Bab 3

*Cinta Aisyah*

Dalam setiap hembusan angin malam,

Ada suara lembut yang memanggil,

Menyebut namamu dalam doa,

Menggenggam harapan setiap getar.

***

"Mas Abi mau bicara apa? Kenapa wajahnya serius sekali? Apa dia akan menceraikan aku?"

Aisyah hanya menduga-duga apa yang akan dikatakan suaminya.

"Huufft.. bismillah ayo Aisyah, jangan seperti ini. Mas Abi menceraikan aku atau tidak jangan pedulikan itu, toh dia sendiri yang tidak menginginkan aku." kata Aisyah bicara sendiri.

Aisyah kemudian membuka pintu kamarnya perlahan menghampiri Abimana yang sudah menunggu kehadiran nya di ruang tengah.

"Duduklah." kata Abi setelah melihat Aisyah sudah muncul di hadapan nya.

Aisyah pun duduk di depan Abi sedikit jauh.

"Oke baiklah, jadi begini." Abi diam sejenak untuk mengambil nafasnya meski wajahnya terlihat dingin dan angkuh.

"Oke begini Aisyah, seperti yang kamu tau, kita menikah karena di jodohkan. Jujur, aku tidak mencintai kamu, bahkan aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu Aisyah." tambah Abi menjelaskan pada Aisyah.

"Kita belum pernah ketemu, bahkan kita belum saling mengenal, aku menerima perjodohan ini karena semata- mata hanya bentuk baktiku sama papa, tidak lebih dari itu. Aku harap kamu bisa mengerti. selama disini aku mau kita tidur terpisah dan jangan pernah mengharapkan aku." Lanjut Abi panjang lebar pada Aisyah.

Aisyah yang mendengar perkataan Abi merasa dirinya tidak di inginkan oleh suaminya itu. Aisyah juga tidak menyangka akan secepat ini dinikahkan oleh pria yang belum pernah ia temui sebelumnya. Saat Abah Aisyah bilang dirinya akan menikah bulan depan pun Aisyah kaget, karena orangtua nya tak menanyakan keputusan Aisyah lebih dulu.

"Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku sebagai suamimu. itu urusanmu, aku harap jika memang tidak ada kecocokan di antara kita selama satu tahun, kamu berhak meminta cerai dariku ataupun sebaliknya. Apa ada yang ingin kamu katakan padaku Aisyah?" kata Abi lagi membuat mata Aisyah sudah mulai berkaca-kaca menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

Aisyah tak mampu mengeluarkan sepatah katapun di hadapan Abi. Ia hanya mendengarkan penjelasan suaminya sambil menundukkan wajahnya karena tak mau dirinya terlihat menangis di hadapan Abi.

***

*Satu bulan yang lalu*

Di sebuah pondok pesantren ada sebuah tanah luas kira-kira kisaran satu hektar.

Tampak seorang gadis bercadar dengan gamis berwarna hitam sedang melatih kemampuan nya berkuda.

"Hiiatt..!"

Aisyah, yaa Aisyah seorang gadis bercadar yang hobi berkuda. Dengan sangat lihai dirinya menunggang kuda putih kesayangan nya itu. Sudah dua jam Aisyah berkuda disana hingga sang Umi sulit menghentikannya. Jika perasaan nya sedang tak baik, Aisyah lebih memilih mengeluarkan emosinya dengan berkuda.

"Aaiis.. Di tunggu Abah di rumaahh.." teriak seorang wanita paruh baya bernama Annisa Maisun Siddiqah yang biasa di panggil umi Nissa.

Aisyah yang mendengar teriakan uminya langsung sedikit perlahan mulai menghentikan kudanya dan menggiring ke arah umi nya.

Umi Aisyah yang berdiri menyandarkan kedua tangan nya di pembatas tanah berkuda kembali bicara pada putri kesayangan nya itu.

"Di tunggu Abah di rumah, ada yang mau Abah bicarakan sama kamu Ais, hari sudah hampir dzuhur, berhentilah bermain dengan kuda mu nak." kata Umi Aisyah yang tau hati sang putri sedang tidak baik-baik saja sejak di tinggal sang kakak ke Kairo untuk mengasah kemampuan mengajarnya disana.

"Iya mi, sebentar lagi Aisyah pulang." sahut Aisyah sopan meski sedang emosi.

"Sekarang Ais, bukan nanti."

Aisyah yang sudah di desak untuk segera pulang akhirnya menyerah dan menuruti umi nya untuk segera pulang. Aisyah pun turun dari atas punggung sang kuda lalu menyuruh pawang kudanya untuk membawa kudanya masuk ke dalam kandang.

"Ini mang, jaga dia baik-baik. Jangan sampai dia kelaparan." kata Aisyah pada pawang kudanya.

"Iya neng, tenang ajah. Serahkan semuanya sama mamang." sahut pawang kuda itu.

Aisyah kemudian berlalu pergi untuk pulang kerumahnya yang tak jauh dari tanah berkudanya. Selama berjalan menyusuri lorong pondok pesantren Aisyah selalu menundukan pandangannya menghindari tatapan secara langsung dengan yang bukan muhrimnya. Banyak santriwati yang menyapanya dengan ramah dan sopan selama Aisyah berjalan pulang.

"Assalamualaikum ning."

"Waalaikumsalam." Aisyah menyahut satu persatu salam dari santriwati di pondok pesantren itu.

Tak butuh waktu lama, Aisyah kini sudah sampai di halaman rumahnya, dan setelah sampai tak lupa memberikan salam saat sudah masuk kerumah.

"Assalamualaikum.." ucap Aisyah dengan sopan meski masih di landa emosi di hatinya.

"Waalaikumsalam nak. Sini, duduklah dekat Abah, abah mau bicara." kata Abah Aisyah yang bernama Yusuf Alhasan Mahmud yang biasa di panggil kiyai Yusuf.

Aisyah menurut dengan perintah sang Abah untuk duduk di sebelahnya. Abah Aisyah merangkul pundak Aisyah dan mengusapnya secara halus untuk menenangkan hati sang putri tercinta. Abah Yusuf tau hati sang putri sedang tidak baik-baik saja semenjak di tinggal sang kakak tercintanya beberapa minggu yang lalu.

"Begini nak, abah sudah tua, abah ingin melihatmu menikah." kata Abah Yusuf membuat Aisyah terkejut dalam diam setelah mendengar penuturan Abahnya.

"Abah sudah menerima lamaran anak dari sahabat Abah yang berada di jakarta, Abah harap Ais tidak mengecewakan Abah." lanjut Abah Yusuf yang mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya dulu dengan Aisyah.

"Tapi bah, Ais belum siap." sahut Aisyah dengan lembut tanpa berani menatap sang Abah.

"Ais, dengar abah nak. Ais sudah dewasa, sudah waktunya kamu menikah. Abah harap Ais mengerti maksud Abah." ujar Abah Aisyah yang keputusan nya sudah mutlak tidak dapat diganggu gugat.

"Iya Abah, Ais paham." sahut Aisyah yang tau Abahnya tak pernah menerima penolakan.

"Baiklah, Abah harap Ais tidak mengecewakan Abah."

"Iya Abah."

Aisyah kemudian pamit undur diri dari samping abahnya untuk pergi ke kamarnya karena adzan sudah berkumandang. Para santri dan santriwati berlarian untuk segera ke mesjid melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.

Aisyah yang sedang berhalangan hanya membersihkan tubuhnya lalu bersholawat sambil membantu sang umi di dapur menyiapkan makan siang sang Abah.

***

Di rumah Abimana.

Seorang pria yang baru saja turun dari mobil segera masuk memenuhi perintah sang papa untuk segera pulang saat masih jam kerja. Terlihat pasangan suami istri yang duduk di ruang keluarga sambil mengobrol dan menyalakan tv nya. Abimana yang tau orangtua nya sudah menunggu, langsung duduk di antara mereka berdua.

"Ada apa papa menyuruh Abi pulang?" tanya Abi yang penasaran sepenting apa dirinya diperintah pulang saat itu juga.

"Iyaa langsung saja, papa sudah mencarikan calon istri untukmu. Papa ingin kamu menikah." Kata papa Abimana yang bernama Adam Surya Atmaja yang biasa di panggil Adam.

Abimana terdiam, kenapa papanya mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya lebih dulu padanya.

"Papa sudah tidak muda lagi nak, papa harap kamu menerima keputusan papa."

"Apa tidak ada pembahasan lain selain menikah pah?" sahut Abi dengan nada kecewanya.

"Keputusan papa sudah bulat, bulan depan kamu menikah." kata sang papa.

Abi terdiam dan menatap mama nya seakan meminta pertolongan untuk memberikan pengertian pada sang papa. Mama nya yang tau tatapan anak satu-satu nya itu tak bisa membelanya. Karena sebelum papanya bicara dengan Abi, sang mama sudah protes lebih dulu. Namun keputusan sang papa sudah mutlak tak bisa diganggu gugat.

"Tapi Aku belum siap untuk menikah pah. Apalagi aku harus menikah dengan seorang wanita yang belum pernah aku kenal sebelumnya." sahut Abi masih terus berusaha untuk menolak perjodohan ini.

Alih-alih menjawab ucapan Abi, sang papa malah justru bangkit dari duduknya tidak mau mendengar alasan apapun dari putra satu-satunya pewaris tunggal di keluarga Atmaja.

"Papa tidak menerima penolakan. Papa harap kamu tidak akan mengecewakan papa. Jika kamu berani macam-macam, jangan pernah panggil aku papa lagi.! Dan silahkan pergi dari rumah ini!" tegas sang papa kemudian berlalu pergi meninggalkan istri dan anaknya yang masih duduk di sana.

***

...----------------...

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Shinta Dewiana

Shinta Dewiana

akibat nikah paksa ya gitu...

2025-03-20

1

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

aduuuhh menguras air mata...rasa sakit, pedih dan hampa dgn ucapan Abi kpd Aishah....

2024-09-17

2

David Vians

David Vians

sebelum baca siapkan kopi ☕

2024-09-16

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
Episodes

Updated 142 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!