(POV: Choi Daehyun)
Aku sedang berada di kantor Park Hyun-Shik. Ia memegang tabloid yang memuat foto- fotonya bersama Sheryn.
“Hyung ternyata pandai memotret,” kataku sambil tersenyum. Park Hyun-Shik hanya mengangkat bahu menerima pujian itu.
“Menurutku rencana kita cukup sukses karena sejak pagi kantor kita sudah dibanjiri telepon yang meminta kepastian dan wawancara denganmu.”
“Dia sudah melihat ini atau belum ya?” tanyaku sambil meletakkan tabloid itu di atas meja.
“Lee Hae-jin ssi? Seharusnya sudah karena orang-orang juga akan membicarakannya,” sahut Park Hyun-Shik. Ia meraih tabloid itu dan mengamati foto-fotoku dan Sandy.
“Dia melakukannya dengan baik sekali, kan? Gadis yang tenang, mudah diajak kerja sama. Bagus juga dia bukan salah satu penggemarmu, jadi dia tidak histeris atau semacamnya.”
Aku hanya mengangkat bahu. Park Hyun-Shik berkata pelan seperti merenung. “Ya, gadis yang tenang. Bahkan mungkin terlalu tenang. Tidakkah menurutmu dia terlalu mudah menyetujui permintaanmu?”
Aku mengangkat bahu lagi. “Tidak juga,” jawabnya.
“Dia tidak minta imbalan apa pun?” tanya Park Hyun-Shik lagi.
Aku mengingat-ingat. “Tidak.”
“Aneh,” gumam Park Hyun-Shik. Setelah berkata seperti itu, telepon di meja kerjanya berdering.
Sementara manajernya menjawab telepon, Aku menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia menelepon Sheryn. Tak berapa lama akhirnya aku mengeluarkan ponselku dan menekan angka sembilan.
(POV: Sheryn)
Aku dan Na Minjie sedang berjalan di halaman kampus sambil membicarakan Choi Daehyun dan pacar misteriusnya ketika aku mendengar namaku dipanggil.
Kami berdua menoleh ke belakang dan melihat laki-laki tinggi besar sedang berlari-lari kecil menghampiri mereka.
Minjie menyikut lenganku dan berbisik, “Mau apa lagi dia?”
Aku mengerutkan kening dan menggeleng tanda tidak tahu. Laki-laki itu berhenti di depan kami berdua sambil tersenyum lebar.
“Halo, kebetulan sekali bertemu kalian di sini. Mau makan siang? Ayo, ku traktir.”
Minjie meringis. “Kebetulan apanya?”
“Han Eunho ssi, sedang apa kau di sini?” tanyaku
“Tidak ada alasan khusus,” jawab Han Eunho riang, seakan tidak menyadari nada ketus kedua gadis itu.
“Kupikir karena sudah lama tidak bertemu, tidak ada salahnya kita makan siang bersama sambil mengobrol.”
“Pacarmu mana?” tanya Minjie tiba-tiba.
“Dia tidak marah kalau kau makan siang bersama dua wanita? Ngomong-ngomong, kau masih bersama gadis yang waktu itu, kan? Atau sudah ada yang baru?”
Wajah Han Eunho memerah dan dia agak salah tingkah ketika menjawab, “Oh, dia sedang ada urusan di tempat lain. Ayolah, mumpung pekerjaanku sedang tidak banyak. Lagi pula aku ingin mengobrol dengan kalian. Oke?”
Aku dan Minjie berpandangan. Kami tahu kami tidak bisa menghindar tanpa bersikap kasar kepada laki-laki seperti Han Eunho
Kami bertiga masuk ke restoran kecil yang sudah sering mereka datangi. Kami baru saja duduk di meja kosong ketika Aku mendengar ponselnya berbunyi. Aku menatap layar ponselnya. Aku tidak mengenal nomor telepon yang tertera di sana.
“Halo?”
“Sudah lihat?”
“Apa?” Dalam kebingungan Aku menatap ponselnya, lalu menempelkannya kembali di telinga.
“Siapa ini?”
Laki-laki di ujung sana mendengus kesal. “Kau tidak tahu?”
“Tidak.”
Sepi sebentar, lalu suara itu berkata dengan nada datar, “Ini Choi Daehyun”
Aku tersentak dan sontak menatap Minjie dan Han Eunho bergantian. Kedua orang itu jadi ikut menatapku dengan pandangan bertanya. Tepat pada saat itu pelayan datang dan menanyakan pesanan.
Aku memalingkan wajah dan berkata dengan suara pelan di telepon, “Oh, kau rupanya. Ada apa?”
Aku mendengar Choi Daehyun menarik napas di seberang sana. “Kau sudah lihat fotonya?” Nada suaranya sudah kembali seperti biasa.
“Sudah,” sahutku.
“Lalu bagaimana? Kau sudah ditanya-tanya?”
“Sore ini aku ada jadwal wawancara.”
“Hae-jin, kau mau makan apa?” tanya Han Eunho tiba-tiba.
Aku menoleh dan menjawab, “Terserah. Pesankan saja untukku.”
“Kau tidak sedang sendirian?” tanya Daehyun.
“Aku sedang makan bersama teman.”
“Hei, kenapa tidak bilang dari tadi? Kau bisa membongkar rencana kita.”
“Lho, kenapa marah-marah? Kau sendiri tidak bertanya dulu, lagi pula aku kan tidak bilang apa-apa ke siapa pun.”
Choi Daehyun terdiam sebentar, lalu berkata, “Malam ini jam tujuh kau harus ke rumah Hyun-Shik Hyung. Ada yang ingin dibicarakan. Mengerti?”
Wajahku berubah kesal, tapi aku berkata, “Ya, ya, mengerti. Tapi rumahnya di mana?”
Aku mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin dari dalam tasnya. Setelah mencatat alamat Park Hyun-Shik seperti yang disebutkan Choi Daehyun, aku menutup ponsel dan mendapati Minjie dan Han Eunho sedang memerhatikanku.
“Dari siapa?” tanya Han Eunho.
“Teman,” sahutku ringan sambil tersenyum kecil.
“Makanannya sudah dipesan?”
(POV: Daehyun)
Aku menutup ponselnya sambil melamun.
“Kau sudah memintanya datang ke tempatku nanti malam?” tanya Park Hyun-Shik membuyarkan lamunanku.
“Sudah,” jawabku pelan.
“Kau juga nanti malam jangan datang terlambat,” kata manajerku sambil mengenakan jas.
“Ayo, kita pergi makan siang. Mau makan apa?”
“Hyung,” panggilku tiba-tiba.
“Apa?”
“Hyung pernah mencari informasi tentang Lee Hae-jin. Apakah Hyung sudah mengecek dia punya pacar atau tidak?”
“Memangnya kenapa?”
“Tadi ketika aku meneleponnya, dia sedang bersama laki-laki. Kalau memang dia punya pacar, pacarnya bisa tahu soal kita.”
Park Hyun-Shik berpikir. “Nanti malam kita bisa menanyakannya langsung pada Lee Hae-jin. Ayolah, kita pergi makan dan setelah itu kau harus bersiap-siap untuk wawancara.”
.
.
.
“Jadi kau sudah mengatakannya pada wartawan?” tanya Hae-jin sambil menjepit sepotong daging panggang dengan sumpit dan memasukkannya ke mulut.
Kami bertiga—Aku, Park Hyun-Shik, dan dia sendiri—sudah berkumpul di apartemen Park Hyun-Shik yang besar dan mewah. Ketika Hae-jin datang, kami baru akan mulai memanggang daging. Hyun-Shik berkata makan malam ini adalah ucapan terima kasihnya atas bantuan Hae-jin.
“Kau bisa baca sendiri beritanya di koran,” sahutku sambil membolak-balikkan potongan daging di atas panggangan.
Hae-jin meringis, lalu menoleh ke arah Park Hyun-Shik yang sedang meneguk soju.
“Paman tidak makan?” tanyanya ketika melihat pria itu tidak memegang sumpit.
Park Hyun-Shik meraih sumpit dan berkata, “Hae-jin ssi…”
“Kalian boleh memanggilku Sheryn saja,” Hae-jin menyela dengan cepat dan memandang Park Hyun-Shik dan Aku bergantian. Aku mendengus pelan, tapi tidak menjawab.
Park Hyun-Shik berdeham dan melanjutkan, “Oke, kalau memang kau tidak keberatan. Sheryn, sepertinya aku belum pernah bertanya, tapi apa kau punya pacar sekarang ini?”
Sheryn tersedak mendengar pertanyaan Park Hyun-Shik.
“Pacar?!”
Park Hyun-Shik cepat-cepat berkata, “Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu, tapi kalau kau memang punya pacar, itu bisa agak menyulitkan. Kau tidak mungkin bisa menyembunyikan hal ini darinya.”
Sheryn mengangguk-angguk pelan. “Oh,” gumamnya. “Tenang saja, aku tidak punya pacar.”
“Siang tadi ketika aku meneleponmu, bukankah kau sedang bersama pacarmu?” Aku menimpali.
Sheryn menoleh ke arahku. “Siang tadi? Aah… dia bukan pacarku.”
“Kedengarannya seperti pacar,” Aku bersikeras.
Sheryn menatap kami dengan mata di sipitkan.
“Baiklah,” akhirnya ia berkata.
Ia meletakkan sumpitnya di meja. “Karena kalian curiga begitu, aku akan mengatakan yang sebenarnya.”
“Dia pacarmu?” tanyaku langsung.
“Bukan,” Sheryn menegaskan.
“Aku dan dia memang pernah berhubungan, tapi hubungan itu sudah berakhir delapan bulan yang lalu.”
“Lalu hubungan kalian sekarang masih baik?” Kali ini Park Hyun-Shik yang bertanya.
“Susah mengatakannya,” sahut Sheryn agak bingung. Ia bertopang dagu dan mengerutkan kening.
“Sebenarnya setelah berpisah, kami tidak bertemu lagi. Kemudian kira-kira sebulan lalu dia mulai menghubungiku. Aku juga tidak tahu apa maunya.”
“Itu artinya dia ingin kembali kepadamu,” kataku.
“Kenapa kau memutuskan dia waktu itu? Itu juga kalau kami boleh tahu.”
Alis Sheryn terangkat. “Siapa bilang aku yang memutuskannya? Dia sendiri yang minta putus dariku karena dia tertarik pada wanita lain.”
Aku dan Park Hyun-Shik menatapnya dengan pandangan aneh. Apakah pandangan itu disebabkan rasa kasihan? Sheryn memang merasa dirinya dulu sangat menyedihkan. Pacar yang ia percayai meninggalkannya demi wanita lain.
“Tidak usah melihatku seperti itu. Aku tidak apa-apa. Waktu itu aku memang sedih, tapi aku bukan tipe wanita yang histeris. Ada banyak hal yang bisa membuatku bahagia. Banyak sekali…”
Sheryn terlihat merasa canggung telah membicarakan masalah pribadinya pada ke kami, sebelum Sheryn bisa menghentikan dirinya sendiri, bibirnya terus mengoceh,
“Mmm, aku suka mendengarkan musik, suka keripik kentang, bunga, kembang api, hujan, dan bintang. Jadi waktu itu untuk menenangkan diri, aku makan banyak sekali keripik kentang dan aku sering membeli bunga untuk diriku sendiri. Kedengarannya mungkin aneh, tapi perasaanku langsung jadi lebih baik.”
“Lalu kenapa sekarang dia mendekatimu lagi?” desakku.
Sheryn mengangkat bahu. “Mana aku tahu.”
“Mungkinkah dia sudah berpisah dengan wanita yang dulu itu?” tanya Park HyunShik.
Sheryn memiringkan kepala. “Sepertinya belum.”
“Bagaimana denganmu?” tanyaku sambil menatap Sheryn ingin tahu.
Sheryn membalas tatapannya. “Bagaimana apanya?”
“Kau masih mengharapkannya?”
Sheryn terdiam sejenak, lalu ia mengetukkan sumpitnya ke piring dan berkata, “Sudahlah, jangan dibicarakan lagi. Yang penting sekarang aku tidak punya pacar dan tidak akan menyulitkan kalian berdua. Ayo, makan lagi.”
Aku masih terlihat tidak puas, tapi kali ini Sheryn berhasil mengendalikan mulutnya. Bagaimanapun, ia kan baru mengenal kami, pasti rasanya tidak nyaman membicarakan masalah pribadinya dengan kami.
Sheryn berdeham untuk mengalihkan topik, lalu bertanya, “Lalu rencana selanjutnya apa? Paman akan memotret kami lagi?”
Park Hyun-Shik menggeleng. “Tidak. Untuk saat ini kau boleh bersantai dulu. Meski kau harus tetap siap seandainya kami tiba-tiba butuh bantuanmu.”
“Aku mengerti,” ujar Sandy.
“Yang jadi bosnya kan kalian berdua.”
“Oh ya, hari sabtu nanti Daehyun akan mengadakan jumpa penggemar untuk mempromosikan album barunya,” kata Park Hyun-Shik tiba-tiba.
“Kau mau datang?”
Sheryn tersedak dan terbatuk-batuk. Sumpitnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Mazz Tama_Meii
mantap Thor cerita nya bagus
2025-02-03
1