Sore berganti malam. Anam dan Zayan masih ada di pasar induk. Mereka masih berharap bapaknya akan datang ke sana untuk membongkar muatan sayur dari mobil-mobil pick up yang nanti akan meramaikan pasar.
Suasana pasar tidak ada matinya. Selalu ramai dengan aktivitas pedagang, pembeli dan pengunjung lain yang punya keperluan entah apa di dalam sana. Anam dan Zayan sampai kebingungan, takut kalau-kalau terpisah dengan saudaranya. Di tengah kebingungan, Zayan melihat sekilas seseorang yang mirip Tegar. Dia melihat ke sisi itu, dengan semangat Zayan langsung menepuk pundak kakaknya.
"Bang, itu bapak bang! Itu bapak! Paaaak.. Bapaaaak!! Abang sama Zayan di sini paaak! Bapaaak!!"
Anam ikut melihat ke arah yang Zayan tuju. Berbeda dengan Zayan yang bersemangat, Anam malah kebingungan karena tidak ada siapa-siapa di sana. Tentu saja ada orang, tapi yang Anam maksud tidak ada siapa-siapa itu adalah keberadaan bapaknya yang tidak nampak olehnya.
"Za. Pelan-pelan, nanti kamu jatuh!" Ucap Anam khawatir.
Zayan berlari membelah kerumunan orang. Dia yakin tadi melihat bapaknya. Bapaknya sedang tersenyum ke arahnya. Ya, dia sangat yakin.
"Pak! Bapaaaak! Bapak kemana? Kenapa sembunyi pak?? Abang sama Zayan udah capek dari pagi nyariin bapak, abang sama Zayan juga belum mandi, belum makan, belum ngapa-ngapain.. Kami cari bapak! Kenapa bapak malah ngumpet?!"
Zayan melihat lagi ke sekeliling. Tidak ada! Orang yang tadi dia lihat tersenyum ke arahnya tidak nampak lagi. Hilang, atau memang tadi hanya halusinasi Zayan saja.
Beberapa orang di sana melihat Zayan dengan pandangan aneh dan mengabaikan begitu saja. Simpati untuk orang yang tidak mereka kenal mungkin termasuk hal langka terjadi di sana. Hidup berdampingan dengan tembok keegoisan sepertinya sudah mendarah daging untuk sebagian orang.
"Nggak ada bapak Za.. Kamu salah lihat.." Anam melihat kekecewaan di wajah adiknya.
"Kita pulang aja ya Za.. Bapak nggak ada di sini."
Mau berusaha kuat seperti apapun, Anam tetaplah anak kecil. Dia juga lelah, dia sedih, kecewa.. Sama seperti adiknya tapi jika dia ikut menangis.. Siapa yang akan menenangkan mereka? Semua tidak akan seperti ini jika Tegar ada bersama mereka. Anam kembali merasakan dadanya seperti diremas. Sakit sekali.
Keduanya berjalan ke arah pintu keluar pasar induk, Anam melihat tumpukan sayur yang memang tidak terpakai di sisi jalan dekat tangga. Dia melihat ke kanan dan kiri, bertanya pada orang apakah sayuran di dekat tangga itu milik orang atau memang sudah dibuang.
"Yang itu emang sengaja dibuang. Nggak bisa dijual." Terang lelaki berkulit coklat dengan brewok dan kumis khas bapak-bapak.
"Boleh diambil om?" Tanya Anam kembali bertanya.
"Boleh."
Jawab lelaki itu singkat. Dia kembali meneruskan pekerjaannya. Menjadi kuli panggul barang di pasar. Membiarkan Anam yang berjongkok memilih sayuran yang ada di dekat tangga.
"Bang. Mau buat apa itu? Bau bang. Ayo pulang. Aku capek bang." Zayan kembali merengek.
"Sebentar Za. Abang ambil sayuran ini dulu, masih bisa dimasak Za. Di rumah udah nggak ada apa-apa lagi, nanti mau makan apa... Ini abang pungut kentang sama wortel yang nggak busuk. Bisa direbus nanti di rumah."
"Aku nggak mau makan sampah bang! Nanti minta bapak beliin lauk aja buat makan. Kalau nggak bisa beliin ayam, telur juga nggak apa-apa. Tahu atau tempe juga aku doyan. Tapi aku nggak mau kalau makan itu. Aku nggak doyan kentang sama wortel rebus! Itu bukan makanan bang, itu sampah!"
Zayan menangis makin keras. Anam melempar tasnya. Dia marah kali ini.
"IYA KALO BAPAK PULANG, KALO NGGAK, KAMU MAU MAKAN APA??" Anam berteriak membentak adiknya.
Tangisan Zayan dan bentakan Anam mampu menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka. Satu dari mereka maju dan menanyai kakak beradik itu.
"Hei ada apa ini ribut-ribut, kalian ngapain jam segini masih di pasar? Orang tua kalian ada di sini?" Tanya lelaki itu dengan suara agak keras.
Bukan bermaksud membentak, tapi memang lelaki itu terbiasa bicara lantang karena suasana pasar selalu ramai, jadi seperti sudah tersetting dari sana nya saja.
Zayan tidak menjawab. Dia marah dan sedih karena bentakan abangnya. Memang kenapa jika tidak mau makan sayur buangan itu? Itu sama saja dia disuruh makan sampah kan? Kenapa abangnya musti marah padanya jika tidak mau makan makanan seperti itu? Dia sudah lelah seharian ini. Makan dengan garam dia mau, tenggorokan kering karena kurang minum dia tetap diam, tidak ada protes berlebihan menurutnya. Tapi kenapa yang dia dapat masih bentakan serta amarah dari Anam? Zayan kesal, dia kecewa pada abangnya.
"Kami nyari bapak kami pak.. Namanya pak Tegar. Dia biasa kerja di sini kalau malam. Tapi, sudah dua malam ini bapak tidak pulang.. Kami ke sini mau nyari bapak.." Jawab Anam dengan suara bergetar.
Lelaki itu terkejut. "Kalian anaknya Tegar? Astaga. Apa benar dia tidak pulang?"
Anam menggeleng keras menjawab pertanyaan lelaki tadi. Dia seperti mendapat secercah harapan untuk menemukan bapaknya. Mungkin orang ini kenal atau bisa jadi mengetahui di mana bapaknya sekarang ini berada.
"Sini." Mereka diajak duduk di depan kios yang sudah tutup. Anam dan Zayan patuh.
"Apa kalian sudah makan? Om Bayu belikan nasi bungkus untuk kalian ya, sebentar..."
Orang yang menyebut dirinya Bayu itu akan berdiri namun dicegah Anam. "Apa om tahu di mana bapak kami?" Tanya Anam dengan mata yang sudah terlihat lelah.
Bayu menggeleng pelan. Dia bukan tidak tahu tapi tidak mau memberi tahu. Apalah gunanya jika dia memberi tahu pada kedua bocah polos ini tentang keberadaan bapaknya yang sedang ada di penjara? Hanya menambah kesedihan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.
Ya, Bayu tahu apa yang terjadi malam itu.. Tapi nyalinya ciut, dia justru menjadi pecundang dengan bersembunyi di dalam tong sampah kosong kala pengerebekan terhadap Tegar terjadi. Dia terlalu takut jika terseret pada kasus besar seperti itu. Apa lagi istrinya sedang hamil besar. Bagaimana nasib istri dan calon anaknya nanti jika dia juga ikut dibawa polisi untuk diadili. Meski dia tidak bersalah, tapi orang kecil seperti dirinya apa mungkin suaranya di dengar para penguasa di negeri ini?
Dengan diliputi perasaan bersalah. Bayu memaksa mengantar kedua bocah itu pulang ke rumah mereka. Lagi pula mereka juga sudah capek seharian berkeliling pasar, Anam dan Zayan mengiyakan saja.
Dengan mengendarai motor bebek Supra, mereka berboncengan bertiga. Tentu saja Zayan ada di posisi tengah. Sebelum sampai rumah, Bayu menyempatkan diri membelikan kedua bocah itu makan. Dia sangat yakin jika anak-anak Tegar belum makan seharian. Tiba-tiba hatinya terenyuh, bagaimana kehidupan dua bocah ini nanti jika Tegar tidak kembali? Oh Tuhan, Bayu bingung. Bingung dan takut. Harus bagaimana dia bertindak.
Jalanan ramai oleh kendaraan di malam hari, sesekali wajah mereka terkena terpaan lampu dari kendaraan lain yang melintas dari arah berlawanan. Angin semilir, dan deru motor rupanya membuat Zayan sedikit mengantuk. Dia beberapa kali terkantuk punggung Bayu atau tak sengaja kepalanya mendongak ke belakang. Lalu kembali ke posisi semula.
"Sebentar lagi sampai rumah Za. Jangan tidur dulu." Ucap Anam mengingatkan. Zayan diam tak menjawab. Dia masih kesal dengan abangnya.
Benar saja, mungkin tak lebih dari sepuluh menit kemudian, motor Bayu sampai juga di depan rumah Tegar. Rumah itu terlihat gelap. Tanda jika tidak ada seorangpun yang ada di dalam sana.
"Bapak belum pulang juga.." Zayan sudah menjatuhkan air mata. Dia sangat sedih hari ini.
"Ini rumah kalian?"
Tanya Bayu yang memang tidak tahu. Karena Bayu mengenal Tegar hanya sebatas kenal sebagai teman kuli angkut barang di pasar. Tidak pernah Bayu berkunjung ke rumah Tegar, dan juga sebaliknya.
Anam mengangguk. "Makasih om, udah nganterin kami pulang. Dan juga makasih udah dibeliin makan. Kami masuk dulu om."
Anam tak menunggu jawaban Bayu. Dia memutar tubuhnya untuk segera masuk ke dalam rumah yang gelap itu. Zayan yang menangis mengikuti saja dari belakang.
"Maaf ya Za.."
Ucap Anam setelah menyalakan lampu dan menutup kembali pintu rumahnya. Tidak peduli jika Bayu masih ada di luar sana.
"Bang.. Apa aku senakal itu sampai bapak pergi ninggalin kita kayak gini bang? Bilang sama bapak bang, aku nggak akan cengeng lagi, aku nggak akan manja dan jadi penakut lagi. Aku nggak akan minta sandal baru, nggak minta di masukin ke sekolah juga.. Aku nggak minta apa-apa bang.. Bilang sama bapak bang, suruh pulang... Aku nggak apa-apa nggak punya sandal.. Aku bisa jalan tanpa sandal baru. Bisa bang, aku bisa.. Tapi tolong bilang sama bapak, pulang.. Pulang pak.. Zayan nggak mau bapak pergi..."
Zayan menangis sejadi-jadinya. Anam ikut berurai air mata. Dia juga sedih. Entah bagaimana mereka tanpa sosok Tegar nantinya... Yang jelas saat ini, keduanya merasa sangat kehilangan orang tua yang selama ini jadi tumpuan mereka.
Di luar sana, Bayu juga tampak menitikkan air mata. Tapi apakah itu berguna? Tanpa sepengetahuan Anam tadi, Bayu menyelipkan uang lima puluh ribu ke dalam tas sekolah yang digendong Anam. Bayu pergi setelah menenangkan hatinya sendiri.
"Aku harus pergi ke kantor polisi! Harus. Kasihan mereka." Begitu kata Bayu pada akhirnya. Membulatkan tekadnya untuk menolong Tegar, siapa tahu kesaksiannya bisa membuat Tegar dibebaskan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Yunita Sri wahyuni
terus terang bikin mewek dr awal pe bab ini...semoga aja Bayu bisa menolong anak 2 nya tegar
2025-01-28
6
𝑳𝒂𝒑𝒊𝒔 𝑳𝒆𝒈𝒊𝒕🎐ᵇᵃˢᵉ
kasihan Anam dan Zayan, kehilangan sesosok ayah... pergi kesana dan kemari untuk mencari keberadaan sang ayah..
2025-01-24
2
🍊 NUuyz Leonal
melihat judul cerita nya seperti ini apa pak tegar nanti akan bisa di bebas dan bisa kumpul lagi dengan anak anaknya
2025-01-23
1