Chapter 12 : Kembali Dari Celah Dimensi

Saat Sagara keluar dari celah dimensi yang membawanya kembali ke dunia asal, ia mendapati dirinya berada di rumah tua. Tidak ada yang berubah dari ruangan itu. Ruangan yang hampir seluruhnya dipenuhi debu dan furnitur kuno yang tetap terpajang meski tak pernah tersentuh. Ketidakhadiran Fransiskus membuatnya sesaat dirinya kehilangan arah. Seakan kini dia menjadi sendiri, tidak ada sosok yang bisa dia andalkan. Tanpa sadar, Sagara ternyata sudah cukup lama mengandalkan Fransiskus.

Sagara pun menarik napas dalam-dalam, merasakan kenyataan yang berbeda dari dunia sihir yang baru saja ia tinggalkan. Dia telah membulatkan tekadnya tentang tujuannya dan rencananya, maka dia harus tetap fokus dan menguatkan diri dalam menghadapi segala situasi yang mungkin akan terjadi nantinya. Dengan tubuh yang lelah, Sagara kemudian meninggalkan bangunan tua tersebut lalu berjalan menuju bangunan utama, tanpa melihat kembali ke arah belakang. Kemudian dia pergi beristirahat di kamarnya yang berada di lantai atas.

Saat Sagara tiba di kamarnya, dia segera menghempaskan dirinya ke atas ranjang. Semua kenangan dari dunia sihir dan beban tanggung jawab sebagai kepala keluarga Morgans menghantui pikirannya. Namun, keletihan tubuhnya lebih mendesak daripada pikirannya yang terus berputar. Sungguh malam yang terasa panjang, dunia sihir yang dilewatinya bagaikan mimpi indah yang menjadi kenyataan. Dia memejamkan mata dan tak butuh waktu lama sebelum ia tertidur pulas.

Keesokan paginya, Sagara bangun dari tidurnya dengan tubuh yang sedikit lebih segar. Cahaya matahari pagi menyusup dari celah-celah jendela kamarnya, menandakan pagi yang baru. Ia menguap dan beranjak keluar dari kamarnya. Niatnya saat itu hanya satu, yaitu mencari makanan untuk dirinya sarapan.

Di tengah perjalanan menuju dapur, Sagara berpapasan dengan seorang pelayan. Brigita, pelayan itu baru saja hendak menuju kamar sang tuan muda, akan tetapi dikejutkan karena malah berpapasan dengan Sagara di perjalanannya. Dia pun tampak terkejut lalu menyapa Sagara dengan tersenyum ramah. “Tuan Sagara, kebetulan sekali. Saya baru saja akan mengabarkan kepada Anda bahwa sarapan sudah siap di meja makan.”

Sagara, yang sedikit belum sepenuhnya sadar, mengangguk dan menjawab, “Oh, terima kasih, Brigita... kan? Bisa tunjukkan padaku jalan ke ruang makan? Aku masih belum sepenuhnya hapal bagian dalam rumah ini.”

Brigita mengangguk dan tersenyum lembut. “Tentu saja, Tuan. Silakan ikuti saya.”

Dengan langkah tenang, Sagara mengikuti Brigita menuju ruang makan, dan di sepanjang perjalanan, ia tak henti-hentinya meresapi atmosfer rumah tua ini yang terasa asing sekaligus familiar.

Sesampainya di ruang makan, Sagara terkejut melihat deretan hidangan yang tersaji di atas meja. Berbagai jenis makanan—dari roti segar, telur, hingga buah-buahan eksotis—tersusun rapi, seolah menyambut kedatangannya dengan penuh kemewahan.

"Wah!" gumam Sagara, matanya berbinar saat melihat hidangan tersebut. Dia sempat kehilangan ketenangannya, tapi dia buru-buru bersikap tenang untuk menjaga sikapnya sebagai bentuk pelatihannya selama ini.

Sagara segera duduk di kursi yang telah disediakan, kemudian dia membentangkan serbet di pangkuannya dan mulai membenarkan posisinya duduk. Dengan rasa lapar yang menggelitik, ia mulai menyantap makanan yang telah tersaji di atas meja panjang.

Namun, di tengah menikmati makanannya, Sagara tiba-tiba baru menyadari bahwa para pelayan, termasuk Emma, berdiri di sampingnya, membantu mengambilkan makanan yang tidak terjangkau, dan memperhatikan sang tuan menyantap makanan dengan penuh hormat. Awalnya, Sagara berniat untuk mengajak mereka duduk dan makan bersama, tetapi ia ingat pelajaran dari Rose di dunia sihir tentang bagaimana seorang bangsawan atau pemimpin keluarga harus bersikap. Sagara menarik napas dalam-dalam, menenangkan niatannya. Sagara benar-benar mulai menyadari bahwa dirinya telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi lebih elegan dan kharismatik, seperti orang-orang yang berasal dari kalangan atas.

Setelah selesai makan, Sagara meletakkan sendoknya dan menoleh kepada Emma yang berdiri di sampingnya.

"Emma, bagaimana kalian bisa menyiapkan semua ini? Bukankah semua aset kakekku sudah disumbangkan ke yayasan sosial?"

Emma tampak terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan penuh rasa hormat, “Kami... menyiapkan ini dengan uang kami sendiri, Tuan Muda. Para pekerja di mansion ini bekerjasama untuk menyiapkannya, sebagai bentuk salam penyambutan bagi kedatangan Anda.”

Sagara pun tertegun. Hatinya tersentuh oleh ketulusan para pelayan yang tetap setia kepada keluarga Adyatama meski keadaan kini sudah berubah. Padahal kemarin Sagara telah menunjukan sisi dirinya yang tidak kompeten dan berniat menjual kediaman ini, akan tetapi para pekerja ini masih mempercayai dan bersikap baik seperti ini padanya. Sagara merasa dirinya semakin bertanggung jawab atas mereka, dan kini, baik keluarga Morgans maupun keluarga Adyatama ada di pundaknya.

Dengan penuh kesungguhan, Sagara menatap Emma dan berkata, “Terima kasih, Emma. Terima kasih untuk semuanya. Sebenarnya, aku ingin membicarakan sesuatu mengenai keputusan yang telah aku ambil mengenai kelanjutan warisan bangunan ini. Aku akan menitipkan kabar ini kepada kalian yang hadir di ruangan ini untuk selanjutnya disampaikan kepada pekerja lainnya."

"Jadi... aku telah memutuskan untuk tidak jadi menjual kediaman ini. Aku akan berusaha mempertahankan kalian semua di sini. Aku juga akan melanjutkan bisnis kakekku.”

Seketika, wajah Emma tampak cerah dan penuh rasa syukur. Pelayan-pelayan lainnya yang berdiri di sekeliling ruangan pun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Hati mereka berdebar kencang setelah sebelumnya sempat khawatir kalau sang tuan muda berniat menjual bangunan ini. Mereka sungguh bersyukur. Beberapa dari mereka bahkan hampir kehilangan ketenangannya, menjerit, dan saling berpelukan, tetapi Emma yang menyadarinya segera mengoreksi para pelayan yang ribut dengan senyuman di wajahnya.

“Tenanglah, semuanya. Tuan Muda sedang berbicara,” kata Emma lembut, meskipun ia sendiri tampak sangat senang.

Sagara berdiri dari kursinya, merasa lega dan puas dengan keputusannya. Dia merapikan pakaiannya dan hendak kembali ke kamarnya untuk bersiap. Namun, sebelum ia meninggalkan ruangan makan, ia berbalik ke arah Emma.

“Emma, tolong pesankan taksi untukku. Aku perlu berpergian ke luar hari ini,” katanya singkat.

Emma menundukkan kepala, “Baik, Tuan Muda. Saya akan segera mengaturnya.”

Meskipun Emma tidak tahu tujuan pasti Sagara, ia merasakan ada sesuatu yang familiar dengan sikap dan aura yang ditunjukkan oleh tuan mudanya itu. Dia merasakan nostalgia. Sesuatu yang mengingatkannya pada masa-masa ketika ia masih melayani Miles. Seakan terasa kembalinya determinasi, kesungguhan, dan harapan baru yang mengalir di udara. Emma merasa bersyukur karena keluarga Adyatama kini kembali memiliki seorang penerus yang siap membawa nama keluarga itu menuju kejayaan kembali.

Episodes
1 Chapter 1 : Rumah Warisan Kakek
2 Chapter 2 : Masa Lalu Keluarga
3 Chapter 3 : Rencana Melunasi Hutang
4 Chapter 4 : Kediaman Adyatama
5 Chapter 5 : Rahasia Peninggalan Kakek
6 Chapter 6 : Menyebrang Ke Dunia Lain
7 Chapter 7 : Hilangnya Jejak Kejayaan
8 Chapter 8 : Membangkitkan Keluarga Morgans
9 Chapter 9 : Rencana Memulihkan Bisnis Keluarga
10 Chapter 10 : Dunia Sihir
11 Chapter 11 : Tetap Dalam Rencana
12 Chapter 12 : Kembali Dari Celah Dimensi
13 Chapter 13 : Menemui Teman Lama
14 Chapter 14 : Wanita Cantik Yang Misterius
15 Chapter 15 : Pelelangan Barang Dunia Lain
16 Chapter 16 : Bertemu Dengan Putri Sombong
17 Chapter 17 : Terlahir Kembali Menjadi Kaya
18 Chapter 18 : Perayaan Di Kediaman Adyatama
19 Chapter 19 : Pergi Berburu Mobil
20 Chapter 20 : Pertemuan Kedua
21 Chapter 21 : Kemunculan Tamu Yang Tidak Diinginkan
22 Chapter 22 : Alasan Yang Berdasar
23 Chapter 23 : Meninggalkan Jejak Masa Lalu
24 Chapter 24 : Menyelinap Di Malam Hari
25 Chapter 25 : Prajurit Berparas Tampan
26 Chapter 26 : Pasukan Keluarga Morgans
27 Chapter 27 : Kombinasi Sihir Cahaya dan Kegelapan
28 Chapter 28 : Undangan Pesta Dansa
29 Chapter 29 : Menargetkan atau Ditargetkan
30 Chapter 30 : Bukan Sekedar Hiburan
31 Chapter 31 : Kesempatan
32 Chapter 32 : Kemunculan Sosok Yang Tak Disangka-sangka
33 Chapter 33 : Patah Hati Untuk Pertama Kali
34 Chapter 34 : Professor Elias
35 Chapter 35 : Sulit Untuk Melupakan
36 Chapter 36 : Kunjungan Pendeta dan Sihir Penyembuhan
37 Chapter 37 : Penyergapan Yang Direncanakan
38 Chapter 38 : Mantan Prajurit Bayaran
39 Chapter 39 : Pertempuran Berdarah
40 Chapter 40 : Hilangnya Jejak Fransiskus Dan Diego
41 Chapter 41 : Menyerobot Antrian
42 Chapter 42 : Pelanggan Yang Menyebalkan
43 Chapter 43 : Keberhasilan Pembukaan Toko
44 Chapter 44 : Hari Pelelangan
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Chapter 1 : Rumah Warisan Kakek
2
Chapter 2 : Masa Lalu Keluarga
3
Chapter 3 : Rencana Melunasi Hutang
4
Chapter 4 : Kediaman Adyatama
5
Chapter 5 : Rahasia Peninggalan Kakek
6
Chapter 6 : Menyebrang Ke Dunia Lain
7
Chapter 7 : Hilangnya Jejak Kejayaan
8
Chapter 8 : Membangkitkan Keluarga Morgans
9
Chapter 9 : Rencana Memulihkan Bisnis Keluarga
10
Chapter 10 : Dunia Sihir
11
Chapter 11 : Tetap Dalam Rencana
12
Chapter 12 : Kembali Dari Celah Dimensi
13
Chapter 13 : Menemui Teman Lama
14
Chapter 14 : Wanita Cantik Yang Misterius
15
Chapter 15 : Pelelangan Barang Dunia Lain
16
Chapter 16 : Bertemu Dengan Putri Sombong
17
Chapter 17 : Terlahir Kembali Menjadi Kaya
18
Chapter 18 : Perayaan Di Kediaman Adyatama
19
Chapter 19 : Pergi Berburu Mobil
20
Chapter 20 : Pertemuan Kedua
21
Chapter 21 : Kemunculan Tamu Yang Tidak Diinginkan
22
Chapter 22 : Alasan Yang Berdasar
23
Chapter 23 : Meninggalkan Jejak Masa Lalu
24
Chapter 24 : Menyelinap Di Malam Hari
25
Chapter 25 : Prajurit Berparas Tampan
26
Chapter 26 : Pasukan Keluarga Morgans
27
Chapter 27 : Kombinasi Sihir Cahaya dan Kegelapan
28
Chapter 28 : Undangan Pesta Dansa
29
Chapter 29 : Menargetkan atau Ditargetkan
30
Chapter 30 : Bukan Sekedar Hiburan
31
Chapter 31 : Kesempatan
32
Chapter 32 : Kemunculan Sosok Yang Tak Disangka-sangka
33
Chapter 33 : Patah Hati Untuk Pertama Kali
34
Chapter 34 : Professor Elias
35
Chapter 35 : Sulit Untuk Melupakan
36
Chapter 36 : Kunjungan Pendeta dan Sihir Penyembuhan
37
Chapter 37 : Penyergapan Yang Direncanakan
38
Chapter 38 : Mantan Prajurit Bayaran
39
Chapter 39 : Pertempuran Berdarah
40
Chapter 40 : Hilangnya Jejak Fransiskus Dan Diego
41
Chapter 41 : Menyerobot Antrian
42
Chapter 42 : Pelanggan Yang Menyebalkan
43
Chapter 43 : Keberhasilan Pembukaan Toko
44
Chapter 44 : Hari Pelelangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!