“Entahlah, aku belum tahu,” jawab Choi Daehyun sambil melepas kacamata gelapnya.
“Bagaimana kalau kau saja yang pilih. Ayo, kita naik.”
“Hei, Choi Daehyun!”
Aku dan Choi Daehyun serentak menoleh ke arah seruan penuh semangat itu. Ternyata suara itu milik laki-laki yang tampan sekali. Aku merasa pernah melihat laki-laki itu. Di mana ya? Ah! Di televisi. Laki-laki itu kan bintang iklan pakaian olahraga. Tidak salah lagi.
“Apa kabar, Danny?” Choi Daehyun menyapa dan menepuk punggungnya.
Aku menjauh dari sana dan membiarkan kedua laki-laki itu berbincang-bincang.
Kalau tidak salah, ia memang pernah dengar Choi Daehyun berteman baik dengan Danny. Walaupun sudah berdiri agak jauh dan tersembunyi di balik rak pakaian, ia masih bisa mendengar jelas pembicaraan kedua laki-laki itu.
“Hei, kau ganti nomor ponselmu, ya?”
Aku mendengar Danny bertanya kepada Choi Daehyun.
“Tidak. Kenapa?”
“Beberapa hari yang lalu aku meneleponmu, tapi yang menjawab wanita dan dia bilang dia tidak kenal denganmu. Apa jangan-jangan itu pacarmu?”
Aku menutup mulut dengan sebelah tangan. Ia ingat hari itu, hari ketika ponselnya dan ponsel Choi Daehyun tertukar. Saat itu aku mengira orang itu salah sambung. Aku mengalihkan tatapan ke arah Choi Daehyun, penasaran bagaimana jawaban pria itu.
“Kau pasti salah sambung. Nomor ponselku tetap seperti yang dulu,” katanya tenang sambil tersenyum.
“Tidak mungkin salah sambung,” Danny bersikeras.
“Tapi sudahlah, itu bukan masalah. Kakakku terus menanyakan kabarmu. Katanya sudah lama kau tidak ke sini.”
“Maaf. Aku memang agak sibuk belakangan ini.”
Danny menatap Choi Daehyun penuh selidik. “Oh ya, aku baru ingat. Kenapa kau tidak cerita padaku?”
Choi Daehyun mengangkat alis. “Tentang apa?”
“Pacarmu.”
Aku menahan napas.
Jung Tae-Woo terlihat bingung. “Pacar? Pacar yang man—Aah, itu…”
Bagaimana sih? Aku merasa kesal. Choi Daehyun selalu khawatir Aku akan membocorkan rahasia mereka, tapi sekarang ia sendiri yang hampir membongkar semuanya. Dasar laki-laki.
Danny tertawa. “Masa kau lupa pacarmu sendiri?"
Choi Daehyun ikut tertawa. “Lain kali saja kuceritakan. Nah, itu ada yang memanggilmu. Sudah, pergilah, tidak usah melayaniku.”
“Hei, tadi itu Danny yang bintang iklan itu ya?” tanyaku ketika Choi Daehyun sudah berada di sampingku.
“Mmm. Memangnya kenapa?” Choi Daehyun balas bertanya.
“Ternyata dia tampan sekali,” kataku.
“Aku tidak percaya aku bisa melihat aslinya. Seharusnya tadi aku minta tanda tangan, siapa tahu Na Minjie mau.”
Choi Daehyun memandangku, lalu bergumam pelan. “Untuk temanmu atau…”
“Hm?”
“Ah, tidak…. Sudah memilih sesuatu?”
“Katanya kau ingin memilih sendiri,” protesku, tapi Choi Daehyun sudah berjalan pergi. Aku membiarkan dirinya beberapa saat memandang sosok belakang
Danny yang menjauh, lalu membalikkan tubuh menyusul Choi Daehyun yang sudah naik ke lantai dua toko itu.
“Ini tokonya?” tanyaku lagi setelah berhasil menyusul Choi Daehyun.
“Apa?” Choi Daehyun sibuk melihat-lihat aksesori yang dijual di sana.
“Maksudku, toko ini milik Danny?”
“Sebenarnya milik kakak perempuannya, tapi Danny sering ada di sini,” sahut Choi Daehyun. Lalu ia tiba-tiba menoleh dan menatapku dengan pandangan menyelidik.
“Kenapa tanya-tanya?”
Aku membalas tatapan Jung Tae-Woo tanpa merasa bersalah. “Hanya ingin tahu. Eh, kau kenal siapa lagi? Kenap mantan personel H.O.T? Shinhwa?”
Choi Daehyun mendesah keras dan berkacak pinggang. “Kalau nona besar tidak lupa, kau di sini untuk membantuku memilih sesuatu!”
Aku mencibir. “Oke, oke. Bagaimana kalau bros?” katanya sambil menunjuk barisan bros cantik yang dipajang di kotak kaca.
“Aku sudah pernah memberikan bros untuk penggemarku dulu,” kata Choi Daehyun.
“Aah, benar juga.” Aku mengangguk-angguk sambil terus mengamati bros-bros itu.
“Waktu itu sudah pernah ya…”
Beberapa detik berlalu tanpa tanggapan, meski begitu Aku merasa Choi Daehyun sedang menatapku. Aku pun mengangkat kepala dan melihat ke arah laki-laki itu. Ah, sepertinya aku keliru, Daehyun sedang memandang ke arah lain.
“Kau kenapa?” tanyaku.
Choi Daehyun menoleh dan menunjuk ke bagian topi. “Kita ke sana.”
Aku mengikuti laki-laki itu, namun ketika ia melewati salah satu manekin, langkahnya tiba-tiba terhenti. Mataku tertuju pada syal panjang yang dipakaikan pada manekin itu. Syal bermotif kotak-kotak hitam-putih yang kelihatan bagus sekali. Aku menjulurkan tangan dan menyentuh syal itu.
“Sedang apa kau di sini?” Tiba-tiba Choi Daehyun sudah berdiri di belakangnya.
Aku menoleh ke belakang dan berkata, “Lihat syal ini. Bagus, kan?”
“Menurutmu bagus?” tanya Choi Daehyun.
Aku mengelus-elus syal itu. “Tentu saja. Aku suka sekali motif dan warnanya.”
Choi Daehyun melepaskan syal itu dari manekin dan memakainya. Ia berjalan ke cermin dan mematut diri. Aku mengikuti dari belakang sambil menggerutu dalam hati, kenapa jadi Choi Daehyun yang mencoba memakainya? Kan aku yang melihatnya. Ouh iya, aku mana mungkin bisa memakainya. Uangku saja tidak cukup untuk membelinya.
“Memang bagus,” Choi Daehyun mengakui.
“Cocok untukku, bukan?”
Aku ikut melihat bayangan Choi Daehyun di cermin dan harus mengakui pria itu memang terlihat keren sekali dengan syal itu.
“Cocok. Kau bisa memakainya pada acara jumpa penggemarmu nanti,” usulku sambil mengalihkan pandangan.
“Boleh juga,” kata Choi Daehyun dan berputar dari cermin.
“Lalu soal hadiah untuk penggemar, kupikir sebaiknya mereka kubelikan topi saja. Bagaimana?“
.
.
.
.
"Beruntung sekali kita bisa dapat tiket ini. Tempat duduk kita di barisan paling depan, lagi! Kau tahu tidak, tiketnya sudah habis terjual dalam setengah jam! Tapi kurasa itu bukan berita aneh. Sudah empat tahun Choi Daehyun tidak mengeluarkan album, makanya aku yakin albumnya kali ini pasti hebat,” kata Minjie sambil mencium tiket masuk acara jumpa penggemar Choi Daehyun.
“Apakah aku harus menelepon Mister Kim dan mengucapkan terima kasih?”
“Ah, tidak usah. Aku sudah berterima kasih padanya,” sahutku cepat-cepat.
Park Hyun-Shik memenuhi janjinya dan memberikan dua lembar tiket kepadaku.Tentu saja aku langsung mengajak Na Minjie dan karenanya ia harus mengarang cerita tentang asal-usul tiket itu.
Ia berkata pada Na Minjie bahwa Mister Kim yang menghadiahkan tiket itu untukku karena sudah menyelesaikan tugas dengan sempurna. Yang benar saja! Kalau Mister Kim pernah sebaik itu pada orang, namanya sudah pasti bukan Mister Kim. Tapi Minjie sama sekali tidak curiga dengan cerita itu.
Kami tiba di tempat acara jumpa penggemar diselenggarakan dan melihat ratusan gadis remaja berkerumun di pintu masuk. Ternyata penggemar setia Choi Daehyun banyak sekali. Mereka membawa spanduk-spanduk besar, balon, dan papan karton yang bertuliskan nama Choi Daehyun.
Aku masih belum memahami kenapa orang-orang itu begitu tergila-gila pada Choi Daehyun walaupun ia sudah menghabiskan waktu bersama laki-laki itu seminggu terakhir ini. Ia bertanya-tanya apakah ia akan merasa aneh melihat Choi Daehyun berdiri di panggung dan menyanyi.
“Kali ini mereka membatasi jumlah penonton,” celetuk Minjie.
“Acara jumpa penggemar yang sebelumnya jauh lebih ramai.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments