut.
Theo kemudian memakai batu teresebut untuk menghancurkan kepala Kelabang raksasa, menggali kedalam kepala dari mayat Kelabang raksasa sampai kemudian dia bisa melihat bongkahan berbentuk bulat.
Menggunakan batu dia mencongkel bongkahan tersebut. Setelah tercongkel dan jatuh ketanah, Theo mengambil dan mengarahkan bongkahan berbentuk bulat tersebut kearah atas untuk mendapat lebih banyak cahaya agar bisa melihatnya dengan jelas.
Bongkahan tersebut tak lain merupakan kristal beast dari kelabang raksasa, Theo sama sekali tak tahu tingkatan dari kelabang raksasa tersebut. Dia hanya bermaksud mengambil kristal beast dari kelabang raksasa untuk piala perang nya. Meskipun dengan cara yang sedikit aneh, dia menganggap dirinya yang telah mengalahkan Kelabang raksasa tersebut. Ini bisa dihitung sebagai perburuan pertamanya.
Theo tersenyum puas melihat kristal beast yang ada di hadapannya, dia kemudian dengan hati-hati meletakkan kristal beast tersebut kedalam bajunya.
Setelah urusan kirstal beast selesai, Theo melihat sekeliling untuk mengetahui dimana dia berada. Dia bisa tau bahwa dia masih berada di dasar jurang misterius.
Namun dari lingkungan yang agak berbeda, dia tahu bahwa dia berada jauh dari lokasi awal dia berada, dia melihat sekeliling dan menyadari bahwa sumber cahaya yang dia terima tidak lagi berasal dari buah bercahaya dan kunang-kunang namun berasal dari stalaktit berbentuk semacam kristal yang menempel di sisi-sisi jurang.
Ketika sedang fokus mengamati lingkungan sekitarnya, suara berdengung kembali terdengar dari ruang kosong diatasnya Itu adalah lokasi ruang terdistorsi yang membentuk lubang hitam sebelumnya.
Theo segera berlari mundur menjauh dari tempat tersebut. Tak lama kemudian, kejadian serupa yang pernah dia lihat sebelumnya kembali terulang, ruang terdistorsi lagi dan membentuk lubang hitam, lubang hitam tersebut bertahan beberapa saat sebelum mulai terdistorsi dan menghilang lagi.
Setelah duduk beberapa saat dan terus mengamati fenomena aneh yang terjadi di depannya, Theo bisa menyimpulkan bahwa ruang di lokasi tersebut memang secara berkala akan terus-menerus terdistorsi. Terbuka dan tertutup, muncul dan hilang, begitu terus menerus.
Theo bingung untuk mengambil keputusan, apakah dia akan melompat masuk lagi kedalam lubang hitam dan kembali ke lokasi nya semula atau meneruskan penjelajahan dari titik ini.
Tentu yang paling logis adalah kembali ke titik awal dimana Theo sudah agak akrab dengan lingkungannya dan terdapat buah bercahaya yang dapat digunakan untuk makanan bertahan hidup. Namun Theo ragu untuk melompat lagi kedalam lubang hitam, karena selain lubang hitam itu terlihat misterius dan menakutkan, dia lebih takut lagi bila ternyata lokasi dia keluar dari lubang hitam berbeda lagi dari lokasi awal dia berada.
Bagaimana bila dia keluar dan ternyata mendapati dirinya berada di lokasi dari sarang spirit Beast yang mengerikan seperti kelabang raksasa? hanya memikirkannya sudah membuat bulu kuduk nya merinding ketakutan.
Theo kemudian memutuskan untuk menolak ide melompat lagi kedalam lubang hitam. Mememulai penjelajahan dari titik ini adalah yang paling aman untuk saat ini.
Sambil melihat sekeliling, dia ingin memutuskan untuk pergi kearah mana. Ketika sedang kebingungan memutuskan arah, tiba-tiba mata Theo menangkap keberadaan sebuah lubang yang berada tak jauh dari lokasi munculnya distorsi ruang.
Segera merasa penasaran, dia mendekati lubang dibawah tanah tersebut. Setelah sampai disisi lubang, dia melihat kearah dalam lubang tersebut. Lubang di hadapan Theo tidak lah terlalu besar, hanya cukup untuk di masuki dua pria dewasa secara bersamaan.
Dia bisa melihat kedalaman lubang yang gelap gulita, seperti tak memiliki ujung. Setelah melihat kondisi lubang, dia sama sekali tak tertarik untuk memeriksa lebih jauh. Terlalu berbahaya dan menakutkan pikirnya.
Theo memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat tersebut, namun ketika dia ingin melangkah menjauhi lubang tersebut. Tanah di bawahnya tiba-tiba bergetar dan mulai runtuh, dalam sekejap tubuh Theo jatuh kedalam lubang tersebut. Dia kembali merasakan sensasi terjun bebas.
"Sialaaannnnn!!!!!" Theo mengutuk keras.
Dia tak tahu apakah sebenarnya dirinya ini begitu beruntung, atau begitu sial. Pergantian peristiwa terus menerus datang dalam sekejap pada dirinya beberapa hari terkahir.
Theo kembali terjun bebas, sensasi terjun bebas ini mengingatkan nya kembali pada saat dirinya terjatuh kedalam jurang untuk pertama kali. Dia mulai membenci sensasi terjun bebas ini.
Dia terjun untuk beberapa saat, lubang tersebut ternyata memang sangat dalam. Namun bila dibandingkan dengan tragedi jatuh kedalam jurang di awal, lubang ini tidak lah terlalu dalam.
Tubuh Theo melesat dengan cepat di kedalaman lubang, sampai akhirnya jatuh kedalam air. Dia bisa merasakan sedikit tersedak oleh air ketika pertama kali mendarat. Tubuhnya jatuh di kedalaman air sampai akhirnya terhenti, dengan buru-buru Theo kemudian berenang keatas permukaan.
"Guaaahhhhhhhh, ouughhhh, couughhhh, Hahhhh..hahhhh....hahhhh..."
Setelah sampai dipermukaan air, Theo segera terbatuk dan mulai mengeluarkan air yang sempat menyedak tenggorokannya. Kemudian dia mulai bernafas dengan cepat, jantungnya masih berdebar kencang karena sensasi jatuh yang tidak menyenangkan.
Setelah menenangkan diri sejenak, dia mulai melihat sekeliling, dia berada di tengah sebuah ruangan gua yang cukup besar.
Diatas langit-langit gua, penuh dengan stalaktit bercahaya yang memberikan penerangan dengan sangat baik di dalam ruangan gua ini, sehingga Theo bisa melihat sekeliling dengan sangat baik dan jelas. Dia juga bisa melihat lubang tempat dia terjatuh sebelumnya diatas langit-langit gua yang tinggi.
Theo menemukan dirinya berada di sebuah danau yang posisinya ada di tengah gua. Ditengah danau, Theo bisa melihat ada sebuah pulau kecil yang aneh.
"Apa-apaan... sudah aneh ada danau di tengah gua yang ada didalam jurang. Sekarang di tengah danau ada sebuah pulau?" Theo tak habis pikir, hal-hal aneh terus terjadi akhir-akhir ini.
Sebelum ini, munculnya jurang misterius merupakan fenomena aneh yang jarang terjadi, sesaat ketika Theo terjatuh dan sampai di dasar jurang. Dia menemukan dua ruang tak kasat mata yang memiliki daya tarik gravitasi yang sangat berlawanan. Kemudian munculnya fenomena ruang yang pecah dan terdistorsi menghasilkan lubang hitam yang bila orang memasukinya, mereka akan terlempar kesisi ruang yang posisinya sangat berbeda dari awal dia masuk.
Hal-hal aneh terus bermunculan dihadapan Theo membuat Theo tak lagi memikirkannya dengan terlalu serius, dia kemudian berenang menuju ke arah pulau di tengah danau.
Dia sampai di tepi pulau yang bisa di sebut sebagai pantai, namun pantai di tepi pulau ini memiliki pasir yang berwarna hitam legam, sangat aneh. Theo berhenti memikirkan hal yang aneh kemudian mulai berjalan memasuki kedalaman pulau.
Sesaat setelah memasuki pulau, Theo merasa sedang memasuki suatu ruangan yang tak kasat mata, sensasi yang sama ketika dia keluar dari ruang tak kasat mata sebelumnya ketika dia awal mendarat di dasar jurang.
Sebelum Theo memutuskan ingin mundur kembali, tak ingin masuk lebih dalam setelah merasakan ruang tak kasat mata tersebut. Pemandangan aneh kembali terhampar didepan matanya.
"Apa-apaan, apa lagi ini??" Theo mulai melongo seperti orang bodoh setelah mengatakan itu.
Pandangan di hadapan Theo sungguh menakjubkan dan tak terbayang sama sekali olehnya. Itu adalah pulau tropis dengan deretan pohon-pohon hijau membentang. Pulau tersebut tidak lah terlalu besar sehingga Theo bisa melihat ujung-ujung masing-masing pulau. Yang lebih mengejutkan untuknya adalah ketika Theo mendongak keatas, dia bisa melihat langit biru membentang dan ada matahari diatasnya. Di dalam pulau, Theo juga bisa melihat beberapa ekor spirit beast kecil berbentuk kelinci yang memiliki tanduk kecil sedang berlarian riang mengejar satu sama lain.
Theo yang terkejut mengambil langkah mundur beberapa langkah, sampai akhirnya dia jatuh terduduk keluar dari ruang tak kasat mata. Seketika pemandangan yang dia lihat kembali berubah, dia kembali kedalam ruangan gua yang besar dengan kumpulan stalaktit yang menjadi pusat penerangan diatasnya. Dihadapannya adalah pulau tandus berbatu yang ada di tengah danau, namun dia bisa merasakan ada ruang tak kasat mata di hadapannya.
Setelah menenangkan diri beberapa saat. Theo berdiri, mengambil nafas dalam-dalam dan kembali melangkah masuk kedalam ruang tak kasat mata. Seketika pandangannya kembali berubah, dia kembali kepulau tropis yang tadi.
"Apa ini ilusi??"
Theo merasa sangat kebingungan, dia segera berjalan memasuki pulau tropis, memegang pepohonan yang ada didalam pulau.
"Ini nyata!" Gumam Theo setelah memastikan pohon yang disentuhnya nyata.
Theo memutuskan berhenti memikirkan apa yang terjadi, apapun yang ada di dalam pikirannya, dia tak bisa mencerna yang sedang dia alami dan lihat sekarang ini.
Dia kemudian memutuskan untuk berjalan menjelajahi pulau tersebut. Karena memang pulau tersebut tidak terlalu besar, tak lama bagi Theo untuk menjelajah seluruh pulau. Langkah Theo kemudian berhenti ketika melihat sebuah rumah bambu yang terlihat sangat reyot dan lapuk di tengah pulau.
"Ada yang pernah tinggal disini?" Theo segera menjadi sangat penasaran.
Dia kemudian berjalan mendekati rumah bambu tersebut. Sesampai didepan rumah bambu, dia membuka pintu rumah tersebut dengan perlahan. Setelah pintu terbuka, Theo melihat hanya ada sebuah meja di dalam rumah tersebut, diatas meja tedapat sebuah gelang yang bedebu.
Ketika ingin melangkah masuk kedalam rumah bambu, Theo merasakan rumah tersebut sedikit bergetar. Dia kemudian melangkah mundur beberapa langkah, sesaat setelah mundurnya Theo, rumah tersebut langsung runtuh hancur berantakan dan menerbangkan debu kemana-mana.
"Uhukkk, uhukkkk" Theo terbatuk karena hempasan dari debu-debu yang berterbangan.
Setelah gumpalan debu agak mereda, Theo maju ke puing-puing reruntuhan rumah bambu. Dia segera membongkar tumpukan bambu-bambu lapuk yang sebelumnya sebuah rumah tersebut. Setelah beberapa saat mencari, dia akhirnya menemukan gelang yang sebelumnya dia lihat.
Theo menggosok-gosok gelang tersebut, membersihkannya dari debu. Setelah cukup bersih, Theo bisa melihat dengan lebih jelas gelang tersebut, gelang tersebut berwarna putih. Disisi-sisi gelang dia bisa melihat ukiran-ukiran kecil seperti formasi segel.
Theo ingin melihat lebih jelas ukiran-ukiran tersebut, namun dia merasa tidak begitu jelas karena masih tertutup beberapa debu, Theo kemudian berusaha menggosoknya lagi untuk membersihkannya.
Ketika sedang menggosok gelang tersebut, jari-jari Theo tiba-tiba seperti tertusuk oleh sebuah jarum. Darah segar segara menetes dari jari-jari Theo dan dengan cepat dan aneh mulai meresap kedalam ukiran-ukiran segel.
Theo yang merasakan jari-jarinya tertusuk segera secara reflek melemparkan gelang tersebut ketanah, dan mulai menghisap jari telunjuknya yang tertusuk tadi kedalam mulutnya.
Setelah jatuh ketanah, gelang tersebut mulai bersinar terang, membuat Theo mundur menjauh beberapa langkah. Tak lama kemudian dari dalam gelang keluar seberkas cahaya putih, melayang tinggi kelangit.
Theo yang melihat hal tersebut hanya bisa melongo dan jatuh terduduk mendongak keatas, kearah cahaya tersebut terbang. Namun masih tetap dengan posisi menghisap jari telunjuknya.
Cahaya tersebut kemudian perlahan melayang turun, kini Theo bisa melihat dengan jelas cahaya tersebut. Cahaya tersebut berbentuk sesosok manusia namun terlihat agak transparan, manusia tersebut menatap Theo dengan tatapan aneh.
Theo segera tersedak dan mengeluarkan jari telunjuknya dari dalam mulut setelah menerima tatapan aneh dari sosok transparan tersebut. Dia bingung harus merasa malu atau takut.
"Apakah kau hantu?" Tanya Theo.
Sosok tersebut tak langsung menjawab, dia melihat Theo dengan tatapan memeriksa beberapa saat, sebelum akhirnya mulai membuka mulutnya dan menjawab.
"Namaku adalah Xiao Tiankong."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 500 Episodes
Comments
Mumtaaz an21
p
2024-01-18
1
Xmolt
e
2023-12-11
0
Rocoberry
ini rumahnya xiao chen pendekar naga
2023-11-27
0