Semua pekerjaan yang dilakukan dengan setengah hati tidak akan berakhir sempurna,malah akan semakin kacau.Ditambah lagi sambil memikirkan yang belum tentu kebenarannya.
Daripada menambah persoalan Mita memilih diam.menenangkan hatinya dengan berwudhu lalu melaksanakan empat raka'at yang hampir terlewat karena terlalu mengingat suara perempuan di ponsel suaminya.
Suara Mita bergetar saat berdoa, Roy yang melihat itu lansung mendekat dan merebahkan kepalanya di pangkuannya.
"Kenapa ma? Kok sedih sih."Mendengar ucapan anaknya,bukan membuat Mita tenang, malahan semakin menangis.
Aida juga mendekat, duduk disebelah kiri Mita tapi dia hanya diam saja."Ma, jika mama pergi,kami ikut,aku tidak mau punya ibu tiri,kita akan selalu bersama."Mita terenyuh,menatap anaknya bergantian sambil menggeleng.Perih rasa hatinya,kok bisa bisanya Andi seperti ini,apa mungkin sudah sejak dulu dia begitu,apa yang sudah membuat dia berubah.Apa ini karena semua perlakuannya belakang ini,dia abai pada suaminya sehingga mencari pelampiasan diluar.
"Kalian tetap sama ayah,mama mungkin tidak akan sanggup membiayai sekolah kalian,apa lagi ada adek.Umur mama juga tidak menyakinkan lagi mendapatkan kerja di PT, paling di rumah makan atau mungkin tukang cuci dan gosok.Mita juga malah memikirkan yang tidak tidak sekarang.
Perasaannya semakin kacau melihat kesedihan diwajah kedua anaknya, apalagi AIDA, sepertinya ada rasa marah dan juga kesal sama seperti yang tengah Mita rasakan saat ini.
Sebenarnya kasihan melihat anaknya seperti itu.mental mereka jatuh karena ulah ibunya sendiri.Tapi saat ini Mita memang sangat sangat kacau.Dia terlalu terbawa perasaan tanpa mencari tau lebih dulu apa dan siapa Dia.
Setelah Dirga bangun,Mita berkemas dan mengurus bayi kecilnya.Dengan begitu perasaannya membaik,tawanya kembali meskipun saat teringat hal itu senyumnya kembali hilang.
"Assalamualaikum"Suara diteras depan membuat Dirga heboh sendiri.pakaian yang belum terpasang ditubuhnya dirampas dari tangan Mita dan dibawa kearah Andi.
"Sudah mandi anak ayah,sini kita pakaikan bajunya biar Kita pergi.Mandi lah dek, aku yang pakaikan bajunya.Mita menatap Andi lama,sampa selesai memakaikan pakaian anaknya.
Rasanya tidak mungkin Andi seperti yang dia pikirkan,selama ini tidak ada tanda tanda jika dia berbuat curang.Uang gaji semuanya diberikan padanya.Saat keluar rumah pun pasti memberi tau tujuan dan kemana dia akan pergi.Bahkan pulang akan bertanya dibawakan apa.
Semakin diam semakin banyak pula pertanyaan dibenaknya.ingin bertanya tetapi ada anak-anak dirumah, sebaiknya nanti dia akan bertanya saat berdua Mungkin sekarang lebih baik bersiap untuk menjemput dan kue yang sudah mereka pesan.
"Tadi ada yang menelpon,dia tanya jadi kerumahnya gak?"Semakin ditahan semakin besar pula kadar penasaran mita.sehingga tanpa sadar pertanyaan itu meluncur bebas dari mulutnya.
"Siapa namanya?"Dengan entengnya andi kembali bertanya, tidak ada raut cemas apalagi gelisah saat rahasianya akan terbongkar.Satu poin yang Mita tangkap,itu pasti hanya temannya.jika Andi menyembunyikan sesuatu pasti dia akan terlihat panik.
"Gak tau langsung di matiin HP nya, nomor nya juga sudah diblokir."Sambil melihat kearah Andi,dirga sudah rapi dengan stelan baju kaos merah dipadukan dengan celana jins joger.Senyum dibibirnya yang tipis membuat Mita lupa pada amarah dan rasa ingin tahu terhadap perempuan itu.
"Oooh biar saja,"
Mita tidak salah dengar, tubuhnya yang masih berbalut handuk melihat kearah Andi yang sedang rebah dikasur, diatas dadanya Dirga sedang bermain mobilan, menjadikan dada lelaki itu sebagai lintasan.
"Siapa dia,kok nelpon kemari, diangkat malah diblokir."Suara Mita masih terdengar datar, belum memperlihatkan emosi apalagi marah pada suaminya itu.
"Dia istri kawan, lagian ngapain di angkat,"Pengen sekali menggigit lengan lelaki yang masih berbaring disudut ruangan itu saat mendengar perkataannya yang tanpa beban dan dosa.Bisa bisanya berkata seperti itu,sejak tadi Mita menahan emosi, pendapat Andi hanya seperti itu saja.
"Bising, lagian yang menerima panggilan kan AIDA, suaminya tidak ada handphone makanya nelpon kemari?terus kenapa belum siap ngomong sudah di blokir, maunya apa?
Rasanya semakin janggal saja alasan Andi,tetapi Andi tetap dalam keadaan tenang.
"Sudahlah dek, semakin panjang repetan kamu tambah sore hari,nanti kita bahas lagi."Dasar gak peka.Ingin rasanya berkata seperti itu,tapi tidak mungkin Mita lakukan,ada Dirga di sana, selama ini dia tidak pernah mendengar suara keras atau teriakan secara langsung.Mita takut hal semacam itu bisa mempengaruhi perkembangan otak dan saraf pada bayi.Karena suara keras ataupun bentakan tidak baik untuk mental mereka.
"Ok,aku tunggu penjelasanmu bang,tapi aku tidak mau mendengar kebohongan.Dari dulu aku sudah bilang jangan pernah rusak kepercayaan ku,jika sekali sudah berbohong selamanya aku tidak akan percaya, sekalipun kamu berbicara benar."
Mita benci kebohongan,jika sudah sekali berbohong akan ada kebohongan berikutnya untuk menutupi kesalahan yang lain.Mita tidak ingin seperti itu.satu lagi yang tidak akan pernah Mita maafkan yaitu perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga.Andi tau itu.
Sejak mereka menikah Andi tidak pernah bersikap kasar apalagi memukul Mita, begitu juga terhadap anak anaknya.Jadi mustahil jika sekarang Andi berubah.
Apakah dia sudah mulai bosan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments