Memperbaiki

"Nak, bisa kita bicara sebentar?" Sekarang mereka sudah sampai di rumah. Keadaan sedang sangat sepi, entah hanya tebakan Selatan atau dia yang melewatkan sesuatu. Tiba-tiba saja pelayan yang biasa menyambut kepulangannya tidak lagi ada di rumah.

"Papa mau bicara apa?"

Sang papa juga sedang bertindak abnormal secara tiba-tiba. Tidak ada hujan atau badai bahkan ia yakin papanya tidak mengalami sebuah kecelakaan hingga amnesia.

"Duduklah sebentar, ini akan memakan banyak waktu."

Walau terpaksa, Selatan menuruti perkataan sang papa. Mereka duduk berhadapan, saling memandang satu sama lain. Kini perubahan semakin terlihat jelas. El lupa kapan terakhir ia menatap lekat wajah putranya. Mungkin beberapa tahun yang lalu saat Selatan masih berusia 13 tahun, itu juga mungkin karena ia sudah lupa.

Membuang nafas dengan gusar, El tak kunjung bersuara. Selatan jadi tidak nyaman, tatapan itu jauh berbeda dari beberapa waktu saat mereka atau lebih tepatnya saat dirinya membuat ulang di sekolah hingga sang papa harus memenuhi panggilan kepala sekolah. Jika di dulu ada gurat kekecewaan dan kesal, maka sekarang hanya ada cinta dari seorang ayah. Aneh, seperti mimpi namun nyatanya itu kebenaran.

Tidak sadar, ternyata Selatan telah berubah menjadi anak yang baik. Tidak ada panggilan kepala sekolah atau pergi ke ruang BK, ia bahkan menjadi siswa yang disenangi banyak guru karena kecerdasannya. Walau tidak akan jadi Rankin satu dalam semester ini, Selatan yakin dia akan masuk sepuluh besar.

"Apa kau membenci papa?"

"Kenapa Selatan harus membenci Papa?"

"Mungkin karena papa sudah meninggalkan mu, tidak pernah ada saat kau meminta waktu bersama papa."

"Lalu, kenapa Papa bertanya kalau seharusnya Papa tahu apa yang terjadi pada anak seperti ku? Yang mengalami banyak ketidak adilan, bahkan harus menahan sendiri dan jadi dewasa sebelum waktunya." Emosi Selatan sedikit timbul namun ia tidak ingin terlalu berlebihan.

Jika kalian berpikir bahwa hidup Selatan bahagia, kalian salah. Bahkan uang sekali pun tidak bisa membuatnya bahagia. Anak sepertinya, hanya butuh kasih sayang tapi tidak ada yang bisa memberikannya. Ia selalu iri pada setiap anak yang punya keluarga lengkap dan bisa menikmati kasih sayang orang tua bukan sepertinya yang harus mengemis cinta.

"Papa minta maaf, Nak."

Harusnya El tahu ini, seharusnya ia peka pada kejadian di sekitarnya. Ia tidak pernah membenci apalagi menyalahkan kehadiran Selatan. Baginya, Selatan sumber kekuatannya, setiap kali ia mulai lelah menjalani hidup maka mengingat nama dan melihat wajah anaknya akan mengobati lelah itu.

Meski dendam pada sang ibu, El yakin Selatan tidak pernah salah apalagi mau dilahirkan dalam keluarga yang tidak harmonis. Belajar dari masa lalu, ketika sang ayah meninggalkan ibunya sendirian demi wanita lain. El tentu dewasa dengan cepat. Melihat setiap pengorbanan sang ibu membesarkannya, tidak mungkin El meninggalkan anaknya sendirian apalagi membuangnya.

Dan ketika ia mengalami kejadian serupa, ditinggal oleh orang yang ia cintai. Ia semakin menghargai hidup, berjanji akan melindungi ibu dan putranya dari kejamnya dunia. Hanya saja, ia salah perhitungan. Ia pikir uang bisa mengobati waktu yang diri lewatkan, sayang sekali dia salah. Putranya berubah dan menjauh darinya sama seperti yang sering ibunya ucapakan padanya.

"Papa tidak perlu meminta maaf. Toh, Papa juga tidak salah, Selatan paham posisi Papa dan Selatan belajar untuk memahami." Mungkin karena sudah sering berinteraksi dengan Adel. Selatan semakin dewasa, lagi pula sang ibu sambung pernah berpesan bahwa papanya tidak sepenuhnya salah. Takdir lah yang membuat semuanya menjadi seperti sekarang sehingga ia hanya bisa menerima serta menjalankan.

Tentu saja El terkejut, ternyata putranya sudah dewasa. Apa sebentar lagi posisinya akan tergantikan. Lagi-lagi ia memikirkan hubungan antara Adel dan Selatan. Ia masih salah paham, berpikir bahwa Adel bisa menjadi pengaruh buruk untuk sang putra.

"Kalau begitu, bisakah kita memperbaiki hubungan ini? Bisakah kita menjadi ayah dan anak yang sesungguhnya? Papa ingin membayar waktu yang sudah papa sia-siakan selama ini pada mu."

Nah, sekali lagi Selatan tercengang. Apa yang sebenarnya terjadi pada sang papa? Apa pria itu sedang putus cinta atau di campakkan oleh teman wanita? Kenapa tiba-tiba ingin memperbaiki hubungan? Padahal, dia sudah tidak lagi menginginkan, mungkin lebih tepatnya menyingkirkan keinginan seperti itu setelah kehadiran Adel.

"Sebenarnya, Papa kenapa? Apa Papa berniat menarik perhatian Selatan agar rencana Papa menikahi kekasih Papa berhasil? Kalau memang seperti itu, Papa tenang aja. Selatan izinkan, asal jangan paksa Selatan nerima dia. Itu nggak akan pernah terjadi."

Entah memang keturunan atau memang kesalahpahaman sering terjadi diantara mereka. El benar-benar terpana saat mendengar perkataan putranya. Kapan dia membawa pasangan? Memikirkan untuk menikah saja sudah tidak ada lagi. Bagaimana bisa ia menikah dan memberikan ibu sambung pada anaknya?

"Kau salah paham, Nak. Papa bahkan tidak memiliki kekasih apalagi berniat menikah."

"Papa nggak perlu bohong. Selatan selalu liat perempuan nelpon Papa dan bahkan pernah datang ke rumah."

"Itu sekretaris papa, Nak. Bukan kekasih apalagi hal lain."

"Klise, jelas-jelas di matanya ada tatapan cinta setiap kali ketemu Papa."

El memutuskan duduk di sebelah sang putra. Ia tahu sudah banyak kesalahpahaman antara dirinya dan Selatan. Bahkan Lulu yang notabennya sekretaris di perusahaan miliknya pun menjadi salah satu pusat kesalahpahaman.

"Namanya Lulu dan dia sekretaris papa. Bahkan jika dia mencintai papa, semuanya akan tetap sama karena papa tidak mencintainya bahkan satu inci pun."

Apa setiap orang berpikir bahwa dirinya mudah jatuh cinta? Kalau ya maka salah. El sulit bukan berarti gagal move on, hanya saja memang dia sulit jatuh cinta begitu juga melupakan. Keduanya terasa sulit sehingga ia memutuskan menutup hati, walau tidak tahu sampai kapan.

"Bahkan jika bukan dia, mungkin saja Papa punya simpanan yang lain." Rasanya Selatan tidak bisa mempercayai perkataan sang papa.

"Tidak ada kekasih atau pun simpanan. Papa pergi untuk bekerja dan itu semua papa siapkan agar di masa depan kau bisa hidup enak tanpa ada yang merendahkan mu."

"Baiklah, untuk saat ini Selatan akan percaya. Tapi jika pun Papa mau menikah, maka silahkan hanya saja Selatan minta satu hal. Biarkan Selatan hidup sendiri dan jangan buat Selatan jadi anak tiri."

"Tidak akan, jika kau tidak suka maka papa tidak akan menikah. Kebahagiaan mu prioritas papa. Sekarang ganti pakaian mu dan papa akan buat makan siang untuk kita."

"Dimana bibi?"

"Papa suruh pulang, mulai besok papa akan masak buat kita dan bersih-bersih baru di serahkan pada pelayan."

"Emang Papa bisa masak?" Selatan masih tidak percaya.

"Tentu saja, selama hidup berdua sama kamu dan harus pergi ke luar kota. Papa harus bisa masak sendiri."

"Terserah Papa aja." Selatan tidak percaya namun tidak ingin berdebat. Meski begitu, tetap saja ia penasaran. Apakah masakan sang papa lebih enak dari masakan bundanya. Masakan Adel memiliki cita rasa tersendiri, dan Selatan sudah sangat terbiasa hampir mirip kecanduan.

****

"Bun, papa tiba-tiba berubah." Setelah masuk kamar, Selatan langsung menghubungi Adel, belum tahu permasalahan apa yang sudah papanya buat dengan sang bunda.

"Oh ya, berubah bagaimana?" Adel merasa tidak nyaman sekarang. Jujur, dia sudah terlanjur nyaman dengan status bunda Selatan, namun pria yang mengakui sebagai ayah remaja tersebut melarangnya untuk dekat.

"Papa mau memperbaiki semuanya."

"Bagus dong kalau gitu."

"Iya sih, tapi Ata ngerasa aneh aja sama perubahan papa."

"Jangan berpikir aneh, mungkin doa Ata di kabulkan sama Tuhan makanya papa mau memperbaiki semuanya."

"Iya, Bun."

Sesaat, tidak ada pembicaraan diantara keduanya dan hal tersebut membuat Selatan merasa aneh.

"Bunda kenapa?"

"Emang bunda kenapa?"

"Kok malah nanyak balik sih."

Adel tertawa kecil. "Bunda nggak apa-apa, Sayang."

"Bunda yakin? Kok Ata ngerasa ada sesuatu yang lagi Bunda pikirin."

"Itu cuman perasaan kamu aja, bunda nggak apa-apa, dan cuman butuh istirahat."

"Oke, Bunda istirahat, Ata juga mau makan siang sama papa."

"Hm."

Sambungan telepon terputus, namun Selatan masih penasaran dan bertanya-tanya kenapa bundanya terkesan menjadi pendiam.

Episodes
1 Perselingkuhan
2 Kecurigaan
3 Pernikahan Kedua Suamiku
4 Memilih Jadi Janda
5 Memulai Hidup Baru
6 Resmi Bercerai
7 Ditolak
8 Sampah
9 Pertemuan Pertama
10 Menyetujui
11 Bunda Adel
12 Kunjungan
13 Posesif
14 Bertemu Kembali
15 Berdiri Tegak
16 Nasehat
17 Salah Paham
18 Penyesalan Seorang Ayah
19 Memperbaiki
20 Salah Paham (2)
21 Perjodohan
22 Anak Panti
23 Mencoba Mendekati
24 Menghindar
25 Panti Asuhan
26 Wanita Tidak Tahu Malu
27 Bersaudara
28 Perasaan Aneh
29 Dituduh
30 Kebenaran
31 Pelaku Yang Sebenarnya
32 Meminta Maaf
33 Memanjakan
34 Penangkapan
35 Kantor Polisi
36 Ibu Yang Kejam
37 Dituduh Pelakor
38 Bertemu Kembali
39 Bundanya Anak-anak
40 Rasa Sakit Seorang Anak
41 Tiba-tiba Di Lamar
42 Mulai Menyesal
43 Tampak Lebih Bahagia
44 Mempermalukan Diri Sendiri
45 Meluruskan Kesalahpahaman
46 Tes DNA
47 Tentang Sifa
48 Keributan
49 Disegerakan
50 Niat Yang Baik
51 Hukum Tabur Tuai
52 Akad Nikah
53 Makna Rumah Sesungguhnya
54 Terasa Seperti Mimpi
55 Persaingan Ayah dan Anak
56 Fitnah
57 Hamil
58 Dia Istriku
59 Hancur Yang Sesungguhnya
60 Kebenaran Yang Menyakitkan
61 Cerita Kelam Di Masa Lalu
62 Roda Kehidupan Yang Berputar
63 Ingin Muntah
64 Mantan Istri
65 Penjelasan
66 Ini Karma
67 Mengadu Pada Ayah
68 Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69 Akhir Dari Wanita Penggoda (2)
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Perselingkuhan
2
Kecurigaan
3
Pernikahan Kedua Suamiku
4
Memilih Jadi Janda
5
Memulai Hidup Baru
6
Resmi Bercerai
7
Ditolak
8
Sampah
9
Pertemuan Pertama
10
Menyetujui
11
Bunda Adel
12
Kunjungan
13
Posesif
14
Bertemu Kembali
15
Berdiri Tegak
16
Nasehat
17
Salah Paham
18
Penyesalan Seorang Ayah
19
Memperbaiki
20
Salah Paham (2)
21
Perjodohan
22
Anak Panti
23
Mencoba Mendekati
24
Menghindar
25
Panti Asuhan
26
Wanita Tidak Tahu Malu
27
Bersaudara
28
Perasaan Aneh
29
Dituduh
30
Kebenaran
31
Pelaku Yang Sebenarnya
32
Meminta Maaf
33
Memanjakan
34
Penangkapan
35
Kantor Polisi
36
Ibu Yang Kejam
37
Dituduh Pelakor
38
Bertemu Kembali
39
Bundanya Anak-anak
40
Rasa Sakit Seorang Anak
41
Tiba-tiba Di Lamar
42
Mulai Menyesal
43
Tampak Lebih Bahagia
44
Mempermalukan Diri Sendiri
45
Meluruskan Kesalahpahaman
46
Tes DNA
47
Tentang Sifa
48
Keributan
49
Disegerakan
50
Niat Yang Baik
51
Hukum Tabur Tuai
52
Akad Nikah
53
Makna Rumah Sesungguhnya
54
Terasa Seperti Mimpi
55
Persaingan Ayah dan Anak
56
Fitnah
57
Hamil
58
Dia Istriku
59
Hancur Yang Sesungguhnya
60
Kebenaran Yang Menyakitkan
61
Cerita Kelam Di Masa Lalu
62
Roda Kehidupan Yang Berputar
63
Ingin Muntah
64
Mantan Istri
65
Penjelasan
66
Ini Karma
67
Mengadu Pada Ayah
68
Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69
Akhir Dari Wanita Penggoda (2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!