Anak anak bernyanyi dengan riang,alunan musik tidak terlalu keras tapi mereka begitu terlihat senang dan gembira.Dirga yang sibuk dengan musik tidak perduli dengan kue yang sudah diatas meja.
Meskipun hanya sekedar potong kue kecil,tiup lilin bersama anak anak tapi ipar Mita juga hadir, semua anggota hadir ditempat ini,tapi bukan ikut bernyanyi seperti anak kecil.mereka duduk di teras sambil bercerita masalah kiki dan acara pernikahan saat itu.tapi tidak ada kabar sama sekali untuk mengembalikan uang yang telah dia gunakan untuk biaya pernikahan.
Walaupun malam semakin larut, kakak beradik itu belum juga berniat pulang.Dirga sudah rewel,tetapi tetap memaksa matanya untuk tetap terbuka agar bisa bermain dengan Roy dan yang lain.
Setelah anak anak semua bubar, tinggallah keluarga inti saja,Mita membawa Dirga kekamar menidurkan sang putra meskipun sedikit rewel.
"kata ibu,kamu harus sering minum jamu ndi, dengan begitu kamu tidak akan kedinginan terus.kamu kecapekan,dari dulu sudah dibilang jangan mandi mala, ngeyel."Ita menceramahi adiknya itu.
"Gimana tidak mandi,kerja dia digudang,gak mungkin dia tidak gendong anaknya."Suaminya menyela.
"Tapi kan jadinya begini bang."Ita tetap tidak mau mengalah sampai mereka semua tertawa mendengar perselisihan suami istri didepannya.
Hampir setengah dua belas malam mereka baru kembali.itu pun karena anak Udin sudah meminta pulang, andaikan belum mengantuk mereka pasti masih duduk didepan sampai subuh menjelang.
"Dek bangun, buat kopi ya,ayah mau turun,nanti harus kembali kerja."Andi sudah rapi dengan sarung beserta peci kebanggaannya.Meskipun masih terlihat lemas dan belum fit,dia tidak mau menjadikan itu sebagai alasan untuk terus berlibur dari kerja.Andaikan dari dulu Andi setuju membeli sebuah mobil untuk menghidupi keluarganya pasti sudah lunas sekarang.
Andi terlalu banyak pertimbangan saat itu.Takut tidak mampu membayar cicilan mobil ke bank, memikirkan biaya perbaikan saat mobil mengalami kerusakan, semuanya dia pikirkan padahal itu belum terjadi.
Tetap menjadi seorang sopir disebuah gudang besi tua, seperti yang terjadi saat ini,baru tiga hari tidak kerja pemimpin perusahaan sudah marah dan mengucapkan kata kata yang hanya Andi yang tau.
Setelah Andi mengantar kedua anaknya sekolah Mita menanyakan kembali perihal wanita itu.Gara gara dia Mita gundah, perasaan nya tidak tenang,dia tidak mau galau terus seperti sekarang.Ini sangat tidak baik untuk sebuah hubungan.
"Halo,ada apa?"Mita mendengar suara laki laki dari ponsel Andi, loudspeaker sengaja dihidupkan agar Mita bisa mendengar langsung percakapan mereka.suara laki laki diseberang sana terdengar sangat berat.
"Ini bang, kemarin Naura nelpon, istriku yang angkat,jadi ,,,"Andi tidak melanjutkan perkataannya, sepertinya dia juga bingung menjelaskan apa kepada lelaki diseberang sana.mita hanya diam menyimak pembicaraan mereka berdua.
"OOO dimana dia, istri mu maksudnya."kembali terdengar suara lelaki diseberang sana.
"Ada bang,dia disini hanya saja dia tidak mau bicara padaku."Andi berdalih.
"Begini dek,yang kemarin nelpon itu temanku, ponsel ku tidak ada daya jadi aku pinjam ponsel Andi, maaf ya padahal aku sudah bilang jangan nelpon ke nomor itu.nanti aku bilang agar tidak menghubungi lagi nomor Andi, sekali lagi maaf ya.Dah ya kalian baikan aku mau pergi."percakapan dimatikan sebelah pihak oleh lelaki itu.
Sungguh tidak ada sopan santunnya sama sekali, tidak ada ucapan salam di awal ataupun diakhir pembicaraan mereka.Begitu sikapnya pasti Andi serba salah,disini harus menjaga istrinya sedangkan disana adik dari bosnya.
"Sudah ya,jangan marah lagi.kamu tidak kasihan pada ayah dimusuhi sama anak sendiri.Kalo kamu tau apa yang dia bilang,,hhh aku yang sakit hati rasanya."Mengembuskan asap rokok dari mulut nya kearah lain agar Mita tidak terkena asap.
"Siapa itu tadi.ngapain dikasih ponsel kamu untuk menghubungi wanita lain, emangnya dia belum menikah."
"Adik bos,kan dia sudah bilang ponselnya mati daya, sudah ada istrinya malah lagi hamil sekarang.sudah deh nanti kamu ceritain pula sama ibu ibu disini, terdengar sama kakak kantin itu bisa bahaya."Mita juga paham dengan sikap kakak kantin yang Andi maksud, mereka masih tetangga, mulutnya manis padahal sebenarnya hatinya busuk.
Dia sangat suka mengumbar aib orang lain, keluarganya paling baik, sempura,kaya dan suka membantu.Seandainya dia tau bagaimana tingkah laku adiknya saat ini pasti dia tidak akan terima,malah akan menuduh Mita dan Andi menebar fitnah untuk keluarga mereka.
Mita teringat perkataan yang dia ucapkan,jika andi lebih suka makan di kantin sampa tambah nasi.Sekarang baru Mita paham kenapa Andi tidak ingin cerita siapa yang menelpon.
"Tega ya, istri sedang hamil dia bermain curang, gak takut apa ya."Sebagai seorang wanita Mita geram sendiri dengan perlakuan lelaki itu.Apa dia tidak takut dosa dan karma dikemudian hari.Mita saja yang diperlakukan baik oleh Andi tidak terima padahal hanya karena Andi tidak berterus terang sejak awal.Bagaimana dengan perasaan istrinya bila dia tau, apa lagi dengan kondisi hamil pula.
"Sudah sering begitu dek, makanya dia disuruh pindah dari kantin itu,dan mencari tempat tinggal yang lain,bos malu pada karyawan, mereka sering berantam didepan karyawan di sana gara gara adiknya main judi dan perempuan.Astaga kok kita jadi bicarakan orang pagi pagi begini.Mendingan kita masuk yuk,andi menarik Mita masuk kekamar dan menghabiskan waktu ditempat tidur setelah kemarin terpaksa menahan keinginan karena sakit, ditambah lagi istrinya yang cemburu.
Istri mana yang tidak cemburu saat ada perempuan yang menghubungi dengan suara mesra dan manja seperti itu.Tapi sekarang masalah sudah selesai, seperti yang sering Mita dengar,jika dalam keluarga mempunyai masalah akan berakhir ditempat tidur ada benarnya.
"Tapi ya bang,aku kok mikirin perasaan istrinya ya.Memangnya selama ini dia tidak tau sama sekali."Masih penasaran dengan kisah adik dari bosnya.
"Orang kalo sudah pernah begitu susah dirubah, namanya perempuan sering dikasih uang banyak,pasti diam saja dia mana perduli mau suami orang.Kakak itu pernah melabraknya sekali,sejak itu lah mereka berantam terus."
"Apa kata kakak kantin itu bang"Tanya Mita penasaran.
"Mana perduli dia,malah dia bilang kalo istrinya yang tidak bisa merawat diri dengan baik, mengabaikan suami.kakak itu pasti membela adiknya lah, lagian mereka kan tidak aku sama sekali.kakak kantin terlalu membela adiknya."Andi bercerita dengan bersemangat,baru kali ini Mita mendengar suaminya menceritakan keadaan rumah tangga orang, padahal biasanya dia akan bilang,biarin bukan urusan kita.
Mita tertawa melihat Andi yang sudah semakin terbuka,ini yang Mita inginkan.Saling terbuka dan tidak akan ada yang ditutupi sehingga membuat kisruh rumah tangga mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments