Ketika mereka tiba di gedung apartemen Sheryn, Daehyun mengantarnya sampai ke depan pintu apartemennya.
“Oke, aku sudah sampai,” kata Sheryn di depan pintu apartemen.
“Pergilah. Kau masih harus mengantar ibumu ke bandara.”
Daehyun menatap gadis yang berdiri di hadapannya itu. Walaupun Sheryn tersenyum, Daehyun bisa melihat senyum itu bukan senyum ceria yang biasa.
“Apa yang kau pikirkan sekarang?” tanya Daehyun.
Mata Sheryn tampak menerawang. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. “Aku tidak tahu,” sahutnya.
“Banyak sekali yang kupikirkan sampai-sampai aku sendiri bingung.”
Daehyun tidak mengatakan apa-apa. Ia menunggu karena sepertinya gadis itu masih ingin berkata-kata.
“Semua orang sudah tahu. Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Sheryn, lebih kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba matanya melebar dan ia menatap cemas Daehyun.
“Orangtuaku. Mereka pasti juga akan tahu. Apa yang harus kukatakan pada mereka?”
Daehyun tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu, tapi tiba-tiba, saat itu juga, ia sangat yakin akan satu hal. Ia tidak ingin gadis yang berdiri di hadapannya itu mendapat kesulitan.
Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengatakan sesuatu yang menghibur. Perlahan ia maju selangkah dan memeluk gadis itu. Sheryn tidak menghindar.
Entah kenapa Daehyun merasa segalanya tepat seperti seharusnya ketika gadis itu dalam pelukannya. Seluruh rasa lelah seolah mengalir keluar dari tubuhnya. Ia ingin sekali terus seperti ini. Ia ingin sekali tetap berdiri di sana dan memeluk Sheryn selamanya.
“Tidak usah dipikirkan,” kata Daehyun pelan.
“Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku.”
Aku akan pastikan kau tidak mendapat masalah….
Ia melepaskan pelukannya dan menatap Sheryn. Sheryn menarik napas dan tersenyum kecil. “Aku tahu,” kata Sheryn sambil mengangguk tegas.
“Aku bisa mengatasinya. Kau pergilah.”
Daehyun menunggu sampai Sheryn masuk ke apartemen sebelum berbalik pergi. Ia berjalan menuju lift tanpa menyadari ada pria berpostur tinggi besar sedang memerhatikan kepergiannya tidak jauh dari sana.
Sheryn menutup pintu apartemen dan menarik napas panjang. Ia melemparkan tasnya ke kursi lalu duduk di lantai.
Kenapa bisa begini? Acara makan siang yang menyenangkan berubah menjadi kekacauan. Sheryn tidak bisa menggambarkan perasaannya ketika ia keluar dari restoran dan tiba-tiba berhadapan dengan segerombolan wartawan yang tidak henti-hentinya menjepretkan kamera, meneriakkan namanya, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Seakan kejadian yang dialaminya tadi tidak nyata, seperti mimpi. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang sudah ia lakukan? Mungkin sejak awal seharusnya ia tidak terlibat dengan Choi Daehyun.
Namanya kini sudah tersebar dan mungkin besok wajahnya akan terpampang jelas di tabloid-tabloid. Sebenarnya hanya satu hal yang mencemaskannya, yaitu reaksi orangtuanya. Bagaimana ia harus menjelaskan semua ini kepada orangtuanya?
Sheryn meraih tas dan mengeluarkan ponsel. Baterai ponsel itu masih belum dipasang. Ia menatap ponselnya. Apakah ia harus menelepon orangtuanya? Kalau orangtuanya tahu, mereka pasti tidak akan tinggal diam, apalagi ibunya.
Meski ia menjelaskan bahwa semua itu tidak benar dan sesungguhnya ia sama sekali tidak punya hubungan apa pun dengan Choi Daehyun, ia yakin keadaannya tidak akan berbeda. Choi Daehyun. Pikiran Sheryn kembali melayang ke saat ia berada dalam pelukan laki-laki itu.
Ketika Choi Daehyun memeluknya, waktu seakan berhenti berputar. Ketika Choi Daehyun mengatakan semuanya akan baik-baik saja, ia benar-benar percaya. Ketika Choi Daehyun melepaskan pelukannya, keyakinan diri itu hilang lagi.
Kenapa begini? Choi Daehyun. Sheryn tidak sepenuhnya jujur pada laki-laki itu. Apakah ini adil baginya?
Sheryn bangkit dan menghampiri lemari kecil di samping televisi. Ia membuka lemari itu dan mengeluarkan kantong ungu kecil yang terbuat dari kain beludru. Ia membuka ikatan kantong itu, merogohnya dan mengeluarkan bros berbentuk hati berwarna merah mengilat dengan pinggiran keemasan.
Sheryn menatap bros di telapak tangannya itu sambil berpikir. Sejak awal ia seharusnya tidak boleh terlibat dengan Choi Daehyun. Andai saja ia menolak… Tapi saat itu ia benar-benar ingin tahu. Apakah sekarang ia sudah mendapatkan jawaban?
Bel pintu berbunyi, menarik pikiran Sheryn kembali ke alam sadar. Sheryn berjalan tanpa suara ke pintu dan mengintip dari lubang kecil di pintunya. Ia melihat wajah Han Eunho. Lagi-lagi dia.
Sheryn tidak ingin bicara dengannya, terlebih lagi saat ini. Han Eunho mengetuk pintu dan berkata, “Hae-jin, buka pintunya. Aku tahu kau ada di dalam.”
Sheryn mengerutkan kening. Ia tetap tidak bergerak dari balik pintu. “Kita harus bicara, Hae-jin,” Han Eunho lagi.
“Aku akan terus menunggu di sini sampai kau mau membuka pintu.”
Sheryn mendengus pelan. Terserah saja, katanya dalam hati. Kau mau menunggu sampai besok? Silakan. Ia membalikkan tubuh dan berjalan ke tempat tidur.
.
.
.
.
Jam dinding menunjukkan pukul 00:52 ketika Daehyun tiba di rumah. Ia melemparkan kunci mobil ke meja dan menghempaskan tubuh ke sofa. Ia mengusap wajahnya dan melepaskan jaket. Hari ini benar-benar melelahkan.
Setelah mengantar Sheryn pulang siang tadi, ia dan Park Hyun-Shik langsung mengantar ibunya ke bandara. Setelah itu Daehyun kembali disibukkan dengan jadwal kerjanya yang padat.
Tentu saja sepanjang hari itu ia terus dikejar-kejar wartawan yang tidak henti-hentinya bertanya tentang Sheryn, tapi Park Hyun-Shik menyuruhnya tidak berkomentar dulu. Mereka harus membicarakan langkah selanjutnya dengan Sheryn.
Sejak sore tadi Daehyun ingin menelepon Sheryn. Ia ingin tahu apakah gadis itu baik-baik saja, tapi ia tidak punya waktu. Sekarang ia mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka flap-nya.
Apakah sekarang sudah terlalu malam untuk menelepon? Sepertinya tidak ada salahnya mencoba.
Daehyun menekan angka sembilan dan menempelkan ponsel ke telinga. Keningnya agak berkerut ketika mendengar suara operator telepon yang memberitahunya telepon yang dihubungi sedang tidak aktif.
Daehyun menutup kembali ponselnya dan menimbang-nimbang. Baiklah, hari ini tidak perlu diperpanjang lagi. Besok ia akan langsung pergi menemui gadis itu.
Setelah mandi dan kembali berpakaian—kaus longgar jingga dan celana panjang putih, Daehyun merasa lebih nyaman. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, ia berjalan ke ruang duduk dan menyalakan televisi. Kemudian ia berjalan ke dapur yang terletak tidak jauh dari ruang duduk dan membuka-buka lemari.
“Tidak ada makanan. Kenapa Ibu cuma beli mi instan?” gerutunya sambil mengeluarkan sebungkus mi instan.
Ia berbalik, memandang sekilas televisi, lalu membungkuk untuk membuka pintu lemari bagian bawah. Tiba-tiba gerakannya terhenti dan dengan sekali sentakan ia kembali menegakkan tubuh. Matanya terbelalak menatap layar televisi.
Layar televisi menampilkan reporter wanita yang melaporkan berita di lokasi kejadian. Di latar belakangnya terlihat gedung yang dilalap api. Para petugas pemadam kebakaran berlalu-lalang dan para polisi berusaha menertibkan orang-orang yang berkerumun di tempat kejadian. Suasana sepertinya hiruk pikuk, terdengar teriakan dan tangisan orang-orang.
Daehyun menyambar remote control dan mengeraskan volume televisinya untuk mendengar kata-kata si reporter.
“…sampai sekarang pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api. Kami belum mendapat konfirmasi apakah gedung apartemen itu sudah kosong atau belum. Api begitu besar, kami berharap semua penghuni sudah berhasil keluar…”
Mata Daehyun terpaku pada layar televisi. Tubuhnya menegang, jantungnya berdebar begitu keras. Ini tidak mungkin. Mustahil itu gedung apartemen Sheryn. Siang tadi ia baru saja dari sana. Tuhan, katakan ini tidak benar. Namun si reporter kini menyebutkan nama dan lokasi gedung yang sedang terbakar. Darah Daehyun langsung terasa membeku.
Tanpa berpikir lagi, Daehyun melemparkan handuk ke lantai, menyambar kunci mobil, dan keluar dari rumah. Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh, tangannya mencengkeram kemudi erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Perasaannya kacau… gelisah… takut. Jantungnya masih terus berdebar keras dan seluruh tubuhnya terasa dingin. Ia mencoba menghubungi ponsel Sheryn tapi hasilnya masih tetap sama. Ponselnya tidak aktif.
Sepanjang perjalanan ia terus berdoa semoga Sheryn tidak apa-apa. Semoga Sheryn sudah keluar dan tidak terluka. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana keadaan Sheryn?Bagaimana kalau… Astaga, ia bisa gila!
Ketika ia hampir sampai di tempat kejadian, jalanan sudah ditutup sehingga tidak ada mobil yang bisa lewat. Daehyun langsung melompat keluar dari mobil dan berlari menerobos kerumunan orang.
Suasana yng kacau dan udara yang begitu panas karena asap dari kobaran api terasa begitu menyesakkan. Daehyun berlari ke sana kemari dan melihat ke sekeliling, mencari sosok Sheryn. Ia berjalan cepat di antara orang-orang sambil berteriak-teriak memanggil nama Sheryn. Di mana gadis itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments