Aku mengalihkan pandangan dari kerumunan penggemar Choi Daehyun kepada temanku.
“Benarkah?”
Na Minjie mengangguk tegas. “Tentu saja. Aku juga datang ke acara jumpa penggemar yang dulu itu. Wah, yang datang banyak sekali. Kau tidak akan bisa membayangkannya. Waktu itu aku sampai susah bernapas."
"Tidak heran kalau banyak penggemarnya yang jatuh pingsan di acara itu, malah ada yang sampai meninggal. Aku pernah cerita, kan? Kau ingat, Hae-jin?”
Aku mengangguk dan merenung. “Aku pernah dengar tentang kejadian itu, tapi karena belum pernah menghadiri acara seperti ini, aku tidak tahu suasananya seperti apa.”
Na Minjie tersenyum dan menggandeng lenganku. “Walaupun jumlah penontonnya sudah dikurangi, aku yakin mereka tetap liar. Kau akan bisa merasakan suasananya. Oh ya, Choi Daehyun masih ingat padamu, tidak ya?”
Aku menatapnya kaget. “Maksudmu?”
Minjie mendecakkan lidah. “Bukankah waktu itu kau sempat ke rumahnya, bahkan dia mengantarkanmu pulang?"
"Hei, kau ingatkan saja dia! Sewaktu acara pembagian tanda tangan nanti, bilang kau pernah berjumpa dengannya. Setelah itu kita pasti bisa mengobrol lebih lama. Ya? Ya? Kau harus menarik perhatiannya kepada kita.”
“Apa? Bukannya sudah kubilang aku tidak mau orang-orang sampai tahu malam itu aku bertemu dengannya?” sahutku.
“Aku tidak mau terlibat gosip semacam itu.”
Oh ya, ia tahu benar ucapannya ini bertolak belakang dengan keputusannya membantu Choi Daehyun.
“Kalau begitu tidak usah terang-terangan. Kau bisa memberikan petunjuk-petunjuk yang bisa membuatnya—“
“Hei, Na Minjie! Sudahlah, kita masuk saja,” potongku sambil cepat-cepat menarik tangan temanku masuk ke gedung.
Acara dimulai dan Choi Daehyun muncul diiringi jeritan para penggemarnya. Aku agak terperangah karena para penggemar Choi Daehyun benar-benar penuh semangat dan jeritan mereka mengagumkan.
Minjie juga menjerit dan mengibas-ngibaskan balon yang dipegangnya keras-keras. Melihat Minjie seperti itu, Aku jadi ikut bersorak dan menjerit walaupun suaranku sudah jelas tidak terdengar di antara lengkingan penggemar-penggemar lain yang lebih ahli dalam hal ini.
Aku melihat Choi Daehyun berdiri di depan penonton sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Pria itu mengenakan kaus hitam, jaket putih, celana panjang putih, juga syal hitam-putih yang dibelinya bersamaku.
Kemudian Choi Daehyun mulai bernyanyi dan Aku membiarkan dirinya dipengaruhi para penggemar Choi Daehyun yang liar. Aku ikut berteriak-teriak dan mengibas-ngibaskan balon seperti Na Minjie. Aku mengakui suara Choi Daehyun memang bagus, sehingga aku tidak sempat memikirkan apakah memang terasa aneh melihat laki-laki itu di panggung.
Choi Daehyun menyanyikan lagu-lagu dari album barunya, diselingi perbincangan singkat dengan para penonton. Para penggemarnya terus saja menjerit-jerit kesenangan, bahkan tidak sedikit yang jatuh pingsan.
Yang berikutnya adalah acara pembagian tanda tangan. Aku dan Young-Mi ikut antre. Aku melihat para penggemar satu per satu menjabat tangan Choi Daehyun dan tersenyum bahagia, ada juga yang menangis saking gembiranya.
Senyum ramah Choi Daehyun tidak pernah lepas dari wajahnya. Kadang-kadang ia berbicara pendek dan bercanda sebentar dengan beberapa penggemar. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah laki-laki itu tidak merasa lelah.
Ketika giliranku dan Minjie sudah hampir tiba, Aku bisa mendengar percakapan antara Choi Daehyun dan penggemarnya. Umumnya si penggemar akan memuji penampilan dan lagunya, lalu Choi Daehyun akan berterima kasih dengan sopan dan ramah sekali, setelah itu ia akan menanyakan nama si penggemar dan membubuhkan tanda tangan di atas CD, poster, atau apa pun yang disodorkan kepadanya.
Ketika akhirnya aku berdiri di depan Choi Daehyun, laki-laki itu tidak terlihat terkejut saat melihatku. Aku mencoba bersikap seperti kebanyakan penggemar Choi Daehyun yang lain dan menyodorkan CD Choi Daehyun yang baru aku beli tadi.
“Daehyun Oppa, aku suka lagumu,” kataku dengan menggebu-gebu. Ia tidak memedulikan Na Minjie yang terus-menerus menyikutku.
Aku mendengar Choi Daehyun terbatuk pelan dan membubuhkan tanda tangan di sampul depan CD yang ia sodorkan. Kemudian dengan senyumnya yang biasa, ia mengembalikan CD itu kepadaku. Aku langsung meraih dan meremas tangan Choi Daehyun yang menjulurkan CD, membuat laki-laki itu agak terperanjat.
“Terima kasih, Daehyun Oppa. Terima kasih. Aku cinta padamu,” seruku gembira.
Di dalam hati ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah laki-laki itu. Ketika berjalan kembali ke tempat duduknya, Aku melihat Park Hyun-Shik berdiri tidak jauh dari Choi Daehyun. Park Hyun-Shik juga melihatku.
Aku membungkukkan badan sedikit untuk memberi salam yang dibalas Park Hyun-Shik dengan senyuman dan acungan jempol. Pasti paman yang satu itu sudah melihat adegan kecil tadi.
Setelah acara tanda tangan selesai, pembawa acara mengumumkan Choi Daehyun akan membagikan hadiah khusus kepada sepuluh penggemar.
“Wah! Dia mau membagikan hadiah! Apa ya?” Minjie begitu bersemangat sampai tidak berhenti bergerak-gerak di tempat duduknya.
“Topi,” jawabku tanpa sadar.
Choi Daehyun yang berdiri di samping pembawa acara berkata ia akan menghadiahkan sepuluh topi yang sudah dibelinya sendiri. Kepala Minjie langsung menoleh ke arahku
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya curiga.
Aku menjadi serba salah dan buru-buru berkata, “Cuma asal tebak. Biasanya artis suka memberikan hadiah topi. Kalau bukan topi ya gantungan kunci atau bros.”
Na Minjie tersenyum. “Mungkin kau benar. Dulu dia pernah memberikan hadiah bros untuk penggemarnya. Sayangnya waktu itu aku tidak kebagian.”
Topi-topi itu dibagikan kepada penggemar yang memenuhi syarat. Misalnya ketika pembawa acaranya bertanya siapa yang membawa poster resmi Choi Daehyun yang pertama, atau penggemar yang datang dari jauh, dan sebagainya.
Ada juga yang dipilih secara acak dengan melemparkan bola, dan barang siapa yang menangkap bola itu akan mendapatkan hadiah. Semua orang bersenang-senang termasuk Aku dan Young-Mi.
“Nah, sekarang kami hanya punya satu topi terakhir,” kata pembawa acara yang disambut jeritan para penggemar. Entah itu jeritan kecewa atau bahagia karena bagi telingaku jeritan penggemar Choi Daehyun terdengar sama saja.
“Itu punyaku!” seru Minjie sekeras-kerasnya, berusaha mengalahkan teriakan penggemar lain sambil melambai-lambaikan kedua tangan ke arah si pembawa acara.
“Mungkin kalian ingat, sebelum acara dimulai kami meminta kalian menuliskan nomor ponsel kalian pada secarik kertas dan memasukkannya ke kotak besar yang di sana itu. Kalian tahu apa maksudnya?” tanya si pembawa acara.
Terdengar gemuruh gumaman dari para penonton sementara mereka melihat ke kanan-kiri dan bertanya-tanya.
“Saya akan menjelaskannya,” kata si pembawa acara lagi dan suasana pun menjadi hening.
“Begini, Choi Daehyun akan memilih salah satu nomor telepon di dalam kotak itu secara acak dan dia akan menghubungi nomor telepon itu. Barang siapa yang ponselnya nanti berbunyi, majulah ke depan, dan topi terakhir ini akan menjadi miliknya. Sekarang kalian harus memegang ponsel kalian dan pastikan ponsel kalian dalam keadaan aktif.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments