“Kenapa kau tak masuk? Toiletnya kosong,” tanya Diora ketika dia dan Eliana sudah sampai di toilet namun Eliana yang ia fikir akan membuang kotoran dalam tubuh tak kunjung masuk.
“Mmm Dior ... sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu, aku tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa.” Tangisan bombay Eliana keluarkan demi mendapatkan simpati.
“Jika aku bisa membantu, aku akan bantu. Katakan saja.” Diora menenangkan Eliana, menepuk pundaknya.
“Ibuku sedang sakit, biaya rumah sakit harus segera dibayar dan aku tidak memiliki uang untuk membayar,” ujar Eliana.
“Astaga ... ayo kita ke rumah sakit sekarang, aku akan membayarkannya,” ajak Diora.
“Tidak perlu Dior,” cegah Eliana. Ia berfikir sejenak mencari alasan agar Diora tak memaksa untuk langsung membayarkan biaya rumah sakit.
“Kenapa? Bukankah kau sangat butuh?” tanya Diora.
“Karena ibuku dirawat di rumah sakit yang ada di Kota Puolanka,” kilah Eliana. Hanya alasan itu yang terbesit di otak Eliana. Sebab ia memang berasal dari kota itu dan keluarganya memang berada di sana. “Jika kau kesana, ibuku mungkin tak segera tertolong. Jarak Kota Helsinki ke Kota Puolanka sangat jauh, harus menempuh perjalanan selama sembilan jam. Aku takut ibuku tak tertolong, lebih baik di transfer saja,” imbuhnya. Tangis bombaynya semakin ia isakkan.
“Memang berapa biaya rumah sakitnya?” tanya Diora. Ia tak tega jika mendengar orang yang sedang terkena musibah namun tak menolong.
“Lima puluh ribu euro,” jawab Eliana.
“Apa?” Diora kaget dengan biaya yang dibutuhkan. Sebab lima puluh ribu euro bukanlah uang yang sedikit.
“Apa kau bisa menolongku Dior? Aku sudah mencoba mencari pinjaman kemanapun, tapi tak ada yang bisa meminjamiku. Aku takut ... takut ibuku tak tertolong.” Eliana menangis tersedu-sedu. Ia genggam tangan Diora memohon agar Diora mau menolongnya, karena Eliana tahu Diora orang yang tidak tegaan.
“Oke ... oke, kirimkan nomor rekening keluargamu yang ada di sana, aku akan kirimkan sekarang juga.” Diora menyodorkan ponselnya kepada Eliana untuk mengetikkan nomor rekening yang akan ia kirim uang.
“Ini.” Eliana mengembalikan ponsel Diora.
Diora lalu melakukan transaksi melalui mobile banking. Ia mengirim sejumlah uang yang disebutkan oleh Eliana. “Sudah aku transfer, semoga ibumu lekas sembuh.”
“Terima kasih.” Eliana tersenyum lalu memeluk Diora.
“Mmm ... kau bisa mengembalikannya ketika sudah memiliki uang,” pungkas Diora. “Kau jadi buang air? Masuklah, aku akan menunggumu di sini.”
“Tidak, aku harus segera pulang ke Poulanka untuk melihat kondisi ibuku,” tolak Eliana.
“Baiklah, kita kembali saja kalau begitu,” ajak Diora. Ia mengajak Eliana untuk segera keluar dari toilet.
“Kenapa cepat sekali?” tanya Gabby. Ia baru saja akan masuk ke toilet, namun sudah berpapasan dengan Diora dan Eliana di lorong keluar toilet. Jika ia tak ditegur oleh petugas kebersihan kantin untuk mengembalikan nampan makanan, pasti ia tak akan terlambat. Ia kesulitan untuk mengembalikan nampan makanan, karena ia harus mengembalikan tiga nampan termasuk milik Diora dan Eliana yang belum mereka kembalikan.
“Aku kembali dulu, terima kasih atas bantuanmu,” pamit Eliana. Ia meninggalkan kedua orang sahabat yang tengah memandang kepergiannya.
“Bantuan apa?” tanya Gabby penasaran.
“Dia meminjam uang untuk membayar rumah sakit, ibunya sedang sakit,” jawab Diora sembari melenggang menuju tempat parkir.
“Berapa banyak?” tanya Gabby.
“Lima puluh ribu euro.” jawab Diora enteng.
“Kau percaya dengannya begitu saja, astaga Diora ...,” kesal Gabby. Beginilah jadinya jika ia membiarkan Diora berbicara dengan Eliana. “Kau itu terlalu baik.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 181 Episodes
Comments
Astri
aduh txta mommy dior sepolos ini ketika remaja
2024-05-04
0
enggar al
bukan terlalu baik, tapi g****k..
2024-03-05
0
Qoriza Aina
cepet bgt percaya dah
2024-02-02
0