Sebuah TV berukuran tiga puluh dua inci sudah berada dirumah mereka, sepulang kerja Andi mengantarkan Mita kesebuah toko elektronik.Sebelumnya Mita pernah menemani tetangga untuk membeli peralatan sehingga sudah kenal dengan pemilik toko yang sering mereka Dengan begitu,dia bisa mendapatkan diskon atau potongan harga sebagai tanda bahwa mereka akan berlangganan sejak saat ini.
Sudah sangat lama dia menginginkan hal seperti ini,hanya saja Andi tidak pernah setuju dan baru sekarang mau mengijinkan Mita dengan sedikit peringatan."Aku tidak mau mendengar ada pertengkaran atau mengeluh tentang ini."Ucapan Andi masih Mita ingat sebelum mereka tidur malam itu.
"Masih sakit yah,jika memang tidak kuat kerja minta surat keterangan dokter saja, takutnya akan semakin sakit jika tetap dipaksakan."Membawakan segelas teh manis.Mita tidak membuatkan kopi karena pagi sebelum kerja sudah minum kopi,apa lagi dokter sudah melarang Andi minum kopi.
"Tidak,hanya bawa mobil tapi saat menginjak creen baru terasa ngilu diperut."Menceritakan sedikit bagaimana dia ditempat kerjanya setelah beberapa hari ijin kerja karena sakit.Andi memang suka bercanda sehingga teman temannya suka terhadapnya.Setiap hari bergantian menelpon kapan dia akan kembali kerja selama dia sakit.
Mita menatap TV yang belum dijemput si empu, padahal suara dikabarin bahwasanya pesanannya sudah ada dirumah mereka.Mita sudah menawarkan diri agar membawa langsung tetapi Asih menolak karena ingin menjemput sendiri sekaligus membahas cara pembayaran.
Tidak sabar rasanya untuk menerima orderan berikutnya.Sampai sampai dia tersenyum sendiri membayangkan tanggapan tetangga yang lain,akan berminat atau mungkin akan mengatakan jika Mita sok dan memaksakan diri.Ahh dia sudah bosan dengan omongan para tetangga yang sering mengatakan jika pakaiannya itu itu saja,baju anak-anak yang sudah kekecilan dengan warna yang mulai memudar.
Dia sudah lama ditempat ini,jadi Mita sudah hapal karakter tetangga sekelilingnya.Lebih baik menghindar dan melakukan hal-hal yang positif.Gelak tawa anak anak membuat waktu tidak terasa berputar,Dirga mulai rewel sambil mengucek mata tetapi masih ingin tetap bermain.
Melirik jam, hampir jam sembilan."Mungkin besok baru di ambil Tv nya,masuk yuk."mengangkat tubuh Dirga masuk kekamar.Belum lagi selesai satu lagi Asih datang dengan alasan baru pulang dari rumah saudaranya.
Rasanya baru saja bercerita, Andi datang dan pamit kewarung."Bapak satu ini dari dulu suka banget buka baju,baru juga sembuh."Asih merepet pada Andi seperti marah kepada adiknya sendiri,Mita memang tidak tersinggung, karena dia tau sebelum di kenal dengan Andi, mereka sudah saling kenal bahkan menurut mereka Andi masih kecil saat kenal dengannya,mandi di sumur saja masih menggunakan celana dalam tanpa ada rasa malu sedikitpun.
Mendengar hal itu Mita terkekeh, cerita seperti itu bukan hanya terdengar dari bibir Asih seorang,masih banyak tetangga lain yang menyebut seperti itu.
Masa lalu Andi sering terdengar dari mulut ke mulut ke telinga Mita, keusilan, tengilnya tetapi Andi sangat menyukai anak kecil dan juga sopan pada orang tua.Dan itu bukan hanya satu atau dua orang yang bercerita,bahkan kakak kantin saja sering memuji Andi dari mulut lemes nya itu.
"Sudah malam,aku pulang,besok kita sambung lagi sambil kerja."Akhirnya Asih pulang dengan menenteng TV pesanannya.Tidak hentinya Mita bersyukur untuk rejeki hari ini.Dia sangat berharap agar usaha yang dia jalani ini bisa berkembang dan secara tidak langsung bisa membantu perekonomian keluarga mereka.
Seandainya mungkin dari dulu seperti ini mungkin Mita sudah memiliki pelanggan tetap,atau paling tidak bukan hanya TV saja yang sudah terjual, karena dari kemarin sudah banyak tetangga yang menginginkan kulkas atau benda rumah tangga lainnya.
Melanjutkan pekerjaannya sambil terus membayangkan apa lagi yang akan dipesan oleh tetangga padahal saat ini baru satu barang yang terjual.Mita bahkan asik sendiri duduk di teras sambil tangan terus bekerja sampai Andi kembali dari warung.
"Gak capek apa ya?aku gak mau ya nanti ada alasan capek dan banyak alasan."Andi malah berbaring dipangkuan Mita sambil tertawa karena melihat bibir istrinya sudah meruncing saat dia berkata seperti itu.Mita paling tidak suka saat andi berkata seperti itu dan sudah sangat berlangsung lama, sejak Mita melahirkan Dirga dan melakukan KB,bekerja sama adalah sesuatu yang sangat menakutkan buatnya.
Memang tidak semua perempuan yang baru melahirkan mengalami hal seperti itu.Karena banyak sekali perempuan melahirkan tidak merasakan sobek dijalan lahirnya jadi mereka tidak perlu di jahit bagian lahir.Tetapi Mita, melahirkan Dirga sangat perjuangan yang luar biasa kala itu,di usianya yang menginjak tiga puluh tiga tahun, jarak Roy dan Dirga juga sangat jauh yakni tiga belas tahun.Parahnya lagi harus mendapatkan jahitan luar dalam yang bidan saja sampai lupa berapa jahitan saat itu.Mita bergidik jika harus kembali mengingat itu semuanya.
Beruntung Andi sangat memahami kondisi istrinya.Melihat Mita menahan rasa sakit yang luar biasa saat melahirkan,bahkan bersuara saja dia tidak lagi, ketakutan Andi terlihat jelas saat itu, wajahnya pucat tidak pernah pergi dari sisi Mita, mengelus punggung sambil bertanya Mita mau apa dan mengecup keningnya terus menerus.
Andi memberikan perhatian lebih setelah Dirga lahir.Pagi sekali Andi bangun, membuat susu, masak, mencuci pakaian Dirga dan Mita membersikan rumah dibantu oleh AIDA dan Roy.Semua jadi kenangan tersendiri bagi Mita.
"Kalo ada yang mau ambil handphone dari tempat kerja boleh tidak? mengalihkan pembicaraan dari topik yang sering membuat bulu kuduk Mita meremang, padahal dia juga menginginkan hal itu saat Andi tidak membuat hatinya kesal.
"Terserah kamu yah, pastikan orangnya tidak susah bayar, kontrak kerjanya takutnya bayar sekali dia habis kontrak pula,kemana mau kita kejar dia."Pikiran negatif tiba tiba muncul dati pikiran Mita, selama ini tidak pernah membayangkan sampai jauh ketempat kerja Andi.
"Ini kan masih andaikan dek.Tapi kamu sudah yakin akan menjalankan usaha seperti ini, resikonya besar lho,ayah sih minta yang baik baik saja,tapi terkadang ada orang yang susah bahkan sengaja agar tidak bayar."
"Setiap pekerjaan pasti ada resikonya yah, semoga kita tidak bertemu dengan orang seperti itu, niat kita membantu juga kan, lagian harga yang kita buat juga tidak terlalu berlebihan.Dibandingkan dengan harga yang dibuat oleh sari,mungkin harga yang kita patok sangat jauh bawahnya."
Mita sudah mengambil perbandingan dari harga orang yang juga menjalankan usaha seperti itu,dan harga yang Mita buat memang dibawah mereka, hal itu tentu bertujuan agar tidak terlalu memberatkan bagi orang orang yang berniat ngambil barang padanya.
'Ya sudah dek, terserah kamu "Akhirnya Andi kalah dengan keteguhan hati Mita.
"ihh kok tidak dari dulu sihh kamu begini,pasti sudah banyak pelanggan aku."Mita mencium pipi Andi.
"Masuk yuk,aku pasrah deh mau kamu apain"Andi tertawa lalu menarik Mita kedalam pelukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments