(Sudut Pandang Orang Pertama: Sheryn)
“Terus terang saja, aku juga tidak tahu,” sahut Daehyun
Aku tersenyum, lalu bertanya, “Sekarang bagaimana? Kau mau ke mana?”
Daehyun melirik jam tangannya dan berkata, “Sekarang aku harus menghadiri konser amal…”
Ponselnya berbunyi. “Sebentar.” Ia memasang earphone untuk menjawab.
“Hyung, ada apa? … Aku sedang di jalan… Begitu? Hyung yakin? … Baiklah.”
Ia melepaskan earphone dan menoleh ke samping. Aku ternyata juga sedang berbicara di telepon.
“Oh, Young-Mi, ada apa?” kata gadis itu dengan ponsel yang ditempelkan ke telinga.
“Aku? Aku sedang di jalan… Apa? Bukan, bukan bersama Han Eunho ssi.”
Daehyun menyadari dan melirikku sekilas. “Sebentar lagi aku akan pulang ke rumah... Mm, nanti telepon aku lagi.”
“Sepertinya kau belum bisa pulang sekarang,” kata Daehyun setelah melihat aku memasukkan ponsel ke tas tanganku.
“Kenapa?”
“Hyung menyuruhmu ikut denganku ke konser amal itu.”
“Kenapa?! Tidak mau.”
Daehyun melihatku yang agak cemas. “Tidak apa-apa,” katanya menenangkan.
“Kau hanya perlu hadir di sana. Selebihnya serahkan padaku. Hyung juga ada di sana. Tidak akan lama.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak, tidak. Sudah kubilang aku hanya akan berfoto denganmu. Tidak lebih.”
Daehyun menarik napas. “Kau juga tahu tadi kita dikejar-kejar wartawan. Saat ini mereka pasti sedang mengikuti kita. Apalagi mereka juga tahu aku akan pergi ke konser amal itu. Kalau kau ku turunkan di tengah jalan atau di mana pun, mereka pasti akan mengerumunimu. Kau mau begitu?”
Aku tidak menjawab. Daehyun melirikku dan melihatku menggigit bibir dengan kening berkerut.
“Aku minta maaf atas semua kejadian hari ini,” kata Daehyun lagi.
“Aku berjanji akan mengantarmu pulang secepatnya.”
“Apa yang sudah kulakukan?”, Aku mengucapkan kata-kata itu dengan pelan, tapi Daehyun bisa mendengarnya.
Karena tidak tahu harus berkomentar apa, ia diam saja. Aku yang duduk di sampingnya juga tidak mengatakan apa-apa lagi.
.
.
.
.
[𝐒𝐔𝐃𝐔𝐓 𝐏𝐀𝐍𝐃𝐀𝐍𝐆 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐓𝐈𝐆𝐀]
Na Minjie baru saja selesai membantu ibunya mencuci piring. Jam makan siang sudah lewat sejak tadi dan sekarang rumah makan milik keluarganya ini tidak begitu ramai.
“Ibu, aku naik ya?” Minjie berseru kepada ibunya yang duduk di meja kasir, lalu berlari menaiki tangga ke lantai atas tanpa menunggu jawaban.
Minjie segera menyalakan televisi karena sebentar lagi siaran langsung konser musik amal akan ditayangkan. Ia membuka sebungkus keripik kentang dan berbaring telungkup di lantai sambil bertopang dagu.
“Ah, ternyata sudah dimulai,” gerutunya ketika gambar muncul di layar televisi.
“Wah, yang datang banyak sekali.”
Di layar televisi terlihat artis-artis berjalan memasuki aula konser dan para reporter sibuk mewawancarai artis-artis yang lewat. Lalu di layar televisi muncul wajah Choi Daehyun.
“Oh, ternyata Choi Daehyun juga datang ke konser itu!” seru Minjie pada dirinya sendiri.
“Dia ikut menyanyi juga ya?”
Na Minjie memerhatikan idolanya dengan hati berbunga-bunga. Choi Daehyun yang mengenakan turtleneck hitam dan jas cokelat muda itu terlihat tampan seperti biasa dan ia terus tersenyum ramah ketika diwawancarai reporter.
“Jadi, Choi Daehyun, siapakah wanita yang tadi datang bersama Anda? Wanita yang berdiri di sana itu? Kekasih Anda?” tanya si reporter sambil menyodorkan mikrofon kepada Choi Daehyun.
Na Minjie melihat wanita berkacamata gelap yang berdiri agak jauh di belakang Choi Daehyun. Wajahnya tidak terlihat jelas sehingga Na Minjie pun merangkak mendekati pesawat televisi sambil memasukkan beberapa potong keripik ke mulut.
Choi Daehyun tertawa dan menoleh ke arah si wanita dan berpaling kembali kepada si reporter. Bagi Minjie, reaksi Daehyun sudah menunjukkan jawabannya, dan ternyata si reporter juga berpendapat sama.
Tanpa menunggu jawaban Choi Daehyun, si reporter bertanya lagi dengan nada menggoda, “Kenapa Anda tidak memperkenalkan Nona itu kepada kami semua? Ayolah, kenapa harus malu?”
“Benar! Kenapa harus disembunyikan?” seru Minjie kepada gambar Daehyun di televisi.
Choi Daehyun masih tersenyum ketika menjawab, “Memang benar, tapi sebenarnya dia agak pemalu. Dia bersedia datang hari ini juga karena saya yang memintanya. Kalau tidak, dia sama sekali tidak akan datang.”
“Wah, gadis yang sombong. Hae-jin harus melihat ini,” kata Minjie sambil duduk bersila. Ia meraih telepon dan menghubungi nomor ponsel Sheryn. Matanya tetap mengawasi Choi Daehyun yang sudah beranjak pergi dari si reporter dan menghampiri kekasihnya.
Kamera memang sudah tidak difokuskan pada Choi Daehyun karena sekarang ada artis lain yang sedang diwawancarai. Tapi Choi Daehyun dan kekasihnya masih terlihat di bagian latar, walaupun tidak terlalu jelas.
“Hae-jin, cepat angkat teleponmu sebelum Choi Daehyun dan kekasihnya masuk,” kata Na Minjie gemas. Ia terus menatap Choi Daehyun dan kekasihnya di televisi, seakan-akan kedua orang itu bakal lenyap kalau ia mengalihkan pandangan sedetik saja.
Minjie melihat wanita itu sedang mencari-cari sesuatu di dalam tas tangannya sementara Choi Daehyun berdiri di sampingnya. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, lalu melakukan gerakan membuka dan menutup. Tepat pada saat itu nada sambung di telepon Minjie terputus.
“Ah, anak aneh ini kenapa tidak menjawab teleponku? Tidak mau melihat pacar Choi Daehyun?” gerutu Minjie sambil menekan nomor ponsel Sheryn sekali lagi.
“Jangan-jangan dia masih di jalan ya?”
Minjie menatap layar televisi dan merasa lega karena Choi Daehyun dan kekasihnya masih terlihat di sudut. Sambil menunggu Sheryn menjawab telepon, Minjie menyipitkan mata supaya bisa melihat lebih jelas Choi Daehyun dan pacarnya. Kali ini wanita itu kembali merogoh tas.
“Ada apa dengannya? Kelihatannya sibuk sekali,” Minjie bertanya sendiri.
Wanita itu mengeluarkan sesuatu lagi dan menatap benda yang dipegangnya itu.
“Ponsel?” gumam Minjie tidak yakin sambil menyipitkan mata.
Wanita itu menatap tangannya, lalu menatap Choi Daehyun. Choi Daehyun terlihat menggeleng-geleng, memberi isyarat supaya wanita itu melihat ke sekeliling, sambil mengucapkan sesuatu. Entah apa yang ia katakan karena akhirnya wanita itu terlihat mengutak-atik benda yang dipegangnya.
Tepat pada saat itu nada sambung di telepon Minjie terputus sekali lagi. Minjie tertegun. Ia menatap layar televisi dengan mata terbelalak. Bungkusan keripik yang sejak tadi dipeluknya terlepas dan jatuh ke lantai. Matanya terpaku pada layar televisi.
Ia melihat kekasih Choi Daehyun sedang menundukkan kepala dan mengutak-atik sesuatu yang menurut Minjie ponsel, lalu memasukkannya kembali ke tas tangan. Kemudian mereka berdua bergerak dan menghilang dari layar televisi Minjie.
Minjie menatap layar televisi dan telepon yang dipegangnya bergantian. Otaknya sibuk berputar. Ia mencoba menghubungi ponsel Sheryn sekali lagi dan kali ini ia hanya mendengar suara operator telepon yang berkata telepon yang dituju sedang tidak aktif. Young-Mi menutup telepon dan mengerutkan dahi.
“Apa yang kulihat tadi? Apa artinya ini? Hanya kebetulan? Kebetulan yang aneh…,” gumam Minjie pada dirinya sendiri.
Ia tidak lagi bersemangat menonton konser amal itu. Ia sibuk memutar otak, memikirkan apa yang baru saja ia lihat dan alami. Ia tidak percaya dengan kemungkinan yang muncul di benaknya.
“Ini tidak mungkin. Tapi memang kalau dipikir-pikir…”
.
.
.
Seperti yang dikatakan Choi Daehyun sebelumnya, Sheryn tidak perlu mengikuti acara konser amal itu sampai selesai karena Daehyun punya jadwal lain yang sangat padat. Begitu Sheryn sudah menyelesaikan tugasnya, Park Hyun-Shik mengantarnya pulang sementara Choi Daehyun menghadiri acara selanjutnya.
Ketika berjalan di sepanjang koridor menuju apartemennya, Sheryn agak heran melihat Na Minjie berdiri di depan pintu gedung itu.
“Minjie, sedang apa kau di sini?” tanya Sheryn sambil mempercepat langkah untuk menghampiri temannya.
Minjie mengangkat wajah dan Sheryn melihat mata temannya terbelalak kaget ketika melihatnya. Lalu Minjie tersenyum aneh.
“Ternyata tidak salah,” gumamnya
“Mm? Kau bilang apa?” Sheryn mengeluarkan kunci pintu dan memandang temannya.
Minjie tersenyum dan menggeleng. “Tidak, aku sedang bicara sendiri. Ayo, kita masuk dulu. Aku sudah capek berdiri sejak tadi.”
Sheryn segera membuka pintu dan mengajak Young-Mi masuk. “Kenapa menunggu di sini? Kau kan bisa menelepon dulu.”
Minjie melangkah masuk dan menjawab, “Ponselmu tidak aktif.”
Sheryn menepuk dahi. “Oh, memang ku matikan tadi. Maaf.”
Na Minjie berdiri di tengah-tengah ruang duduk dan mengamati Sheryn dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Sheryn merasa aneh diamati begitu. “Kenapa memandangiku seperti itu?”
“Pakaianmu,” gumam Minjie dengan pandangan penuh arti.
Sandy tersentak. Ia baru menyadari ia masih mengenakan pakaian yang diberikan Park Hyun-Shik. Gaya rambutnya juga masih seperti tadi. Minjie pasti heran dengan penampilannya yang seperti ini.
“Ah, ini?” Sheryn berbalik memunggungi temannya dan pura-pura mencari sesuatu di dalam lemari es. Otaknya berputar cepat, mencari alasan yang masuk akal.
“Biasa lah, Mister Kim sedang melakukan percobaan baru. Katanya penampilan ini cocok untukku. Tapi kurasa tidak begitu. Aku benar, kan? Eh, kau mau minum apa?”
Sheryn memutar tubuh, kembali menghadap temannya. Minjie sudah duduk di sofa dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapan temannya itu seakan bisa menembus ke dalam hatinya. Sheryn mulai gugup.
“Kau tahu,” Minjie membuka mulut, “tadi aku menonton acara konser amal di televisi.”
Sheryn merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat daripada biasanya. Tidak mungkin Minjie melihatnya. Ia sudah sangat hati-hati agar tidak disorot kamera.
“Aku melihat Choi Daehyun bersama kekasihnya,” Minjie melanjutkan dengan nada tenang.
Ia tersenyum kecil. “Anehnya, kekasihnya itu memakai pakaian yang sama dengan yang kaupakai sekarang. Gaya rambut kalian juga sama persis.”
Baiklah, Sheryn harus melakukan sesuatu. Ia tertawa dan berkata, “Lalu kau mengira aku wanita itu? Minjie, kau ada-ada saja.”
Young-Mi mengangkat alis. “Benarkah, begitu? Sebenarnya aku juga tidak akan berpikir wanita itu kau, Hae-jun, kalau saja aku tidak meneleponmu saat itu. Aku melihatmu di televisi. Memang tidak jelas, tapi aku melihat kejadiannya.”
Sheryn ingat Minjie memang menghubungi ponselnya ketika ia berada di acara konser amal. Ia tidak menjawab karena suasana di sana berisik sekali, semua orang berbicara dan irama musik terdengar di mana-mana.
Kalau ia menjawab, Minjie akan mendengar bunyi berisik di latar belakang dan merasa curiga. Daehyun juga berkata sebaiknya ia tidak menjawab telepon. Itulah sebabnya Sheryn mematikan ponselnya. Ternyata saat itu Minjie melihatnya di televisi.
“Ketika aku menelepon mu, kekasih Choi Daehyun secara kebetulan juga menerima telepon. Ketika dia memutuskan hubungan, tepat pada saat itu nada sambung di teleponku juga terputus,” Minjie melanjutkan.
“Aku mencoba lagi dan melihat wanita itu akhirnya mematikan ponselnya.”
Sheryn tidak bisa mengelak lagi. Ia sudah tidak tahu alasan apa lagi yang bisa ia gunakan. Ia sudah mengenal Na Minjie selama bertahun-tahun dan tahu benar temannya itu pintar dan berotak tajam.
Mungkin saja saat ini Minjie sudah bisa menduga sendiri. Sheryn tidak bisa lagi menyembunyikan masalah ini darinya.
“Lee Hae-jin, kurasa sekarang waktunya kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi,” kata Minjie.
“Aku sudah berpikir lama dan ingin tahu apakah kenyataannya seperti yang kupikirkan.”
.
.
.
.
.
Suasana di salah satu toko buku terbesar di Seoul itu terlihat ramai sekali. Di depan toko terpasang spanduk yang bertuliskan
“Peluncuran Buku Salju di Musim Panas dan Pembagian Tanda Tangan Jung Yoona.”
Mungkin ini sebabnya kenapa buku yang paling banyak dipajang di etalase toko itu adalah Salju di Musim Panas karya Jung Yoona. Para pengunjung toko masing-masing memegang buku tersebut sambil berdiri berdesak-desakan sementara anggota-anggota staf toko bersusah payah mengendalikan keadaan. Selain para pengunjung toko, beberapa wartawan juga tampak hadir di sana.
“Jung Yoona sudah datang?” seru seorang wanita berkacamata kepada salah satu anggota stafnya yang sedang berbicara di telepon.
Anggota staf tersebut menutup telepon dan menjawab, “Katanya dia akan tiba dalam dua puluh menit.”
Wanita berkacamata itu memegang kening dan mengembuskan napas. “Aku tidak tahu apakah kita bakal mampu bertahan dua puluh menit lagi. Hei, semuanya sudah siap di belakang sana? Aku ingin semuanya sempurna sebelum Jung Yoona menginjakkan kaki di toko ini. Mengerti?”
Dua puluh dua menit kemudian, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Seorang wanita cantik keluar dari mobil hitam dan berjalan masuk ke toko buku sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan dengan anggun.
“Itu Jung Yoona! Cantik sekali! Lebih cantik daripada fotonya.”
“Katanya dia baru pulang dari Amerika.”
“Dia pulung khusus untuk menghadiri acara ini.”
“Dia kelihatan masih muda ya.”
“Kau lihat pakaiannya? Bagus sekali!”
“Aku sudah membaca semua buku yang ditulisnya.”
Jung Yoona menyalami wanita berkacamata yang adalah manajer toko itu, kemudian berdiri di balik meja panjang yang sudah tersedia. Senyumnya yang tulus dan menyenangkan masih tersungging di bibir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments