Chapter 3 : Rencana Melunasi Hutang

Keesokan paginya Sagara kembali menjalani rutinitasnya dengan perasaan campur aduk. Meski beban hidupnya telah banyak berkurang setelah menerima warisan dari kakeknya dan hutang ayahnya telah dilunasi, akan tetapi masih ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Seperti tunggakan kontrakan selama dua bulan dan angsuran semesteran kuliah yang harus segera dia bayarkan.

Di kampus pun Sagara mencoba untuk tetap fokus di kelas, tapi pikirannya terus melayang-layang. Dia duduk diam sambil menatap kosong ke arah papan tulis, sementara dosen menerangkan materi dengan penuh semangat. Kata-kata dosen hanya berlalu begitu saja di telinganya. Pikirannya sibuk merenungkan cara mendapatkan uang untuk membayar semua itu. Mencari pekerjaan sambilan dengan gaji yang dibayar di muka sepertinya mustahil dalam waktu sesingkat ini. Satu-satunya pilihan lain adalah meminjam uang dari temannya, tetapi itu adalah sesuatu yang sangat dia hindari.

Sagara tidak bisa menutupi masalahnya di permukaan. Lucas yang duduk di sebelahnya, memperhatikan Sagara yang tampak lebih diam dari biasanya.

"Bro, kok lu kelihatan ga bersemangat hari ini?" bisik Lucas sambil mencondongkan tubuhnya mendekat. "Ada masalah, ya?"

Sagara tersenyum tipis, "Ga apa-apa, cuma lagi banyak pikiran aja."

Lucas menatap Sagara dengan penuh perhatian. Dia tahu sahabatnya ini bukan tipe orang yang mudah terbuka tentang masalah pribadi. "Lu tau kan, kalau lu lagi butuh sesuatu, gua ada di sini buat bantu."

Sagara menghela napas. Tawaran itu terdengar menggiurkan, terutama dengan situasi yang dia hadapi saat ini. "Gua tau, Lucas. Tapi, gua ga pengen jadi beban buat lu."

Lucas tertawa kecil, "Beban? Lu bercanda? Gua ini orang kaya yang lagi nyari cara buat ngabisin duit, Bro!" ucap Lucas dengan candaannya.

Bagaimanapun Lucas adalah anak orang kaya yang hidupnya sedikit hedonis. Dia sering nongkrong di kafe mahal dan membeli barang-barang branded atau mewah tanpa berpikir panjang. Meskipun begitu, Lucas tidaklah sombong. Sebaliknya, dia sangat akrab dan menghargai pertemanannya dengan Sagara. Lucas menganggap Sagara sebagai pribadi yang dewasa, menyenangkan, dan bisa membantunya berubah menjadi versi dirinya yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

"Ayo cepetan cerita! Tentang apa? Kuliah? Atau ada masalah lain?" Lucas terus mendesak, seakan tak ingin melepaskan Sagara begitu saja.

Sagara menoleh ke arah Lucas, menatapnya sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Lu tau sendiri kan kontrakan gua masih nunggak dua bulan. Belum lagi angsuran kuliah. Gua ga tau harus cari uang dari mana lagi."

"Loh, gaji part time lu dua bulan ini emang ga cukup Ga?"

"Gaji dari hongkong? Si Bowo tuh kabur sebelum ngasih gaji gua. Tokonya udah dia jual, sekarang udah jadi punya orang lain."

"Gila ya itu si gendut! Bisa-bisanya! Oke, ayo Ga, kita ke kantor polisi sekarang!"

"Buat apa? Emang ngaruh?" tanya Sagara sembari mengangkat sebelah alisnya.

"Ya engga sih, tapi masa lu pasrah gitu aja? Terus gimana bayaran kontrakan? Masih kurang kan? Apa mau gua pinjemin dulu?"

Sagara langsung memasang ekspresi tidak suka sebagai tanda kalau dirinya tidak menginginkan bantuan dari Lucas. Matanya menjadi tajam dan alisnya menukik, menegaskan bahwa dirinya sungguh tidak ingin meminjam uang dari Lucas.

Lucas yang menyadarinya pun angkat tangan, mengangguk pelan, memahami situasi sahabatnya itu. Sagara memang memiliki harga diri yang tinggi dan keras kepala. Dia selalu saja merasa tidak enak hati jika Lucas membantunya. Dia terlalu memikirkan hal yang tidak perlu, seperti merasa kalau dirinya memanfaatkan Lucas untuk terus membantunya dalam hal uang.

"Oke, oke. Gua ngerti, tapi gua serius ya sama kata-kata gua tadi, gua ga keberatan bantu lu."

Sagara tersenyum tipis, tapi ada kekhawatiran di matanya. "Iya, iya, bawel. Nanti kalau gua butuh banget, gua pasti kabarin lu."

Lucas tertawa kecil dan menepuk pundak Sagara. "Lu tuh ya, selalu aja mikirin orang lain. Ga enakan orangnya. Kita ini kan sahabatan, Bro. Lu udah banyak bantu gua di kuliah. Gue ga akan bisa survive di sini tanpa bantuan lu. Jadi, ini cuma sekadar gua balas budi aja. Gampang lah."

"Lucas, gua juga serius," jawab Sagara sambil menatap Lucas. "Gua hargai tawaran lu, tapi ini masalah prinsip. Gua ga mau selalu ngandelin orang lain buat bantu gua. Gua mau nyelesain masalah gua sendiri, paham?"

"Oke deh." Lucas mengangguk pelan, meski ada sedikit kekhawatiran di matanya.

Sagara tersenyum, merasa sedikit lega karena tahu bahwa Lucas benar-benar tulus ingin membantunya. Dia menatap sahabatnya itu dengan rasa terima kasih, tetapi tetap ada keraguan di hatinya. Dia tidak ingin menjadi seseorang yang terus bergantung pada orang lain, apalagi dalam urusan keuangan. Namun, jika keadaan semakin mendesak, mungkin dia tidak punya pilihan lain.

Sepulang kuliah Sagara berjalan menuju tempat parkir dengan Lucas di sisinya. Mereka melangkah dalam keheningan sebelum Lucas akhirnya memecah suasana.

"Ga, tadi pas kita makan di kantin, kan sempat cerita soal warisan kakek lu. Udah tau rumahnya kayak gimana? Lu udah pernah ke sana?" tanya Lucas sambil membuka kunci mobilnya.

Sagara menggeleng. "Belum, gua belum sempat lihat rumahnya. Tapi gua udah cek lokasinya di maps. Rumah itu ada di kota sebelah, ga terlalu jauh dari sini. Mungkin cuma butuh waktu sejam kalau naik motor?"

Lucas menaikkan alisnya, tampak tertarik. "Serius? Sejam doang? Eh, kenapa lu ga pergi besok hari Jumat aja? Habis kelas terakhir selesai, langsung gas ke sana. Siapa tahu kan, di sana lu bisa nemuin sesuatu yang bisa bantu lu keluar dari masalah lu saat ini."

Sagara menatap Lucas, merenungkan kata-katanya. "Gua emang udah mikir buat ke sana dalam waktu dekat ini. Mungkin gua bisa lihat-lihat dulu di sana. Siapa tau ada barang-barang berharga yang bisa gua jual, atau setidaknya, gua bisa nenangin pikiran gua di sana. Kalau ga ada yang bisa jual, lebih baik rumahnya sekalian gua jual."

Lucas tersenyum lebar, sebenarnya dia sedikit merasa lucu mendengar perkataan Sagara, tapi dia mencoba untuk menahannya.

"Nah, gitu dong! Itu baru namanya rencana! Pokoknya kalau lu butuh bantuan buat bawa barang atau apa, lu tinggal panggil gua aja. Gua bisa temenin lu ke sana."

Sagara yang melihat Lucas pun ikut tertawa kecil, merasa sedikit lebih ringan setelah mendengar dukungan dari Lucas.

"Thanks, Lucas. Gua bakal kabarin lu kalau butuh bantuan. Rencananya gua bakal ke sana sendirian dulu. Mau lihat-lihat, siapa tau ada hal yang perlu gua selesaikan sendiri."

Lucas mengangguk paham. "Ya, ga masalah, tapi lu harus ingat, gua ada buat lu kapan aja. Jangan sungkan kalau butuh apa-apa."

Sagara hanya tersenyum, kemudian mereka berpisah di parkiran. Sagara menaiki motornya dan memikirkan rencana untuk mengunjungi rumah itu akhir pekan nanti.

Malamnya Sagara duduk di meja belajar, menatap peta lokasi rumah warisan kakeknya. Dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang masih penuh dengan berbagai kekhawatiran.

"Apa benar-benar bisa nemuin sesuatu di sana?" tanya Sagara pada dirinya sendiri.

Sagara telah memutuskan untuk mengunjungi rumah itu akhir pekan ini. Meski perasaan ragu masih ada, dia tahu bahwa langkah ini adalah salah satu cara untuk mengungkap lebih jauh tentang keluarganya, dan mungkin, dia bisa menemukan jalan keluar dari masalah yang menimpanya saat ini. Segera dia akan mencari jawabannya di rumah itu.

Episodes
1 Chapter 1 : Rumah Warisan Kakek
2 Chapter 2 : Masa Lalu Keluarga
3 Chapter 3 : Rencana Melunasi Hutang
4 Chapter 4 : Kediaman Adyatama
5 Chapter 5 : Rahasia Peninggalan Kakek
6 Chapter 6 : Menyebrang Ke Dunia Lain
7 Chapter 7 : Hilangnya Jejak Kejayaan
8 Chapter 8 : Membangkitkan Keluarga Morgans
9 Chapter 9 : Rencana Memulihkan Bisnis Keluarga
10 Chapter 10 : Dunia Sihir
11 Chapter 11 : Tetap Dalam Rencana
12 Chapter 12 : Kembali Dari Celah Dimensi
13 Chapter 13 : Menemui Teman Lama
14 Chapter 14 : Wanita Cantik Yang Misterius
15 Chapter 15 : Pelelangan Barang Dunia Lain
16 Chapter 16 : Bertemu Dengan Putri Sombong
17 Chapter 17 : Terlahir Kembali Menjadi Kaya
18 Chapter 18 : Perayaan Di Kediaman Adyatama
19 Chapter 19 : Pergi Berburu Mobil
20 Chapter 20 : Pertemuan Kedua
21 Chapter 21 : Kemunculan Tamu Yang Tidak Diinginkan
22 Chapter 22 : Alasan Yang Berdasar
23 Chapter 23 : Meninggalkan Jejak Masa Lalu
24 Chapter 24 : Menyelinap Di Malam Hari
25 Chapter 25 : Prajurit Berparas Tampan
26 Chapter 26 : Pasukan Keluarga Morgans
27 Chapter 27 : Kombinasi Sihir Cahaya dan Kegelapan
28 Chapter 28 : Undangan Pesta Dansa
29 Chapter 29 : Menargetkan atau Ditargetkan
30 Chapter 30 : Bukan Sekedar Hiburan
31 Chapter 31 : Kesempatan
32 Chapter 32 : Kemunculan Sosok Yang Tak Disangka-sangka
33 Chapter 33 : Patah Hati Untuk Pertama Kali
34 Chapter 34 : Professor Elias
35 Chapter 35 : Sulit Untuk Melupakan
36 Chapter 36 : Kunjungan Pendeta dan Sihir Penyembuhan
37 Chapter 37 : Penyergapan Yang Direncanakan
38 Chapter 38 : Mantan Prajurit Bayaran
39 Chapter 39 : Pertempuran Berdarah
40 Chapter 40 : Hilangnya Jejak Fransiskus Dan Diego
41 Chapter 41 : Menyerobot Antrian
42 Chapter 42 : Pelanggan Yang Menyebalkan
43 Chapter 43 : Keberhasilan Pembukaan Toko
44 Chapter 44 : Hari Pelelangan
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Chapter 1 : Rumah Warisan Kakek
2
Chapter 2 : Masa Lalu Keluarga
3
Chapter 3 : Rencana Melunasi Hutang
4
Chapter 4 : Kediaman Adyatama
5
Chapter 5 : Rahasia Peninggalan Kakek
6
Chapter 6 : Menyebrang Ke Dunia Lain
7
Chapter 7 : Hilangnya Jejak Kejayaan
8
Chapter 8 : Membangkitkan Keluarga Morgans
9
Chapter 9 : Rencana Memulihkan Bisnis Keluarga
10
Chapter 10 : Dunia Sihir
11
Chapter 11 : Tetap Dalam Rencana
12
Chapter 12 : Kembali Dari Celah Dimensi
13
Chapter 13 : Menemui Teman Lama
14
Chapter 14 : Wanita Cantik Yang Misterius
15
Chapter 15 : Pelelangan Barang Dunia Lain
16
Chapter 16 : Bertemu Dengan Putri Sombong
17
Chapter 17 : Terlahir Kembali Menjadi Kaya
18
Chapter 18 : Perayaan Di Kediaman Adyatama
19
Chapter 19 : Pergi Berburu Mobil
20
Chapter 20 : Pertemuan Kedua
21
Chapter 21 : Kemunculan Tamu Yang Tidak Diinginkan
22
Chapter 22 : Alasan Yang Berdasar
23
Chapter 23 : Meninggalkan Jejak Masa Lalu
24
Chapter 24 : Menyelinap Di Malam Hari
25
Chapter 25 : Prajurit Berparas Tampan
26
Chapter 26 : Pasukan Keluarga Morgans
27
Chapter 27 : Kombinasi Sihir Cahaya dan Kegelapan
28
Chapter 28 : Undangan Pesta Dansa
29
Chapter 29 : Menargetkan atau Ditargetkan
30
Chapter 30 : Bukan Sekedar Hiburan
31
Chapter 31 : Kesempatan
32
Chapter 32 : Kemunculan Sosok Yang Tak Disangka-sangka
33
Chapter 33 : Patah Hati Untuk Pertama Kali
34
Chapter 34 : Professor Elias
35
Chapter 35 : Sulit Untuk Melupakan
36
Chapter 36 : Kunjungan Pendeta dan Sihir Penyembuhan
37
Chapter 37 : Penyergapan Yang Direncanakan
38
Chapter 38 : Mantan Prajurit Bayaran
39
Chapter 39 : Pertempuran Berdarah
40
Chapter 40 : Hilangnya Jejak Fransiskus Dan Diego
41
Chapter 41 : Menyerobot Antrian
42
Chapter 42 : Pelanggan Yang Menyebalkan
43
Chapter 43 : Keberhasilan Pembukaan Toko
44
Chapter 44 : Hari Pelelangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!