"Lain kali,apa pun yang dikatakan kakak itu jangan percaya ya, akhirnya kamu yang marah sama aku,aku sudah kenal dia dari dulu, bahkan mereka belum punya anak."panjang lebar Andi menjelaskan perihal makan siang ditempat Andi kerja.Mita diam, tidak berani membantah lagi apa yang Andi Ucapan,dia sadar atas kesalahannya sendiri.terlalu percaya dengan apa yang dia dengar.
"Maaf yah,dia tadi serius banget ceritanya, aku kan malu sama ibu ibu di sana, seolah olah aku ini tidak bisa masak."Istri mana yang tidak kesal saat suaminya diceritakan, seolah olah masakan dia itu paling cocok di lidah mereka, dibandingkan masakan istri Setelah sekian lama terdiam,Mita mengakui juga kesalahannya.
"Maka nya dek, sesekali main dan ikut ngobrol bareng mereka, jangan dirumah saja terus, jadinya kan kamu tidak tau apa saja berita diluar sana."Mengelus kepala mita lembut.Andi juga tidak mau memojokkan apa lagi menyalahkan istrinya terlalu lama,saat Mita menyadari kesalahannya itu saja sudah cukup.
"kamu suruh aku gibah yah?Mita menatap Andi heran,kepalanya sampai miring untuk memastikan perkataan suaminya, takut dia salah dengar.Rasanya aneh saja, seorang Andi mengijinkan mita duduk bersama ibu ibu yang sering menggosip sepanjang hari.Yang ada,mereka yang sering datang duduk di teras mereka sambil mengerjakan proyek atau pekerjaan selingan yang selalu Mita kerjakan sebagai mengisi waktu luang.jadi Mita sudah tau jika ibu ibu sudah berkumpul pasti menggosip.
"Tidak gitu juga dek.boleh berkumpul dan lihat dan nilai sendiri bagaimana sifat orang orang disekitar kita,kalo yang datang kerumah kita itu yang lugu semua itu"Andi tertawa sendiri saat mengatakan mereka masih lugu.Dia tidak tau saja,jika yang dia anggap lugu ternyata adalah suhu.Mita tersenyum sendiri melihat kearah Andi.
"Yah, boleh tidak aku kredit barang?"walaupun Mita dirumah,dia juga dipercaya memegang tabungan anak anak,dan akan diambil disaat bulan puasa.Tadi siang saat mereka sedang bekerja,ada seorang ibu yang ingin membeli barang,dan membayar dengan cara dicicil.mita sempat tergiur,dia dirumah sambil berbisnis.Menambah penghasilan ada tujuan utamanya.
"Jangan,nanti ada yang susah bayar kamu marah dan akhirnya berantam."Andi tau Mita juga sosok ibu rumah tangga yang paling takut dalam urusan kredit barang,baik alat dapur, perabotan ataupun baju seperti ibu yang lain.mita tidak masalah bila orang bilang bajunya itu itu saja, tetangga berganti barang baru ini dan itu Mita tidak perduli.Tetapi jangan bilang,jika anaknya ingin makan apa,semua akan segera dibeli setelah Andi gajian.
"Semoga tidak yah, sementara kita ambil yang kecil saja dulu, seperti piring dan yang terjangkau,tapi jika sudah jutaan aku pun pasti tidak mau yah."Namanya juga ibu rumah tangga,pasti selalu mencari keuntungan, mungkin dengan demikian bisa menambah peralatan dapurnya juga.Meskipun dia ingin langsung mendapatkan untung besar tapi saat ini modal nekat yang dia lakukan.Jika tidak diawali dari sekarang kapan lagi mereka bangkit.
"Terserah,tapi jangan sampai ada aku dengar nanti kamu berantam gara gara hal ini."pasti Andi tidak ingin ada perselisihan antara Mita dengan ibu sekitar, apalagi disini masih bisa dibilang satu rumpun,masih ada garis keturunan dan bahkan sekampung.Yang paling dihindari adalah selisih paham,jika di perantauan terjadi selisih, sudah pasti akan terdengar juga sampai ke kampung halaman.itu lah hal yang ingin andi hindari.
"Terimakasih yah,aku janji tidak akan ada masalah jika kamu pun mengijinkan."Mita masuk kedalam pelukan Andi dan mencoba memejamkan mata.senang rasanya ada dukungan dari suami.tidak sabar rasanya besok memberi tahukan kepada tetangganya jika ada yang berminat melakukan kredit benda bisa padanya.
Malam semakin larut, tidak terdengar lagi suara disekitar mereka,jika biasanya suara tawa dari warung tetangga terdengar sampai kerumahnya,malam ini sunyi senyap.sesekal hanya terdengar suara desingan kendaraan dari jalan raya.
"Jangan tidur lah"Andi berbisik ditelinga mita, tujuannya pasti satu,kerja sama, sekarang AIDA masih belum selesai mengerjakan tugas sekolah,jadi keinginannya masih di tunda sampai anak nya itu tidur.Rumah mereka hanya berdinding triplek tipis,dia takut aktifitas yang mereka lakukan terdengar kekamar sebelah,bisa rusak telinga anaknya nanti.jadi dia harus bersabar sampai kondisi benar benar aman dan kondusif.
"Ihh, tidak bosan emangnya,kasi kek aku tidur nyenyak beberapa malam."Bibir Mita meruncing.semakin tua Andi semakin sering meminta haknya.Terkadang Mita protes akan hal itu, sejak dirinya menggunakan alat kontrasepsi hormonal Mita seakan terganggu, keinginan untuk melakukan hal hal di atas kasur jauh berkurang sebelum dia melahirkan anak ketiganya.Faktor umur juga salah satu penyebabnya,usia Mita kini hampir tiga puluh tujuh tahun beberapa bulan lagi.
Pernah merasa takut, seandainya suatu hari nanti ia tidak bisa lagi mampu untuk melayani suaminya di atas tempat tidur karena faktor umur.Bagaimana dengan dirinya,apa Andi akan meninggalkan dirinya bersama anak anak, menikah lagi atau yang lebih parahnya akan mencari pelampiasan diluar sana.
Membayangkan saja sudah membuat dia sakit kepala dan bergidik.
"Bosan bagaimana, tidak mungkinlah itu malah obat capek kami laki laki setelah seharian kerja.Memangnya kamu bosan, tidak suka atau sebenarnya malah pengen tetapi malu."Andi mendekatkan wajahnya ke leher Mita, perempuan itu mendorong wajah Andi agar menjauh.
"Kalo capek, istirahat bang sesekali minum jamu, puding,bukan malah hu ha hu ha."Mendengar Mita mengucapkan istilah itu, Andi terkekeh, sampai sampai Dirga yang tadinya tidur lelap dalam ayunan menyeletuk.
"sssst,bicing aku bobok."Keduanya hanya bisa tertawa sambil menutup mulut agar tawa mereka tidak lagi terdengar, sampai Dirga kembali tertidur.
"Mama kenapa sih,aku mau tidur saja tidak bisa."Hhhhhhhh.Andi menarik nafas kesal.Roy muncul didepan pintu, langsung tidur diantara keduanya.Mita semakin tidak bisa menahan tawa, sehingga lebih memilih duduk diteras, meninggalkan Andi berusaha membujuk Roy agar kembali berpindah dikamar.
Mita sendiri bingung, sampai kapan anaknya akan terbiasa mandiri.Orang tidak akan percaya jika dia mengatakan bahwa anak berumur tiga belas tahun sekarang masih betah di ketek mamanya.
"Bang,beli jajan lah.masih buka kok warung lihat tuhh."Setelah Roy kembali kekamarnya, Andi menyusul Mita dan duduk di sebelahnya.Warung tidak ada orang nongkrong pantesan saja tidak terdengar suara tawa seperti biasa.
"Jajan apa lagi dek?Kamu ini melebihi Dirga pula.kakak beli mama dulu jajan kewarung."Andi malah memanggil anak gadis nya yang sedang sibuk mengerjakan tugas.
Awalnya Mita yakin,jika Aida tidak akan mau.tetapi malah sebaliknya.
"Iaa,aku datang"Sambil berlari kencang keluar dari kamarnya,bukan dia saja yang datang Roy pun menyusul kedepan.
"Aku beng beng satu."Ucapnya tanpa beban.
"Tidur kalian sana,ayah saja yang beli."Terlambat.Aida sudah berlari kewarung dengan membawa uang pecahan dua puluh ribu."nyesal pula aku manggil dia."Andi ngedumel.bukan perhitungan jajan untuk anaknya yang jadi masalah.tetapi akan semakin lama dia bisa bekerjasama dengan Mita.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan yah."Mita meledek suaminya.
"Bilang saja kamu senang,aku tidak perduli, pokoknya hu ha hu ha dulu baru tidur."Melihat reaksi mita, Andi kembali terkekeh lalu menyalakan sebatang rokok sambil menunggu Aida dari warung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Minatrigan gan
mohon dukungannya sayang,masih tahap belajar.
komen dan dukungan anda sangat penting buat ku.terimakasih.
2024-10-10
1