Waktu telah lama berlalu sejak jam pelajaran kedua dimulai dan Bel pulang sekolah juga telah dibunyikan.
“Baiklah anak-anak kita akhiri pelajaran hari ini, jangan lupa kerjakan tugas yang bapak berikan.” Guru itu meninggalkan ruang kelas.
Seperti biasanya, Mizuki membereskan buku-bukunya. Selesai membereskan buku, ia langsung pergi keluar ruangan. Mizuki menuruni tangga kemudian berhenti saat mendengar Ryota memanggilnya.
“Mizuki, tunggu sebentar!” Ryota berlari menghampiri Mizuki.
“Iya,” balas Mizuki singkat.
Mereka berbincang-bincang sebentar di tangga. Tanpa mereka sadari seluruh siswa sudah menghilang dari pandangan. Itu berarti siswa lainnya sudah turun semua, namun ada Shina yang diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua.
“Aku tadi mendengar kalau Shina hampir jadi korban Maki. Katanya itu karena kau pergi ke sekolah bareng Shina, apa itu benar?” tanya Ryota sambil menatap Mizuki.
“Siapa Shina itu?” Mizuki berbalik bertanya, ia tidak tahu sama sekali nama teman-temannya di kelas kecuali Ryota.
“Gadis yang bersama denganmu tadi pagi, bodoh!” Ryota sedikit kesal dengan Mizuki.
“Apa itu benar? Aku tidak tahu sama sekali.” Mizuki terlihat khawatir.
“Iya, aku mendengarnya sendiri dari orang-orang. Apa hubunganmu dengannya Mizuki? Apa kalian berpacaran?” Ryota penasaran.
“Tidak, kami tidak berpacaran. Hanya saja aku tadi bertabrakan dengannya dan tanpa sengaja membuat kacamatanya retak.”
“Oh, begitu..”
Shina baru saja menjatuhkan kotak sampah yang berada di dekatnya. Bersamaan dengan itu, mereka berdua menatap langsung ke atas tangga dan Ryota hendak memastikannya.
“Siapa itu?” celetuk Ryota kemudian menaiki tangga.
Mizuki menghentikan langkah kaki Ryota dengan menarik tangannya, “Kau tak perlu memedulikan itu, mungkin itu hanya kucing penjaga sekolah.”
“Ah, baiklah. Aku harus segera pulang, dah!”
Ryota mulai menuruni tangga dan mulai menjauh. Tanpa terasa, keberadaan Ryota sudah menghilang sejak ia keluar dari gerbang sekolah.
“Oh, kau gadis pagi tadi. Aku lupa memperkenalkan diri, namaku Mizuki. Tadi pagi aku lupa menanyakan namamu.”
“A-aku Shina Nohara, Senang berkenalan denganmu Mizuki.” Shina tersenyum.
“Bagaimana kalau besok kita pergi jalan untuk mengganti kacamatamu?”
Mizuki sendiri sebenarnya tidak terlalu sibuk dan ia juga memiliki keperluan yang ingin di belinya seperti beberapa perangkat game dan kebutuhan in-game. Jadi karena itu ia mengajak Shina sekalian menggantikan kacamata yang tanpa sengaja sudah dirusak.
“Kau tidak perlu menggantinya, Mizuki. Aku akan membelinya memakai uangku sendiri.”
“Tidak, tidak. Aku akan mengganti kacamatamu. Sampai jumpa Shina. Aku akan menunggumu di mal pukul dua siang, jadi jangan sampai lupa!” Mizuki pergi dengan cepat sambil melambaikan tangan.
“Ta-tapi—?”
Keberadaan Mizuki sudah sangat jauh untuk digapai. Shina yang merasa sangatlah senang karena bisa berbicara dengan Mizuki. Apa lagi, Mizuki adalah orang yang sudah mencuri hatinya sejak lama sekali.
****
Keesokan harinya.
Mizuki datang lebih awal dari apa yang mereka janjikan. Hal itu karena ia beranggapan bahwa tak ada salahnya dan dia juga tidak memiliki banyak kegiatan hari ini.
Seorang gadis baru saja menyapa Mizuki dari belakang. Gadis cantik dengan rambut yang terurai dan mata berwarna kecokelatan.
“Oh itu kau, Shina.”
“Ehh, bagaimana kau bisa tahu?” Shina terheran-heran.
“Aku sudah melihatnya kemarin?” Mizuki tersenyum, “Tapi, kenapa kau menyembunyikan wajahmu itu?”
“Sebenarnya, aku tidak ingin menjadi perhatian orang dan aku terus dibuntuti oleh orang tak dikenal.”
“Itu memang mengerikan.”
Banyak orang yang memperhatikan mereka.
Bahkan ada orang yang secara sembunyi-sembunyi memotret kedua orang yang terlalu mencolok itu.
“Hei, apa mereka berdua adalah artis?”
“Tidak, aku tidak pernah melihat mereka berdua di TV ataupun majalah.”
“Lihatlah mereka berdua, pasang yang serasi.”
“Iya, itu membuatku iri, semoga suatu saat aku juga sama seperti mereka.”
Mereka berdua terganggu karena perhatian orang lain dan memutuskan untuk segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
”Ayo kita pergi,” Mizuki dengan segera menarik tangan Shina.
Setelah beberapa lama berjalan, mereka sampai di sebuah toko kacamata. Seorang pelayan yang menyadari keberadaan pelanggan datang menyapa dan mempersilakan masuk.
“Selamat datang,” sapa pelayan tersebut.
“Aku mencari sebuah kacamata yang cocok untuknya,” Mizuki menunjuk ke arah Shina.
Pelayan itu membuka lemari kaca dan mengambil sebuah kotak berwarna coklat dan memperlihatkan isinya kepada mereka berdua.
“Ini kacamata yang saya rekomendasikan. Saya pikir ini sangat cocok Nona.” pelayan itu tersenyum dengan ramah.
‘Ini lumayan bagus,’ Mizuki mengetesnya dengan langsung memakaikan kacamata itu ke kepala Shina.
“Apa kau menyukainya Shina?”
“A-aku menyukainya, tetapi bukankah ini sangat mahal?”
“Tidak apa, lagi pula itu sebagai ganti kacamata yang aku pecahkan.”
Pelayan itu kembali mengambil kacamata yang sama dari dalam meja kaca. “Apakah kalian mau membeli paket pasangan? Kami akan memberikan diskon 40 persen!” pelayan itu juga memperlihatkan sebuah brosur.
“Kami—,”
“Iya, tolong,” sela Mizuki.
Mizuki sebenarnya juga tertarik dengan kacamata yang sama seperti Shina. Ia juga membutuhkan kacamata karena akhir-akhir ini penglihatannya kurang jelas.
Mizuki mengeluarkan kartu miliknya dari saku dompet. Selesai membayar, ia mengajak Shina untuk menonton bersama. Sudah beberapa menit berlalu, namun Shina terlihat begitu ketakutan dan tanpa sadar menggenggam tangan Mizuki.
Mizuki hanya terdiam dan membiarkan Shina tetap menggenggam tangannya, ‘Aku tidak tahu kalau Shina takut menonton film seperti ini, mungkin lain kali aku akan mengajaknya menonton yang lain.’
“Hey, ayo kita keluar. Kau terlihat ketakutan.” Mizuki menggoyangkan Shina.
“A-apa kau yakin? Filmnya baru 10 menit dimulai.” Shina terlihat ragu.
“Tak perlu memaksakan diri. Aku tidak tahu kalau kau ketakutan. Lain kali aku akan mengajakmu menonton film lain.” Mizuki mencoba untuk meyakinkan Shina yang terlihat khawatir.
Shina hanya menuruti Mizuki dan keluar dari sana. Mizuki mengajak Shina untuk makan dan tiba disalah satu restoran yang terkenal karena masakan enaknya.
Mereka duduk disalah satu kursi yang kosong dan memesan beberapa makanan. Di sana juga terdapat poster Chosha Online. Shina memperhatikan poster itu dengan saksama.
“Apa kau memainkan Chosha Online, Shina?”
“Ah iya, aku memainkannya.” Shina menolehkan wajahnya ke arah Mizuki yang berada di depannya, “Apa kau juga memainkannya Mizuki?”
“Ya, baru-baru ini aku memainkannya.”
Makanan yang telah dipesan tiba di tengah percakapan mereka berdua. Karena sudah merasa terlalu lapar, Mizuki memutuskan untuk tidak terlalu banyak berbicara dan menikmati makanannya.
****
Hari sudah malam. Selesai dari makan mereka memutuskan untuk segera pulang. Tapi karena hujan jadi mereka harus berbagi payung. Mizuki mengantarkan Shina ke stasiun. Namun di tengah perjalanan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintas. Cipratan air membuat pakaian mereka berdua basah.
“Shina Bagaimana kalau mampir ke rumahku? Kebetulan rumahku ada di sekitar sini. Lagi pula, pakaian yang basah akan membuatmu sakit Shina.”
“I-iya.”
Tak lama mereka sampai di rumah Mizuki. Rumah yang cukup besar untuk dihuni satu orang. Mizuki membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Shina masuk.
“Aku pernah mendengar kalau kau berasal dari keluarga yang kaya Mizuki, tapi tidak pernah aku sangka kalau rumahmu sebesar ini.”
“Ini semua bukan milikku.”
Mengetahui kalau ia hanya berada berduaan membuat pikiran Shina ke mana-mana dan wajahnya menjadi memerah merona.
“Kau mandilah duluan, aku akan menyiapkan pakaian untukmu.” Mizuki menunjuk kamar mandi.
“I-iya baiklah”
****
“Shina, aku menaruh pakaian di depan pintu.”
“I-ya, terima kasih”
Mizuki sendiri sudah mengeringkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Ia menuju ke dapur kali ini ia memasak makan malam sedikit banyak dari biasanya.
Shina datang dari kamar mandi memakai pakaian yang diberikan Mizuki. Pakaiannya pas dengan Shina, tidak kekecilan dan tidak kebesaran. Ia duduk di kursi dekat dengan Mizuki yang saat itu sedang memasak makanan.
‘Suasana ini membuatku canggung,’ batin Shina.
Beberapa saat kemudian Mizuki menyiapkan makanan ke atas meja dan menyantap makanan bersama.
Selesai makan, Shina membantu Mizuki membersihkan peralatan masak dan piring.
Perkerjaan Mizuki menjadi cepat karena ada yang membantunya.
Tak lama mereka selesai mencuci tanpa berkata-kata sedikit pun. Mizuki mengajak Shina ke kamarnya, kamar yang berada di lantai dua.
“Wah, aku tak menyangka kalau kamarmu sangat rapi.” wajah Shina terlihat sangat kagum.
Shina melihat-lihat ke seluruh ruangan. Ruangan itu sangat luas. Di sana terdapat Asphy, komputer, sofa, dan sangat banyak buku yang terpajang di rak. Karena tertarik dengan berbagai macam buku yang berada di rak, Shina pun menghampirinya dan tanpa sengaja menjatuhkan sebuah foto keluarga Mizuki.
Shina mengambil foto itu dan memperlihatkannya kepada Mizuki, “Yang mana kau, Mizuki?” tanya Shina.
“Itu, aku yang kecil. Yang hanya memakai popok saja.” Mizuki terlihat malu untuk mengatakannya.
Sontak Shina tertawa karena hal itu. Ia tak menyangka jika Mizuki saat masih kecil sangatlah imut seperti ini.
“Kau mengejekku...”
“Maaf,” Shina terkekeh.
Tiba-tiba terjadi pemadaman lampu. Hujan semakin deras ditemani dengan suara petir yang menyambar. Malam ini nampaknya Shina terpaksa menginap di rumah Mizuki ketika menyadari hujan yang tak kunjung reda.
Shina ketakutan dan langsung mendekat ke arah Mizuki. Tanpa sengaja Shina memeluk Mizuki. Mizuki hanya berdiam diri, ia tidak membalas pelukan Shina dan mengambil keuntungan dari gadis yang sedang ketakutan.
“Kau tidurlah di kasur, aku akan tidur di sofa.” Mizuki melepas pelukan Shina namun saat hendak beranjak pergi ia dihentikan.
“Jangan pergi, aku takut. tidurlah di sampingku, aku tidak keberatan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 393 Episodes
Comments
The Lord of the Universe
fakkkkkkkk
2024-01-13
0
Dikhmasir Kun
kok keren banget si ni couo ajix
2022-09-11
0
🄳🄸🄲🄷🄻 🄽🄱🄾🄴
Wait, beli kacamata tapi gak ngukur minusnya? How?
2021-12-22
8