BAB 5
Siang itu seluruh keluarga ndalem berkumpul bersama keluarga Kyai Abdullah.Entah apa yang mereka bicara kan karena saat ini Annisa berada di dapur bersama mbak-mbak ndalem.Sekilas suara Kyai Rasyid terdengar begitu antusias.Ibu Nyai Fatimah pun juga sesekali tertawa bahagia.
"Annisa saya minta tolong bisa?"
Mbak ndalem yang bernama Silvi datang meminta tolong sambil membawa nampan dan beberapa gelas yang berisi teh.
"Ya mbak.. ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong bawakan teh ini ke depan,aku kebelet nih, tolong ya.. maaf"
"Oh ya mbak sini aku aja"
"Makasih Nis"
"Iya mbak sama-sama"
Annisa pun membawa nampan itu ke ruang tamu, tempat semua keluarga berkumpul, kecuali Ning Risa. Karena Ning Risa saat ini sedang berada di Bogor.Annisa berjalan pelan dengan menunduk memperhatikan jalannya. Tiba di ruang tamu Annisa segera menghidangkan teh tersebut.
"Silahkan diminum teh nya"
Sambil tersenyum Annisa mempersilahkan tamunya untuk meminum tehnya.
"Terima kasih... kamu Annisa kan?"
Tanya Kyai Rasyid.
"Iy... iya Kyai saya Annisa"
"Benarkah?Annisa anak nya Maimunah?"
"Benar Kyai"
"Subhanallah... kamu sudah besar sekarang, terakhir saya melihat mu 5 tahun yg lalu,sekarang kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik"
"Terima kasih Kyai"
"Apa kamu mengajar di pesantren ini"
"Tidak Kyai saya bekerja di restoran"
"Bekerja...?Kenapa kamu tidak memilih mengajar di pesantren ini nak?"
"Maaf Kyai.. karena kuliah saya belum selesai, dan saya mengajukan cuti untuk 1 tahun, dan untuk mengisi kekosongan waktu saya memilih bekerja.
"Mengapa kamu memilih bekerja?apa kamu kekurangan biaya?"
Pertanyaan Kyai Abdullah sedikit menyentak perasaan Annisa saat ini.
"Maaf Kyai.. mungkin itu salah satu alasannya"
"Ya.. ya.. ya saya mengerti"
"Sudahlah Abi,kenapa harus bertanya seperti itu,kemampuan kita kan berbeda, sebaiknya kita lanjutkan saja obrolan yang tadi,tentang perjodohan Zulaikha dan Rasya, tidak usah mengurusi hal yang bukan urusan kita, betulkan Fatimah?"
Bagai pisau yang mengiris hatinya,jelas sudah tidak harapan baginya.Kenyataan yang begitu jelas.Ya semuanya telah terjawab dan benar ada nya.Sakit.... sangat sakit.
"Maaf... saya permisi"
Annisa langsung pamit undur diri ke dapur karena sudah tak sanggup mendengarkan kenyataan itu.Air matanya luruh merangkum segala kesedihan dan kehancuran yang amat besar.
"Laila.. kita sudah berteman dari kecil,kamu tentunya tahu karakter dan sifatku, aku tentu tidak keberatan tentang hal ini,tapi tentunya aku harus menyerahkan semua keputusan ini kepada Rasya, jika Rasya mau, aku pun setuju, tapi jika sebaliknya,maaf aku tidak bisa berbuat apapun, benar Abbah?"
Ummi Fatimah menanyakan keputusannya kepada Kyai Rasyid, karena di nilai tidak mau egois dalam mengambil keputusan.
"Ya... aku setuju dengan istriku, keputusan semua ada di tangan Rasya, karena dia yang akan menjalani kedepannya, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan dan mendukungnya"
"Gimana Gus kamu setuju kan kamu kami jodohkan?"
Ibu Nyai Laila segera menanyakan hal tersebut kepada Gus Rasya, untuk mengetahui jawabannya secara langsung.
"Maaf... sepertinya saya belum siap untuk menikah, saya masih ingin melanjutkan kuliah S2 saya di Kairo"
"Apa.. Kairo?"
"Iya Kyai.. maaf itu sudah menjadi rencana saya sejak awal"
Ning Zulaikha yang mendengar jawaban itu sepertinya sangat kecewa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
🌷💚SITI.R💚🌷
di sini menunjukan bahwa adab lbh tinggi dr ilmu..seperti ibu laila yg ga menghargai orang lain krn merasa dia lbh baik
2024-10-20
0
🌷💚SITI.R💚🌷
bagus rasya kamu menolak..sy kurang suka sm jawaban ibuy zulaikha yg secara tdk langsung sombong dan merendahkan orang lain..
2024-10-20
0
Dey Desuka
mungkin kyai Abdullah ya thor
2024-08-28
1