...✰⋆。:゚・*☽:゚・⋆。✰⋆。:゚・*☽:゚・⋆。✰⋆。:゚・*☽...
“Oh, Daehyun, sudah datang rupanya.”
Choi Daehyun begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari manajernya sudah masuk ke kantor itu. Park Hyun-Shik berjalan ke meja kerjanya dan meletakkan map biru di meja.
“Sudah lama?”
Daehyun menggeleng dan menghampiri kursi di depan meja. “Baru saja sampai. Ada apa menyuruhku kemari pagi-pagi?”
Park Hyun-Shik menyampirkan jasnya di sandaran kursi lalu membuka map yang tadi diletakkannya di meja. Ia mengeluarkan tabloid dari dalamnya dan menyodorkannya kepada Daehyun
Daehyun menerima tabloid yang disodorkan dengan bingung, namun begitu melihat artikel yang ada di sana, raut wajahnya berubah. “Apa-apaan ini? Bagaimana mereka bisa…“
Daehyun memandang manajernya dan yang ditatap mengangguk. “Benar. Ini foto yang diambil kemarin malam ketika kita mengantar gadis itu.”
Dengan kesal Daehyun melemparkan tabloid itu ke meja. “Bagus, satu gosip masih tidak cukup rupanya.”
Ia duduk dan bersandar di kursi. “Bagaimana mereka bisa mendapatkan foto-foto ini?Apakah menurut Hyung, gadis yang kemarin itu ada hubungannya dengan masalah ini?”
Manajernya menggeleng pelan. “Tidak, kurasa tidak. Meski kemungkinan seperti itu tetap ada, sekecil apa pun, tapi menurutku tidak begitu.”
Choi Daehyun mengusap-usap dagu sambil merenung. Ia harus mengakui gadis yang kemarin itu tidak mungkin ada hubungannya dengan gosip ini, tapi…
“Gadis yang kemarin itu, Lee Hae-jin… aku sudah menyelidikinya,” kata Park Hyun-Shik sambil mengulurkan sehelai kertas kepada Tae-Woo.
Ia lalu melanjutkan, “Sedang kuliah tahun ketiga dan bekerja sambilan di butik seorang perancang busana. Ibunya orang Indonesia dan ayahnya orang Korea. Ayahnya kepala cabang perusahaan mobil dan ibunya ibu rumah tangga."
"Dia anak tunggal, lahir di Jakarta dan tinggal di sana sampai usianya sepuluh tahun, lalu karena kontrak kerja ayahnya sudah selesai, mereka sekeluarga pindah ke Seoul. Lima tahun yang lalu orangtuanya pindah kembali ke Jakarta karena ayahnya ditugaskan lagi di sana, sedangkan dia tetap tinggal di Seoul. Latar belakangnya bersih dan sederhana.” lanjut Park Hyun-Shik.
Daehyun membaca tulisan pada kertas yang dipegangnya dan tertawa kecil. “Dari mana Hyung mendapatkan semua informasi ini Sampai tinggi dan berat badannya ada.”
Park Hyun-Shik hanya tersenyum dan mengeluarkan sehelai kertas lain dari dalam mapnya lalu mulai membaca, “Menurut orang-orang yang kenal baik dengannya, Lee Hae-jin, wanita baik-baik dan bisa dipercaya. Tidak merokok, tidak pernah mabuk-mabukan, tidak memakai obat-obat terlarang, dan tidak punya catatan kriminal apa pun. Jadi aku berani menyimpulkan dia tidak ada sangkut pautnya dengan foto-foto di tabloid itu.” Lalu ia menyodorkan kertas itu.
Daehyun menerima kertas yang disodorkan manajernya.Park Hyun-Shik menghela napas. “Meski harus diakui… secara tidak langsung, gosip yang satu ini sudah membantu kita,” katanya.
Daehyun mengangkat wajah dari kertas di tangannya dan memandang Park Hyun-Shik, menunggu si manajer menjelaskan maksud kata-katanya.
“Bukankah gosip ini dengan sendirinya mematahkan gosip gay-mu? Foto-foto itu memperlihatkan kau bersama seorang wanita di depan rumah pribadimu pada waktu yang sangat mencurigakan,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum lebar.
.
.
.
.
.
.
.
“Aku tahu kau sudah meminta izin untuk tidak datang bekerja hari ini karena tidak enak badan, tapi aku sangat membutuhkanmu sekarang, Miss Lee. Saat ini juga. Kami di sini sibuk sekali, apalagi aku, sampai hampir tidak punya waktu untuk menarik napas. Aku terpaksa memintamu datang, Miss Lee. Tolong datanglah sekarang. Please… Kau pasti tidak sedang sakit berat. Kalau tidak, saat ini kau pasti sudah diopname di rumah sakit dan bukannya istirahat di rumah. Okay, Miss Les?”
Sheryn berbaring di ranjang dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengarkan kata-kata bosnya yang mengalir seperti air bah di ujung sana dengan mata terpejam.
Seharusnya ia tidak mengaktifkan ponselnya hari ini. Seharusnya bosnya tidak menghubunginya. Seharusnya bosnya tidak bersikap begini. Orang sakit masa disuruh kerja? Lagi pula ini kan hari Sabtu. Dikantor!
“Miss Lee? Miss Lee? Halooo? Kau mendengarkanku, Miss Lee? Aku tidak bisa berbicara lama-lama, Miss Lee. Very very busy. Kau akan datang, kan?”
“Ya, ya, Mister Kim. Saya mengerti. Saya akan sampai di sana dalam satu jam,” sahut Sheryn malas.
“Kau punya waktu setengah jam untuk sampai di studioku, Miss Lee,” kata bosnya sebelum menutup telepon.
Sheryn menatap ponselnya dengan hati dongkol. “Lihat saja, kau akan menerima surat pengunduran diriku hari Senin nanti. Drakula Pengisap darah! Hhh, bisa gila aku!”
Sambil mengumpat, Sheryn memaksa dirinya bangkit dan berjalan terseok-seok ke lemari pakaian. Empat puluh tiga menit kemudian, Sheryn sudah berdiri di studio Mister Kim, salah satu perancang busana paling populer di Korea.
Yang disebut studio oleh bosnya adalah ruang kerja berantakan yang penuh kain berbagai corak, baik kain perca tak berguna maupun kain yang masih baru. Studio itu terletak di lantai teratas gedung berlantai tiga. Butik Mister Kim sendiri terdiri atas dua lantai: lantai pertama diperuntukkan tamu umum sedangkan lantai duanya untuk tamu VIP.
Sheryn masuk dan melihat pria setengah baya berpenampilan perlente, berambut dicat merah, dan berkaca-mata itu sedang memandangi model kurus dengan tatapan tidak puas. Lalu dengan sekali sentakan tangan, ia menyuruh model itu pergi dan menyuruh anak buahnya memanggil model lain.
Tepat pada saat model lain masuk ke ruangan, Mister Kim menyadari keberadaan Sheryn dan langsung memekik, “Miss Lee! Kau terlambat. Kenapa—sebentar…”
Ia berpaling ke arah si model yang baru masuk dan berkata ketus, “No, no! Bukan kau. Apa yang harus kulakukan supaya mereka mengerti model seperti apa yang kubutuhkan? Astaga! Panggilkan Mister Cha ke sini.”
Sheryn merasa kasihan melihat ekspresi kaget si model wanita. Harus diakui Mister Kim ini bukan orang yang mudah. Kadang-kadang orang jenius memang sulit dibuat senang. Mister Kim kembali memusatkan perhatian kepada Sheryn. “Kau lihat sendiri, Miss Lee, kami sedang sibuk sekali untuk fashion show. Tolong kau antarkan pakaian-pakaian untuk dicoba.”
Apa? Untuk dicoba siapa? Pakaian mana? Mister Kim selalu mengharapkan orang lain langsung bisa memahami kata-katanya yang tidak selalu jelas.
“Diantarkan kepada siapa dan dicoba untuk apa, Mister Kim?” tanya Sheryn.
Mister Kim menatapnya dengan mata dibelalakkan selebar-lebarnya, setidaknya selebar yang mungkin di lakukan mata yang pada dasarnya sipit.
“Astaga, Miss Lee. Kau tentu ingat aku pernah bercerita tentang Choi Daehyun, bukan? Dia sudah setuju akan memakai pakaian rancanganku dalam setiap penampilannya. Makanya kau cepat-cepatlah pergi ke sana dan pastikan pakaian-pakaian itu sudah cocok dengan ukuran dan seleranya.”
Lalu, sebelum Sheryn bertanya lagi dia sudah menunjuk rak pakaian beroda yang ada di dekat pintu, “Itu! Pakaian yang di rak itu!”
Tidak, Anda belum pernah menyebut-nyebut tentang masalah ini kepadaku, gerutu Sheryn dalam hati, tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Siapa yang Anda sebut tadi?”
“Choi Daehyun. Penyanyi itu. Kau tidak kenal. Sudahlah, kenal atau tidak bukan masalah penting. Sana cepat pergi! Dia sudah menunggu di butik. Ayo sana. Go! Cepat!” katanya sambil mendorong punggung Sheryn ke arah pintu keluar studionya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments