Nasehat

Selatan, Fano dan Vino menjadi sangat penasaran dengan kisah Adel setelah tadi malam mereka melihat dengan jelas bagaimana wanita itu membuat marah Raihan.

Jadi, hari ini. Setelah semuanya selesai, dan mereka sedang jalan-jalan di pinggir pantai. Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya.

"Bun, laki-laki tadi malam itu, mantan suami Bunda, Ya?" Pertanyaan tiba-tiba Selatan membuyarkan lamunan Adel yang tengah menikmati pemandangan pantai.

"Iya, kenapa? Merasa kasihan sama bunda setelah tahu bunda punya mantan suami sombong seperti dia?"

"Nggak kok, Bun. Cuman heran aja, kok bisa dia sebuta itu? Padahal Bunda baik banget."

"Namanya juga hidup. Tidak semuanya berjalan sesuai keinginan, dan sudut pandang setiap orang berbeda-beda. Mungkin bagi Ata, bunda baik. Tapi bagi dia, bunda cuman perempuan mandul yang gila kerja."

"Jadi alasannya cuman karena kayak gitu, Bun?"

"Iya. Bunda aja sampai nggak bisa ngomong apa-apa pas denger alasan dia selingkuh."

"Berarti dia laki-laki yang nggak mau bersyukur, Bun. Banyak kok pasangan yang nggak bisa punya keturunan tapi langgeng sampai kakek-nenek." Fano menimpali.

"Kamu benar, tapi mau gimana lagi? Mungkin jalan jodoh bunda sama dia sampai lima tahun aja. Tapi, bunda malah bersyukur bisa lepas dari pernikahan yang buat bunda tertekan setiap hari."

Selatan, Fano dan Vino mulai paham. Jadi, wajar saja jika tadi malam Adel mempermalukan Raihan. Jika itu mereka, mungkin mereka juga akan ngelakuin hal yang sama.

"Emang mantan suami Bunda kasar ya, Bun?"

"Nggak, dia nggak pernah kasar. Cuman, bunda ngerasa tertekan karena setiap hari hari jadi tulang punggung keluarga, sedangkan dia hidup enak di atas penderitaan bunda."

"Kok bisa ada ya laki-laki kayak gitu, Bun." Sebenarnya, Selatan sudah tahu tentang perusahaan Raihan yang berasal dari kerja keras bundanya tadi malam.

"Ada banyak jenis manusia, dan kalian harus berhati-hati. Satu hal lagi, bunda minta sama kalian, jangan pernah sakiti wanita. Kalian terlahir dari seorang wanita, dan tanpa wanita kalian nggak mungkin ada di dunia ini."

"Terus, gimana kalau wanita itu jahat, Bun? Misalnya kayak mama Ata yang ninggalin Ata dari bayi." Fano menatap Vino dengan galak. Kisah keluarga Selatan tidak boleh di sebar luaskan, meskipun sudah banyak yang tahu.

Jika itu hari-hari sebelum bertemu dengan Adel. Selatan pasti akan marah, namun kali ini dia tenang dan tidak memperlihatkan rasa tidak bahagia seperti sebelumnya.

"Apapun alasannya, jangan pernah sakiti hati seorang wanita apalagi main kasar. Kalau pun dia sudah menyakiti kita, maka menjauh lah, tidak masalah jika dia menganggap mu tidak tahu terimakasih. Meskipun dia sudah melahirkan mu, tapi dia juga sudah gagal mendapatkan panggilan ibu. Kecuali dia meminta maaf dan berjanji akan memperbaikinya, maka kalian tidak boleh menjauh."

Adel merasa kasihan dengan Selatan. Bagaimanapun, dia juga sudah mengalami hal menyakitkan seperti itu, hidup tanpa kasih sayang dan pelukan kedua orang tua.

"Iya, Bun. Kami janji nggak bakal nyakitin hati perempuan." Selatan dan kedua sahabatnya berjanji. Selatan juga akan mengingat kata-kata Adel tentang menjauhi orang-orang yang sudah menyakitinya meskipun dia memiliki hubungan darah sekalipun.

******

"Apa kalian sudah mendapatkan informasi yang ku inginkan?"

"Sudah, Pak. Putra anda sedang dekat dengan seorang wanita cantik namun yang kami lihat hubungan mereka bukan seperti kebanyakan pasangan, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan putra anda padanya seperti seorang anak yang mencintai ibunya."

"Apa kau yakin dengan dugaan mu itu?"

"Ya, bahkan wanita itu seperti seorang ibu yang sangat mencintai putranya."

Elang Aksara Sanjaya, ayah dari Selatan Aldebaran Sanjaya. Ia yang awalnya tidak terlalu perduli dengan aktivitas sang putra tiba-tiba tertarik ketika selama beberapa bulan ini dirinya tidak lagi pernah mendengar keluhan dari sekolah tentang kenakalan putra semata wayangnya itu.

Jika biasanya hampir setiap Minggu dirinya mendapat telepon dari wali kelas putranya, maka beberapa bulan ini tidak pernah lagi. Semuanya tampak bahwa putranya merupakan anak baik nan patuh.

"Kalian tahu kapan mereka bertemu dan apa alasan dari pertemuan itu terjadi?"

"Sekitar tiga bulan yang lalu, Pak. Tapi, tentang alasan pertemuan, kami tidak bisa mencari tahu sebab sumber yang kami selidiki pun tidak tahu kenapa mereka bisa dekat seperti sekarang."

Elang atau yang biasanya dipanggil El terdiam, rasa penasarannya semakin besar. Tidak mungkin wanita itu sengaja mengincar dirinya,karena bagaimanapun dari hasil penyelidikan wanita tersebut punya banyak bisnis.

Hal tersebut jugalah yang membuat El tidak langsung menghentikan hubungan keduanya, namun kalau di pikir-pikir. El masih merasa ada yang tidak benar. Ia tidak percaya ada cinta tulus di dunia ini, pasti ada yang sedang di rencanakan wanita itu pada putranya.

"Tentang identitasnya, apa kalian sudah mencari tahu?"

"Sudah Pak, dia seorang janda. Tidak ada keluarga, tinggal bersama pelayan dari rumah mantan suaminya."

"Apa dia tidak memiliki anak?"

"Tidak Pak, hanya putra anda yang menjadi fokusnya."

Ini semakin membuat El penasaran. Pengalaman pada pernikahan pertama yang hancur karena sang mantan istri yang ternyata tidak pernah tulus mencintainya.

Sebenarnya, pengakuan Selatan tentang sang ayah yang suka gonta-ganti pasangan salah. Elang Aksara sama seperti namanya. Sangat dingin, tidak berperasaan, kuat dan tidak mudah di hancurkan, bahkan para wanita yang berniat mendekatinya pun gagal karena penolakan secara langsungnya.

"Kalian bisa pergi, aku sudah mengirim uang sisa dari penyelidikan kalian."

"Terima kasih, Pak."

Setelah kepergian orang yang El bayar untuk menyelidiki aktivitas sang putra. Pria tampan berusia 36 tahun menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, ia sudah lama tidak kembali ke rumah dan mengajak putranya berbicara.

Tapi, kalau di pikir-pikir El dan Selatan tidak akrab layaknya ayah dan anak seperti pada umumnya. El yang kecewa akibat perselingkuhan sang istri memilih menghabiskan waktu bekerja, sedangkan tumbuh kembang putranya ia serahkan pada pelayan tepat setelah kehidupan mereka membaik.

Perusahaan, kekayaan yang sekarang ia miliki, El dapatkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Air mata, keringat dan rasa sakit akibat di hina serta ditolak sudah El rasakan. Hal tersebut jugalah yang membuat ia tidak berniat menikah kembali, bahkan memikirkannya saja ia tidak pernah.

"Maaf, ku pikir pernikahan ini kita akhiri saja. Aku juga tidak membutuhkan bayi itu, jika kau ingin maka kau bisa merawatnya tapi kalau tidak kau bisa membuang atau menjualnya."

"Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti ini pada kami, Mega? Apakah tidak ada rasa kasihan mu pada anak kita yang baru lahir?"

"Untuk apa aku punya rasa kasihan? Jika aku menetap dan memilih bersama pria miskin seperti mu, maka aku akan hidup menderita. Berbeda jika aku memilih Kurniawan, dia kaya dan aku bisa menjadi nyonya Kurniawan."

"Kau lebih memilih harta dari pada kami?"

"Ya, lagi pula apa untungnya aku memilih kalian? Lebih baik aku memikirkan hidup ku dari pada kau si pria miskin."

Rekam jejak masa lalu, 15 tahun sudah El hidup sendiri. Merawat putranya sendirian, mencari pundi-pundi rupiah sendirian, dan menaikan posisi keluarga Sanjaya ke tingkat yang lebih tinggi agar tidak lagi menjadi bahan hinaan. El sudah melakukannya selama itu.

"Sial! Kenapa aku harus mengingat wanita menjijikkan itu. Dia sudah menjalani kehidupan yang baik sedangkan aku masih terkubur dalam masa lalu menyedihkan."

El benci dirinya yang seperti ini, seharusnya 15 tahun yang lalu ia melupakan penghinaan serta pengkhianatan mantan istrinya. Tapi nyatanya tidak, ia masih terjebak akan masa lalu sekaligus cinta pertamanya.

"Sebaiknya aku fokus pada hidup putra ku. Ya, sudah saatnya aku memperbaiki hubungan kami."

Menjauh, bukan berarti El membenci Selatan. Ia hanya terlalu fokus pada dunianya serta balas dendamnya, sehingga lupa jika dirinya memiliki buah hati yang kekurangan kasih sayang.

"Halo Lulu, kapan jadwal ku kosong?" El memutuskan menghubungi sang sekretaris yang bernama Luluwy Febrina.

"Besok Bapak sudah tidak punya jadwal apa pun, Jika Bapak ingin kembali ke Bandung maka saya akan memesankan tiket pesawat."

"Baik, pesan tiket untuk ku. Aku ingin kembali besok pagi."

"Baik, Pak."

Setelah selesai berbicara dengan sang sekretaris. El menyelesaikan pekerjaannya yang masih tersisa, ia berjanji akan bekerja dari Senin hingga Jumat dan menghabiskan waktu bersama putranya dari Sabtu dan Minggu.

Jika ditanya sebenarnya seperti apa sifat El, maka semua orang akan menjawab bahwa pria itu dingin, acuh dan tidak banyak bicara apalagi buang-buang waktu. Ia juga memiliki lidah tajam, sudah banyak lawan bicara terutama wanita yang berniat merayunya sakit hati akibat perkataanya.

Ketika sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berdering pertanda bahwa ada yang menghubunginya. Dan saat ia melihat siapa si penelpon, El segera mengangkatnya.

"Assalamualaikum, Nak. Bagaimana kabar mu?"

"Waalaikumsalam, baik Bu. Kalau Ibu bagaimana?"

"Sama seperti mu, semuanya baik. Oh ya, kapan kau membawa cucu ibu menginap di rumah. Ibu sudah rindu padanya."

"Minggu depan kami akan berkunjung dan menginap, Bu."

"Baguslah, kau juga harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama putra mu. Kalau bisa kau juga memberikan ibu sambung untuknya, tidak semua wanita seperti mantan istri mu."

"Aku belum memikirkannya, tapi jika ada aku akan memperkenalkannya pada Ibu."

"Kau selalu memberikan jawab seperti itu, sudah 15 tahun dan kau masih setia dengan kesendirian mu. Apa perlu ibu mencarikan jodoh untuk mu?"

"Tidak perlu, aku bisa mencarinya sendiri. Lagi pula aku tidak ingin asal pilih, aku sudah memiliki anak dan mencari wanita yang bersedia menerima kondisi ku ditambah Selatan yang harus menyukai wanita itu juga. Rasanya perjodohan bukan hal yang tepat."

Di samping gagalnya ia melupakan masa lalu, El juga takut salah memilih ibu sambung untuk anaknya. Sudah banyak berita yang ia lihat tentang ibu tiri, walau sebenarnya tidak semua wanita seperti itu. Namun, dia juga harus memikirkan perasaan sang putra dan bertanya tentang pendapatnya.

"Baiklah, jangan terlalu lama. Kasihan Selatan, Nak."

"Iya, Bu. Kalau begitu aku akan memutuskan sambungan telepon, jaga kesehatan ayah dan Ibu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Nak."

Episodes
1 Perselingkuhan
2 Kecurigaan
3 Pernikahan Kedua Suamiku
4 Memilih Jadi Janda
5 Memulai Hidup Baru
6 Resmi Bercerai
7 Ditolak
8 Sampah
9 Pertemuan Pertama
10 Menyetujui
11 Bunda Adel
12 Kunjungan
13 Posesif
14 Bertemu Kembali
15 Berdiri Tegak
16 Nasehat
17 Salah Paham
18 Penyesalan Seorang Ayah
19 Memperbaiki
20 Salah Paham (2)
21 Perjodohan
22 Anak Panti
23 Mencoba Mendekati
24 Menghindar
25 Panti Asuhan
26 Wanita Tidak Tahu Malu
27 Bersaudara
28 Perasaan Aneh
29 Dituduh
30 Kebenaran
31 Pelaku Yang Sebenarnya
32 Meminta Maaf
33 Memanjakan
34 Penangkapan
35 Kantor Polisi
36 Ibu Yang Kejam
37 Dituduh Pelakor
38 Bertemu Kembali
39 Bundanya Anak-anak
40 Rasa Sakit Seorang Anak
41 Tiba-tiba Di Lamar
42 Mulai Menyesal
43 Tampak Lebih Bahagia
44 Mempermalukan Diri Sendiri
45 Meluruskan Kesalahpahaman
46 Tes DNA
47 Tentang Sifa
48 Keributan
49 Disegerakan
50 Niat Yang Baik
51 Hukum Tabur Tuai
52 Akad Nikah
53 Makna Rumah Sesungguhnya
54 Terasa Seperti Mimpi
55 Persaingan Ayah dan Anak
56 Fitnah
57 Hamil
58 Dia Istriku
59 Hancur Yang Sesungguhnya
60 Kebenaran Yang Menyakitkan
61 Cerita Kelam Di Masa Lalu
62 Roda Kehidupan Yang Berputar
63 Ingin Muntah
64 Mantan Istri
65 Penjelasan
66 Ini Karma
67 Mengadu Pada Ayah
68 Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69 Akhir Dari Wanita Penggoda (2)
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Perselingkuhan
2
Kecurigaan
3
Pernikahan Kedua Suamiku
4
Memilih Jadi Janda
5
Memulai Hidup Baru
6
Resmi Bercerai
7
Ditolak
8
Sampah
9
Pertemuan Pertama
10
Menyetujui
11
Bunda Adel
12
Kunjungan
13
Posesif
14
Bertemu Kembali
15
Berdiri Tegak
16
Nasehat
17
Salah Paham
18
Penyesalan Seorang Ayah
19
Memperbaiki
20
Salah Paham (2)
21
Perjodohan
22
Anak Panti
23
Mencoba Mendekati
24
Menghindar
25
Panti Asuhan
26
Wanita Tidak Tahu Malu
27
Bersaudara
28
Perasaan Aneh
29
Dituduh
30
Kebenaran
31
Pelaku Yang Sebenarnya
32
Meminta Maaf
33
Memanjakan
34
Penangkapan
35
Kantor Polisi
36
Ibu Yang Kejam
37
Dituduh Pelakor
38
Bertemu Kembali
39
Bundanya Anak-anak
40
Rasa Sakit Seorang Anak
41
Tiba-tiba Di Lamar
42
Mulai Menyesal
43
Tampak Lebih Bahagia
44
Mempermalukan Diri Sendiri
45
Meluruskan Kesalahpahaman
46
Tes DNA
47
Tentang Sifa
48
Keributan
49
Disegerakan
50
Niat Yang Baik
51
Hukum Tabur Tuai
52
Akad Nikah
53
Makna Rumah Sesungguhnya
54
Terasa Seperti Mimpi
55
Persaingan Ayah dan Anak
56
Fitnah
57
Hamil
58
Dia Istriku
59
Hancur Yang Sesungguhnya
60
Kebenaran Yang Menyakitkan
61
Cerita Kelam Di Masa Lalu
62
Roda Kehidupan Yang Berputar
63
Ingin Muntah
64
Mantan Istri
65
Penjelasan
66
Ini Karma
67
Mengadu Pada Ayah
68
Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69
Akhir Dari Wanita Penggoda (2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!