“Apa kabar, semuanya?” Jung Yoona menyapa para pengunjung dengan suaranya yang indah dan ramah. Para pengunjung pun membalas sapaannya meski dengan agak kacau-balau.
Jung Yoona tertawa kecil dan melanjutkan, “Saya baru saja turun dari pesawat dan sepanjang perjalanan dari bandara saya merasa lelah sekali. Tapi begitu tiba di sini dan mendapat sambutan sehangat ini, tiba-tiba saya merasa segar kembali. Terima kasih banyak.”
Para pengunjung pun tertawa dan bertepuk tangan. Setelah acara penandatanganan buku itu selesai, Jung Yoona mengizinkan para wartawan mewawancarainya.
Mula-mula para wartawan menanyainya tentang buku barunya, tentang proses penulisan bukunya, tentang ide-idenya dan hal-hal teknis lain. Sering berlalunya berbagai pertanyaan, para wartawan pun semakin berani karena melihat sikap Jung Yoona yang ramah dan terbuka.
“Nyonya Jung Yoona, bagaimana kabar suami anda?”
“Dia baik-baik saja, masih terus membenamkan diri dalam not-not balok seperti biasa,” jawab Jung Yoona ceria.
“Kadang-kadang dia malah melupakan istrinya yang cantik ini.”
“Lalu bagaimana kabar putra Anda?”
“Daehyun? Seharusnya dia baik-baik saja. Saya belum sempat meneleponnya. Dia bahkan belum tahu saya ada di Seoul. Mungkin saya akan meneleponnya nanti,” sahut Jung Yoona.
“Tapi saya rasa Anda sekalian tentu sudah tahu dengan sangat jelas keadaannya. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan album barunya.”
“Kabarnya dia sudah punya kekasih. Apakah Anda tahu itu, Nyonya?”
Wajah Jung Yoona berseri-seri. “Ah, benar. Tentu saja saya tahu. Saya pernah berbicara dengannya. Lee Hae-jin ssi itu gadis yang baik. Aku berharap hubungan mereka akan berhasil.”
.
.
.
.
Beberapa hari sudah berlalu sejak Na Minjie tahu tentang Sheryn dan Choi Daehyun Sebenarnya Sheryn ingin segera memberitahukan hal ini kepada Park Hyun-Shik dan Choi Daehyun, tapi belum punya kesempatan untuk itu.
Kedua laki-laki itu begitu sibuk dan susah dihubungi. Kalaupun bisa dihubungi seperti sekarang, Choi Daehyun sedang sibuk dan Sheryn tidak bisa bicara banyak.
“Choi Daehyun ssi, sekarang kau sedang sibuk?” tanya Sheryn di telepon.
“Aku? Sebentar lagi aku harus tampil. Ada apa?”
“Mm, setelah ini kau ada acara lagi?”
Choi Daehyun terdiam sejenak lalu berkata, “Sebenarnya tidak ada, tapi sesudah acara ini selesai, aku harus pergi menemui ibuku. Oh ya, ibuku datang ke Seoul hari ini. Baru tiba siang tadi. Aku sudah janji makan malam dengannya. Kenapa? Ada masalah?”
Sheryn cepat-cepat berkata, “Tidak, tidak ada masalah. Hanya saja ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bukan masalah penting. Lain kali saja kita bicarakan.”
“Atau kau mau ikut makan malam bersama kami?” Choi Daehyun menawarkan.
“Kau gila?” Sheryn berseru.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Kau makan saja dengan ibumu.”
Choi Daehyun tertawa. “Baiklah, nanti kutelepon.”
Sheryn menutup flap ponsel dan meletakkannya di meja ruang duduk. Ia mengembuskan napas, meraih remote control, lalu menyalakan televisi.
.
.
.
“Jadi temanmu sudah tahu tentang kita?” tanya Park Hyun-Shik sambil mengusap-usap dagu.
Sheryn duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk. Choi Daehyun yang duduk di sebelahnya hanya bisa duduk bertopang dagu. Mereka bertiga berkumpul di kantor Park Hyun-Shik. Sheryn baru saja selesai bercerita kepada kedua laki-laki itu tentang Na Minjie yang sudah tahu kesepakatan mereka.
“Jadi alasan kau meneleponku kemarin adalah karena ingin memberitahukan masalah ini?” tanya Choi Daehyun.
“Ya. Maafkan aku,” gumam Sheryn dengan kepala tertunduk.
“Bukan salahmu,” kata Choi Daehyun sambil mengibaskan tangan.
“Siapa yang bisa menduga temanmu bisa menelepon tepat ketika kau muncul di televisi?”
Park Hyun-Shik mendesah. “Tidak perlu merasa bersalah… Lalu apa yang dikatakan temanmu?”
Sheryn mengangkat wajah dan menatap Choi Daehyun serta Park Hyun-Shik bergantian.
“Yah, dia memang agak terkejut… Tapi dia teman baikku dan aku percaya padanya. Dia sudah berjanji tidak akan mengatakan apa-apa.”
“Baiklah,” kata Park Hyun-Shik pada akhirnya. “Sepertinya kita tidak punya pilihan lain selain percaya padanya.”
Mereka bertiga terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat berlalu, kemudian kesunyian itu dipecahkan dering telepon di meja Park Hyun-Shik. Park Hyun-Shik mengangkatnya.
“Apa? Siapa katamu?” katanya di telepon sambil menegakkan punggung dengan satu gerakan cepat.
“Baiklah.”
Ia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Sheryn memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya.
“Ada apa, Hyung?” tanya Choi Daehyun.
Park Hyun-Shik bangkit dari kursi dan berkata, “Ibumu ada di sini.”
Tepat pada saat itu pintu kantor Park Hyun-Shik terbuka. Sekretaris Park Hyun-Shik muncul diikuti wanita cantik berpostur tinggi semampai. Sheryn terkesiap dan duduk mematung di tempatnya. Wanita itu Jung Yoona, penulis buku terkenal. Ibu Choi Daehyun. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Ibu?” Choi Daehyun melompat dari kursi dan menghampiri ibunya dengan ekspresi kaget.
“Sedang apa Ibu di sini?”
“Oh, halo, Daehyun,” sapa ibunya riang.
Ia menoleh ke arah Park Hyun-Shik dan menyalaminya. “Hyun-Shik, apa kabar? Senang sekali melihatmu lagi.”
Park Hyun-Shik tersenyum hangat dan berkata, “Saya juga senang bertemu Bibi lagi. Maafkan saya karena kemarin saya tidak bisa makan malam bersama Bibi.”
“Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Kau memang sangat sibuk. Orangtuamu baik-baik saja?” tanya Jung Yoona.
“Sudah lama tidak bertemu mereka. Mereka masih di Kanada?”
“Iya, mereka masih di sana. Ibu saya juga sering bertanya kapan bisa bertemu Bibi lagi.”
Jung Yoona mengangguk. “Benar, kita harus berkumpul lagi. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya.”
“Ibu, kenapa Ibu datang ke sini?” tanya Choi Daehyun sekali lagi sambil menggandeng lengan ibunya.
Jung Yoona menoleh memandang anak laki-lakinya. “Oh, pesawatku baru akan berangkat sore nanti, jadi aku ingin mengajak kalian makan siang bersamaku. Hyun-Shik, kau tidak boleh menolak.”
Saat itu pandangan Sheryn bertemu dengan tatapan penuh tanya Jung Yoona. Wanita itu tersenyum dan Sheryn membalas senyumnya dengan kaku.
“Nah, sebentar. Apakah ini Lee Hae-jin ssi?” tanya ibu Choi Daehyun.
Dengan kikuk Sheryn menatap Choi Daehyun dan Park Hyun-Shik bergantian, lalu bangkit dari kursinya.
“Apa kabar?” katanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
“Daehyun, kau ini bagaimana? Kenapa tidak memperkenalkan kami?” kata Jung Yoona sambil memukul pelan lengan anaknya.
Choi Daehyun tersadar dan menghampiri Sheryn. “Ibu, ini Lee Hae-jin. Sheryn, ini ibuku.”
Jung Yoona mengerutkan kening dan mendecakkan lidah. “Perkenalan macam apa itu?” Lalu ia memandang Sheryn sambil tersenyum.
“Senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu, Hae-jin. Kau tidak keberatan kalau kupanggil Hae-jin saja, bukan?”
“Tentu, tentu saja tidak,” kata Sheryn cepat-cepat.
“Begini saja, bagaimana kalau kita berempat pergi makan siang? Kita bisa mengobrol sambil makan. Hae-jin, kau ada waktu, kan? Kau mau, kan?” bujuk ibu Choi Daehyun ramah.
Sheryn membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia boleh makan siang bersama ibu Choi Daehyun? Atau sebaiknya ia segera pamit dan pergi dari sana saja? Ia memandang kedua laki-laki yang sedang berdiri tanpa suara itu, menunggu isyarat.
Choi Daehyun dan Park Hyun-Shik berpandangan. Akhirnya Park Hyun-Shik berkata, “Baiklah, Bibi. Saya juga sedang tidak punya jadwal kerja siang ini.”
Jung Yoona bertepuk tangan. “Bagus sekali. Ayo, cepat. Kita mau makan dimana ya?"
"Kau kenal ibunya?” tanya Park Hyun-Shik kepada Sheryn dengan nada rendah
ketika ibu Choi Daehyun keluar duluan dari kantornya, meninggalkan mereka bertiga di dalam. Sheryn merasa kesulitan, susah menjelaskannya.
“Itu… waktu itu aku tidak sengaja—“
Choi Daehyun menyela, “Hyung, nanti saja kujelaskan. Sebaiknya sekarang kita segera menyusul ibuku.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments