Episode 18

Awalnya Daehyun agak mencemaskan sikap ibunya terhadap Sheryn, tapi sepertinya kekhawatiran tersebut tidak beralasan karena kedua wanita itu cepat sekali akrab.

Tampak jelas ibunya menyukai Sheryn dan begitu juga sebaliknya. acara makan siang itu berjalan ringan dan menyenangkan.

Bahkan ketika ibunya menanyakan bagaimana pertemuan pertama mereka, Sheryn menjawab dengan lancar, “Jadi kalau Paman tidak salah mengambil ponsel saya waktu itu, saya rasa saya tidak akan pernah bertemu Paman maupun Choi Daehyun ssi,” kata Sheryn.

“Wah, rupanya cinta pada pandangan pertama,” kata ibu Choi Daehyun penuh minat.

Sheryn tersedak dan Daehyun otomatis menyodorkan segelas air kepada gadis yang duduk di sebelahnya itu. Park Hyun-Shik yang duduk berhadapan dengan Daehyun hanya bisa menahan senyum.

“Oh ya, Hae-jin, Hyun-Shik kan belum setua itu. Kenapa kamu memanggilnya paman?” tanya ibu Daehyun lagi sambil menepuk tangan Park Hyun-Shik yang duduk di sebelahnya.

“Hyun-Shik, kau hanya dua tahun lebih tua daripada Tae-Woo, kan?”

Park Hyun-Shik membenarkan.

“Sepertinya saya sudah terbiasa memanggilnya begitu. Saya sendiri juga tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena penampilan dan sikapnya yang dewasa sekali,” jawab Sheryn.

Daehyun menyadari ibunya mengamati dirinya, lalu Park Hyun-Shik. “Benar juga,” kata ibunya.

“Hyun-Shik memang kelihatan lebih dewasa kalau dibandingkan Daehyun. Tapi, Hyun-Shik, kenapa sampai sekarang kau masih sendiri? Bagaimana kalau kusuruh Hae-jin mencarikan gadis untukmu?”

Sementara ibunya mendesak Park Hyun-Shik, Daehyun mendengar dering ponsel. Ia meraba saku jasnya, tapi lalu berpaling kepada Sheryn.

“Punyamu.”

Sheryn merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap layar ponsel sekilas. Sambil berdeham pelan, ia membuka dan langsung menutup flap ponselnya. Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi lagi. Daehyun menoleh ke arah Sheryn dan mendapati gadis itu sedang mencopot baterai ponselnya.

“Dia lagi?” tanya Daehyun setelah Sheryn memasukkan ponsel dan baterai ke dalam tas. Sheryn tidak menjawab, hanya memandangnya sambil tersenyum samar.

“Kenapa tidak dijawab?”

“Kemungkinan besar dia akan membicarakan hal-hal yang tidak penting. Seperti biasa.”

.

.

.

.

Han Eunho menutup ponselnya dengan kesal dan berdiri di tepi jalan dengan perasaan tidak menentu. Rupanya Sheryn tidak mau menjawab teleponnya.

Ia mengangkat tangan kirinya yang sedang memegang tabloid hiburan yang memuat foto Choi Daehyun bersama wanita dengan kacamata hitam dan rambut disanggul.

Di bawah foto itu ada foto lain yang juga memperlihatkan Choi Daehyun berdiri dekat sekali dengan si wanita misterius, tapi kali ini wanita itu bertopi merah dengan rambut dikepang. Di bawah foto itu ada tulisan besar-besar

“IDENTITAS KEKASIH CHOI DAEHYUN!”.

Artikel kecil itu sudah dibacanya berkali-kali dengan perasaan tidak percaya, tapi Han Eunho ingin meyakinkan dirinya sekali lagi. Ia pun membaca kembali artikel itu dengan hati-hati. Matanya terhenti pada kalimat yang menyatakan wanita misterius yang menjadi kekasih Choi Daehyun akhirnya diketahui bernama Lee Hae-jin.

Mata Han Eunho kembali menatap foto-foto itu. Tidak salah lagi. Semakin diperhatikan, wanita di foto itu memang mirip sekali dengan Hae-jin. Benarkah itu? Inilah yang ingin ia tanyakan pada Hae-jin, tapi gadis itu tidak mau menjawab teleponnya.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Han Eunho tidak mengerti kenapa hatinya tidak bisa tenang. Ia merasa kesal dan gelisah. Ia harus terus berusaha menghubungi Hae-jin sampai berhasil mendapatkan penjelasan dari gadis itu. Kalau perlu, ia akan pergi ke rumah Hae-jin dan menunggunya di sana.

.

.

.

Na Minjie mendecakkan lidah dengan geram. Sejak tadi ia mencoba menghubungi ponsel Hae-jin, tapi anak itu tidak mengaktifkan ponselnya. Ke mana dia? Minjie menatap majalah di tangannya. Ia mengerutkan dahi.

Apakah Hae-jin sudah tahu tentang ini? Sepertinya belum. Kalau sudah tahu, Hae-jin pasti akan menghubunginya.

Choi Daehyun merasa senang siang itu. Perasaannya ringan sekali selama makan siang tadi. Tapi perasaan itu tidak berlangsung lama. Ketika mereka berempat selesai makan siang dan keluar dari restoran, tiba-tiba saja begitu banyak orang mencegat mereka. Para wartawan mulai berebut mengajukan pertanyaan dan kamera-kamera diarahkan kepada mereka.

“Choi Daehyun, benarkah ini Lee Hae-jin, kekasih Anda?”

“Anda berempat sedang apa di sini, Choi Daehyun?”

“Nyonya Jung, apakah anda baru bertemu Lee Hae-jin ssi?”

“Ada komentar, Lee Hae-jin ssi?”

Daehyun tidak bisa mendengar kata-kata lain karena semua orang berteriak bersamaan. Ia merasakan Sheryn membeku di sampingnya. Ia memahami perasaan gadis itu, ia sendiri juga sangat terkejut karena mendadak harus berhadapan dengan kerumunan wartawan seperti ini. Dan dari mana mereka tahu nama Sheryn? Suasana menjadi kacau.

Park Hyun-Shik berusaha menenangkan para wartawan yang tidak henti-hentinya memotret. Ibu Daehyun ikut kebingungan, tapi tetap bisa bersikap tenang. Sheryn hanya bisa menunduk. Secara otomatis, Daehyun menarik Sheryn ke belakang punggungnya. Ia menyadari tubuh gadis itu tegang.

Tepat pada saat itu mobil mereka sudah diantarkan ke depan restoran. Daehyun segera merangkul pundak Sandy dan menuntunnya menerobos kerumunan wartawan.

Sheryn dan ibunya berhasil masuk ke mobil. Lalu ketika Daehyun ikut masuk dan duduk di samping kemudi, Park Hyun-Shik sudah menyalakan mesin mobil.

“Apa yang sedang terjadi?” tanya Park Hyun-Shik ketika mereka melaju di jalan raya.

Daehyun tidak menjawab. Ia memutar tubuhnya dan memandang Sheryn yang duduk di belakang bersama ibunya.

“Kau tidak apa-apa?”

Sheryn tidak kelihatan sehat. Wajahnya agak pucat, tapi ia memaksakan seulas senyum.

“Ya.”

“Bagaimana mereka bisa tahu nama Sheryn?” Daehyun bertanya kepada manajernya.

Park Hyun-Shik menatapnya sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian ke jalan raya.

“Entahlah.”

“Kalian belum memberi keterangan lengkap tentang Hae-jin pada wartawan, ya?”

Daehyun memandang ibunya yang tampak sangat gelisah. “Belum. Memangnya kenapa, Bu?”

Ibu Daehyun agak salah tingkah ketika menjawab, “Sepertinya Ibu yang telah membocorkannya kepada wartawan.”

Daehyun hanya bisa mendengarkan dalam diam sementara ibunya menjelaskan apa yang terjadi saat wawancara di toko buku. Park Hyun-Shik tidak berkomentar. Sheryn juga hanya duduk di sana tanpa suara.

“Maafkan Bibi, Hae-jin. Bibi tidak sengaja. Bibi tidak tahu kalian tidak ingin orang-orang tahu.”

Sheryn tersenyum lebar menenangkan wanita cantik itu. “Tidak apa-apa, Bibi. Bukan masalah besar. Lagi pula cepat atau lambat mereka akan tahu juga.”

Daehyun menduga Sheryn sebenarnya risau, hanya saja ia tidak mau menunjukkannya karena takut ibunya merasa bersalah.

“Benar, ini bukan masalah besar,” kata Park Hyun-Shik memecah kesunyian.

“Sekarang yang penting kita antar Sheryn pulang dulu, lalu kita ke bandara untuk mengantar Bibi.”

Ia memandang ibu Daehyun melalui kaca spion. “Bibi tidak usah khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!