Chapter 11 : Tetap Dalam Rencana

Setelah selesai berbicara dengan Sagara, Fransiskus melangkah keluar dari ruangan dengan pikiran yang sibuk. Langit di luar tampak mulai meredup, tetapi sinar matahari yang tersisa masih memantulkan kilauan keemasan di atas daun-daun pohon. Fransiskus menuju ke bangunan pelayan di bagian belakang mansion, tempat Maho, sang kusir keluarga Morgans, biasa beristirahat.

Saat Fransiskus tiba, Maho tengah sibuk memeriksa keadaan kuda-kuda di kandang. Pria itu, dengan tangan kokohnya yang terbiasa memegang kendali kereta, memberikan perhatian penuh kepada setiap ekor kuda seolah mereka adalah sahabat lama.

“Maho,” panggil Fransiskus dengan nada tenang namun tegas.

Maho segera mengangkat wajahnya, menatap Fransiskus dengan tatapan penuh hormat. “Ya, Tuan Fransiskus? Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya butuh bantuanmu untuk mendapatkan bola sihir dari serikat pedagang,” jawab Fransiskus, suaranya lembut namun penuh otoritas. “Bola sihir ini diperlukan untuk melakukan tes afinitas elemen pada Tuan Muda. Kamu bisa membelinya dengan harga terjangkau jika menunjukkan token anggota serikat. Saya akan memberikan token itu kepadamu untuk diperlihatkan.”

Maho mengangguk dengan mantap. “Tentu, Tuan Fransiskus. Saya akan segera ke sana dan memastikan bola sihir itu ada di tangan Anda sebelum malam tiba.”

Fransiskus menyerahkan token yang disimpan di dalam saku jubahnya. “Ingat, jangan menarik perhatian banyak orang. Kita ingin ini tetap rahasia sampai Tuan Muda siap.”

“Dimengerti, Tuan,” jawab Maho sambil menerima token tersebut. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera mempersiapkan kereta dan kuda, lalu melesat menuju ibu kota untuk menjalankan tugasnya.

Hari-hari di mansion keluarga Morgans perlahan-lahan mulai berubah. Di bawah bimbingan Rose, Sagara kini menjalani rutinitasnya dengan menanamkan nilai-nilai keanggunan seorang bangsawan dalam setiap gerak dan tutur katanya. Rose, dengan pengalaman bertahun-tahun, sabar mengajarkan Sagara tentang tata krama, mulai dari cara berbicara dengan sesama bangsawan, etiket di meja makan, hingga cara berjalan dengan penuh wibawa. Sebetulnya, tugas seperti ini tidak seharusnya dilakukan oleh seorang ketua pelayan keluarga, akan tetapi Sagara tidak mempermasalahkannya demi efisiensi.

Di pagi hari, di dalam ruang utama mansion yang megah, Rose akan mengajari Sagara bagaimana caranya menyapa tamu dengan anggun. “Ingat, Tuan Muda,” kata Rose, suaranya lembut namun penuh kewibawaan, “saat menyapa tamu, pandang mereka dengan mata yang menunjukkan rasa hormat namun tidak berlebihan. Berikan salam dengan sedikit menunduk, tetapi pastikan postur Anda tetap tegap.”

Sagara mengikuti instruksi Rose dengan seksama. Dia mengulang setiap gerakan beberapa kali, dan setiap kali, Rose memberikan koreksi atau pujian yang tepat. “Bagus sekali, Tuan Muda. Dengan sikap seperti itu, Anda akan segera dipandang sebagai seorang bangsawan sejati.”

Selain pelajaran dari Rose, Sagara juga mulai mendapatkan pelatihan dari para prajurit keluarga Morgans, Max dan Hendrikus. Pelatihan itu dimulainya setelah mendapat pengajaran dari Rose di pagi hari Meskipun hanya latihan sederhana, akan tetapi dapat membantu Sagara memahami dasar-dasar pertahanan diri dan strategi militer. Di halaman belakang mansion, Max dengan penuh perhatian menunjukkan bagaimana cara mengayunkan pedang dengan kekuatan dan presisi.

“Ketika Anda mengayunkan pedang, Tuan Muda,” kata Max sambil menunjukkan gerakan dasar, “fokuskan kekuatan pada titik serangan. Ini bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga ketepatan dan kecepatan.”

Sagara mencoba mengikuti, dan meskipun gerakannya masih canggung, Max tersenyum dan memberikan dorongan. “Tidak buruk untuk pemula, Tuan Muda. Latihan dan ketekunan akan membuat Anda lebih baik.”

Sementara itu, Fransiskus dan pekerja lainnya telah bekerja keras membantu Sagara dalam berbagai hal untuk menghidupkan kembali bisnis keluarga Morgans. Dalam waktu satu minggu, Laya, salah satu pelayan yang setia, berhasil membeli sebuah bangunan di sudut ibu kota sesuai instruksi dari Rose. Kabar itu datang dari surat Laya yang telah tiba dan diterima oleh Rose. Kemudian Rose dengan segera menyampaikannya kepada Sagara. Di dalam ruang kerja, Sagara membaca surat tersebut dengan penuh perhatian, dan senyumnya mengembang saat ia menyadari bahwa langkah pertama dalam rencana bisnisnya telah berjalan dengan baik.

“Rose,” kata Sagara dengan nada penuh rasa syukur, “Terima kasih atas bantuannya. Berkatmu, saya bisa mendengar berita yang sangat baik ini.”

Rose, yang berdiri di sampingnya, membalas dengan senyum hangat. “Ini hanyalah permulaan, Tuan Muda. Dengan ini, kita bisa mulai memikirkan bagaimana menghidupkan kembali bisnis keluarga Morgans.”

Fransiskus, yang juga hadir di ruangan itu, kemudian menyarankan, “Tuan Muda, jika saya boleh menambahkan, sekarang adalah waktu yang tepat mempertimbangkan untuk kembali ke dunia asal Anda, saat ini kita perlu mendapatkan barang-barang yang bisa dijual di dunia ini. Saya akan membantu Anda memilih artefak dan barang antik dari dunia ini yang memiliki nilai tinggi di dunia asal Anda. Dengan begitu Anda juga akan mendapatkan dana untuk digunakan selama berada di dunia asal Anda. Saya dapat mengambil sedikit anggaran dari pembendaharaan kas keluarga, jika Tuan mengizinkannya.”

Sagara berpikir sejenak sebelum mengangguk. “Itu rencana yang bagus! Aku akan membutuhkan uang untuk membeli barang-barang dari dunia modern, jadi membawa barang dari sini untuk dijual di sana adalah langkah yang tepat.”

Rencana pun telah dibuat dan tibalah keesokan harinya, setelah semua persiapan selesai, Sagara berdiri di depan portal yang akan membawanya kembali ke dunia asalnya. Dia menatap Fransiskus yang berdiri di sampingnya, dengan perasaan campur aduk di dalam hatinya.

“Fransiskus,” kata Sagara perlahan, “Aku ingin kamu tetap di sini untuk mengurus keluarga Morgans selama aku pergi. Aku khawatir jika kita berdua pergi, keadaan akan menjadi tidak terkendali seperti sebelumnya.”

Fransiskus terdiam sejenak, jelas merasa berat dengan keputusan ini. Namun, dia tidak bisa membantah permintaan Sagara. “Baiklah, Tuan Muda. Saya akan melakukan yang terbaik untuk memastikan keluarga Morgans tetap aman dan berjalan lancar selama Anda pergi. Namun, izinkan saya mengingatkan bahwa saya akan selalu siap membantu Anda, kapan pun Anda membutuhkannya.”

“Terima kasih, Fransiskus. Aku menjadi lebih lega karena tahu keluarga ini akan aku titipkan di tangan yang tepat.” Sagara tersenyum, meskipun ada sedikit keraguan yang mengganjal di dalam hatinya. Dengan langkah mantap, Sagara memasuki portal, siap untuk kembali ke dunia asalnya. Sementara Fransiskus berdiri di belakangnya sembari mengharapkan keselamatan dan keberhasilan tuan mudanya itu.

Episodes
1 Chapter 1 : Rumah Warisan Kakek
2 Chapter 2 : Masa Lalu Keluarga
3 Chapter 3 : Rencana Melunasi Hutang
4 Chapter 4 : Kediaman Adyatama
5 Chapter 5 : Rahasia Peninggalan Kakek
6 Chapter 6 : Menyebrang Ke Dunia Lain
7 Chapter 7 : Hilangnya Jejak Kejayaan
8 Chapter 8 : Membangkitkan Keluarga Morgans
9 Chapter 9 : Rencana Memulihkan Bisnis Keluarga
10 Chapter 10 : Dunia Sihir
11 Chapter 11 : Tetap Dalam Rencana
12 Chapter 12 : Kembali Dari Celah Dimensi
13 Chapter 13 : Menemui Teman Lama
14 Chapter 14 : Wanita Cantik Yang Misterius
15 Chapter 15 : Pelelangan Barang Dunia Lain
16 Chapter 16 : Bertemu Dengan Putri Sombong
17 Chapter 17 : Terlahir Kembali Menjadi Kaya
18 Chapter 18 : Perayaan Di Kediaman Adyatama
19 Chapter 19 : Pergi Berburu Mobil
20 Chapter 20 : Pertemuan Kedua
21 Chapter 21 : Kemunculan Tamu Yang Tidak Diinginkan
22 Chapter 22 : Alasan Yang Berdasar
23 Chapter 23 : Meninggalkan Jejak Masa Lalu
24 Chapter 24 : Menyelinap Di Malam Hari
25 Chapter 25 : Prajurit Berparas Tampan
26 Chapter 26 : Pasukan Keluarga Morgans
27 Chapter 27 : Kombinasi Sihir Cahaya dan Kegelapan
28 Chapter 28 : Undangan Pesta Dansa
29 Chapter 29 : Menargetkan atau Ditargetkan
30 Chapter 30 : Bukan Sekedar Hiburan
31 Chapter 31 : Kesempatan
32 Chapter 32 : Kemunculan Sosok Yang Tak Disangka-sangka
33 Chapter 33 : Patah Hati Untuk Pertama Kali
34 Chapter 34 : Professor Elias
35 Chapter 35 : Sulit Untuk Melupakan
36 Chapter 36 : Kunjungan Pendeta dan Sihir Penyembuhan
37 Chapter 37 : Penyergapan Yang Direncanakan
38 Chapter 38 : Mantan Prajurit Bayaran
39 Chapter 39 : Pertempuran Berdarah
40 Chapter 40 : Hilangnya Jejak Fransiskus Dan Diego
41 Chapter 41 : Menyerobot Antrian
42 Chapter 42 : Pelanggan Yang Menyebalkan
43 Chapter 43 : Keberhasilan Pembukaan Toko
44 Chapter 44 : Hari Pelelangan
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Chapter 1 : Rumah Warisan Kakek
2
Chapter 2 : Masa Lalu Keluarga
3
Chapter 3 : Rencana Melunasi Hutang
4
Chapter 4 : Kediaman Adyatama
5
Chapter 5 : Rahasia Peninggalan Kakek
6
Chapter 6 : Menyebrang Ke Dunia Lain
7
Chapter 7 : Hilangnya Jejak Kejayaan
8
Chapter 8 : Membangkitkan Keluarga Morgans
9
Chapter 9 : Rencana Memulihkan Bisnis Keluarga
10
Chapter 10 : Dunia Sihir
11
Chapter 11 : Tetap Dalam Rencana
12
Chapter 12 : Kembali Dari Celah Dimensi
13
Chapter 13 : Menemui Teman Lama
14
Chapter 14 : Wanita Cantik Yang Misterius
15
Chapter 15 : Pelelangan Barang Dunia Lain
16
Chapter 16 : Bertemu Dengan Putri Sombong
17
Chapter 17 : Terlahir Kembali Menjadi Kaya
18
Chapter 18 : Perayaan Di Kediaman Adyatama
19
Chapter 19 : Pergi Berburu Mobil
20
Chapter 20 : Pertemuan Kedua
21
Chapter 21 : Kemunculan Tamu Yang Tidak Diinginkan
22
Chapter 22 : Alasan Yang Berdasar
23
Chapter 23 : Meninggalkan Jejak Masa Lalu
24
Chapter 24 : Menyelinap Di Malam Hari
25
Chapter 25 : Prajurit Berparas Tampan
26
Chapter 26 : Pasukan Keluarga Morgans
27
Chapter 27 : Kombinasi Sihir Cahaya dan Kegelapan
28
Chapter 28 : Undangan Pesta Dansa
29
Chapter 29 : Menargetkan atau Ditargetkan
30
Chapter 30 : Bukan Sekedar Hiburan
31
Chapter 31 : Kesempatan
32
Chapter 32 : Kemunculan Sosok Yang Tak Disangka-sangka
33
Chapter 33 : Patah Hati Untuk Pertama Kali
34
Chapter 34 : Professor Elias
35
Chapter 35 : Sulit Untuk Melupakan
36
Chapter 36 : Kunjungan Pendeta dan Sihir Penyembuhan
37
Chapter 37 : Penyergapan Yang Direncanakan
38
Chapter 38 : Mantan Prajurit Bayaran
39
Chapter 39 : Pertempuran Berdarah
40
Chapter 40 : Hilangnya Jejak Fransiskus Dan Diego
41
Chapter 41 : Menyerobot Antrian
42
Chapter 42 : Pelanggan Yang Menyebalkan
43
Chapter 43 : Keberhasilan Pembukaan Toko
44
Chapter 44 : Hari Pelelangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!