Bagian akhir episode lalu
" Tenang teh, duduk dulu toh belum iqomah....! " kata Andi.
Asih bergumam dlm hati.
" Ngomong apa enggak ya ? " bisiknya dalam hati.
" Sekarang teteh bilang, sebenarnya ada apa. kayaknya gelisah banget." tanya Andi.
" Iya Ndi, Asih kan besuk mau ke jakarta itu yg bikin Asih jadi gelisah, karena sebenarnya...."
Suara Asih kembali tercekat.
Tiba tiba ada rombongan ibu ibu lewat.
" Hayuuuk keburu iqomah nanti jang...! " sapa seorang ibu.
" Iya bu, nungguin Teh asih ini bentar. ! " seru Andi.
" Ya udah Ndi ke Masjid dulu aja. Kita obrolin nanti aja Ndi !? " Kata Asih.
Mereka pun jln ke Masjid, untuk berjamaah. Sementra Aster di rumah berharap Asih bisa mendapat kepastian.
Semoga Asih berhasil, minimal ada kepastian hubungan dengan Andi sepupunya. Aster juga jd kepikiran jika Andi suka sama Aster. Maka Aster tak tega untuk menolak. Namun juga tak sanggup untuk menerima.
Begitu berat ujian yg bernama Cinta, bagai sekeping uang logam.
Satu sisi bergambar sisi lain Nominal jadi satu kesatuan.
Sisi Indahnya Cinta tak dapat di pisahkan dengan getirnya Cinta. Seperti Gambar dan Nominal pd uang logam.
Apakah Aster nanti juga akan mengalami hal yg demikian...?
Aster mulai terpikirkan apa yg dirasakan Asih. Yg hanya bertepuk sebelah tangan, lain halnya jika Gayung bersambut. Asih suka Andi, dan Andi pun menyukai Asih.
Aah aku kenapa sekarang baru tahu perihnya hati karena Cinta. Apakah yg dirasakan Asih itu juga dirasakan Gara waktu itu.
Apakah Andi juga akan merasakan hal yg sama seperti itu..?
Lantas bagaimana dengan Aster sendiri...?
Lebih beruntung karena tidak pernah jatuh cinta, ataukah itu justru sebuah musibah.
Tidak disadari Aster jika dipipinya, telah mengalir butiran air mata. Butiran air mata untuk Asih kah, Andi kah atau untuk Aster sendiri. Asterpun tak tahu jawabnya.
Lama Aster merenungi itu, padahal baru berapa hari Aster kenal dengan Asih..? Tapi sudah begitu pedulinya dengan sahabatnya itu.
Mungkin karena sifat Aster yg begitu, sehingga sulit melupakan Astri. Atau karena dulu harus terpisahkan dengan Astri. Sehingga membentuk karakter Aster jadi super melankolis seperti itu. Entahlah, yang jelas begitulah Asteria.
Tak satupun sahabatnya yg luput dari kepedulianya. Aster kembali mengingat masa lalunya di jepang. Saat akan berpisah dengan Jessy sahabatnya dari New Zeland.
..." Aster i must return to my Country. And I think so do you ! " ucapan Jessy pada Aster....
" Of course my friend... I have been waiting for my family and friend But I'll always miss you forever. I can't forget what happened between us !" jawab Aster.
..............." In fact, my Father want to you help his Company. And your future will be good there. you don't needed to find a job any more. I hope you consider this offer. Because my father beleives in you. In 5 Years you can open branch office, in your country. All is borne by my fther. " jessy berucap dengan deraian air matanya
Tempat ini jadi saksi perpisahanku dengan Jessy......................
Kenapa aku sulit melupakan memori memori kebersamaan seperti itu. Apakah karena hal itu sehingga aku tak pernah berpikir tentang kekasih. Atukah memang hatiku yg beku seperti Salju itu.
Aster tak menyadari, jika Andi sudah berdiri dihadapanya.
"Loh mbak Aster nangis... ? " tanya Andi.
" Gak kok ndi, cuma inget masa lalu saat masih di jepang ! " jawab Aster.
" Udah jangan nangis, bpk ibu bentar lg pulang. Tar dikira kenapa napa mbak ! " seru Andi.
" Iya Ndi, biasanya kan bulek sama pak lek sekaliyan Jamaah Isya ? " tanya Aster.
" Iya, kan bentar lagi juga sudah Isya ! " jawab Andi.
Suasana hening sejenak, tiba tiba Andi dan Aster saling memanggil secara bersamaan.
Andi : " Mbak....? "
Aster : " Ndi...? "
Andi : " Kok barengan sih panggilnya mbak mau ngomong apa. Silahkan duluan bicara ! "
Andi persilahkan Aster bicara lebih dulu.
" Hehe... iya bisa barengan, gak kok mbak cuma mau nanya. Tadi ke Masjid sama Asih ngobrol apa saja ? " tanya Aster pada Andi.
Andi gelagapan ditanya begitu. Ingat dari perjalanan menuju Masjid sampai pulang dari Masjid.
................
Andi mengingat memori barusan dengan Asih.
" Teh Asih, kirain dah pulang duluan !?? " seru Andi saat keluar dari Masjid.
" Belum nih, pulang sekarang yuuk ! " ajak Asih.
" Ayuuk..! " jawab Andi singkat.
Mereka pun melangkah dalam diam menuju rumah.
" Teh Asih tadi mau ngomong apa ? " tanya Andi.
Asih yg baru mencoba merangkai kata jadi buyar.
" Owh... ini.. ee Asih kan besuk mau berangkat ke Jakarta Ndi. Jadi eeeh maksut Asih pingin ngomong...?! " suara Asih terpotong hadirnya Usnah tetangga mereka.
" Hei teh Asih aak Andi, berdua aja ? Usnah ikut gabung ya !" katanya polos.
" Iya boleh ! " jawab Andi.
Asih jadi canggung, mau bilang ada orang lain. Gak bilang udah separuh jalan.
" Gimana teh Asih, apa kita lanjut dirumah nanti ? " tanya Andi.
" Gak usah Ndi, Asih cuma mau bilang besuk Asih ke Jakarta. Sudah lama pingin cari kerja disana. Maafin Asih jika selama ini sering repotin Andi. " kata Asih, hambar...!
" Aaah teh Asih ini, yang begitu dipikirin. Kayak sama siapa saja, teh Asih sama Andi tu bukan orang lain lagi ! " jawab Andi kalem.
" Maksutnya bukan orang lain gimana ? " tanya Asih penasaran & berharap sesuatu dari Andi.
" Ya teh Asih tuh dah Andi anggap keluarga Andi ! " jawab Andi.
" La iya keluarga yang bagaimana ? " tanya Asih.
" Ya sama kayak mbak Aster, jadi keluarga Andi anggap kakak kandung Andi. " jawab Andi agak canggung nyebut nama Aster.
" Owh gitu, kirain Andi tu suka sama Aster seperti sukanya cowok ke cewek, hihihi. " jawab Asih sambil tertawa menutupi kecewanya.
" Gak laah teeh mbak Aster itu kan kakak sepupu Andi. Masak iya Andi Cinta sama mbak Aster. " jawab Andi gelagapan. Tidak menyangka ditanya begitu sama Asih.
" Ya gak papa kan Ndi, meski sepupu kan tetep bukan mahrom. Jadi Andi cinta Aster itu gak masalah. " kata Asih memancing reaksi Andi.
" Masa gitu sih teh... eeeh tapi gak lah teh. Mungkin mbak Aster juga sudah punya cowok juga. " jawab Andi.
Asih tidak melanjutkan bicara, karena dia merasa sudah mendapat jawaban. Bahwa memang Andi mencintai Aster, dan tidak berani mengutarakan isi hatinya. Sama seperti dirinya, yang mencintai Andi tapi tak mampu berkata. Bahkan berharap pun juga tak mungkin saat ini.
" Asih tahu yang kamu rasakan Ndi. Karena Asih pun merasakan apa yg kamu rasakan. Bedanya perasaan kamu untuk Aster. Sedangkan perasaan Asih untuk kamu. " bisik Asih dalam hati.
Akhirnya Andi masuk kerumahnya dan Asih menuju rumah Asih juga. Dan Usnah sudah lbh dulu sampai rumahnya, beberapa gang sebelum rumah Andi.
................
" Hei Ndi... kok bengong ? " tanya Aster.
Andi jadi kaget dan gugup, bahkan lupa Aster tadi tanya apa.
" Owh iya mbak, tadi tanya apa ? " tanya balik Andi.
" Kamu kenapa sih Ndi..? Kok jadi gugup begitu, mbak tadi nanya ngobrol apa tadi sama Asih ? " jawab Aster sambil mentertawakan Andi.
" Owh mbak Aster tahu yg dibilang teh Asih ? " jawab Andi gugup membuat Aster jadi makin heran dengan Andi.
" Kenapa ini anak, kok jadi rada oon begini. " kata Aster dalam hati.
Sebenarnya yg terjadi adalah, Andi mengira pembicaraan Asih tentang perasaan Andi pada Aster sudah diketahui Aster. Padahal yang dimaksut Aster, apakah Asih sudah mengungkapkan perasaanya pada Andi.
Dan bagaimana tanggapan Andi tentang hal itu. Tapi Andi justru beda persepsinya.
" Kamu kenapa Ndi ? Sakit atau kenapa ? " tanya Aster heran.
" Owh gak kok mbak.. tadi teh Asih cuma bilang kalo besuk jadi mau berangkat ke Jakarta. Ya intinya cuma pamitan saja, gak ada yg istimewa ! " jawab Andi gugup.
Aster jadi makin penasaran dengan Andi yg aneh menurutnya.
" Kamu kenapa jadi gugup gitu Ndi ? Ada yg kamu rahasiakan dari mbak ? " sergah Aster pada Andi.
" Gak kok mbak, lah memang mbak Aster teh Asih bilang apa ? " tanya Andi.
" Apa Asih tidak membicarakan tentang perasaan antara cewek dan cowok ? " tanya Aster lanjut.
" Owh soal itu mbak...?!? " jawab Andi ragu melanjutkan.
" Iya maksut mbak Aster tentang itu, Asih bilang apa ? " kejarAster.
" Begini mbak Aster, kalo soal rasa atau persaan itu kan datangnya dari hati. Jadi ya jangan disalahkan kalo ada orang mencintai. Terserah yg di cintai, itu mau menerima atau tidak. " jelas Andi yang tidak jelas.
Andi benar benar salah paham, dengan pertanyaan Aster. Yang dimaksut Aster adalah ungkapan perasaan Asih pada Andi.
Tapi Andi menyangka, Aster menanyakan tentang perasaan Andi ke Aster. Seperti yang dikatakan Asih sebelunya tadi.
" Mbak Aster gak menyalahkan Ndi, itu hal yg wajar. Perasaan itu bisa muncul pada siapa saja, dan untuk siapa saja. " jawab Aster.
" Terus kalo menurut mbak Aster sendiri soal perasaan tadi bagaimana ? " tanya Andi agak gemetar.
" Ya kalo mbak Aster sih terserah kamu Ndi. Karena kalo mbak Aster sendiri saat ini belum berpikir hal itu. Entah mau sampai kapan, Aster juga gak tahu. Soal pembicaraanmu dengan Asih tadi, mbak Aster no coment. Terserah kamu mau bagaimana dalam mengambil sikap. " jelas Aster yang makin membuat bingung Andi. Karena sudah salah paham dari awal.
" Assalaamu 'alaikum...! " seru Bapak ibunya Andi dari Masjid.
" Wa 'alaikummussalam...! " jawab Aster dan Andi kompak.
" Gak ke masjid Ndi ? " tanya ibu nya Andi.
" Tadi maghrib, Isya' nya nggak ! " jawab Andi singkat.
Pembicaraan Andi & Aster terpotong, sebelum permasalahan jelas. Antara Aster & Andi masih ada kesalah pahaman yg tidak disadari keduanya.
Akhirnya mereka berangkat tidur dan masuk kamar masing masing.
Sementara di kamar Asih, setelah packing pakaian. Asih rebahan di ranjangnya, dengan mata yg berkaca kaca.
...Andi....!...
...Kita hidup bertetangga sudah lama. Dari kita sama sama masih balita. Aku juga tidak menginginkan jatuh cinta padamu....
...Bahkan dari Asih SMP Asih menyuruhmu panggil Asih teteh atau eceuk . Karena Asih suka jadi kakakmu. Namun 2th terakhir ini, Asih dari sayang padamu sebagai adik, Asih simpatik padamu, kagum padamu....
...Dan semua rasa itu menyatu dalam sanubariku, dan menumbuhkan benih benih cinta dihatiku....
...Semakin lama benih itu tumbuh semakin subur, dan akhirnya berbunga....
...Bunga yg mekar dalam hatiku, yang memberikan warna dalam hidupku. Namun saat ini bunga itu layu, dan warnanya pun memudar....
...Satu persatu kelopak bunga pun berguguran terlepas dari tangkai bunganya....
...Mungkin memang dari awal aku tak boleh mencintaimu Ndi....
...Seperti halnya Asih, kamu pun akan mengalami rasa seperti ysng kurasa....
...Maafkanlah Asih tak bisa membantumu, bukan Asih tak mau tapi Asih tak mampu....
...Hati Aster begitu dingin dan beku, bagai gumpalan salju. Sebenarnya Asih rela, jika Andi suka dengan Aster....
...Tapi Asih tahu, hati Aster belum terbuka? atau bahkan tidak akan terbuka untukmu....
...Seperti juga hatimu yg tak akan pernah terbuka untukku. Namun Asih sadar, aku tak pantas mengharapkan dirimu....
...Saat ini Asih hanya berharap, kamu mampu melupakan Aster. Jangan lukai hatimu lebih dalam lagi....
...Jangan sampai kau rasakan apa yg kurasa....
...Biarlah Asih jd teh Asihmu seperti dulu. Yang tersenyum dan tertawa jika kamu berbuat lucu. Yang menangis sedih jika kau terjatuh dari sepeda atau tergores onak duri saat main di kebun....
...Rasanya itu lebih membahagiakan sebelum adanya virus virus cinta yg menggerogoti hatiku....
Begitulah suara hati Asih yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Yang direspon oleh linangan air mata bening, dikerling matanya.
Sang dewi malampun tak mampu membuat Asih tertidur. Hanya kelelahan yg membuatnya terlelap di alam mimpi.?
Sementara ditempat lain Aster pun sibuk dengan khayalanya sendiri. Dengan berharap sesampainya di jakarta nanti dapat bertemu Astri.
Aster yakin akan dapat bertemu denganmu Astri. Entah cepat atau lambat Aster akan menemuimu.
Itulah lamunan Aster yg berbeda denan Andi & Asih.
Berbeda lagi dengan Andi, yg telah salah menafsirkan perkataan Aster. Yang oleh Andi di hubungkan dengan perkataan Asih. Tentang " perasaan" Andi pada Aster.
...Jadi Aster sudah tahu jika Andi memendam rasa padanya....
...Dia gak marah, memyerahkan semua pada Andi....
...Tapi Aster sendiri sedang tidak mau berpikir tentang itu....
...Apa maksutnya ya...?...
...Terserah Andi tapi Aster gak mikirin ini dulu....
...Apa itu tandanya menguji kesetiaan Andi..?...
...Apakah harus dengan cara seperti itu apa tidak ada cara lain ?...
...Apa maksutnya Aster bilang no coment ? Apakah sebenarnya dia gak suka padaku, tapi menolak dengan halus ?...
...Atau dia baru berpikir menerima atau tidak ?...
...Atau dia memang menguji perasaan cintaku ?...
...Tapi kenapa dihadapanya aku tetep panggil mbak ?...
...Kenapa aku gak berani panggil namanya saja. Toh usiaku juga paling hanya terpaut 3 th....
Andi gelisah galau bin gabut.
Sama seperti Asih,Andi pun susah untuk memejamkan mata.
Waktu semakin larut, Andi & Asih tertidur karena kelelahan. Begitu pula dengan Aster.
Saat Asih mikirin Andi justru Andi mikirin Aster.
Dan saat Andi mikirin Aster justru Aster berharap Andi jadian sama Asih.
Sementara Asih sendiri tak punya keberanian untuk mengutarakan padaAndu. Tapi Aster tahunya Asih sudah nembak Andi. Makanya tadi bertanya begitu oada Andi.
Akan tetapi Andi Salah paham, dikiranya Aster bertanya tentang perasaan tadi. Andi berpikir menanyakan perasaan Andi ke Aster.
Sungguh sangat Rumit kisah cinta yang terjadi pada mereka.
Dan tak terasa, waktu subuh telah tiba. Dan kumandang adzan membangunkan mereka.
.................
...bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Bintang kejora
Belibet bngt bagai benang kusut, awut²n.
Aster, Asih & Andi, smua pd salah paham. Mrk blm jelas duduk persoalannya & pastinya butuh wktu tuk mjwb kesalah pahaman mrk.
2021-08-01
1
ARSY ALFAZZA
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
2021-07-14
1
Lizaz
Aku mampir thor
Mampir juga di karya aku ya,
mari kita saling mendukung dan membantu ❤️
2021-07-09
1