Chapter 13 : Menemui Teman Lama

Sagara turun dari taksi, memandang bangunan perkantoran megah yang menjulang tinggi di hadapannya. Angin sepoi-sepoi meniupkan rambutnya ketika dia melangkah mendekati pintu utama bangunan tersebut. Pikirannya dipenuhi oleh arahan-arahan yang diberikan Fransiskus sebelum ia kembali ke dunia ini. Dengan langkah mantap, ia merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya, lalu menekan nomor kontak yang telah diberikan kepadanya dan membuat panggilan.

Dering terdengar beberapa kali sebelum sebuah suara berat dari seberang sana menjawab dengan nada curiga, “Siapa ini? Dari mana kau mendapatkan nomorku?”

Sagara tetap tenang, menyiapkan jawabannya dengan sangat baik. “Saya Sagara Adyatama. Saya cucu dari Miles Adyatama, mungkin Anda mengenal kakek saya.”

Ada jeda sesaat di seberang, lalu nada suara pria itu tiba-tiba berubah drastis. “Ah, ternyata cucu Miles! Kenapa tidak bilang dari awal? Hahaha! Aku Hansel, teman lama kakekmu."

"Bisakah kita bertemu sekarang? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda."

"Tentu! Tentu saja, aku akan menerima ajakanmu untuk bertemu." Pria bernama Hansel ini menjawab cepat seakan sudah menanti-nantikan pertemuannya dengan Sagara.

"Kapan kamu ingin bertemu?" lanjut Hansel.

"Hari ini, sekarang."

"Bagus! Kalau begitu aku akan kirimkan seseorang untuk segera menjemput Nak Sagara. Alamatnya... apa kamu saat ini menempati kediaman Adyatama?"

"Tidak perlu, saya sudah menunggu di bawah. Kirimkan seseorang untuk menjemput dan mengantar saya ke tempat Anda."

"Ah, ya. Baiklah, aku akan menyuruh bawahanku untuk menjemputmu di bawah."

Sagara tersenyum kecil. Perubahan sikap Hansel membuatnya mengingat betapa berpengaruhnya kakeknya dulu. Posisi Sagara jelas tidak bisa dianggap remeh.

Tak lama kemudian, seorang bawahan Hansel datang menjemput Sagara di lobi. Pria itu berjalan dengan langkah cepat dan penuh percaya diri, tetapi tanpa menunggu Sagara untuk mengikutinya. Saat mereka tiba di depan lift, bawahan itu dengan suara kurang ramah berkata, “Kita harus cepat, Tuan Hansel sedang sibuk. Saya harap Anda mengerti.”

Nada suara yang digunakan pria itu sedikit menyiratkan ketidaksopanan. Sagara terdiam sejenak, berusaha menjaga wibawanya. Namun, ia juga tahu bahwa bawahan seperti ini harus diberi peringatan dengan sikap yang tegas.

Ketika mereka tiba di depan kantor Hansel, pintu terbuka, dan Hansel langsung menyambut Sagara dengan senyuman hangat. "Sagara! Senang sekali bertemu denganmu. Masuklah, anggap saja seperti rumah sendiri."

Sagara mengangguk sopan dan melangkah masuk, tetapi sebelum percakapan dimulai, Hansel memandang bawahan yang tadi mengantar Sagara dengan tatapan tajam. "Marco, bagaimana caramu berbicara dengan tamu kita? Sagara adalah cucu Miles Adyatama, salah satu orang yang paling aku hormati. Jangan pernah bersikap kurang ajar seperti itu lagi!"

Marco tampak gugup, wajahnya memerah. "Maaf, Tuan Hansel... Saya tidak bermaksud..."

Hansel memotongnya. "Tidak ada alasan! Perbaiki sikapmu, atau aku akan pastikan kamu tidak akan bisa bekerja lagi di sin!"

Mendapat peringatan dari sang bos, Marco pun mengangguk cepat, meminta maaf kepada Sagara sebelum buru-buru pergi dari ruangan.

Sagara tetap tenang, meski dalam hatinya ia merasa sedikit lega. "Terima kasih, Tuan Hansel, atas perhatian Anda."

Hansel tersenyum penuh pengertian. “Jangan khawatir, Sagara. Orang seperti Marco memang perlu diingatkan batasan-batasan mereka.”

Setelah insiden kecil itu, Hansel kembali fokus ke pembicaraan. “Aku sudah bisa menebak sedikit maksud kedatanganmu. Apakah ini tentang barang-barang antik yang ingin kau lelang, seperti yang dulu sering dilakukan oleh kakekmu?”

"Benar, saya membawanya." Sagara kemudian meletakkan koper yang dibawanya ke atas meja.

"Sebenarnya aku sempat khawatir tidak akan pernah melihat barang-barang seperti ini lagi setelah meninggalnya Miles. Namun, siapa sangka, Miles, pria tua itu memiliki seorang cucu yang tampan di sini?" Hansel mencoba menyanjungnya, akan tetapi Sagara hanya diam mendengarkan, kemudian dia membuka koper hitam yang dibawanya.

Hansel menatap artefak-artefak itu dengan penuh perhatian. "Kualitasnya sangat luar biasa seperti yang biasanya," gumamnya sambil memeriksa beberapa barang dengan lebih dekat.

"Dari dulu aku sangat penasaran, dari mana kalian mendapatkan barang-barang ini?"

"Bukankah sudah menjadi kesepakatannya untuk tidak menanyakan informasi seperti itu?" Sagara tersenyum kepada Hansel.

Setelah puas melihat isinya, Hansel menutup koper itu kembali dan terkekeh puas. “Ini akan menarik perhatian banyak kolektor. Aku akan segera mengatur pelelangannya.”

Hansel segera memerintahkan bawahannya yang lain, kali ini dengan sikap lebih ramah, untuk menyiapkan segala sesuatunya. Kemudian, Hansel melanjutkan percakapan mengenai pembagian hasil, mengikuti aturan lama yang sudah berjalan dengan kakek Sagara. “Seperti biasanya, mungkin kamu sudah mengetahuinya dari Miles, sepuluh persen dari penjualan akan menjadi milikku sebagai penyelenggara. Sisanya adalah milikmu.”

Sagara mengangguk setuju. “Tentu saja, itu terdengar adil bagi saya, sama seperti yang dilakukan oleh kakek saya.”

Hansel tersenyum lebar. “Bagus! Dan tentu, kau bisa hadir di pelelangan itu. Seperti kakekmu dulu, kamu akan mendapatkan tempat VIP.”

Sagara mempertimbangkan undangan itu dengan cermat. "Saya akan mengabari Anda jika saya memutuskan untuk hadir di pelelangan itu.”

Setelah semuanya disepakati, Sagara bangkit dari kursinya dan menjabat tangan Hansel. “Terima kasih banyak atas waktu dan kesempatannya. Saya berharap kerja sama ini akan terus berjalan baik, seperti yang dulu dilakukan oleh kakek saya.”

Hansel tersenyum penuh kehangatan. “Jangan khawatir, Sagara. Aku yakin kamu akan berhasil melanjutkan bisnis keluargamu. Aku sudah lama menunggu kesempatan untuk bekerja sama dengan anak muda yang kompeten dan penuh semangat sepertimu.”

Sagara bangkit dari duduknya, sehingga membuat Hansel terburu-buru menahannya. "Kamu sudah ingin pergi? Bagaimana jika kita makan terlebih dahulu di kediamanku? Ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu."

"Jika Anda berniat mengenalkan putri Anda pada saya, maka saya akan menolaknya. Saya masih memiliki banyak urusan hari ini, jadi lain kali saja kita membicarakannya."

Sagara memberikan senyuman tipis sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Langkahnya tegas saat ia keluar dari gedung perkantoran. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa ini baru permulaan. Dia sadar sepenuhnya akan tanggung jawab besar yang kini ada di pundaknya, baik untuk keluarga Adyatama maupun Morgans. Saat berdiri di trotoar, menatap hiruk-pikuk kota, dia merasa hari ini adalah babak baru dalam kehidupannya. Sebuah babak yang penuh dengan tantangan dan peluang besar yang sudah menanti di depan.

Episodes
1 Chapter 1 : Rumah Warisan Kakek
2 Chapter 2 : Masa Lalu Keluarga
3 Chapter 3 : Rencana Melunasi Hutang
4 Chapter 4 : Kediaman Adyatama
5 Chapter 5 : Rahasia Peninggalan Kakek
6 Chapter 6 : Menyebrang Ke Dunia Lain
7 Chapter 7 : Hilangnya Jejak Kejayaan
8 Chapter 8 : Membangkitkan Keluarga Morgans
9 Chapter 9 : Rencana Memulihkan Bisnis Keluarga
10 Chapter 10 : Dunia Sihir
11 Chapter 11 : Tetap Dalam Rencana
12 Chapter 12 : Kembali Dari Celah Dimensi
13 Chapter 13 : Menemui Teman Lama
14 Chapter 14 : Wanita Cantik Yang Misterius
15 Chapter 15 : Pelelangan Barang Dunia Lain
16 Chapter 16 : Bertemu Dengan Putri Sombong
17 Chapter 17 : Terlahir Kembali Menjadi Kaya
18 Chapter 18 : Perayaan Di Kediaman Adyatama
19 Chapter 19 : Pergi Berburu Mobil
20 Chapter 20 : Pertemuan Kedua
21 Chapter 21 : Kemunculan Tamu Yang Tidak Diinginkan
22 Chapter 22 : Alasan Yang Berdasar
23 Chapter 23 : Meninggalkan Jejak Masa Lalu
24 Chapter 24 : Menyelinap Di Malam Hari
25 Chapter 25 : Prajurit Berparas Tampan
26 Chapter 26 : Pasukan Keluarga Morgans
27 Chapter 27 : Kombinasi Sihir Cahaya dan Kegelapan
28 Chapter 28 : Undangan Pesta Dansa
29 Chapter 29 : Menargetkan atau Ditargetkan
30 Chapter 30 : Bukan Sekedar Hiburan
31 Chapter 31 : Kesempatan
32 Chapter 32 : Kemunculan Sosok Yang Tak Disangka-sangka
33 Chapter 33 : Patah Hati Untuk Pertama Kali
34 Chapter 34 : Professor Elias
35 Chapter 35 : Sulit Untuk Melupakan
36 Chapter 36 : Kunjungan Pendeta dan Sihir Penyembuhan
37 Chapter 37 : Penyergapan Yang Direncanakan
38 Chapter 38 : Mantan Prajurit Bayaran
39 Chapter 39 : Pertempuran Berdarah
40 Chapter 40 : Hilangnya Jejak Fransiskus Dan Diego
41 Chapter 41 : Menyerobot Antrian
42 Chapter 42 : Pelanggan Yang Menyebalkan
43 Chapter 43 : Keberhasilan Pembukaan Toko
44 Chapter 44 : Hari Pelelangan
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Chapter 1 : Rumah Warisan Kakek
2
Chapter 2 : Masa Lalu Keluarga
3
Chapter 3 : Rencana Melunasi Hutang
4
Chapter 4 : Kediaman Adyatama
5
Chapter 5 : Rahasia Peninggalan Kakek
6
Chapter 6 : Menyebrang Ke Dunia Lain
7
Chapter 7 : Hilangnya Jejak Kejayaan
8
Chapter 8 : Membangkitkan Keluarga Morgans
9
Chapter 9 : Rencana Memulihkan Bisnis Keluarga
10
Chapter 10 : Dunia Sihir
11
Chapter 11 : Tetap Dalam Rencana
12
Chapter 12 : Kembali Dari Celah Dimensi
13
Chapter 13 : Menemui Teman Lama
14
Chapter 14 : Wanita Cantik Yang Misterius
15
Chapter 15 : Pelelangan Barang Dunia Lain
16
Chapter 16 : Bertemu Dengan Putri Sombong
17
Chapter 17 : Terlahir Kembali Menjadi Kaya
18
Chapter 18 : Perayaan Di Kediaman Adyatama
19
Chapter 19 : Pergi Berburu Mobil
20
Chapter 20 : Pertemuan Kedua
21
Chapter 21 : Kemunculan Tamu Yang Tidak Diinginkan
22
Chapter 22 : Alasan Yang Berdasar
23
Chapter 23 : Meninggalkan Jejak Masa Lalu
24
Chapter 24 : Menyelinap Di Malam Hari
25
Chapter 25 : Prajurit Berparas Tampan
26
Chapter 26 : Pasukan Keluarga Morgans
27
Chapter 27 : Kombinasi Sihir Cahaya dan Kegelapan
28
Chapter 28 : Undangan Pesta Dansa
29
Chapter 29 : Menargetkan atau Ditargetkan
30
Chapter 30 : Bukan Sekedar Hiburan
31
Chapter 31 : Kesempatan
32
Chapter 32 : Kemunculan Sosok Yang Tak Disangka-sangka
33
Chapter 33 : Patah Hati Untuk Pertama Kali
34
Chapter 34 : Professor Elias
35
Chapter 35 : Sulit Untuk Melupakan
36
Chapter 36 : Kunjungan Pendeta dan Sihir Penyembuhan
37
Chapter 37 : Penyergapan Yang Direncanakan
38
Chapter 38 : Mantan Prajurit Bayaran
39
Chapter 39 : Pertempuran Berdarah
40
Chapter 40 : Hilangnya Jejak Fransiskus Dan Diego
41
Chapter 41 : Menyerobot Antrian
42
Chapter 42 : Pelanggan Yang Menyebalkan
43
Chapter 43 : Keberhasilan Pembukaan Toko
44
Chapter 44 : Hari Pelelangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!