Sagara mengikuti Fransiskus dengan langkah perlahan, menyusuri koridor panjang yang sunyi di kediaman keluarga Morgans. Dinding-dinding batu dingin yang mengelilingi mereka terlihat suram, tanpa hiasan apapun yang menarik perhatian. Sagara mulai merasa aneh. Dia membayangkan tempat ini akan dipenuhi kemewahan, mengingat cerita Fransiskus tentang kekayaan dan kejayaan Miles Adh Morgans, kakeknya. Namun, kenyataannya justru jauh dari apa yang dia bayangkan.
"Pak Fransiskus," Sagara membuka suara, berusaha mengalihkan perhatiannya dari rasa kecewa yang mulai menyelimuti. "Bukankah kakek saya sangat kaya? Tapi kenapa rumah ini terlihat biasa saja? Bahkan barang-barang di sini seperti perabotan yang bisa ditemukan di mana saja."
Fransiskus tidak langsung menjawab. Dia melangkah lebih cepat, wajahnya tampak semakin tegang. Sagara bisa melihat kegelisahan yang mulai mencuat dari pria tua itu. Biasanya, Fransiskus selalu tenang dan penuh wibawa, namun kali ini gelagatnya telah berbeda. Langkah kakinya pun semakin cepat, seakan dia ingin segera menyelesaikan tur kediaman ini.
"Pak Frans?" Sagara kembali memanggil, kali ini dengan nada yang lebih lembut, berusaha memahami apa yang terjadi.
Fransiskus akhirnya berhenti di tengah sebuah ruangan yang luas namun kosong. Dia memutar tubuhnya, menatap Sagara dengan mata yang dipenuhi kebingungan. "Maafkan saya, Tuan Sagara. Saya sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ketika terakhir kali saya berada di sini, sekitar satu bulan yang lalu bersama Tuan Miles, semuanya masih seperti biasa. Perabotan mewah, artefak berharga, semuanya ada di tempatnya. Tapi sekarang barang-barang itu lenyap dari ruangan ini, semuanya telah berubah."
Sagara mengernyitkan dahi. "Berubah bagaimana?"
"Segalanya," jawab Fransiskus sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Perabotan yang dulu begitu megah kini lenyap. Dinding yang dulunya dihiasi oleh lukisan-lukisan indah kini kosong. Saya takut tempat ini telah diserang oleh kelompok tertentu. Mohon tetap berada di belakang saya, Tuan."
Sagara mengangguk, mencoba untuk tetap tenang meski rasa was-was mulai merayap dalam dirinya. Fransiskus terus berjalan dengan hati-hati, memeriksa setiap sudut ruangan seolah mengharapkan adanya tanda-tanda kerusakan atau penyerangan. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mereka melihat seorang wanita yang berjalan mendekat ke arah mereka, membawa keranjang yang berisi pakaian putih.
Fransiskus menatap wanita itu dengan mata terbelalak, hampir kehilangan ketenangannya. Sagara dapat merasakan ketegangan yang makin memuncak. Saat wanita itu semakin dekat, wajah Fransiskus berubah dari yang semula tegang menjadi terlihat khawatir. Dia kaget sekaligus rindu saat bertemu kembali dengan wanita itu.
Sosok yang mampu menggerakkan hati Fransiskus itu pun berhenti tepat di depan mereka, tersenyum hangat meski terlihat lelah. "Fransiskus, aku tahu kamu akan kembali," ucapnya dengan suara yang lembut, namun ada kesedihan yang mendalam di balik nada bicaranya.
"Rose?" Fransiskus tampak terkejut, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ini... benar-benar kamu?"
Rose yang ada di dalam ingatannya selalu berpenampilan rapih dengan pakaian pelayannya. Sangat cantik dan rambutnya yang diikat ke belakang memancarkan aura memikat bagi Fransiskus. Namun, Rose yang sekarang berada di hadapannya nampak sekali berbeda. Bukan berarti tidak lagi menarik karena penampilannya yang hanya mengenakan pakaian kain putih biasa, hanya saja dia nampak lebih lesu dan kehilangan semangatnya, tidak seperti dirinya biasanya.
Rose mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Iya, ini aku Frans. Sudah lama aku menunggu kamu kembali."
Fransiskus terlihat begitu terkejut, namun dia berusaha keras untuk menjaga wibawanya. "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi di kediaman ini. Seperti yang kamu lihat, keadaan di sini sudah sangat berbedam"
Rose mengangguk, senyumnya perlahan memudar. "Banyak yang telah berubah, Frans. Banyak hal telah terjadi sejak Tuan Miles dan kamu tidak pernah kembali."
Sagara yang dari tadi diam, menyimak percakapan mereka dengan penuh perhatian. Ia baru sadar bahwa wanita ini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Fransiskus. Wajah Fransiskus yang tadinya tegang kini tampak sedikit melunak, meski dia tetap berusaha mempertahankan sikap dinginnya.
Fransiskus menghela napas panjang, lalu memperkenalkan Sagara dengan suara yang lebih tenang. "Rose, ini adalah Tuan Sagara, cucu Tuan Miles. Beliau adalah pewaris sah keluarga Morgans."
Rose menundukkan kepala dengan sopan kepada Sagara. "Tuan Sagara, saya Rose, kepala pelayan di kediaman ini. Suatu kehormatan bagi saya untuk melayani Anda."
Sagara merasa canggung dengan suasana yang tiba-tiba menjadi sangat formal. "Tolong, jangan terlalu formal. Saya masih berusaha menyesuaikan diri saya dan memahami semua ini. Silahkan lanjutkan pembicaraan tentang kondisi saat ini."
"Tuan Sagara dapat berbicara dengan nyaman kepada kami berdua," ucap Fransiskus.
Rose tersenyum tipis, namun ada kesedihan di balik senyuman itu. "Sebenarnya, ada sesuatu yang perlu Anda ketahui, Tuan Sagara. Sejak Tuan Miles dan Fransiskus menghilang, terjadi kekacauan di kediaman ini. Terhitung sudah lima tahun berlalu, tentunya sudah tidak ada yang tersisa di kediaman ini. Keluarga Morgans telah mengalami kemunduran dan kini menjadi keluarga dari bangsawan yang telah jatuh."
Fransiskus menatap Rose dengan mata terbelalak, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Lima tahun? Itu tidak mungkin! Saya baru saja mengunjungi tempat ini bersama Tuan Miles sebulan yang lalu!"
Rose mengangguk, menahan air mata yang hampir jatuh. "Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Frans. Saya tahu Anda dan Tuan Miles memiliki semacam rahasia yang tidak orang lain ketahui. Saya menyadarinya setiap kali Tuan Miles dan kamu berpergian keluar. Saat itu saya pikir kamu dan Tuan Miles akan melakukan perjalanan seperti biasanya, meski agak lama, tapi kalian pasti akan kembali. Namun, setelah hampir satu tahun, kalian tidak kunjung kembali. Masalah pun datang satu persatu. Maaf karena saya tidak bisa mencegah kehancuran dari keluarga ini."
Fransiskus tampak terpukul oleh kenyataan. Dia memandang Sagara dengan tatapan kosong, seolah-olah baru saja kehilangan arah. "Tuan Sagara. Saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa pada Anda. Ini semua di luar kehendak saya."
Sagara merasa beban di pundaknya semakin berat. Semua informasi yang ia dapatkan barusan ini terasa terlalu banyak untuk diterima dalam waktu singkat. Namun, dia tahu bahwa dia harus tetap tenang dan berpikir jernih. Bagaimanapun dia sudah memutuskan untuk berusaha yang terbaik sejak mendatangi dunia ini. Sagara tidak ingin menjadi pecundang yang lari setelah menemukan masalah yang ada di depannya.
"Fransiskus, Rose, kita harus tetap tenang. Aku tahu ini semua mengejutkan, tapi kita harus memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya."
Rose mengangguk setuju. "Tuan Sagara benar. Mari kita bicarakan hal ini dengan lebih nyaman setelah masuk ke dalam mansion. Saya akan menyiapkan teh dan cemilan untuk Tuan Sagara."
Fransiskus pun mengangguk setuju. Terlihat perlahan dia mulai bisa menjaga ketenangannya. Dia tersenyum kecil, memandang ke arah Sagara dengan perasaan puas. Sebetulnya keadaan ini tidak sepenuhnya buruk karena dapat memicu Sagara menjadi sosok yang peduli dengan keadaan keluarga Morgans. Kini Sagara terlihat seakan mau terlibat dalam masalah keluarga ini.
Dengan langkah pelan namun pasti, mereka bertiga pun menuju ruangan yang lebih hangat. Rose datang membawakan teh dan cemilan sebagai hidangan manis yang akan menemani pembicaraan mereka. Ruangan itu dulunya adalah tempat yang sangat nyaman dan dijadikan sebagai tempat untuk menjamu para tamu. Ekspresi rumit pun muncul dari mimik wajah Fransiskus yang menyayangkan adanya perubahan pada suasana di ruangan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments