Orangtua yang tega

Hari ini kami aku pulang cepat karena mendapat pesan dari istriku jika keluarga istriku akan datang. Tak lupa aku juga mengajak orangtua ku agar jika ada masalah mereka tidak akan bisa seenaknya kepada istriku. Aku sengaja mengajak kedua orang tuaku untuk bisa melihat bagaimana sikap dan sifat besan mereka kepada menantu kesayangan mereka itu karena selama ini kedua orangtua ku memandang baik keduanya.

Itulah sebabnya aku ingin mereka dengar dan lihat sendiri bagaimana mereka itu sebenarnya. Aku sengaja tidak memasukkan mobilku ke garasi melainkan parkir di pinggir jalan disamping rumah karena pagar rumahku sebagiannya adalah pagar tembok.

Karena jarak rumah dengan pagar itu lumayan, jadi tidak akan kedengaran didalam jika kami membukanya itu lah sebabnya kami selalu mengunci pagar jika keluar dan masuk kedalam rumah. Aku berjalan bersama kedua orangtuaku. Tapi saat aku sampai dipintu terdengar teriakan dan bentakan keras dari dalam rumah. Aku pun perlahan membuka pintu dan menyaksikan bagaimana kedua mertuaku itu menganiaya istriku begitupun dengan kedua orangtuaku.

Kami masuk sambil mendengarkan apa yang mereka perdebatkan dengan istriku ternyata masalah uang. Ternyata benar apa yang dikatakan istriku beberapa hari lalu, ini sudah keterlaluan.

"Dasar anak kurang ajar, sudah ayah katakan berikan kami uang dan beritahukan suamimu untuk membiayai kami". Hardik pak Marwan.

"Tapi ayah sudah mendapatkan banyak dari keluarga suamiku ayah, tolonglah jangan membuatku malu didepan mereka". Aurora tengah menangis mengatakannya pada ayahnya.

"Ayah tidak peduli, mereka adalah keluargamu, mereka juga kaya jadi apa salahnya kau berbagi dengan ayah untuk menikmati harta mereka".

"Maaf ayah, tolong jangan peras mereka seperti ayah memeras ku, cukup aku saja, tapi aku sudah tak mau lagi ayah, aku capek".

"Dasar anak tak tahu diuntung menyesal ayah membesarkan anak kurang ajar dan tidak tahu berbakti padamu".

Pak Marwan menampar Aurora dengan keras sehingga Aurora tersungkur di lantai, menyaksikan itu aku dan keluargaku sangat marah.

"Berhenti". Suara ayahku menghentikan mereka karena tidak tahan apa yang dia saksikan barusan dihadapannya

Aku bisa melihat betapa terkejutnya mereka melihat kami sekeluarga.

"Besan.. Menantu". Cicitnya dengan wajah pucat

"Apa yang kalian lakukan kepada menantu kesayanganku??".. Ucap ibuku dengan geram menghampiri mereka.

"Kami tidak sedang ngapa-ngapain kok besan". Elak mereka dengan terbata

"Kalian pikir aku bodoh ??, kami sejak tadi melihat dan mendengar bagaimana anda memukulinya karena menantuku tidak mau mematuhi keinginan anda yang keterlaluan itu". Hardik bundaku dengan keras.

"Itu tidak seperti yang kalian pikirkan besan". Gugupnya lagi.

"Pergilah dari sini, sebelum kami melaporkan kalian kepada polisi atas tindakan penganiayaan dan pengeroyokan ". Ucap bundaku lagi dengan penuh emosi mengusir mereka.

"Tidak bisa begitu besan, kami ini orangtuanya, besan tidak berhak melaporkan kami ke polisi, lagian kami melakukannya karena dia tidak patuh sebagai anak. Malah kurang ajar ". Marwan tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Besannya.

"Tentu saja saya bisa, apalagi jika sekarang saya membawa menantu untuk visum agar dapat dijadikan bukti dan bisa mencoblos kan kalian kepenjara. Lagian kalian ini aneh sekali, bukan kah, kalian sudah mendapatkan sangat banyak dari kami saat akan menikahkan putri kalian itu, apa uang sebanyak itu sudah habis??, bahkan uang amplop dan lainnya juga kalian ambil".

"Apa sebegitu serakah kah kalian sampai menganiaya putri kalian saat dia tak mau memberikan kalian uang??, dan juga melarang kalian memintanya kepada kami??, Saya tidak menyangka ternyata ini lah sifat asli kalian". Aku dan ayahku hanya menggeleng kan kepalaku melihat mereka aku sungguh tidak percaya jika mereka sekejam itu kepada istriku.

"Pergilah pak buk karena kedua orangtuaku tidak pernah bercanda dengan ucapannya. Kami masih baik untuk berbicara yang baik kepada kalian, tidak langsung melaporkan kalian ke polisi. Setelah ini aku harap kalian jangan pernah lagi kemari apalagi jika sampai kami mengetahui kalian kembali menganiayanya". Ancam ku dengan mata melotot tidak terima.

Mereka akhirnya pergi dengan marah begitu mendengar ucapanku itu.

"Kamu tidak apa-apa nak??". Bunda bertanya dengan khawatir membelai kepala sang menantu dan membawanya kepelukannya.

Istriku langsung menangis memeluk bundaku saat bundaku bertanya.. Hiks.. Hikss..

Aku baru tau gadis yang menjadi istriku ini memang seperti dijual oleh ayahnya. Itulah alasan mengapa mereka begitu banyak meminta uang panaik dari pihak kami. Apakah istriku ini anak angkat atau anak tiri sehingga diperlakukan seperti ini.

"Sabar ya nak". Bundaku menenangkan istriku yang sejak tadi menangis.

Istriku mengangguk dan mengucapkan Terima kasih karena telah membelanya.

"Ayo kita pergi jalan-jalan saja, bagaimana??". Ayahku berceletuk saat suasana tampak sangat tegang

"Benar kata ayah, kita pergi jalan saja to ini masih sore juga dan belum ashar. Mau ga ?? Tanyaku dengan senyuman

Istriku mengangguk sambil tersenyum dan menghapus air matanya yang tadi membasahi pipinya, bisa kulihat jelas bekas tamparan di-WA hanya yang putih itu.

"Kalau begitu kami siap-siap dulu". Dia kembali mengenakan cadar dengan warna cantik walau masih gelap. Orang tidak tau saja bahwa gadis bercadar ini sangat cantik dan mempesona. Dan akulah yang beruntung bisa melihat dan menikmatinya sendiri tanpa berbagi dengan siapapun.

Kami pun ber jalan-jalan, tadinya kami ingin ke Mall tapi tidak jadi karena istriku mengajak kami untuk membeli sembako yang cukup banyak dan juga susu anak-anak. Aku awalnya sangat bingung untuk apa kami diajak untuk membeli semua itu, tapi ketika kami sampai ditempat yang dituju aku paham bahwa yang dia beli itu untuk keperluan anak panti asuhan.

Aku dan ayah menurunkan semua belanjaan kami dan meminta tolong untuk mengangkatnya kedalam. Mereka semua sangat girang menyambut kami terutama istriku seperti mereka semua sudah kenal dengannya.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh". Ucap Istriku begitu kami masuk kedalam rumah

"Waalaikumsalam nak.. Kamu sudah datang?? Tanya ibu panti memeluk istriku dengan sayang sekali mereka seperti ibu dan anak.

"Iya buk, maaf ya aku baru datang sekarang!! ". Aurora membalas pelukan ibu panti dengan sendu.

"Iya nak, tidak apa, ibu tahu kamu sibuk". Ucap Ibu panti mengelus kepala istriku dengan sayang.

"Oh iya bu, ini kedua mertuaku dan juga suamiku!! ". Aurora memperkenalkan keluarga barunya kepada ibu panti yang dia sangat sayangi itu.

"Salam kenal buk".. Kami pun bersalaman dengan ibu panti.

Kami pun masuk dan mengobrol, aku baru tau jika setiap awal bulan istriku selalu datang kesini untuk memberi santunan berupa sembako dan kawan-kawan nya. Ibu panti juga mengatakan jika istriku ini sering berkunjung dengan teman-temannya yang ingin memberikan sumbangan. Dan setiap hari sebelum magrib dia datang untuk mengajarkan anak panti disini mengaji dan menulis.

Episodes
1 perkenalan cerita
2 Pernikahan Dingin
3 Berpamitan Dari Rumah Tahfidz
4 Tinggal Bersama Tapi tak Hidup Bersama
5 Perubahan Baru Arman
6 Keluarga Aurora Berkunjung
7 Orangtua yang tega
8 Aktivitas keagamaan Istriku
9 Hamil
10 Istri Hebat
11 Protective Keluarga
12 Melahirkan Caesar
13 Rania Kembali
14 Pulang Kerumah
15 Rania Datang Kerumah Arman 1
16 Rania kerumah Arman 2
17 Rania ke rumah Arman 3
18 Rania Kerumah Arman 4
19 Cuma 2 Pilihan
20 Menipu Aurora
21 Berubah
22 Aksi Aurora
23 Pergi dari Rumah
24 Persidangan
25 Melaporkan Arman dan Rania
26 Dijemput Polisi
27 Terungkapnya sifat Asli Rania
28 Akhirnya Bercerai
29 Jalan Hidup Ke Kairo
30 Berangkat Kekairo
31 Kehidupan Baru Kairo
32 Lelaki Aneh
33 Dua Perempuan Senasib
34 Pesan Aurora Sebelum Kekairo
35 Berkunjung Kekairo
36 Pertengkaran Bisma dan Arman
37 Ketegasan Aurora
38 Niat Terselubung Arman
39 Gara-gara Warisan
40 Kemarahan Aurora
41 Penghinaan Orangtua Bisma
42 Hampir Dipecat
43 Pulang dengan Tangan Kosong
44 Bertemu Dengan Nyonya Fatimah
45 Jodoh Untuk Aurora 1
46 Bertemu Ayah kembali
47 kedekatan Keluarga Ammar dan Aurora
48 Lamaran Resmi Keluarga Ammar
49 Rencana Pernikahan Aurora dan Ammar
50 Kedatangan Bisma
51 Bisma Kalah
52 Ketegasan Aurora
53 Pernikahan Ammar dan Aurora dan Ammar
54 Keributan Di hari Pernikahan
55 Mantan Mertua
56 akhir
Episodes

Updated 56 Episodes

1
perkenalan cerita
2
Pernikahan Dingin
3
Berpamitan Dari Rumah Tahfidz
4
Tinggal Bersama Tapi tak Hidup Bersama
5
Perubahan Baru Arman
6
Keluarga Aurora Berkunjung
7
Orangtua yang tega
8
Aktivitas keagamaan Istriku
9
Hamil
10
Istri Hebat
11
Protective Keluarga
12
Melahirkan Caesar
13
Rania Kembali
14
Pulang Kerumah
15
Rania Datang Kerumah Arman 1
16
Rania kerumah Arman 2
17
Rania ke rumah Arman 3
18
Rania Kerumah Arman 4
19
Cuma 2 Pilihan
20
Menipu Aurora
21
Berubah
22
Aksi Aurora
23
Pergi dari Rumah
24
Persidangan
25
Melaporkan Arman dan Rania
26
Dijemput Polisi
27
Terungkapnya sifat Asli Rania
28
Akhirnya Bercerai
29
Jalan Hidup Ke Kairo
30
Berangkat Kekairo
31
Kehidupan Baru Kairo
32
Lelaki Aneh
33
Dua Perempuan Senasib
34
Pesan Aurora Sebelum Kekairo
35
Berkunjung Kekairo
36
Pertengkaran Bisma dan Arman
37
Ketegasan Aurora
38
Niat Terselubung Arman
39
Gara-gara Warisan
40
Kemarahan Aurora
41
Penghinaan Orangtua Bisma
42
Hampir Dipecat
43
Pulang dengan Tangan Kosong
44
Bertemu Dengan Nyonya Fatimah
45
Jodoh Untuk Aurora 1
46
Bertemu Ayah kembali
47
kedekatan Keluarga Ammar dan Aurora
48
Lamaran Resmi Keluarga Ammar
49
Rencana Pernikahan Aurora dan Ammar
50
Kedatangan Bisma
51
Bisma Kalah
52
Ketegasan Aurora
53
Pernikahan Ammar dan Aurora dan Ammar
54
Keributan Di hari Pernikahan
55
Mantan Mertua
56
akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!