Part sebelumnya :
Hal yang terjadi selanjutnya adalah tubuh dari kerbau tadi menjadi sangat pucat karena kehabisan darah dengan beberapa luka robek di bagian tubuhnya. Hal ini diakibatkan oleh cakaran dan gigitan para tuyul tersebut. Malam itu pesta makan para tuyul pun terjadi sekali lagi, dibawah pimpinan Mbah Parwoto. Mbah Parwoto hanya tersenyum ngeri dengan keadaan seperti ini.
***
Beberapa hari yang lalu di daerah pinggiran kota berhembus rumor yang tidak baik, menurut kabar burung banyak ternak para warga yang mati secara misterius. Para ternak tersebut rata-rata mati dengan tubuh terkoyak ataupun gigitan binatang buas di bagian leher. Banyak warga yang berasumsi bahwa ini adalah teror dari Dracula ataupun serangan binatang buas, padahal yang terjadi sebenarnya bukanlah seperti itu.
Kota ini sekarang menjadi sangat sepi pada saat malam hari, kehidupan seolah berhenti ketika memasuki jam 10 malam. Bahkan para pedagang yang biasanya berkeliling pada jam-jam seperti itu, kini sudah tidak lagi berani beroperasi. Hal ini dikarenakan kabar burung yang mengatakan banyaknya hewan buas yang berkeliaran pada saat malam hari.
Di lain tempat, Raka sedang berada di luar rumah. Dengan ditemani oleh naga Sri Gundini, ia berkeliling dengan motor sport keluaran terbaru yang ia miliki. Raka baru saja pulang dari rumah salah satu saudaranya yang berada di tengah kota, sekarang Raka berniat untuk segera pulang ke rumah dan beristirahat. Namun tiba-tiba di tengah jalan sebuah asap berwarna hitam muncul di hadapan Raka, sosok ini kemudian menjelma menjadi bentuk seorang kakek tua yang memakai blangkon dan berpakaian hitam.
Dengan cepat Raka langsung menginjak rem motornya agar tidak menabrak kakek tua tersebut.
"Cih ... ada apa lagi ini," ujar Raka. Naga Sri Gundini yang dari tadi melayang di belakang Raka segera maju ke arah kakek tua tersebut. "Ada apa orang sepertimu menghalangi jalan kami berdua?" tanya naga Sri Gundini dengan suara paraunya. Kakek tua ini hanya tersenyum dan berkata, "Namaku adalah Parwoto. Aku melihat seorang anak Indigo yang memiliki The Third Eye berada di sekitar sini. Oleh karena itu aku sengaja memberhentikan kalian. Aku memiliki sebuah permintaan kepada anak itu," sambil menunjuk Raka yang masih berada di atas motornya.
Raka segera turun dari motornya dan mendekat ke arah kakek tua ini. "Memangnya apa keperluan kakek ini denganku?" tanya Raka. "Hmm ... kau masih muda dan terlihat kuat, Nak! Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya kakek tua ini. "Namaku Raka, kalau tidak salah dengar tadi nama Kakek Woto?" selidik Raka. Kakek tua ini hanya menganguk dan kemudian melanjutkan pembicaraanya, "Aku adalah seorang tua yang entah sampai kapan masih bisa ada di dunia ini. Aku sudah lama mencari seorang anak yang memiliki kemampuan The Third Eye sepertimu, tapi baru sekarang akhirnya aku bisa bertemu dengan orang sepertimu ini," ujar sang kakek tua.
Raka sempat bingung dengan apa yang dibicarakan oleh kakek tua ini. "Kakek ini terlalu bertele-tele sebenarnya apa yang ingin kakek minta dari aku?" tanya Raka. "Hmm ... bisakah kau mengantikan aku memelihara pengikutku ini?" Raka sempat terdiam beberapa saat. "Apa? Pengikut? Aku tidak melihat kakek memiliki pengikut," ujar Raka. Tidak lama kemudian, Kakek Woto terlihat menjentikkan jarinya dan di susul dengan sebuah lubang hitam yang muncul di sebelahnya. Dari dalam lubang hitam tersebut muncullah beberapa tuyul dengan mata merah. Naga Sri Gundini yang melihat hal ini hanya tersenyum penuh arti dan kemudian berkata, "Kakek mencoba untuk menguji kekuatan kami?" tanya Sri Gundini sembari mengibas-ngibaskan ekornya yang panjang. Kakek tua ini kembali terdiam beberapa saat. "Aku tidak ingin mengetes kekuatan kalian. Aku hanya ingin untuk anak ini menjadi tuan yang baru untuk anak-anakku ini," ucap Kakek Woto percaya diri.
Mendengar hal tersebut naga Sri Gundini terlihat sangat marah. "Hmm ... jadi kau kira aku sendiri tidak cukup kuat untuk menjaga anak ini? Apa kau pikir aku selemah itu?" bentak naga Sri Gundini. Raka yang berada di belakang naga Sri Gundini ikut berkomentar, "Maaf sebelumnya, Kek. Bukan maksud hatiku untuk menolak kebaikan, kakek, tapi tampaknya aku tidak bisa menyediakan makanan untuk para tuyul kakek itu," ujar Raka. "Kau cukup memberinya makan satu bulan sekali dan itu hanya 5 liter darah segar, cuma itu yang diminta oleh anak-anak ini tidak lebih," terang Kakek Woto.
"Kalau begitu aku sungguh meminta maaf, Kek. Aku tampaknya tidak bisa memberinya makan seperti itu, terutama karena peliharaan Kakek Woto ini meminum darah untuk makanannya setiap bulan. Aku tidak ingin menerima resiko ketika tidak bisa memberi mereka makan, bisa saja malah aku yang menjadi makanan mereka," ujar Raka. Mendengar hal ini beranglah Kakek Woto kepada Raka dan naga Sri Gundini. "Biadab!!! Sudah diberikan kepercayaan malah kau menolak kebaikanku! Dasar manusia tidak tahu diuntung, bunuh mereka anak-anakku!" 10 ekor tuyul yang berada di belakang Kakek Woto pun mendesis ngeri dan maju ke depan.
Naga Sri Gundini mulai bersiap, untuk serangan langsung dari makhluk-makhluk bermata merah ini. Para tuyul ini memiliki bola mata berwarna merah yang menyala terang, dua buah taring yang mengarah ke bawah dan kuku yang cukup panjang. Dengan cepat tuyul-tuyul ini terlihat segera berlari ke depan dan mencoba menyerang naga Sri Gundini. Melihat hal ini, naga Sri Gundini pun berkata, "Haha ... hanya ampas seperti ini! Sebenarnya kalian bisa apa hah?" Sebuah serangan ekor naga hitam ini pun menyapu 3 ekor tuyul yang mencoba menyerang dirinya.
Raka hanya mengeleng-gelengkan kepala dengan apa yang terjadi. Dari seorang kakek tua yang meminta bantuan, hingga harus berujung dengan pertempuran dari para makhluk gaib ini. Beberapa tuyul itu kini sudah mencoba menyerang dari berbagai sisi, ada yang mencoba menyerang dari kiri, kanan dan bahkan samping dari naga Sri Gundini, mereka terlihat berkoordinasi dan mencoba menyerang bersamaan. Beberapa tuyul pun terkena serangan dan bantingan tubuh dari naga Sri Gundini. Namun beberapa dari tuyul ini juga sempat mendaratkan pukulan ataupun gigitan kepada Sri Gundini, teriakan kesakitan pun menggema di tempat tersebut. "Argh!!!"
Merasa dirinya terdesak, naga Sri Gundini terlihat membaca mantra sebentar dan tidak lama kemudian ia pun menghela nafas dalam-dalam. Raka yang mengetahui serangan apa yang akan di keluarkan oleh naga Sri Gundini segera melompat ke arah belakang. Karena serangan yang akan dikeluarkan naga Sri Gundini adalah nafas naga hitam, setidaknya serangan itu dapat membakar jin apa saja tanpa terkecuali. Naga Sri Gundini segera menghembuskan nafas naga hitam yang ia punya ke arah para tuyul tersebut. Nafas naga hitam itu pun sukses membakar habis 5 ekor tuyul yang berada di depannya dengan cepat.
Melihat anak-anaknya dikalahkan begitu saja oleh naga Sri Gundini membuat Kakek Woto pun berang bukan kepalang. "Keparat!!! Apa yang kalian lakukan anak-anakku? Cepat habisi anak itu!" perintahnya ke arah para tuyul tersebut. Seakan mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh tuannya para tuyul ini kembali mencoba menyerang naga Sri Gundini dan sekarang hanya tersisa 4 ekor tuyul yang masih dalam keadaan baik-baik saja.
Naga Sri Gundini segera maju ke depan dan menyerang makhluk-makhluk itu. Dengan cepat kepala keras dari naga Sri Gundini menghantam para tuyul tersebut, hingga terdengar suara yang sangat keras menggema, "Brak!!!" Beberapa tuyul itu segera terpelanting dan menabrak tubuh Kakek Woto yang berada di belakangnya. Kakek Woto kemudian tersungkur karena menabrak tubuh tuyul-tuyul yang mengarah kepadanya.
Kakek Woto bangkit setelah tertimpa anak-anak tuyulnya. Dari dalam mulutnya darah segar pun keluar dan membuat kakek tua ini sempat muntah darah cukup banyak. "Hoek ... Hoek!!!" terlihat darah yang mengental keluar bersamaan dengan batuk darah yang ia alami. Raka hanya menatap sinis ke arah Kakek Woto yang sedang terluka seperti itu. Naga Sri Gundini segera mendekat ke arah Kakek Woto dan berkata, "Hanya ini yang kau punya, Kakek? Dengan kekuatan seperti ini kau meminta anak itu untuk mematuhimu? Kekuatanmu ini sama seperti sampah! Kau tahu! Sungguh tidak berarti di mataku ini," ucap naga Sri Gundini berang.
Kakek Woto mulai menyeka darah yang keluar dari mulutnya dan mengelapnya dengan bajunya sendiri. Kakek tua ini masih tersenyum ngeri ke arah naga Sri Gundini dan juga Raka. "Wahai anak-anakku bersatulah kalian menjadi satu dan menjelma ke dalam diriku! Kita habisi makhluk tak tahu diuntung ini dan mari kita lenyapkan ia dari muka bumi ini," ujar sang kakek tua. Tiba-tiba saja langit pun menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Kilat-kilat menyambar tanpa henti dan angin kencang pun bertiup di sekitar tempat tersebut. Sebuah lubang hitam kini muncul kembali dari belakang Kakek Woto. Dari dalam lubang tersebut muncullah tuyul-tuyul yang berwarna hitam pekat dan dengan cepat para tuyul ini memeluk tubuh Kakek Woto.
Hal selanjutnya yang terjadi adalah ada sekitar 5 tuyul yang berwarna hitam kini sudah menempel di badan Kakek Woto. Tiba-tiba saja tubuh Kakek Woto pun membesar dengan cepat. Kakek Woto benar-benar menjadi seseorang yang berbeda saat itu. Melihat hal ini, naga Sri Gundini segera berkomentar, "Benar-benar orangtua ini sudah gila! Aku tidak menyangka dia akan bergabung dengan jin itu dan menjadi sosok yang baru."
Raka hanya tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan ini, "Haha ... Haha ... Haha ... ternyata kau ini adalah orang yang benar-benar bodoh, Kakek Woto! Aku tidak menyangka kau sampai hati merubah dirimu sendiri agar menjadi seperti iblis itu! Kau benar-benar orang tua yang bodoh," ucap Raka lantang.
Tubuh Kakek Woto sekarang berwarna hitam legam termasuk semua kulit yang menempel di tubuhnya. Kakek Woto kini juga memiliki mata yang berwarna merah dan kuku-kuku hitam yang panjang. Tubuh Kakek Woto terlihat lebih berotot setelah bergabung dengan tuyul-tuyul tersebut. Mendengar Raka mengolok-oloknya seperti itu Kakek Woto pun angkat bicara, "Diam kau bocah! Apa kau pikir sekarang kau bisa mengalahkan aku? Nasibmu sudah tamat ketika aku merubah diriku menjadi seperti ini. Aku pastikan kau akan segera menjemput ajalmu!" teriak Kakek Woto ke arah Raka. Pertarungan antara Kakek Woto dan anak Indigo bernama Raka pun akan segera masuk ke fase yang lebih serius.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 456 Episodes
Comments
fah iffah
up lagi thor. up yg banyak
2019-12-20
1