bab 8.Tetangga julid.

Rasanya sungguh menyebalkan, perasaan tidak nyaman dirumah saat bertemu dengan suami, sekarang di luar juga harus bertemu dengan ibu ibu yang mulutnya seperti ember pecah, mengeluarkan suara ya g tidak jelas arah tujuan, menganggap dirinya diatas yang lain malah lebih tau dari apa yang dialami orang lain setelah melihat wajah orang itu, sudah seperti cenayang saja dia.

"Tumben Kalian keluar kandang, biasanya ngeram terus."Ingin menghindar dari suami yang sibuk dengan istri pertamanya, di sini malah bertemu dengan tetangga julid yang selalu kepo urusan rumah tangga.antara menyesal dan kesal menjadi satu.Tapi mereka sudah terlanjur keluar rumah,biarlah paling jika sudah bosan mereka akan diam sendiri batin Mita.

"Lagian kalian dirumah terus pun tidak akan putih, di sini bisa cuci mata, biar tambah cantik kamu dilihat Andi,ganti gaya lah sedikit, biar gak dasteran melulu."seorang lagi tetangga menambah minyak kedalam bara api.Semakin menyala suasana ditempat ini, mereka semakin saling sahut menyahut jika membahas orang lain.

"Ya gitu lah kak, sengaja memang keluar pas ada yang jualan,jadi pengen tau model baju terbaru sekarang."Mita duduk didekat tumpukan baju yang sudah banyak dicoba oleh para ibu ibu sebelum Mita datang.Mereka sangat sibuk membongkar setiap pakaian meskipun jelas tidak muat ditubuhnya.

"Oo ada, buat Mak Aida yang langsing,ada ini model terbaru, lebaran nanti juga model ini yang keluar, lagian aku juga gak belanja lagi."Semua menoleh kearah ibu yang menawarkan dagangannya pada mita.mereka pasti ingin melihat baju keluaran terbaru yang ibu itu sebutkan.

Ini lah salah satu yang mita tidak suka.padahal baju itu mau diberikan pada Mita,tapi malah tetangga julid yang membukanya lebih dulu."Kak,aku juga mau lah ada yang jumbo kan."sambil menempelkan baju yang dia pegang. Seperti biasa dia tidak akan mau kalah dari orang lain,dia ingin memiliki setiap baju model terbaru.

"Ada,kakak kira kamu tidak mau yang model begitu, makannya aku bawain yang stelan.mau bawa semua mana bisa kami ke sini,kami kan bawa motor,jika mau pesan saja nanti aku antar."ibu penjual baju tertawa karena bajunya bisa diminati banyak orang.Semakin banyak orang yang suka dengan dagangannya untung yang dia dapatkan juga pasti bertambah.

"Mau lah kak,aku ambil tiga untuk anak ku dirumah biar seragam kami,tapi size beda ya kak warnanya nanti aku tanya anakku."Sambil terus memegang baju yang sudah pasti tidak muat ditubuhnya itu.ibu penjual itu sangat senang,baju yang baru dia buka sudah ada peminatnya.

"Mak Aida,coba lah dek.bagus ini kalo kamu yang pake."kak Rosa kembali memberikan baju itu pada Mita setelah sari meletakkan kembali ditumpukkan pakaian.

Baju itu memang bagus, bahanya jatuh dan dingin.Mita juga tau bagaimana pakaian yang bagus dan berkualitas,hanya saja dia memang tidak suka mengkoleksi banyak baju karena mereka sangat jarang keluar rumah atau menghadiri pesta.Lagian baju baju yang ada dilemari juga jarang dipakai semua masih bagus dan tersimpan rapi di dalam lemari.

"Ihh kak,aku takut mau coba kak, harganya pasti bagus kan? nanti sudah aku cobain sana sini tapi tidak jadi beli, marah Kaka sama aku."Itu pastinya sudah sering terjadi, semua dicoba Padahal tidak niat beli, meskipun itu sudah termasuk resiko penjual tetapi seharusnya kita sebagi pembeli juga jangan keterlaluan.lagian dia berkata seperti itu juga sekaligus menyindir ibu ibu yang masih membuka baju dari plastik nya.

",Ada kualitas ada harga lah dek, barang import punya itu,mahal dikit tapi puas makai kita,awet lagi bertahun tahun."Rosa mengangkat baju sambil meremas, menunjukkan bahwa barang yang dia tawarkan padanya betul berbahan lembut.

"Ya kak, makanya aku tanya harganya, karena aku tau ini bahannya bagus."Mita masih tetap memegang baju tanpa mencobanya,dia memang tidak ada niat untuk membeli baju.

" Dua ratu sembilan puluh saja, sudah aku turunkan itu, karena mereka juga ambil, menunjuk kearah sari.kalo ditempat ku sana tiga ratus tiga puluh aku buat, sudah banyak yang ambil, tidak nyesal kalian ambil ini."

"Apaaaaa, semahal itu kah kak!"Sari yang awalnya terlihat merasa menang karena lebih dulu memesan baju itu tiga sekaligus, sekarang terlihat murung.Mita dicolek tetangga sebelah rumah yang setiap hari datang kerumahnya sambil tertawa.

kak Rosa semakin semangat menawarkan dagangannya kepada ibu ibu yang sudah ramai di sini.

"Ia, tidak banyak aku ambil untung,ini sudah cukup murah jika dibandingkan teman aku jual,dia buat harga tiga ratus lima puluh ini, banyak yang ambil,aku yang penting barang cepat habis,jadi sempat belanja lagi buat pakaian dalam."

Namanya juga penjual, apapun akan dia katakan yang penting barangnya habis.tidak masalah menjatuhkan orang lain dan menyebut mereka mematok harga yang lebih tinggi dari nya.

Sari antara segan atau malu pada kami jika baju yang tadi dia inginkan dengan sombongnya langsung memesan tiga, dibatalkan.wajahnya berubah pasi, seperti sedang menyusun kata yang tepat atau berniat mengganti model bajunya.

Satu persatu orang pergi dengan membawa sepotong bahkan ada yang mengambil untuk seluruh keluarganya.Yang paling membuat Mita tercengang adalah jumlah hutang saat mereka berhitung.Ada yang hampir dua juta.

"Astaghfirullah."Ucap Mita lirih.Mita tidak boleh protes, tidak ada hak juga untuk melarang mereka mengambil kredit dengan harga setinggi itu untuk beberapa helai baju saja."lah yang bayar kan mereka, kenapa aku yang kesal"masih dengan umpat dibibirnya.

Mita memutuskan tidak mengambil baju sehelai pun.Saat puasa mereka akan pergi kesebuah moll yang menjual pakaian murah meriah dan masih sangat terjangkau harganya.Perbandingan harga dan bahan memang sangat jauh berbeda,sehelai disini bisa dapat dua disana tentu kualitas standar.

Semakin merangkak matahari kearah barat, Dirga juga sudah gelisah, ditempat ini dia tidak bisa bebas,hanya bisa digendong terus, apalagi tanah tidak datar,bisa bisa nanti bayi itu akan meluncur ke jurang saat semu tengah sibuk dengan pakaian.

Mungkin lebih baik mereka pulang, dirumah Dirga bebas manjat, salto dan berbaring sesuka hatinya,Mita juga tentu dapat mengerjakan pekerjaan yang lain, karena semakin lama di sini, percakapan mereka juga semakin kearah urusan dapur orang lain.

"Ambil itu kak?"Mita menoleh kepada sebelah rumah, dia tengah mencoba sebuah mukenah berwarna hitam.

"Bagus tidak."Melihat dan meminta pendapat Mita, padahal Mita sudah mau beranjak pulang.

"Modelnya aku suka kak tapi tidak warna.Kalo mukenah,aku lebih suka berwarna cerah, tidak gelap seperti ini "Lina mengangguk dan menanyakan warna lainnya.mita pamit karena Dirga tidak mau lagi diam di tempat itu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!