Episode 15

Sudah hampir dua minggu berlalu sejak aku terakhir kali bertemu dan berbicara dengan Choi Daehyun di rumah pria itu. Entah kenapa aku merasa serba salah.

Aku ingin menghubungi Daehyun, tapi tidak tahu apa yang akan ku katakan. Aku ingin bertanya pada Paman Park Hyun-Shik, tapi tidak tahu apa yang akan aku tanyakan.

Aku berjalan tanpa tujuan di sekitar kampus. Aku berjalan dari gedung ke gedung, dari kelasnya ke perpustakaan, dari perpustakaan ke aula. Akhirnya aku berhenti di halaman kampus, duduk di bangku panjang di bawah pohon. Aku mengeluarkan ponsel dan menatap benda itu sambil menarik napas.

"Kenapa dia tidak menelepon? Tapi memangnya kenapa dia harus menelepon?" gumanku tidak jelas. Aku menggeleng-geleng dan menarik napas lagi.

"Kenapa dia tidak menelepon?"

Aku tersentak karena mendengar suara Na Minjie yang ternyata sudah berdiri di belakangku.

"Apa?” tanyaku pada Minjie.

Minjie duduk di sampingku Wajahnya terlihat ceria seperti biasa. “Tadi kau bertanya kenapa dia tidak menelepon. Siapa yang yang kau maksud?”

Ternyata tanpa sadar aku telah menyuarakan pikiranku. Ini berarti bahaya. Aku kenapa sih.

“Ah, tidak. Bukan siapa-siapa,” sahutku sambil memaksakan tawa.

“Aku harap bukan Hanya Eunho,” kata Minjie sinis. Aku langsung mengibaskan tangan.

“Bukan! Bukan dia.”

“Baguslah kalau bukan,” kata Minjie. Ia mengangkat tangan dan menarik napas dalam-dalam.

“Haaah… cuaca hari ini indah sekali!”

Aku memandang langit, lalu melirik temanku dengan hati-hati. “Young-Mi,” panggilku.

Young-Mi menoleh. “Hm?”

“Album baru Choi Daehyun sudah diluncurkan, kan?”

Minjie mengangguk. “Benar, beberapa hari yang lalu. Memangnya kenapa? Bukankah kau sudah punya? Kita kan sudah mendapatkannya sewaktu acara jumpa penggemar itu.”

Aku menggeleng. “Ah, tidak ada apa-apa.”

Aku terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Berarti Choi Daehyun akhir-akhir ini pasti sibuk sekali, ya?”

Temanku mengangguk sekali lagi dan berkata, “Tentu saja. Kudengar beberapa waktu yang lalu dia sibuk syuting video klip. Belum lagi kenyataan dia harus tampil dalam banyak acara untuk mempromosikan albumnya.”

Minjie bertepuk tangan gembira. “Kita akan sering melihatnya di televisi.”

“Begitu?”

Ternyata memang sedang sangat sibuk…

“Majalah-majalah juga banyak memuat artikel tentang dia,” Minjie menambahkan penuh semangat.

“Mereka membahas albumnya, lagu-lagunya, dan mereka juga mulai mengungkit-ungkit soal kekasihnya.”

Aku menata temannya. “Apa yang mereka katakan?”

Minjie mengerutkan dahi. “Banyak, mereka bertanya-tanya soal keberadaan wanita itu, identitasnya. Aku sendiri juga penasaran. Intinya, mereka tiba-tiba meragukan apakah wanita itu benar-benar kekasih Choi Daehyun”

“Kenapa mereka meragukannya?”

“Karena wanita itu tidak terlihat di media lagi sejak fotonya muncul. Bahkan sekadar kabarnya tidak terdengar,” Minjie menjelaskan.

“Mereka mulai berpikir mungkin hubungan Choi Daehyun dan wanita itu sudah berakhir. Terus terang saja, aku juga berharap itu benar. Oh ya, mereka juga mengungkit kejadian empat tahun lalu.”

“Masalah yang…?”

“Benar. Yang kuceritakan waktu itu. Soal empat tahun lalu ketika ada penggemar Choi Daehyun yang meninggal pada saat acara jumpa penggemarnya. Kau ingat? Untung saja acara tahun ini lancar-lancar saja dan tidak ada kejadian buruk.”

Aku menengadah memandang langit biru dan sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Minjie terus bercerita. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku buru-buru menjawab dan raut wajahku berubah.

“Oh, Eunho ssi.”

.

.

.

.

[Sudut Pandang Author]

Park Hyun-Shik duduk merenung di kantornya. Di meja terdapat beberapa majalah yang terbuka pada halaman yang memuat artikel Choi Daehyun. Ia sudah menduga akan ada kejadian seperti ini.

Begitu album baru Daehyun keluar, orang-orang akan sibuk membicarakan artis asuhannya itu. Bukan hanya lagu-lagunya, tapi segala gosip yang berhubungan dengan Daehyun, termasuk gosip tentang pacar misteriusnya. Mereka bahkan kembali menyinggung-nyinggung kecelakaan empat tahun lalu, tapi untungnya hanya sekilas, jadi seharusnya tidak apa-apa.

Park Hyun-Ship mengusap-usap dagu dan berpikir mungkin sudah tiba saatnya mereka membutuhkan bantuan Sheryn lagi. Kali ini, mau tidak mau gadis itu harus bersedia menampakkan diri. Ia mengangkat gagang telepon yang ada di meja dan menekan beberapa tombol.

“Halo, Sheryn. Apa kabar? Ini Park Hyun-Shik… Kau punya waktu sekarang? … Bagus. Bisa datang ke kantorku? … Baik, sampai jumpa.”

“Seperti yang sudah kukatakan, sepertinya kami tidak cocok.”

Sheryn memandang laki-laki tinggi besar yang duduk di hadapannya itu dengan perasaan lelah. Han Eunho tampak menyedihkan. Ia baru mengakui kepada Sheryn bahwa ia dan kekasihnya sedang bermasalah.

“Kami tidak cocok,” Han Eunho mengulangi kata-katanya dan menatap Sheryn, menunggu reaksinya.

Sheryn tertawa pahit. “Dan kau baru tahu setelah hampir setahun bersamanya?”

“Kau masih marah?” tanya Han Eunho dengan nada bersalah.

Sheryn menarik napas. “Tidak juga,” katanya.

“Marah juga tidak ada gunanya.”

“Tidak, kau berhak marah padaku,” Han Eunho bergumam pelan.

“Aku memang salah. Sekarang aku sadar.”

Sheryn mengerutkan keningnya. “Lalu?”

“Sepertinya hubungan kami tidak bisa diteruskan lagi,” kata Han Eunho tegas.

Alis Sheryn terangkat. Sesaat ia bingung, lalu ia mendengar ponselnya berbunyi. Merasa lega karena tidak harus menanggapi apa yang baru saja dikatakan Han Eunho, Sheryn cepat-cepat membuka flap ponselnya.

“Halo?”

Ia kaget ketika mendengar suara Park Hyun-Shik di seberang sana.

“Oh, apa kabar, Paman? … Sekarang? Ya, aku sedang tidak sibuk… Aku akan ke sana sekarang… Sampai jumpa.”

Sheryn menutup ponsel dan memandang Han Eunho yang menatapnya dengan pandangan menyelidik.

“Kau mau pergi sekarang?” tanyanya ketika melihat Sheryn buru-buru menghabiskan minumannya.

“Maaf, Han Eunho ssi. Ada urusan mendadak. Aku harus pergi. Lain kali saja baru dilanjutkan,” kata Sheryn cepat-cepat, lalu bangkit dan keluar dari kafe itu.

“Kita akan pergi menemui Daehyun,” kata Park Hyun-Shik kepada gadis yang duduk di hadapannya.

Sheryn mengangguk. “Kami harus difoto lagi?”

“Benar,” Park Hyun-Shik mengiyakan.

“Karena itu kita harus mengubah penampilanmu. Kau tidak ingin sampai dikenali, kan?” Lalu Park Hyun-Shik bangkit dari kursi dan meraih jas.

“Jadi kapan kita mulai bekerja?” tanya Sheryn.

Park Hyun-Shik memandang Sheryn dan berkata, “Sekarang juga.”

Sheryn agak terkejut. “Oh, sekarang?” Ia belum merasa siap.

“Ya, ada masalah?” tanya pria itu sambil mengenakan jas dan memperbaiki posisi dasi.

Sheryn menggeleng. “Tidak.” Sepertinya mau tak mau ia harus mempersiapkan dirinya saat ini juga.

“Ayo, kita pergi,” kata Park Hyun-Shik, mulai berjalan ke pintu.

“Saat ini Daehyun sedang diwawancara. Kita akan pergi ke lokasi wawancaranya, tapi sebelum itu kita harus memberimu penampilan baru.”

Park Hyun-Shik merasa tidak enak karena harus menyembunyikan sesuatu dari Sheryn, tapi ia tidak punya pilihan. Kalau Sheryn tahu, kemungkinan besar ia tidak akan bersedia diajak menemui Daehyun dan saat ini Park Hyun-Shik tidak punya cukup waktu untuk meyakinkannya.

Ia membawa Sheryn ke toko pakaian yang juga merangkap salon dan menyuruh gadis itu mencoba beberapa pakaian. Ia tidak ingin Sheryn terlihat cantik atau bergaya. Ia ingin Sheryn tampil sesederhana mungkin supaya tidak menonjol dan tidak ada orang yang dapat mengenalinya.

Ia juga menyuruh Sheryn mencoba beberapa rambut palsu, tapi tidak ada yang cocok di matanya. Akhirnya Park Hyun-Shik meminta pegawai toko itu menyanggul rambut Sheryn.

Dengan rambut yang disanggul, kemeja krem polos tanpa lengan dan rok polos berwarna sama, Sheryn terlihat seperti wanita yang lebih tua daripada usianya yang sebenarnya. Persis seperti yang dibayangkan Park Hyun-Shik. Sebagai sentuhan terakhir, ia mengulurkan kacamata berlensa kecokelatan yang bisa menyamarkan wajah Sheryn.

“Baiklah,” Park Hyun-Shik berkata puas.

“Kita berangkat sekarang. Seharusnya wawancara Daehyun akan selesai sebentar lagi.”

.

.

.

.

Choi Daehyun bangkit dari sofa yang didudukinya sejak tadi dan bersalaman dengan para kamerawan dan reporter yang mewawancarainya. Ia sedikit lelah, tapi ia tahu ini sudah menjadi risiko pekerjaannya.

Para wartawan tadi juga sempat bertanya tentang hubungannya dengan kekasih misteriusnya, namun Daehyun hanya memberikan jawaban samar. Ada juga yang mengungkit kejadian empat tahun lalu.

Daehyun berhasil menanggapinya dengan tenang, walau ia harus mengakui dalam hati perasaannya masih agak resah bila diingatkan kembali tentang kejadian itu. Daehyun dan beberapa anggota stafnya keluar dari lift dan berjalan ke pintu utama gedung tempat diadakannya wawancara tadi.

Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika pandangannya menembus pintu kaca yang lebar dan melihat seorang wanita turun dari mobil sedan putih. Daehyun tertegun sejenak, lalu ia mempercepat langkahnya, mendorong pintu kaca sampai terbuka dan menghampiri wanita itu.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya tanpa basa-basi.

Wanita itu berbalik dan agak terkejut melihatnya.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Daehyun sekali lagi. Ia tidak menyangka bisa bertemu Sheryn di sini. Ia menatap Sheryn tajam dan melihat pipi gadis itu agak memerah.

“Itu… Paman yang menyuruhku ke sini,” Sheryn mencoba menjelaskan dengan agak bingung.

“Kau tidak tahu? Katanya kita akan difoto.”

Daehyun menoleh ke belakang dan melihat kerumunan wartawan mulai menghampiri mereka dengan cepat.

“Tidak,” jawabnya.

“Ikut aku.”

Ia merangkul pundak Sheryn dan berjalan menjauh ketika kilatan-kilatan lampu blitz kamera mulai beraksi dan para wartawan berlomba-lomba mengajukan pertanyaan.

“Choi Daehyun, siapa wanita ini?”

“Apakah dia wanita misterius di foto waktu itu?”

“Nona! Siapa nama Anda?”

“Apa hubungan kalian berdua?”

“Apakah Anda bisa memberikan sedikit komentar?”

Daehyun hanya mengangkat sebelah tangan dan menuntun Sheryn ke mobilnya yang diparkir tidak jauh dari sana. Ia membuka pintu mobil untuk Sheryn sambil berusaha menghalangi para wartawan mengambil gambar jelas gadis itu. Ia memerhatikan Sheryn terus menunduk dan menutupi wajah dengan sebelah tangan.

Daehyun cepat-cepat menutup pintu dan berjalan mengelilingi mobilnya ke bagian tempat duduk pengemudi. Sebelum masuk ke mobil, ia tersenyum dan melambaikan tangan sekali lagi ke arah para wartawan.

Setelah mereka sudah agak jauh dari tempat itu, Daehyun melirik Sheryn dan bertanya, “Kau baik-baik saja?”

Sheryn melepaskan kacamata dan mengembuskan napas kesal. “Paman bilang kita akan difoto. Difoto apanya? Ternyata begini… Ah, tapi benar juga. Kita memang difoto. Oleh wartawan.”

“Jangan menyalahkan Hyung,” kata Daehyun.

“Setidaknya Hyung sudah mengubah penampilanmu sebelum menjebak kita.”

“Menurutmu mereka berhasil memotretku?” tanya Sheryn ingin tahu.

“Sudah tentu,” sahut Daehyun sambil tersenyum.

“Tapi kau tidak usah cemas. Dengan penampilan seperti itu, tidak akan ada orang yang tahu kau adalah kau.”

Gadis itu menunduk memerhatikan penampilannya sendiri. Tiba-tiba ia bertanya, “Tapi tadi kau langsung mengenaliku. Bagaimana bisa?”

Daehyun tidak tahu harus menjawab apa. Tadi ketika melihat seorang wanita turun dari mobil Park Hyun-Shik, ia langsung tahu wanita itu Sheryn. Kalau dipikir-pikir, ia sendiri juga tidak mengerti bagaimana ia bisa begitu yakin. Penampilan Sheryn berbeda sekali dengan biasanya, tapi tadi ia bahkan tidak memerhatikan penampilan gadis itu. Ia hanya tahu wanita yang berdiri di sana Sheryn.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!