BERTEMU SALAMAH 2

BAB 17

"Maaf ya mbak Bukannya kita gimana-gimana, tapi ini emang harus di lakukan untuk meminimalisir penipuan berkedok dompet ketinggalan"

Sinta yang memang sudah ada pengalaman dan tentunya juga pernah di tipu oleh seseorang dengan kejadian yang sama, memberikan dompet itu kembali kepda Salamah.

"Iy.. iya mbak,saya tidak keberatan kok,Terima kasih, saya permisi dulu"

"Tunggu, mbaknya gak mau ngecek isinya dulu, siapa tahu ada yang hilang"

Annisa berinisiatif untuk mengingatkan.

"Tidak perlu, saya percaya dengan kalian"

"Gak bisa gitu mbak, udah cek aja dulu,siapa tahu ada sesuatu yang hilang, tapi kami gak ngambil loh ya, jangan nuduh kami..."

"Maaf saya buru-buru, kalau pun ada yang hilang, saya tidak akan menyalahkan kalian, saya permisi dulu,assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumussalam, tuh orang kok bisa gitu sih?"

"Udah mbak Sin, kita pulang yuk udah malem ni"

"Ya udah deh yuk pulang"

Akhirnya mereka pulang ke kediamannya masing-masing.Kebanyakan dari mereka memilih untuk kos,karena menghemat waktu katanya. Annisa pulang dengan sepeda motornya dengan perlahan. Sungguh hari yang sangat melelahkan, tpi dia senang, karena dia akan dapet bonus pas gajian nanti. Gak cuma dia doang, tapi semuanya.Ya ternyata tadi bosnya mengerahkan semua karyawannya yang berjumlah 20 orang untuk membantu keriwehan di restoran.Sudah menjadi kebiasaan, kalau restoran sedang repot memang seperti itu, dan yang paling membuat mereka semangat adalah karena di akhir bulan mereka mendapatkan bonus.

Annisa bersenandung ria,jalanan pada malam hari masih sedikit ramai,malam itu menunjukan pukul 22:25,tapi ketika dia berhenti di lampu merah, ia melihat ada seorang perempuan yang mirip dengan yang di restoran tadi.

"Itu kan perempuan yang di restoran tadi, ngapain dia di situ?"

Annisa melihat Salamah yang sedang duduk di kursi depan apotek.Karena Annisa penasaran akhirnya Annisa memutuskan untuk menghampirinya.Dia menjalankan motornya ketika lampu hijau dan memarkirkan di depan trotoar.

"Mbaknya yang tadi di restoran kan?"

Salamah mendongak kaget

"Iy.. iya kamu pelayanan restoran yang menemukan dompet saya?"

"Iya.. mbaknya sedang apa di sini?"

"Sa... saya.. gak lagi ngapa ngapain,kamu pulanglah saya tidak apa-apa"

"Maaf jika saya menganggu, tapi kalau emang mbak butuh bantuan, saya insya Allah bisa membantu"

"Memangnya kamu bisa membantu saya apa?"

"Emmm... misalnya saya bisa mengantar mbak pulang, rumah mbaknya dimana?"

"Rumah saya jauh, lagian saya gak mau pulang kok, saya mau ke pesantren Al Jannah,kamu tahu itu ada dimana?"

"Ooohhh... itu mah searah dengan jalan saya pulang, mau bareng?"

"Serius kamu"

"Dua rius malah, rumah saya ada didepan persis pesantren, yuk bareng saya kalau mau"

"Baiklah aku mau"

Akhirnya mereka berboncengan, menuju pondok pesantren, di perjalanan mereka asik mengobrol.

"Kalau boleh tahu mbaknya kenapa malem-malem datengnya, saya gak bisa jamin Kyai Rasyid sama ummi Fatimah masih belum tidur"

"Saya ingin bertemu seseorang, dia teman saya"

"Tapi ini udah malem, dan gak sopan juga sih"

"Saya tahu.. tapi ini sangat penting, ini menyangkut hidup dan masa depan saya"

Annisa tidak melanjutkan pertanyaannya,akhirnya di diam sampai mereka tiba di depan pondok pesantren Al Jannah.

"Kita udah sampai mbak, yakin mau bertamu sekarang?"

Salamah mengedarkan pandangannya ke depan, di lihatnya suasana nya sudah sepi, hanya cahaya lampu yang menerangi jalan dan beberapa rumah dan masjid yang ada di lingkungan pesantren.

"Emmm... apa masih bisa?"

"Kayaknya gak bisa mbak, takut menganggu juga, mending besok pagi saja,malam ini mbaknya nginep di tempat saya gimana?"

"Ya sudah.. apa kata kamu ajalah"

"Ayo masuk... assalamu'alaikum.. ibu,syifa mbak pulang"

"Wa'alaikumussalam... kamu sudah pulang"

Ibu menhampiri Annisa yang baru pulang malam itu, namun pandangan ibu teralihkan oleh seorang wanita yang berjalan di belakang anaknya.

"Ini... siapa nak?"

"Assalamu'alaikum bu.. perkenalkan nama saya Salamah"

"Waalaikumsalam.. kamu temannya Annisa?"

"Kami baru ketemu tadi bu, dia mau ke pesantren tapi kemaleman,jadi untuk malam ini boleh ya dia nginep dulu di sini, besok baru ke pesantren nya"

"Ohhh.. ya sudah, kalian bersih-bersih dulu sana, lalu makan, kalian pasti belum makan kan?"

"Terima kasih bu,"

"Sama-sama"

Annisa dan Salamah pun mandi secara bergantian, setelah mandi mereka makan malam bersama.Berhubung kamar tidurnya cuma 3,jadi Annisa dan Salamah tidur sekamar, karena kamar yang lainnya sudah untuk ibu dan Syifa.

"Enak ya jadi mbak Annisa,ibunya mbak Annisa baik banget, masakannya pun enak, aku tadi sampe nambah"

"Santai saja mbak"

"Oya mbak Annisa sudah tinggal di sini dari kecil?"

"Hee.. emm.. aku emang lahir di sini mbak"

"Bapaknya mbak Annisa kerja apa?"

"Bapak saya sudah meninggal sejak saya masih SD"

"Oohh... maaf.. maaf ya mbak,"

"Gak pa-pa, udah yuk tidur, besok saya anterin mbak nya ke pesantren"

"Makasih mbak"

"Sama-sama"

Akhirnya malam itu mereka tidur sekamar hingga pagi menjelang.Adzan Subuh pun berkumandang, Salamah mengerjapkan matanya, lalu dia bangun dan ke kamar mandi,saat melewati dapur, Salamah mencium bau yang harum,ya karena seperti biasa ibu Maimunah sedang memasak kue yang akan di titipkan ke warung-warung.

"Pagi bu, ibu masak apa wanginya enak banget"

"Ehh.. kamu sudah bangun.. ibu sedang membuat kue"

"Wahhh sepertinya enak-enak semua"

Salamah melihat begitu banyak kue yang berjejer di meja dapur.

"Memangnya ada acara apa bu kok bikin kue banyak banget?'

" Gak ada acara apa-apa, semua ini untuk di jual, di titipin ke warung-warung"

"Ohhh.."

"Kalau kamu mau ambil lah mana yang kamu suka"

"Nanti saja bu, saya mau ke kamar mandi dulu, ambil wudhu"

"Annisa belum bangun?"

"Dia sedang datang bulan katanya"

Ibu Maimunah hanya mengangguk anggukan kepala.

"Kamu mau sholat subuh di masjid apa di rumah?"

"Di rumah saja bu"

Tak lama Annisa pun bangun, dia duduk ditempat tidurnya dan menoleh ke sebelah kanan nya,kosong, dia berpikir kemana perginya Salamah.Ketika dia keluar kamarnya, dia hampir bertabrakan dengan Salamah yang mau masuk kamar.

"Astagfirullah.."

Keduanya sama -sama kaget, dan akhirnya mereka tertawa bersama.

"Mbak Annisa ngagetin aja deh"

"Sama mbak Salamah juga, mbak mau sholat subuh ya"

"Iya, pinjem mukena kamu ya"

"He.. emm.. itu ambil aja di meja sebelah tempat tidur, mbak mau sholat di masjid apa di rumah?"

"Di rumah ajalah"

"Hemm.. ya udah, aku mau ke kamar mandi dulu"

Mereka pun melaksanakan hajat nya masing-masing, di dapur ia bertu dengan ibunya yang sedang mengemas barang dagangannya yang sudah siap di antar.

"Kamu sudah bangun, nanti seperti biasa ya anterin dagangan ibu"

"Siap bu"

"Adikmu jangan lupa bangunkan, hari ini dia ujian, jangan sampai kesiangan"

"Ok... "

Pagi itu Annisa mengantarkan barang dagangan ibunya ke warung-warung, tadi sebelum berangkat dia sudah berpamitan dan berbicara dengan Salamah, bahwa mereka akan ke pondok setelah semua dagangan kue ibunya selesai diantar. Setelah selasai Annisa pun kembali ke rumah. Lalu bersiap siap bersama Salamah untuk ke pondok. Mereka berjalan menyebrang jalan dan dalam sekejap sudah sampai di depan gerbang pondok.

"Assalamu'alaikum, kang pak Kyai dan Ummi ada?"

Wa'alaikumussalam, sepertinya hanya ummi mbak yang di rumah, pak Kyai sedang ke Semarang dari kemarin, karena menghadiri pengajian"

"Ohh.. ya sudah saya izin masuk ya kang"

"Iya mbak silahkan"

Annisa dan Salamah pun menuju ke ndalem.

"Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumussalam"

Ummi Fatimah menjawab salam Annisa dari dalam.

"Annisa... ada apa dateng pagi-pagi?"

"Maaf ummi , ini ada tamu yang ingin berkunjung ke mari dari semalam, tapi karena sudah kemalaman, jadinya semalam saya suruh nginep di rumah saya ummi, dan baru pagi ini bisa datang berkunjung"

"Oohh... mari masuk, silahkan duduk,ummi mau bikinin kalian minuman dulu buat kalian"

"Ehh... gak usah repot ummi, kan Annisa cuma mau nganterin aja"

" Gak pa-pa, ayo masuk sini,"

Tangan Annisa di raih oleh ummi, dan di gandeng masuk ke dalam, Salamah yang melihat ke intiman itu jadi sedikit agak heran dengan membatin sedekat itu kah ummi nya Gus Rasya dengan Annisa.Ada sedikit rasa yang mengganjal di hati Salamah.Padahal dulu Gus Rasya pernah bilang jika ummi Fatimah adalah orang yang tak mudah dekat dengan siapapun.Salamah mencoba menepis perasaan yang tak enak itu, dia mencoba berpikir mungkin karena mereka bertetangga jadi sudah terbiasa.

"Silahkan di minum teh dan cemilannya, ini ummi buat sendiri loh"

"Terima kasih ummi"

Mereka pun meminum dan memakan cemilannya

"Emm ini enak banget ummi"

"Benarkah.. wah ternyata gak sia-sia ummi belajar dari ibu kamu"

"Ehhh.. iya ummi sampai lupa ini siapa kamu Annisa?"

"Perkenalkan nama saya Salamah, saya teman kuliahnya Gus Rasya waktu di Bogor ummi"

Deg

Annisa seperti membeku mendengar penjelasan dari Salamah. Kenapa dia kepikiran dia dari mana ya sebelumnya, dan ternyata dia teman kuliahnya Gus Rasya, ada perlu apa dia kemari?Ummi Fatimah yang melihat ekspresi dari Annisa pun paham jika sebenarnya Salamah belum memberikan penjelasan apapun kepada dirinya.

"Teman kuliah Gus Rasya?"

Ummi mencoba untuk bertanya untuk memecah keheningan

"Iy.. iya ummi"

"Ada perlu apa kamu sampai kemari?"

Salamah yang di tanya seperti itu, spontan mendongakkan wajahnya ke ummi Fatimah, dan benar saja ekspresi ummi saat ini berbeda dengan yang tadi, sekarang ekspresi itu berubah menjadi datar dan sedikit dingin.

"Sa.. saya ingin bertemu dengan Gus Rasya ummi"

"Emm.. ummi saya permisi ke belakang dulu ya"

Annisa yang perasaannya tidak enak,sangat ingin menghindari jawaban yang akan ia dengar dari Salamah nanti, ia sungguh tidak siap dengan semuanya.

"Tidak.. kamu di sini saja.. temani ummi di sini"

Ummi memegang tangan Annisa dan melarang Annisa dengan perkataan yang sangat lembut. Berbeda jauh dengan nadnya ketika ia berbicara dengan Salamah.Ya Salamah bisa merasakan perbedaan itu.

"Kenapa kamu mau ketemu dengan anak saya?"

"Saya hanya ingin bertemu,karena ada yang ingin saya bicarakan dengan Gus Rasya"

"Gus Rasya tidak ada di rumah saat ini, jadi kalau kamu mau bicara bisa lewat saya"

Jawaban dari ummi Fatimah begitu menghujam dan memupuskan harapan Salamah.

"Apa Gus Rasya pergi nya lama ummi?"

"Iya begitulah, bagaimana kamu mau bicara sama saya atau tidak?"

"Ummi.. Annisa ke kamar Ning Risa saja ya,saya gak enak dengerin ummi dan Salamah seperti ini"

"Kalau ummi bilang tetap di sini, jadi tetaplah disini,kamu berhak mendengarkan seluruh pembicaraan kami, karena kamu juga keluarga ummi"

Pernyataan yang begitu ambigu yang di dengar oleh Salamah.Siapa Annisa sebenarnya.. kenapa dia di anggap keluarga.

"Ummi maaf saya lancang,apakah Annisa masih kerabat kalian?"

"Bukan kerabat, tapi Annisa adalah calon menantu keluarga kami"

DEG

Salamah yang mendengar hal itu pun mematung dan menggeleng kuat.

"Apa... tidak.. tidak mungkin.. Annisa bicara sama saya ini gak mungkin kan,mana mungkin kamu jadi istrinya Gus Rasya"

"Apa maksud kamu mengatakan hal itu kepada Annisa"

Salamah menghampiri ummi Fatimah dengan berurai kan air mata.

"Ummi liat dengan jelas,liat penampilannya, dia tidak pantas untuk Gus Rasya, aku.. aku lah yang pantas untuk anak ummi.."

"Ini ada apa sih ribut-ribut?"

Ning Risa yang turun dari lantai atas, mersa penasaran ada apa di ruang keluarganya.

Sesampainya di ruang keluarganya dia melihat wanita yang sepertinya familiar.

"Mbak Salamah?'

Salamah yang merasa namanya di panggil, segera menghampiri Ning Risa.

" Risa.. iya ini aku Salamah, teman dekat mas mu, kamu masih ingat aku"

"Iya aku ingat.. kenapa mbak Salamah ada disini,dan ada apa dengan penampilan mbak,bukannya mbak gak bisa pakai pakaian syar'i seperti ini.

Ummi Fatimah dan Annisa mersa kaget dan kebingungan,pasalnya baru saja dia mencela penampilan Annisa, yang memakai rok plis ketika dan kemeja lengan panjang itu.Salamah yang kebingungan dia segera mencari cara agar semua orang tidak di curigai.

" Tidak Risa, mbak sudah berubah, semua ini mbak lakukan demi mas mu, liat bagus kan penampilan mbak,bagaimana apa mas mu akan menyukainya?

Salamah memutar mutar tubuh nya di depan Ning Risa, dan mengibaskan pakaian panjangnya itu.Secara reflek tangan Ning Risa terangkat ke kening Salamah seperti sedang mengecek suhu.,

"Mbak Salamah sakit kah?"

Ummi Fatimah dan Annisa yang mendengar pertanyaan dari Ning Risa tidak bisa menahan ketawa, mereka berdua senyum-senyum dan terkirim. Tidak cuma mereka berdua, mbak-mbak ndalem yang melihat dan mendengar keributan itu dari tadi pun saling tertawa, mereka sudah tidak heran dengan ke absurd an Ning nya itu.

"Hus.. kamu ini ya mbak sehat lah, buktinya mbak sampai sini, eh mana mas mu, mbak pengen ketemu, sekalian mbak pengen ngeliatin perubahan mbak sama dia, pasti dia kesengsem sama mbak sekarang"

"Mas Rasya gak ada mbak Salamah"

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

ampun de yg satu blm kelar datang yg baru lg..da bisa2 mengomentarin pena.pilan orang lain..Alhamdulillah ada rasa yg bisa melihat habis dia

2024-10-20

0

lihat semua
Episodes
1 PAGI YANG BERMAKNA
2 CINTA DALAM DIAM
3 MENERKA NERKA
4 KEDATANGAN ZULAIKHA
5 HASIL PEMBICARAAN
6 AIR MATA SEDIH ATAU BAHAGIA?
7 MULAI MENATA HATI
8 PERNYATAAN YANG TIBA-TIBA
9 MEYAKINKAN HATI
10 DARI HATI
11 DIANTAR GUS RASYA
12 ZULAIKHA KEMBALI DATANG
13 NASEHAT UMMI FATIMAH
14 JANJI GUS RASYA
15 HARI KEBERANGKATAN
16 BERTEMU SALAMAH 1
17 BERTEMU SALAMAH 2
18 BERTEMU SALAMAH 3
19 WANITA LICIK
20 KABAR DARI GUS RASYA
21 PRINSIP GUS RASYA
22 BERTEMU NAMIRA
23 AMRAN YANG MENGGANGGU
24 KERAS KEPALA
25 GIRL'S DAY OUT
26 PERTEMUAN YANG TIDAK TERDUGA
27 HARI TERAKHIR BERTEMU IBU
28 DOA TULUS UNTUK IBU
29 MENGANTAR KE PUSARA
30 MULAI TERUNGKAP
31 GELISAH, TAKUT, TIDAK TENANG
32 MENCARI KEBERADAAN GUS RASYA
33 TIBA DI KAIRO
34 AKHIRNYA BERTEMU DENGANMU
35 HARUS DIA BUKAN YANG LAIN
36 HARI YANG MELELAHKAN
37 PERGILAH
38 AKU MERINDUKANMU
39 UPAYA MENGHALALKANMU
40 TAHAN HAWA NAFSU
41 MUNGKIN BELUM SEKARANG
42 MELAMAR DULU
43 MELULUHKAN HATI ORANG TUA
44 BERDISKUSI
45 NASIB ZULAIKHA
46 MELARIKAN DIRI
47 PERTOLONGAN KYAI NASRULLAH
48 AWAL YANG SALAH
49 PEMIKIRAN YANG SALAH
50 FIRASAT
51 SERBA SALAH
52 GUS RASYA RESMI MELAMAR
53 SIAP DENGAN SEGALA HAL
54 MINTA MAAF 1
55 MINTA MAAF 2
56 BERUSAHA MENGIKHLASKAN
57 SEKALIAN PAMIT
58 PERGI MENONTON
59 HARI KEBERANGKATAN
60 SATU PESAWAT DENGAN SALAMAH
61 TIBA DI KAIRO
62 ABI KHALID
63 GODAAN ALDEN
64 RENCANA NYA
65 MENCARI KEBENARAN
66 CERITA HARI ITU
67 OBAT SEGALA KERESAHAN
68 TAWARAN KYAI NASRULLAH
69 SETELAH 3 BULAN BERLALU
70 USTADZ ZULHAM
71 REMEDIAL
72 MENGIRA-NGIRA
73 CURIGA
74 SALAH PAHAM
75 NIAT YANG BAIK
76 MASIH BERPIKIR 2 KALI
77 KESUCIAN YANG HILANG
78 PERGI KE DOKTER KANDUNGAN
79 RANIA DAN ALDEN
80 MENIKAH
Episodes

Updated 80 Episodes

1
PAGI YANG BERMAKNA
2
CINTA DALAM DIAM
3
MENERKA NERKA
4
KEDATANGAN ZULAIKHA
5
HASIL PEMBICARAAN
6
AIR MATA SEDIH ATAU BAHAGIA?
7
MULAI MENATA HATI
8
PERNYATAAN YANG TIBA-TIBA
9
MEYAKINKAN HATI
10
DARI HATI
11
DIANTAR GUS RASYA
12
ZULAIKHA KEMBALI DATANG
13
NASEHAT UMMI FATIMAH
14
JANJI GUS RASYA
15
HARI KEBERANGKATAN
16
BERTEMU SALAMAH 1
17
BERTEMU SALAMAH 2
18
BERTEMU SALAMAH 3
19
WANITA LICIK
20
KABAR DARI GUS RASYA
21
PRINSIP GUS RASYA
22
BERTEMU NAMIRA
23
AMRAN YANG MENGGANGGU
24
KERAS KEPALA
25
GIRL'S DAY OUT
26
PERTEMUAN YANG TIDAK TERDUGA
27
HARI TERAKHIR BERTEMU IBU
28
DOA TULUS UNTUK IBU
29
MENGANTAR KE PUSARA
30
MULAI TERUNGKAP
31
GELISAH, TAKUT, TIDAK TENANG
32
MENCARI KEBERADAAN GUS RASYA
33
TIBA DI KAIRO
34
AKHIRNYA BERTEMU DENGANMU
35
HARUS DIA BUKAN YANG LAIN
36
HARI YANG MELELAHKAN
37
PERGILAH
38
AKU MERINDUKANMU
39
UPAYA MENGHALALKANMU
40
TAHAN HAWA NAFSU
41
MUNGKIN BELUM SEKARANG
42
MELAMAR DULU
43
MELULUHKAN HATI ORANG TUA
44
BERDISKUSI
45
NASIB ZULAIKHA
46
MELARIKAN DIRI
47
PERTOLONGAN KYAI NASRULLAH
48
AWAL YANG SALAH
49
PEMIKIRAN YANG SALAH
50
FIRASAT
51
SERBA SALAH
52
GUS RASYA RESMI MELAMAR
53
SIAP DENGAN SEGALA HAL
54
MINTA MAAF 1
55
MINTA MAAF 2
56
BERUSAHA MENGIKHLASKAN
57
SEKALIAN PAMIT
58
PERGI MENONTON
59
HARI KEBERANGKATAN
60
SATU PESAWAT DENGAN SALAMAH
61
TIBA DI KAIRO
62
ABI KHALID
63
GODAAN ALDEN
64
RENCANA NYA
65
MENCARI KEBENARAN
66
CERITA HARI ITU
67
OBAT SEGALA KERESAHAN
68
TAWARAN KYAI NASRULLAH
69
SETELAH 3 BULAN BERLALU
70
USTADZ ZULHAM
71
REMEDIAL
72
MENGIRA-NGIRA
73
CURIGA
74
SALAH PAHAM
75
NIAT YANG BAIK
76
MASIH BERPIKIR 2 KALI
77
KESUCIAN YANG HILANG
78
PERGI KE DOKTER KANDUNGAN
79
RANIA DAN ALDEN
80
MENIKAH

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!