Part sebelumnya :
Sekitar jam 10.00 WIB, Hanes berangkat seperti biasa bersama Pak Leman menuju ke Sekolah. Hanes melihat secarik koran yang tergeletak di kursi belakang mobil mercy berwarna putih tersebut. Hanes yang gemar membaca memutuskan untuk mengambil koran tersebut dan membacanya. Berita yang ada di halaman pertama koran tersebut ternyata membahas tentang berita hilangnya beberapa warga di sekitar komplek perumahan Hanes.
***
Hanes kemudian membaca koran tersebut dengan seksama. Pak Leman yang memperhatikan tingkah Tuan mudanya ini pun bertanya kepada Hanes, "Tuan muda tampaknya serius sekali membaca koran tersebut! Ada berita apa memangnya, Tuan?" Mendapat pertanyaan seperti itu Hanes hanya tersenyum. "Oh ini, Pak Leman. Aku baru saja membaca berita tentang banyaknya orang-orang yang menghilang secara misterius di lingkungan komplek kita! Apakah Pak Leman mengetahui sesuatu tentang masalah ini?" selidik Hanes. "Hmm ... kabarnya memang sudah ada 3 orang yang menghilang akhir-akhir ini, Tuan muda. Biasanya mereka berumur di atas 17 tahunan, Polisi sedang mencoba menyelidiki kemungkinan adanya penculikan tersebut dan mengusut siapa pelakunya," ujar Pak Leman serius.
"Hmm ... apa ada kaitannya dengan omongan ibu-ibu tadi soal **** ngepet ya," ujar Hanes sembari menghela nafas pelan. "Eh apa yang barusan, Tuan muda ucapkan?" terlihat Pak Leman tidak terlalu fokus dengan ucapan Hanes barusan. "Oh tidak apa-apa kok, Pak Leman. Ayo cepat nanti kita terlambat ke sekolah," elak Hanes.
Tidak beberapa lama kemudian Hanes dan Pak Leman akhirnya tiba di rumah Theo. Terlihat Theo sudah bersiap-siap dan sedang menunggu jemputan di teras rumahnya. Mobil mercy berwarna putih ini kemudian memasuki pekarangan rumah Theo dan terlihat Hanes segera keluar dari dalam mobil lalu menyapa Theo, "Ibu dan bapak mana, Yo? Langsung pergi kita?" tanya Hanes. Mendengar hal tersebut, Theo hanya tersenyum.
"Haha ... ibu dan bapak lagi pergi ke rumah saudara tadi pagi, hanya tinggal aku sendiri yang di rumah. Ayo berangkat! Nanti kita terlambat lagi, Nes," ujar Theo. Kedua anak muda ini segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke sekolah.
Jalanan pagi itu cukup macet dan tidak lama kemudian, Hanes dan Theo akhirnya sampai juga di sekolah. Hanes segera keluar dari dalam mobil mercy berwarna putih itu, tiba-tiba mata Hanes tertuju dengan sosok Raka yang sedang berdiri di dekat tiang bendera. Raka terlihat menatap Hanes dan kemudian melambaikan tangannya ke arah Hanes. Merasa bahwa hal ini tampaknya penting Hanes segera mendekat dan menyuruh Theo untuk segera masuk ke dalam kelas. "Yo duluan aja ke kelas ya! Aku ada perlu sama Raka sebentar," ujar Hanes.
Mendengar hal tersebut, Theo hanya menganguk dan kemudian segera masuk ke dalam kelas. Hanes segera mendekat ke arah Raka dan terlihat naga Sri Gundini yang sedang melingkar di tiang bendera dengan santainya.
"Ada apa, Ka?" tanya Hanes pelan. "Hmm ... aku ingin bicara serius denganmu tapi bukan di sini. Ayo ikut aku!" ajak Raka. Hanes kemudian mengikuti kemauan Raka dan segera mengikutinya ke belakang sekolah, di mana tempat ini adalah tempat yang paling sepi di sekolah ini. "Memangnya ada masalah apa, Ka? Tampaknya masalah ini penting sekali sampai kau memanggil aku ke sini?" tanya Hanes. Baru saja Raka akan membuka mulutnya, tiba-tiba saja bayangan hitam pun muncul dan berdiri di samping Hanes. "Hihi ... hihi ... hihi!!! Jangan tinggalkan aku seperti itu dong. Aku juga ingin tahu apa yang kalian bahas," ujar Lysa sembari tertawa ngeri.
Terlihat naga Sri Gundini tidak terlalu menyukai keberadaan Lysa. Naga Sri Gundini kemudian mendesis dan menatap Lysa dengan tatapan sinis. Melihat respon seperti itu, Lysa pun berkata, "Tidak usah terlalu sensitif seperti itu naga hitam! Bukankah ... aku tidak mengusik, Tuanmu? Kau ini terlalu perasa walau dalam bentuk seekor naga, ucap Lysa ketus.
Raka langsung mengibaskan tangannya ke samping, hal ini menandakan, bahwa ia tidak menginginkan adanya perdebatan antara Lysa dan juga naga Sri Gundini. Melihat respon Raka yang seperti itu, naga Sri Gundini perlahan mundur dan kini berdiri di belakang Raka. Hanes juga melakukan hal serupa kepada Lysa. "Sudah hentikan Lysa kita ada di sini bukan untuk berdebat bukan?" tanya Hanes. Lysa hanya tersenyum dan kemudian berdiri kembali di tempat semula. Raka segera memulai penjelasanya kepada Hanes. "Apa kau sudah mendengar, Nes? Tentang hilangnya beberapa warga di komplek dekat perumahanmu?" tanya Raka. "Hmm ... baru pagi ini aku membaca surat kabar dan memang ada berita seperti itu," ujar Hanes pelan. "Ini semua tidak ada hubungannya denganmu bukan?" selidik Raka. "Hubungan denganku? Apa maksudmu, Raka?" Hanes berbalik bertanya. "Ya ... aku harap ini tidak ada hubunganya dengan Lysa yang mungkin membutuhkan darah manusia," ucap Raka sinis.
Mendengar hal tersebut, Lysa hanya tersenyum dan berkata, "Kalau memang aku butuh darah untuk hidup. Mungkin darah Hanes adalah orang pertama yang aku hisap darahnya sampai habis. Jangan suka menuduh tanpa bukti seperti itu! Bukankah bisa saja makhluk besar yang di belakangmu itu yang menginginkan darah manusia?" balas Lysa emosi. Mendengar hal ini, naga Sri Gundini pun ikut bereaksi, "Hei kau wanita sundal! Aku tidak butuh makanan seperti hantu atau jin kemarin sore itu!" balas naga Sri Gundini dengan setengah berteriak.
Hanes kemudian menanggapi pertanyaan Raka tersebut. "Kau benar-benar gila, Rak! Kalau mencoba menuduh aku ataupun Lysa yang melakukan teror kepada warga, setidaknya, kau sudah punya bukti. Aku masih memiliki hati nurani dan tidak mungkin juga aku akan tega menculik para warga," terang Hanes. "Lalu alasan apa kira-kira yang bisa membuatku percaya hal ini tidak ada kaitannya dengan kalian berdua?" desak Raka. Mendengar hal tersebut, Hanes kembali berkomentar. "Akhir-akhir ini ada fenomena aneh di sekitar komplek perumahan itu. Ada gosip yang menyebar tentang adanya **** ngepet. Hal ini diperkuat dengan banyaknya perhiasan ataupun uang dari para warga yang menghilang secara misterius, kira-kira apa tanggapanmu tentang hal tersebut?" selidik Hanes.
Raka sempat terdiam beberapa saat, ketika mendengar hal tersebut dan naga Sri Gundini juga melakukan hal yang serupa, berbeda dengan Lysa yang tersenyum penuh arti ke arah mereka berdua. "Jadi kalian berpikir hal yang sama bukan? Tentang hubungan antara ngepet dan para warga yang menghilang?" selidik Lysa. "Baiklah kalau seperti itu, aku dan Sri Gundini akan mencari tahu lebih jauh tentang ngepet yang berada di daerah kalian itu, kapan kiranya kalian akan menyelidiki hal ini? Setidaknya hal itu berguna untuk memperkuat alibi kalian di depanku," ujar Raka. Hanes kembali tersenyum dan berkata, "Nanti malam aku dan Lysa akan kembali menyelidikinya. Kalau sudah selesai, aku akan segera masuk ke kelas. Sebentar lagi Bu Silvy akan mengajar soalnya," Hanes dan Lysa kemudian segera berlalu meninggalkan Raka dan masuk ke dalam kelas.
Setelah pulang sekolah, Hanes dan Theo langsung pulang ke rumah masing-masing. Dengan diantarkan oleh Pak Leman, sekarang hari sudah petang. Om Bobi sudah pulang dari liburannya dan sedang beristirahat saat ini. Mbak Rani sedang memasak di dapur, hanya tinggal Hanes sendiri yang merasa kesepian di ruang tamu rumah itu. Hanes sedang menonton berita-berita di televisi, tiba-tiba hantu cantik dengan muka pucat itu kini sudah berada di sebelah Hanes. "Hmm ... kau sedang menonton apa sih?" selidik Lysa. "Ah kau lagi, Lysa. Kau ini hobi sekali mengagetkan aku," ujar Hanes. Lysa hanya tersenyum dan ikut menonton dengan Hanes di ruang tamu rumah tersebut.
Kedua makhluk beda alam ini terlihat sedang asik menonton televisi. Hingga kemudian, Om Bobi pun turun dari kamarnya yang berada di lantai 3. "Wah ... wah ... wah ... keponakan Om ternyata sedang asik menonton televisi. Sudah makan belum, Nes?" tanya Om Bobi. "Eh belum, Om! Om sendiri sudah makan?" balas Hanes. "Ayo kita makan dulu deh kalau begitu, kebetulan Om sudah lapar," ajak Om Bobi. Hanes segera mengikuti Om Bobi ke meja makan dan akhirnya mereka makan bersama. Hanes tidak menyadari sesuatu, bahwa waktu dengan cepat berlalu saat itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Dengan alasan sudah mengantuk, Hanes langsung menuju ke kamar tidur dan mematikan lampu kamar. Lysa kemudian muncul kembali dan berkata kepada Hanes. "Tampaknya Raka dan Sri Gundini ada di sekitar sini. Bagaimana? Apakah kita akan segera keluar sekarang?" tanya Lysa.
"Apa tidak takut ketahuan kita keluar pada jam segini?" tanya Hanes kepada Lysa. "Hmm ... kalau begitu aku ada sebuah ide. Bagaimana kalau aku mencoba menutupi tubuhmu dengan kekuatanku agar tidak bisa terlihat untuk sementara waktu. Setidaknya kau bisa keluar dari rumah ini tanpa takut ketahuan orang lain," terang Lysa. Hanes pun menganguk dan misi untuk mencari **** ngepet itu pun akan dilaksanakan sebentar lagi.
Hanes dan Lysa kini sudah berada di luar rumah. Mereka mulai berjalan menuju ke arah di mana energi Raka dan Sri Gundini dapat dirasakan oleh Lysa. Ternyata Raka dan Sri Gundini berada di sebuah tempat makan di sekitar komplek rumah Hanes dan terlihat dari kejauhan Raka sedang memesan sepiring nasi goreng di pinggir jalan. Melihat Hanes yang datang mendekat, Raka pun menawarkan untuk makan bersama dengannya. "Sudah makan, Nes? Ayo makan nasi goreng dulu sebelum berangkat," ajak Raka. Hanes hanya menggeleng dan berkata, "Aku baru selesai makan, Raka. Bang ... bisa minta air minum?" tanya Hanes. Abang tukang nasi goreng itu segera memberikan segelas air putih kepada Hanes. Dengan cepat, Hanes mulai menghabiskan segelas air putih tersebut, tampaknya Hanes benar-benar haus setelah mencoba memanjat pagar tadi, pikir Lysa.
Tidak beberapa lama kemudian, terlihat seekor berwarna putih melintas dengan santainya. ini berjalan perlahan di seberang jalan. Melihat hal tersebut, Raka segera berkomentar, "Itu ada , Nes," seru Raka. Hanes pun melihat hal yang sama dengan Raka. Tapi yang justru membuat aneh adalah komentar dari tukang nasi goreng itu. "? Kok aku tidak melihat , ya?" selidik tukang nasi goreng tersebut. Hanes dan Raka teringat bahwa yang mereka cari adalah jadi-jadian atau pesugihan. Jadi wajar kalau kadang tidak terlihat oleh mata manusia. "Eh maaf, Bang temanku ini memang suka salah lihat haha," ujar Hanes. Raka hanya tersenyum dan segera membayar nasi goreng yang belum habis ia makan. Kedua anak muda ini pun berjalan perlahan-lahan mengikuti kemana sebenarnya berwarna putih itu melangkahkan kakinya.
**Bersambung **
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 456 Episodes
Comments
Wati Pentury
bukannya jam.10.itu Harnes ke bandara ya...kok.ke sekolah sih
2020-03-12
2
Yanie Andriansyah
Ya Allah hati gini masih ada,y orang nyari kekayaan lewat pesuguhan
2020-03-07
1