Episode 3

...ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ...

Sheryn yang duduk bersila di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuh menatap bingung Kang Young-Mi yang duduk di sampingnya. Temannya yang bermata sipit dan berambut lurus panjang tergerai melewati bahu itu balas menatap Sandy dengan kedua tangan terlipat di dada.

“Aku tidak percaya kau hanya bisa berkata begitu. Kenapa tidak minta tanda tangannya?” Na Minjie melanjutkan dengan nada menuduh.

Sheryn mengerang. “Mungkin karena kemarin aku sedang kesal dan lelah… dan lumpuh otak.” Ia memegang pipinya yang agak pucat dan menggeleng-geleng.

“Betul, sepertinya otakku benar-benar sudah lumpuh semalam. Bagaimana bisa aku masuk ke mobil bersama dua laki-laki yang tidak kukenal? Dan saat itu sudah hampir tengah malam. Astaga, apa yang sudah kulakukan? Aku bukan orang seperti itu. Tidak, tidak. Aku sudah gila. Syukurlah aku masih beruntung. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa kemarin?”

Na Minjie mendecakkan lidah. “Hei, kau bukannya bersama orang asing. Kau bersama Choi Daehyun. Kenapa kau tidak minta tanda tangannya?” tanyanya sekali lagi, nada penyesalan kental terdengar.

“Choi Daehyun orang asing bagiku,” cetus Sheryn tegas.

“Lagi pula kau tahu sendiri aku bukan penggemarnya, kenapa aku harus minta tanda tangannya?”

“Walaupun bukan penggemarnya, kau kan tahu temanmu yang satu ini penggemar beratnya,” tegur Minjie lagi sambil menekankan telapak tangan di dada.

"Aku sudah begitu setia menunggu kemunculannya lagi selama empat tahun ini. Setidaknya kau bisa minta tanda tangannya untukku… Tidak semua orang bisa bertemu langsung dengan Choi Daehyun, kau tahu. Dan kemarin, entah dengan keajaiban apa, kau bertemu dengannya, kau bicara dengannya, dan dia bahkan mengantarmu dengan mobilnya.”

“Mobil temannya,” sela Sheryn.

“Temannya juga ada di sana.”

Daehyun tidak mengacuhkan Sheryn. “Kau naik mobil bersamanya. Haah, kalau aku jadi kau, aku akan—“

“Hei, Na Minjie!”

Sikap Minjie melunak. “Aku tahu, aku tahu. Tapi kalau lain kali kau bertemu dengannya, jangan lupa minta tanda tangan untukku.”

Sheryn membaringkan diri ke tempat tidur. Pandangannya menerawang. “Kalau aku bertemu dengannya lagi.” gumannya

Minjie bermain-main dengan salah satu ujung selimut Sandy lalu tiba-tiba menyeletuk, ”Oh ya, kudengar Choi Daehyun itu sebenarnya gay. Aku tidak tahu gosip itu benar atau tidak, meski aku bisa mati karena kecewa kalau dia benar-benar gay. Kemarin kau bertemu langsung dengannya. Menurutmu bagaimana? Sikapnya seperti apa? Apakah dia kelihatan normal-normal saja? Terlihat berbeda? Apakah penampilannya berubah setelah bertahun-tahun menghilang?”

Sheryn mengerutkan kening dan berpikir. “Entahlah, aku tidak merasa ada yang aneh pada dirinya. Biasa saja. Aduh, aku kan sudah bilang bahwa kemarin aku lumpuh otak. Aku bahkan tidak ingat lagi baju apa yang dipakainya.”

Minjie menatap prihatin temannya. “Kau benar-benar tidak berguna. Hanya kau yang bisa demam di musim panas seperti ini. Kepalamu masih sakit? Sudah baikan, belum?”

Sheryn tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sedang memikirkan hal lain. Kemudian ia menggigit bibir dan bertanya, “Minjie, sebenarnya apa yang kau suka dari Choi Daehyun? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?”

Senyum Na Minjie mengembang. “Karena dia tampan, lucu, pandai menyanyi—aduh, suaranya bagus sekali—dan karena dia menulis lagu-lagu yang begitu romantis dan menyentuh. Oh ya, album barunya akan diluncurkan sebentar lagi. Ah, aku sudah tidak sabar.”

“Begitu?”

Tiba-tiba Minjie memekik dan membuat Sheryn terperanjat. “Kenapa? Ada apa?” tanya Sheryn begitu melihat Minjie meraih tasnya yang tergeletak di lantai dengan kasar dan mulai mencari-cari sesuatu di dalamnya.

“Bodohnya aku, bodohnya aku,” gumam Minjie berulang-ulang.

“Seharusnya aku langsung tahu begitu kau menceritakannya padaku.”

“Apa?” tanya Sheryn heran.

Minjie mengeluarkan tabloid dan membuka-buka halamannya. “Nah, coba kau lihat ini.”

Sheryn melihat artikel berjudul “Pertemuan Tengah Malam” yang ditunjukkan Na Minjie dan mendadak ia merinding. Artikel itu dilengkapi dua foto Choi Daehyun bersama seorang wanita. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas, tapi Sheryn sudah tentu bisa mengenali dirinya sendiri. Wanita yang bersama Daehyun di dalam foto itu adalah dirinya.

"Astaga! Apa-apaan ini?," pekik Sheryn

Foto pertama memperlihatkan Sheryn dan Daehyun yang sedang keluar dari rumah artis itu. Kepala Sheryn tertunduk ketika difoto sehingga wajahnya tidak terlihat. Sheryn ingat saat itu teman Choi Daehyun masih berada di dalam rumah sehingga orang itu tidak ikut terfoto.

Foto yang kedua diambil ketika Choi Daehyun sedang membuka pintu mobil untuknya. Sosoknya tidak jelas karena terhalang tubuh Daehyun. Sheryn merasa bersyukur karena wajahnya tidak terlihat.

“Aku sempat melupakan tabloid ini ketika aku mendengar kau sakit,” kata Minjie menjelaskan.

“Seharusnya aku sudah bisa menduga ketika kau menceritakan apa yang kaualami semalam tadi, tapi anehnya hari ini kerja otakku lambat sekali. Wanita yang di foto itu kau, bukan?”

“Astaga,” gumam Sheryn tidak percaya.

“Siapa yang mengambil foto-foto ini?”

“Choi Daehyun itu artis terkenal,” kata Young-Mi dengan nada aku-tahu-semua -jadi-percaya-saja-padaku.

“Tentu saja banyak wartawan yang sibuk mencari berita tentang dirinya. Dan yang satu ini benar-benar berita hebat. Di sini malah ditulis kau kekasih Choi Daehyun.”

Sheryn menggeleng-geleng dan mengembalikan tabloid itu kepada Minjie. Ia masih merinding, “Aku tidak berdua saja dengan Jung Tae-Woo. Paman berkacamata itu, teman Jung Tae-Woo, juga ada bersama kami, seharusnya siapa pun yang mengambil foto ini juga tahu, tapi kenapa jadi begini?”

Na Minjie menarik napas panjang. “Sudah kubilang, Choi Daehyun itu artis terkenal. Tabloid-tabloid harus mencari berita yang bisa menarik perhatian orang. Kalau kalian bertiga yang ada dalam foto itu, tidak akan ada berita.”

Sheryn merasa tubuhnya menggigil. “Untunglah wajahku tidak terlihat. Minjie, kuharap kau tidak akan memberitahu siapa pun tentang pertemuanku dengan Choi Daehyun.”

Alis Minjie terangkat. “Kenapa?”

Sheryn mengerutkan kening dan menggaruk kepala. “Enak saja mereka membuat gosip sembarangan. Kekasihnya? Aku? Aku tidak mau terlibat dengan urusan seperti gosip artis…”

“Kepalamu masih sakit?” tanya Minjie ketika melihat Sheryn terdiam sambil memegang dahi. Sheryn menggeleng dan tersenyum.

“Tidak, aku sudah baikan. Sepertinya gara-gara kecapekan ditambah stres, akhirnya demam. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa Minjie, kau pulang saja dan bantu ibumu. Sekarang kan jam makan siang. Rumah makan ibumu pasti sedang ramai.”

“Ibuku juga mencemaskanmu, jadi akundiizinkan tinggal lebih lama. Oh ya, ibuku sudah memasak bubur untukmu. Tadi aku taruh di dapur. Kau harus makan, mengerti?” kata Minjie sambil mengambil tasnya yang ada di lantai.

Ia meletakkan tangannya di kening Sandy dan bergumam, “Sudah tidak panas, tapi tetap harus minum obat. Nanti sore aku akan menjengukmu lagi. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”

“Kau baik sekali, Minjie,” kata Sheryn sambil tersenyum.

“Sampaikan terima kasihku pada ibumu karena sudah memasak bubur untukku. Ah, tidak usah. Sebaiknya aku sendiri yang meneleponnya dan berterima kasih. Oh ya, kau harus ingat, soal pertemuanku dengan Choi Daehyun kemarin malam, jangan kau katakan pada siapa pun.”

“Ya, ya, aku tahu. Kau tenang saja. Istirahat yang banyak ya. Sampai jumpa,” kata Minjie sebelum keluar dari kamar Sheryn.

.

.

.

.

.

.

Choi Daehyun berdiri tegak di dekat jendela besar ruangan kantor manajernya yang berada di lantai 15 gedung pencakar langit. Ia memandang ke luar jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia tidak sedang menikmati pemandangan kota Seoul seperti yang sering dilakukannya pada hari-hari biasa.

Pagi ini sebuah tabloid lagi-lagi memuat artikel yang mengomentari gosip gay-nya. Gosip itu merambat dengan kecepatan tinggi. Tidak lama lagi ia pasti akan dimintai penjelasan. Wartawan-wartawan akan mengejarnya… menanyainya… menuntut tanggapannya. Itulah risiko menjadi artis.

Kenangan buruk masa lalu itu muncul lagi. Ketika para wartawan mengajukan ribuan pertanyaan tanpa henti, ketika ia merasa begitu frustrasi dan harus bersembunyi untuk menenangkan diri.

Kini, dengan adanya gosip baru itu, hari-hari penuh perjuangan akan kembali dimulai… atau apakah sebenarnya sudah dimulai?

Terpopuler

Comments

🧚‍♀️⃝𝑺𝒐𝒐-𝑱𝒊𝒏𝄞࿐

🧚‍♀️⃝𝑺𝒐𝒐-𝑱𝒊𝒏𝄞࿐

keren banget kak, tapi kakak kenapa?

2025-02-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!