"Ini."
Aji menyodorkan plastik hitam ke arah Anam. Zayan melihatnya. Dia yang mengambil, Anam menatap datar pada lelaki dewasa di depannya. Dia masih ingat siapa lelaki di depannya itu. Orang yang sama yang tempo hari menyerahkan surat dengan tulisan tangan bapaknya.
"Apa ini?" Tanya Zayan sambil berusaha membuka isi plastik yang diikat asal oleh Aji.
"Buka aja. Dari bapak kalian."
Perkataan Aji tadi mampu menarik atensi kedua bocah itu, mereka langsung melihat bersamaan ke arah Aji.
"Jangan bercanda. Kami tau kamu orang jahat. Za, buang aja Za! Dia yang bikin bapak kita ngilang! Aku akan laporin kamu ke polisi, gara-gara kamu bapak kami nggak pulang-pulang sampai sekarang!!"
Anam mendorong Aji. Kekuatan anak itu tidak cukup kuat untuk membuat Aji bergeser meski hanya satu langkah. Aji diam saja. Dia masih tak bergeming. Sebenarnya, hatinya sakit melihat semua ini. Aji seperti melihat dirinya sendiri dalam diri Anam. Anak kecil yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Menjadi tulang punggung keluarga, meski anak itu lemah tidak berdaya. Tapi, apa dunia memberi Anam pilihan? Tidak!
"Bang.. Ini ada kertas.. Ada tulisannya... Baca bang.."
Zayan bisa membaca tapi bukan huruf tegak bersambung seperti yang ada di kertas itu. Dia baru belajar membaca kata per kata yang mudah, itu pun karena diajari Anam.
Anam mengambil kertas di tangan Zayan. Aah.. Tulisan tangan yang sama, tulisan bapaknya. Buru-buru Anam membacanya.. Air mata Anam luruh seketika.
'Abang.. Zayan.. setelah kalian menerima surat ini, tolong percaya satu hal sama bapak.. Bapak pergi meninggalkan kalian bukan karena keinginan bapak, bapak juga rindu kalian. Bapak juga ingin terus ada bersama kalian, tapi sepertinya semua itu tidak akan pernah terjadi lagi.. Abang.. Tolong jaga diri, jaga Zayan juga. Bapak sangat menyayangi kalian..'
Hanya itu.. Anam membolak-balik kertas kotor yang dia pegang, tapi tidak ada lanjutan dari surat yang barusan dibaca. Kertas itu terlihat kumal, dengan titik-titik noda merah gelap, tulisannya juga tidak serapi seperti surat pertama yang Anam baca beberapa hari yang lalu. Hanya perasaan Anam saja atau mungkin memang bapaknya sedang tidak baik-baik saja ketika menulis surat itu untuknya.
Zayan berusaha mengambil surat itu dari Anam yang menangis. Anam melepaskan kertas yang dia pegang, membiarkan adiknya mengambilnya.
"Bang..."
Zayan ikut menangis. Bukan karena dia tahu isi surat itu, tapi karena dia sedih melihat abangnya seperti ini. Beberapa hari belakangan, Anam lah yang menjadi kekuatannya. Anam lah yang selalu menyemangatinya, Anam lah yang selalu tegar dan tidak menunjukkan air matanya, tapi sekarang.. Anam terlihat begitu menyedihkan.
Menangis tanpa raungan, berlutut dengan wajah menunduk ke bawah, bahkan Anam masih berusaha tidak memperdengarkan suara tangisannya dengan menggigit bibirnya dalam. Tubuh anak berusia 10 tahun itu bergetar, hatinya sakit, sangat sakit..
"Bapaaaaaaaaak!!!! Kami butuh bapaaaaaak!!! Apa bapak dengar suaraku??? Kami butuh bapak di sini!! Jangan seperti ini pak.. Jangan tinggalin kami... Jangan seperti ini... Abang nggak akan bisa sekuat bapak, abang nggak bisa jaga Zayan sendirian... Paaak... Pulang pak.. Kami butuh bapak.." Teriakan Anam membuat Zayan makin menangis sejadi-jadinya.
Zayan memeluk tubuh Anam yang meringkuk, menekuk lutut dan menyembunyikan wajahnya. Dia tidak ingin seorangpun tahu bagaimana dia menangis, bagaimana dia kecewa, dan bagaimana dia bersedih karena kehilangan bapaknya.
Aji menyerah. Dia undur diri tanpa berpamitan. Air mata Aji jatuh tanpa disuruh. Rasanya sama seperti saat dia melihat jenazah ayahnya masuk perlahan ke liang lahat. Perasaan yang sama, ketika mendapati dirinya tidak akan pernah lagi bisa bertemu ayahnya. Sama.. Perasaan itu sama.
Dengan langkah gontai, keduanya berhasil sampai rumah. Anam menjadi sedikit pendiam. Aaaah, bukan sedikit tapi memang jadi pendiam. Jika Zayan tidak menanyainya, dia akan diam tanpa berniat membuka obrolan.
"Bang, aku nggak mandi ya. Mau cuci muka aja." Zayan menaruh tas Anam asal di kursi.
Anam mengangguk. Dia membereskan karung yang tadi dia bawa. Memasukkan ke dalam rumah dengan sisa tenaga yang dia punya, takut kalau nanti malam hujan, barang bekas yang dia cari seharian akan lebih berat karena terkena air semalaman.
Sengaja Anam tidak langsung ke tempat pengepul karena mereka sudah sangat lelah hari ini. Wajar saja, hari ini merupakan hari pertama mereka mencari barang bekas. Zayan tidak rewel saja sudah sangat dia syukuri.
Anam baru mau duduk, rasanya kepalanya sakit. Entah lah.. Mungkin karena terlalu memikirkan bapaknya. Suara pintu diketuk membuat Anam menunda acara duduknya, bocah itu menoleh ke belakang. Pintu belum di tutup.
"Nam, udah makan belum? Zayan mana?"
Dia adalah bi Ria. Tetangga Tegar, tetangga dua bocah itu juga tentunya. Bi Ria datang membawa baskom kecil di tangannya. Ada pisang goreng di dalamnya, masih hangat.
"Di kamar mandi." Jawab Anam tak bersemangat.
"Nam, kamu tadi mulung?"
Pertanyaan itu sepertinya tidak perlu Anam jawab, Ria pasti bisa menemukan jawabannya sendiri kala matanya menemukan satu buah karung teronggok di sudut ruangan, dekat pintu.
"Iya."
"Sabar ya Nam, bapak mu pasti kembali. Dia nggak mungkin pergi lama-lama."
Ria dan warga di sekitar rumah Anam sudah mengetahui desas-desus tentang tertangkapnya Tegar sebagai seorang pengedar narkoba. Kabar itu cepat berhembus. Entah siapa yang menyebarkan berita tersebut. Oleh karena itu warga sekitar agak menjaga jarak dari kedua anak Tegar, takut polisi menyangkut pautkan mereka jika berinteraksi dengan anak-anak Tegar. Alasan yang tidak masuk akal!
"Bi Ria tau bapak ditangkap polisi?"
Pertanyaan dari Anam sedikit banyak merubah raut wajah Ria. Wanita itu mengangguk. Dia tidak mungkin berbohong terus menerus, dia memang tahu jika Tegar masuk bui.
"Tapi bibi yakin, bapakmu nggak bersalah Nam. Dia pasti kembali ke sini, ngumpul bareng sama kamu, sama Zayan." Ucap Ria membesarkan hati bocah itu.
"Bi.." Panggil Anam dengan suara bergetar.
"Iya."
"Ini surat dari bapak..."
Anam mengambil kertas yang dia simpan di saku celana merah nya. Celana seragam sekolah. Pelan, menerima kertas itu. Membuka dan membacanya. Anam melihat ke arah lain.
Ria menekuk bibirnya ke dalam, air matanya nyaris jatuh, tapi dia segera menghapusnya sebelum Anam melihatnya. Di genggam tangan bocah itu, terlihat dari dekat jika Anam habis menangis. Ria tahu bagaimana hancurnya hati Anam saat ini.
"Ada bibi.. Ada bibi Nam, jangan dipikul sendiri beban mu ini. Kamu nggak akan kuat.. Bagi sama bibi. Ya?" Seketika tangis Anam kembali runtuh. Dia memeluk Ria.
Ria mengusap pelan kepala Anam, membiarkan anak itu menumpahkan segala bebannya lewat tangisan. Ria juga larut dalam suasana, air matanya tak bisa dibendung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Yunita Sri wahyuni
Alhamdulillah masih ada yg peduli... emang betul sih klu sdh berhubungan dgn masalah kriminal narkoba, orang pasti merasa takut ikut 2 terkait...apalgi klu oknum polisinya seperti yg diatas...
2025-01-31
0
𝐙⃝🦜 『L』
Alhamdulillah masih ada Bi Ria yg ada di sisi Anam dan Zayan. setidaknya ada yg sedikit meringankan beban mereka. walaupun sosok tegar takkan tergantikan
2025-01-29
0
Dewi kunti
no sebelah mbok gawe ngguyu njungkel njempalik no kene mbok tetangis ak 😭😭😭
2025-01-29
1