BAB 19
Kejadian kemarin di restoran tempat dimana Annisa bekerja, memang sedikit mengagetkan para karyawan.Sempat Annisa berpikir, apa hubungan wanita itu dan Salamah.Annisa pun kemarin juga di panggil ke ruangan mas Miko selalu owner restoran tersebut.Disana barulah Annisa tahu bahwa Salamah dan wanita itu adalah sepupu.Wanita itu bernama Maya, dulu dia sempat bekerja di cabang restoran milik temannya mas Miko,tapi karena dia ketahuan mencuri uang kasir, akhirnya dia di pecat.Dan yang mengetahui bahwa dia mencuri adalah Miko, ya mas Miko mengetahuinya melihat lewat CCTV. Dan ya.. mungkin dia dendam, dan sengaja ingin menghancurkan bisnis yang di bangun Miko saat ini.Dan Salamah, dia di suruh Maya untuk sengaja meninggalkan dompetnya di sana,dengan alasan tertinggal.Maya sengaja merekam diam-diam kejadian waktu Annisa menemukan dompet itu dan mengambilnya,mungkin biar bisa di katakan mencuri.Dengan rekaman itu, Mata bisa mem viralkan bahwa restoran tersebut tidak layak beroperasi, dan berujung bangkrut.Tapi rencana itu gagal, karena Salamah datang kembali dan mengambil dompetnya.Dari situ Annisa tahu bahwa Salamah hanya di manfaatkan, tapi sekarang ceritanya berbeda, Salamah sangat ingin bertemu Gus Rasya.Apa yang harus Annisa lakukan saat ini, dia sungguh bingung. Apakah dia harus mengikhlaskan semuanya, sama seperti yang ibunya katakan tadi sebelum ia berangkat?.Ya.. mungkin.. mungkin memang harus seperti itu,ia harus bisa menempatkan diri, jika memang dia dan Gus Rasya berjodoh, maka pastinya akan bersatu. Tapi jika sebaliknya maka dia harus ikhlas, karena dia sudah tahu konsekuensi yang harus di hadapi.
"ASTAGFIRULLAHALAZIM....APA-APAAN INI SALAMAH?"
Suara ustadz Syahroni menggema di salah satu ruangan rumah tempat tinggal ustadz Syahroni dan keluarganya. Ustadz Syahroni adalah kakak dari Salamah,sedangkan ayah ibunya sudah meninggal.Mereka tinggal di bogor untuk saat ini, karena mereka di amanah kan untuk mengurus sebuah Madrasah.Ustadz Syahroni terkejut setelah melihat rekaman video di Hp miliknya, setelah beberapa saat lalu ada notifikasi dari seseorang.Ya Ning Risa mengirimkan rekaman tersebut ke kakaknya Salamah.
"A... ada apa kak, ke.. kenapa kakak sampe marah seperti ini?"
Salamah yang masih bingung pun mendekati kakaknya.
"Lihat... kamu lihat.. apa yang sudah kamu lakukan di pesantren Al Jannah?"
Ustadz Syahroni memberikan HP itu dan memperlihatkan rekaman yang ada.Salamahpun menerimanya dan melihat rekaman apa yang sampai bisa membuat kakaknya marah.
"I... ini.. ini.."
Salamah terkejut bukan main, ternyata itu adalah rekaman dirinya saat ia menyatakan dirinya mau bertemu dengan Gus Rasya.Dan yang lebih parahnya lagi di rekaman itu dia menunjukan sedang berputar-putar untuk memperlihatkan bahwa dia sudah berubah dengan memakai pakaian syar'i.
"MEMALUKAN..!!!"
"Kak... aku bisa jelasin"
"Mau menjelaskan seperti apalagi ha?"
"Kak.. aku mencintai Gus Rasya, dan aku tidak mau kehilangannya"
"Sudah gila kamu, kamu tahu, kakak sangat menghormatinya, bahkan keluarga Gus Rasya sudah kakak anggap seperti keluarga kakak sendiri,tapi sekarang... semuanya sudah kamu rusak,PUAS KAMU"
"Kak... aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan, apa aku salah?"
"Kamu masih bisa bertanya seperti itu?lihat dirimu, apa kamu tidak punya rasa malu? dimana harkat dan martabat seorang perempuan jika dia sengaja memperlihatkan dirinya kepada lawan jenis, untung saja rekaman ini hanya di kirim ke saya, bagaimana kalau Gus Rasya sampai melihatnya,bukannya dia senang yang ada dia akan merasa jijik dengan apa yang kamu lakukan, dan tentunya kakak akan merasa sangat malu, pernah... kamu berpikir seperti itu?"
"Kak... please jangan bicara seperti itu,itu sangat menyakitkan"
"Lalu bagaimana dengan perasaan keluarganya, ummi, abbah dan Ning Risa? kamu memikirkannya?tidak kan?"
Salamah menyeka air matanya yang terus mengalir, tak pernah ia lihat kakaknya bisa semarah ini.Salamah terus membatin kenapa Ning Risa malah mengirim rekaman dirinya itu ke kakaknya, nanti dia harus menanyakan hal ini.
"Kenapa kamu diam?kamu sedang memikirkan apa? apa kamu berpikir kenapa rekaman ini bisa sampai ke kakak?"
Ustadz Syahroni tersenyum smirk, Salamah sungguh tak menyangka kakaknya bisa menebak isi pikirannya saat ini.
"Ya.. kamu benar, Ning Risa yang mengirimnya, apa kamu mau membuat perhitungan dengannya? ternyata otak kamu itu tidak lebih pintar dari yang kakak kira, Ning Risa memang lebih dari kamu,yaa.. walaupun dengan kekonyolannya"
"Apa yang kakak katakan, aku ini adik kakak, kenapa membela orang lain?"
"Karena kamu itu bodoh Salamah, kamu bodoh dalam segala hal, contoh nya yang saat ini sedang terjadi,mau taruh dimana muka kakak,"
"Kakak tega ngomong kaya gitu ke aku?"
"Yaaa.. kakak akan tega, sampai kamu sadar bahwa sampai kapanpun Gus rasya tidak akan jadi milikmu"
"KAKKKK... CUKUP.. HENTIKAN,!!!.. aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang aku mau"
"Memangnya kamu siapa bisa bicara seperti itu,lagian kakak mendengar bahwa dia akan menikahi gadis setelah dia pulang nanti"
"Kakak tahu kalau Gus Rasya pergi? tolong kasih tahu aku kak, kemana Gus Rasya pergi.. aku mohon, sekali ini saja, aku 8ngin bertemu dengannya, dan Annisa... dia adalah wanita yang akan dinikahi Gus Rasya, ya wanita itu, sampai kapanpun akan aku halangi dia"
"Annisa?..., ya Rasya memang pernah mengatakan bahwa dia adalah wanita yang akan di nikahi nya, tapi apa kamu tidak tahu bahasa saingan kamu bukan hanya Annisa?"
"Apa ada yang lainnya?"
"Zulaikha, anak dari kyai Abdulah,... "
"A.. apa.. Ning Zula?"
"Ya... kamu siap bersaing dengannya?karena kakak dengar dia sama gilanya dengan mu"
"Kak.. aku gak gila"
"Kamu gila Salamah, kamu sudah terobsesi dengan seseorang yang sulit kamu gapai,sadarlah Salamah, sekuat apapun kamu berusaha, kamu tidak akan bisa"
"Jangan pernah berbicara seperti itu kak,akan aku buktikan ke kakak, bahwa aku bisa mendapatkan Gus Rasya"
Salamah pun berlalu dari hadapan kakaknya, Ustadz Syahroni menyugar rambutnya kebelakang, ia stress melihat kelakuan adiknya,dia menyesal dulu pernah mengenalkannya pada Gus Rasya.Sebenarnya dia sudah mengetahui, bahwa sudah sejak lama adiknya itu menyukai Gus Rasya, tapi dia tidak mau terburu-buru menyimpulkan.Dan sekaranglah dia yakin rasa suka itu berubah menjadi sebuah obsesi.Ustadz Syahroni takut nanti adiknya akan menjadi gila karena obsesinya itu. Ia butuh seseorang untuk membantunya. Ia meraih HPnya dan mulai menekan nomer yang di tujunya.
"Halo.. assalamu'alaikum.. apa besok bisa bertemu?hem... besok aku yang akan kesana menemuimu, aku butuh saran darimu,hem.. baiklah tunggu aku besok"
Setelah selesai ia mematikan teleponnya, ia beranjak dari ruangan itu ke suatu tempat. Entah siapa yang baru di telponnya barusan.
Sedang Salamah di kamar, ia memikirkan bagaimana cara membuat Gus Rasya itu memilih dirinya, ia kesal karena belum mendapatkan jawaban dimana Gus Rasya berada,Annisa dan Ning Zulaikha, dua wanita itu adalah saingannya. Dia memperhitungkan pada siapa dulu yang harus dia kasih peringatan,Kalau ke Annisa, dia tidak ada nomer nya, dan harus datang menemuinya langsung,jika ke Ning Zulaikha, dia anak seorang Kyai besar, tentu sangat berat dan bukan tidak mungkin dia akan kalah telak. Saat Salamah sedang berpikir,sering HP nya berbunyi. Dia meraih HPnya dan melihat siapa yang menelponnya.
"Kak Maya?"
Ia bingung mau jawab atau tidak, karena dia sudah mengecewakan nya tempo hari, ia menggagalkan rencana yang di buat Maya untuk menjebak karyawan di sebuah restoran. Sudah bagus owner restoran tersebut tidak melaporkannya ke polisi, tapi Maya semakin tak Terima apa yang telah terjadi kepadanya. Gara-gara owner itu dia kehilangan pekerjaannya, saat itu Salamah merasa dirinya di manfaatkan, kini harus seperti apa lagi. Ia tidak berani mengatakan hal ini kepada kakaknya, karena dia di ancam oleh Maya,dia mengancam akan menyebarkan aib Salamah yang hanya di ketahui Salamah dan Maya. Sudah beberapa kali Hpnya berbunyi dan mati sendiri.Dan dengan sangat terpaksa Salamah menggeser tombol hijau.
"Ass... assalamu'alaikum, kak.. Maya"
"DASAR BODOH... KEMANA SAJA KAMU HAH"
"Ma... maaf kak, aku dari kamar mandi"
"JANGAN BOHONG, AKU TAHU KAMU HANYA MENCARI ALASAN, APA KAMU LUPA, AKU TIDAK SEGAN-SEGAN AKAN MENYEBARKAN AIBMU ITU KE MEDIA SOSIAL, BIAR SEMUA ORANG TAHU TENTANG KEBURUKANMU DI MASA LALU"
"Ja.. jangan kak, aku minta maaf"
"DENGARKAN AKU BAIK-BAIK, BESOK KITA HARUS BERTEMU UNTUK MEMBAHAS RENCANA KITA SELANJUTNYA"
"Rencana apa lagi kak,aku capek, jangan memanfaatkan aku terus, aku juga punya urusan sendiri"
"JANGAN MEMBUANG WAKTUKU SALAMAH, INGAT KATU AS MU ADA DI TANGANKU, DAN UNTUK URUSAN MU KITA PIKIRKAN LAGI NANTI,APA KAU TIDAK PERNAH BERPIKIR, MANUSIA SE HINA KAMU INGIN BERSANDING DENGAN PRIA YANG PAHAM AGAMA? KALAU AKU JADI KAMU, AKAU AKAN JIJIK PADA DIRIKU SENDIRI, DAN MUNGKIN AKU AKAN BUNUH DIRI"
"Astagfirullahalazim... kak... bunuh diri itu dosa!!! "
"JANGAN PERNAH MENGAJARI APA ITU DOSA SALAMAH, BAHKAN DIRIMU PUN TAK LUPUT DARI DOSA, KAMU LEBIH MENJIJIKAN DARI KU"
"Cukup kak.. cukup aku tak mau mendengarnya lagi"
"BESOK KITA HARUS BERTEMU, TEMPAT DAN WAKTU NANTI AKU KIRIM KE KAMU, AWAS KALAU KAMU TIDAK DATANG, AKAN AKU PASTIKAN KAKAK KESAYANGANMU ITU MENGETAHUINYA LEBIH DULU TENTANGMU"
Sambungan telepon itu di matikan secara sepihak oleh Maya. Salamah menangis di kamarnya, dia tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Ia harus berbuat sesuatu, ya dia harus lepas dari Maya, dia tidak mau di manfaatkan lagi. Apalagi kata-katanya yang sangat menyakitkan, dirinya memang punya kesalahan,tapi apakah dirinya se menjijikkan itu. Dia merasa masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri jika bisa bersanding dengan Gus Rasya. Yaa.. hanya Gus Rasya satu-satunya orang yang dia yakini bisa membantunya, tapi kini dia tidak tahu dimana Gus Rasya berada.
Pagi itu, ustadz Syahroni pergi ke stasiun untuk menemui seseorang yang kemarin sempat ia telfon.Dia berharap orang ini bisa membantunya, karena hanya dia yang mungkin saat ini bisa membantu. Setelah tiba di kota tujuan dia langsung menuju lokasi yang telah di janjikan,ia duduk di cafe dan memesan kopi, sambil menunggu peasannya datang dia menelfon seseorang.
"Assalamu'alaikum... aku sudah di lokasi.. hemm aku tunggu"
"Maaf pesanan anda "
"Ah... ya Terima kasih"
Kemudian ia menyesap kopi tersebut,rasa yang sama, dan pemandangan yang masih sama juga, tentunya sebentar lagi ia juga akan bertemu orang yang sama.Perasaan itu masih ada di dalam hatinya, bahkan ia sampai rela menolak beberapa ustadzah yang mendekatinya, ya orang yang mau di temui nya adalah seorang perempuan.
"Syahroni?"
Seorang perempuan menghampiri ustadz Syahroni yang sedang duduk sendirian dengan kopinya.
"Assalamu'alaikum... kamu Maya?"
"Hahahhaha... assalamu'alaikum ustadz Syahroni... kamu dari dulu tidak berubah ternyata, masih alim ya"
"Wa'alaikumussalam.... aku selalu seperti ini dan tidak berubah"
"Yayaya.. aku tahu,sendirian?"
"Aku sedang menunggu seseorang"
"Perempuan?"
"Ya... bisa jadi"
"Ini yang aku sukai dari mu, kamu misterius"
"Semuanya tergantung orang yang memandangku,kamu mau bertemu seseorang?"
"Ya... adikmu"
"Salamah?"
"That's right"
"Ada perlu apa kamu ingin bertemu dengannya"
"Sebenernya kami sering bertemu dan mengobrol banyak hal, hari ini aku ingin mendiskusikan suatu hal yang sangat penting bagiku, tapi bisa jadi gak terlalu penting buatnya"
"Jangan memanfaatkan adiku Maya"
"Aku tidak pernah memanfaatkan adikmu, justru adikmu lah yang butuh bantuan ku"
"Bantuan apa maksudmu?"
"Aku tahu adikmu sedang tergila-gila dengan seorang pria yang bernama Rasya bukan?dia minta bantuan ku untuk... "
"Untuk apa?... cepat jelaskan"
"Hahaha..... kau ini sungguh tidak sabaran, aku makin menyukaimu"
"Jangan mengalihkan pembicaraan Maya"
"Aku serius.. kamu tahu kan dari dulu aku sangat menyukaimu"
"Pergilah jika kau ingin basa basi, aku tidak ada waktu"
"Huffff... kau mengusir ku lagi"
"Itu pantas buatmu"
"Ayolah Syahroni... jangan sok alim seperti ini aku tahu kau ini sebenarnya juga menyukaiku, setidaknya aku tidak berpura-pura seperti adikmu"
"Hentikan Maya,aku sama sekali tidak melihat yang menarik dari dirimu, pakaianmu, wajahmu, sifatmu, semuanya buruk"
"KAU...!!! "
Maya yang sakit hati di katai seperti itu langsung berdiri dan menunjuk wajah ustadz Syahroni dengan ekspresi marah.
"Lihat apa yang akan aku lakukan, suatu hari nanti kamu pasti akan tergoda denganku"
"Jangan macam-macam dengan adiku Maya"
"Memangnya apa yang akan kau perbuat jika aku macam-macam dengan adikmu"
Kedua insan itu saling bertatapan, tatapan keduanya seolah mengisyaratkan sebuah peringatan.
"Kau tenang saja ustadz Syahroni yang tercinta, aku akan menjaga adikmu dengan baik,tapi.. jika adikmu menginginkan sesuatu yang lebih, aku tidak bisa menjamin,"
"Apa maksudmu... bicara yang jelas"
"Kakak... mbak Maya?"
Suara itu melerai perdebatan antara ustadz Syahroni dan Maya.Mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Salamah.
"Kamu ngapain Salamah?"
"A... aku.. aku"
"Sudah ku bilang dia mau bertemu denganku"
Salamah tidak tahu harus berkata apapun lagi, dia sangat takut ketahuan kakaknya, dia takut kalau Maya sudah menceritakan semuanya pada kakaknya itu,yaitu masa lalunya.
D
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
🌷💚SITI.R💚🌷
ceritay jd melebar ya..smg aja semuay bisa di selesaikn
2024-10-20
0