Sampah

Sudah enam bulan Adel resmi menjadi janda. Dan ada banyak hal yang terjadi, pernikahan megah sang suami, yang bahkan tidak pernah pria itu berikan padanya di masa lalu, dan pekerjaannya yang kini mulai menyita banyak waktu hingga ia mulai melupakan kegagalan pernikahannya.

Apalagi, kehadiran Adel seperti daya tarik tersendiri untuk toko karena membuat banyak pria lajang datang namun tidak pernah berani mengganggunya. Hanya sekedar bertanya dan memandang dari kejauhan. Hal tersebut tidak menjadi gangguan bagi Adel sehingga ia tidak melarang.

Namun, kedamaian itu berubah ketika Raihan dan Sifa berdiri di hadapannya. Wajah sombong mereka membuat Adel yang kebetulan sedang berada di Jakarta secara tidak sengaja bertemu dengan kedua manusia yang telah menorehkan banyak luka di hatinya. Rasanya, ia ingin memukul tapi berusaha menahan sebab mereka sedang berada di depan umum apalagi Adel tidak memiliki uang untuk melawan mereka jika keduanya melaporkan ke pihak berwajib.

Adel tidak pernah menduga akan segera bertemu dengan dua orang yang sangat ingin di hindari.

"Lihatlah, Sayang. Mantan istri mu bekerja di depan toko bunga! Bukankah ini sangat menarik." Sifa menatap jijik Sifa, bersikap seolah-olah dialah pemenangnya dan sumpah serapah Adel di masa lalu tidak pernah berlaku untuknya. Buktinya, dia masih tetap menjadi istri satu-satunya sang suami dan perusahaan suaminya semakin berkembang pesat.

"Itulah yang dia dapatkan ketika bersikap sombong dengan bercerai. Hanya meminta 10 juta, benar-benar berpikir bahwa uang itu mampu membuatnya hidup." Raihan dan Sifa berpikir bahwa Adel sedang mencari pekerjaan di Jakarta, seperti kebanyakan seorang janda tanpa pembagian harta keluarga.

Adel berusaha menahan diri. Sejujurnya, dia sangat menyesal datang ke Jakarta. Awalnya, hanya berniat bertemu dengan ibu panti yang sudah merawatnya sejak kecil, namun siapa yang menduga kalau dia akan bertemu secara tidak sengaja dengan mereka. Benar kata pepatah, dunia tidak selebar daun kelor.

"Mungkin makan pun dia masih terancam."

"Biarkan, itu balasan Tuhan karena sudah menyinggung ku."

Sehebat apa Raihan dan se suci apa dia sehingga Tuhan harus membalaskan apa yang tidak pernah Adel lakukan padanya.

Memang benar, semakin tua jaman semakin tidak bermoral manusia.

"Tapi, bukankah ini cukup dekat dengan perusahaan milik putra kita, Sayang? Sepertinya dia tidak benar-benar menyerah akan perusahan yang akan menjadi milik putra kita setelah dia lahir." Sifa menggosok perutnya, berniat memberitahu Adel kalau ia sedang mengandung anak Raihan.

Bohong, lokasi tempat mereka bertemu tidak dekat dengan perusahaan yang dulunya telah di bangun oleh Adel. Sifa memang sengaja melebih-lebihkan karena ingin pamer.

"Dia tidak akan bisa merebutnya. Itu milik putra kita dan selamanya akan seperti itu."

Raihan sama brengseknya dengan Sifa. Dia bahkan ikut-ikutan, bertindak sangat tidak tahu malu. Mengakui apa yang sudah Adel bangun sejak awal.

"Aku takut dia akan merayu mu. Aku tidak ingin kehilangan mu, dan bayi kita memiliki ibu tiri. Kau pasti tahu bahwa ibu tiri selalu kejam dalam cerita dongeng serta filim."

Kini Sifa membuat pernyataan yang bahkan tidak pernah Adel pikirkan sama sekali. Kembali pada Raihan saja dia tidak akan pernah mau, lalu menjadi ibu tiri dari putra selingkuhannya. Tidak, Adel lebih suka menjadi janda selamanya dari pada harus hidup menyediakan seperti itu.

"Tidak akan pernah, aku sangat mencintai mu dan putra kita. Jadi, jangan berpikir hal aneh, tidak baik untuk kandungan mu."

Sifa semakin memainkan perannya. Ia bergelayut manja di depan Raihan. Tidak malu ketika orang-orang melihatnya dengan jijik. Seolah-olah tidak ada tempat lain saja, seperti itulah yang orang-orang pikiran.

Mungkin wanita tersebut terbawa suasana bulan madu. Dari negeri yang mereka kunjungi saat bulan madu. Meskipun di negara mereka sah-sah saja melakukannya namun tidak biasakan Sifa penuh sopan sedikit.

Sopan santun adalah hal yang paling di butuhkan.

"Apa kalian sudah selesai? Aku ingin bekerja dimana dan bagaimana hidup ku itu bukan urusan kalian. Satu hal yang harus kalian tahu. Aku tidak akan pernah memungut sampah yang jelas-jelas tidak berharga. Jadi, jangan khawatir, setelah ku buang tidak akan ku ambil kembali."

Bukannya malu, Sifa malah tertawa bahagia. Ia berpikiran bahwa Adel sedang malu pada kondisinya sehingga berusaha memberikan kata-kata bijaksana.

"Apa kau tahu, barang yang kau sebut sampah itu sudah mengajak ku bulan madu ke Negara romantis selama satu bulan. Tidakkah kau iri? Jangan bilang tidak, bagaimanapun ketika kalian menikah, kau langsung bekerja demi menyambung hidup."

" Sifa, jaga ucapan mu!" Raihan sedikit tersinggung di sebut sampah dan di ungkit bagaimana dulu ia memperlakukan Adel yang sangat baik padanya di masa lalu.

"Mas aku nggak bermaksud." Kini Sifa menyesali perkataannya barusan. "Aku hanya ingin memberitahu Adel kalau kamu jauh lebih baik dari sampah." Lagi-lagi Sifa mengucapkan kata yang menjatuhkan harga diri dan egonya sebagai seorang pria.

"Kalau aku sampah, lalu disebut apa diri mu." Raihan dengan sejuta harga dirinya. Dia tidak akan memaafkan mereka yang menghinanya meskipun orang tersebut istrinya.

"Tentu saja tong sampahnya. Kau masuk ke dalamnya lalu kalian bersama selamanya. Bukankah itu yang di sebut jodoh. Sampah dan tong sampah bersatu." Adel menambahkan bahan bakar agar keduanya meledak.

"Beraninya kau menyebut ku tong sampah!"

"Memangnya siapa kau yang harus ku takutkan. Sudahlah, sebaiknya kalian pergi. Dan untuk mu Raihan, cobalah untuk fokus saja pada perusahaan mu saja dan menjauh dari hidup ku. Aku bisa meramal kalian sebentar lagi akan miskin."

Lalu, Adel pergi meninggalkan pasangan tersebut. Tidak perduli dengan pandangan penuh permusuhan dan kebencian dari keduanya.

"Sayang, aku tidak bermaksud." Sekarang Sifa harus membujuk Raihan untuk melupakan kata-katanya tadi. Ia merasa bodoh karena ikut dalam permainan kata Adel sehingga menghina ego pria Raihan.

"Sekarang sebaiknya kau pulang. Jangan pernah datang ke perusahaan, itu mengganggu kinerja ku dan karyawan akan mulai menyebarkan gosip tidak baik tentang ku." Raihan masih marah dan tidak akan mudah di tenangkan.

"Mas, jangan marah. Aku tahu aku salah."

"Apa kau tidak mendengar perkataan ku? Pulang! Sekarang pulang dan jadilah ibu rumah tangga yang seharusnya, jika saat aku kembali makan malam belum ada, jangan berpikir untuk mendapatkan uang bulanan." Lalu, Raihan pergi meninggalkan Sifa mematung akibat perkataan suaminya barusan.

Seharusnya ini adalah hari terbaik untuknya. Dia sudah menyiapkan banyak rencana untuk mempermalukan Adel, membuatnya cemburu dan marah. Tapi apa yang terjadi, semuanya menjadi sia-sia sekarang.

Jika Adel berpikir bahwa pertemuan mereka tidak disengaja, maka salah. Sifa mendapatkan laporan dari salah satu temannya bahwa dia tidak sengaja melihat keberadaan Adel lalu mengikuti pergerakannya sehingga Sifa akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang sudah membantunya di masa lalu namun dia tusuk dari belakang.

Episodes
1 Perselingkuhan
2 Kecurigaan
3 Pernikahan Kedua Suamiku
4 Memilih Jadi Janda
5 Memulai Hidup Baru
6 Resmi Bercerai
7 Ditolak
8 Sampah
9 Pertemuan Pertama
10 Menyetujui
11 Bunda Adel
12 Kunjungan
13 Posesif
14 Bertemu Kembali
15 Berdiri Tegak
16 Nasehat
17 Salah Paham
18 Penyesalan Seorang Ayah
19 Memperbaiki
20 Salah Paham (2)
21 Perjodohan
22 Anak Panti
23 Mencoba Mendekati
24 Menghindar
25 Panti Asuhan
26 Wanita Tidak Tahu Malu
27 Bersaudara
28 Perasaan Aneh
29 Dituduh
30 Kebenaran
31 Pelaku Yang Sebenarnya
32 Meminta Maaf
33 Memanjakan
34 Penangkapan
35 Kantor Polisi
36 Ibu Yang Kejam
37 Dituduh Pelakor
38 Bertemu Kembali
39 Bundanya Anak-anak
40 Rasa Sakit Seorang Anak
41 Tiba-tiba Di Lamar
42 Mulai Menyesal
43 Tampak Lebih Bahagia
44 Mempermalukan Diri Sendiri
45 Meluruskan Kesalahpahaman
46 Tes DNA
47 Tentang Sifa
48 Keributan
49 Disegerakan
50 Niat Yang Baik
51 Hukum Tabur Tuai
52 Akad Nikah
53 Makna Rumah Sesungguhnya
54 Terasa Seperti Mimpi
55 Persaingan Ayah dan Anak
56 Fitnah
57 Hamil
58 Dia Istriku
59 Hancur Yang Sesungguhnya
60 Kebenaran Yang Menyakitkan
61 Cerita Kelam Di Masa Lalu
62 Roda Kehidupan Yang Berputar
63 Ingin Muntah
64 Mantan Istri
65 Penjelasan
66 Ini Karma
67 Mengadu Pada Ayah
68 Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69 Akhir Dari Wanita Penggoda (2)
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Perselingkuhan
2
Kecurigaan
3
Pernikahan Kedua Suamiku
4
Memilih Jadi Janda
5
Memulai Hidup Baru
6
Resmi Bercerai
7
Ditolak
8
Sampah
9
Pertemuan Pertama
10
Menyetujui
11
Bunda Adel
12
Kunjungan
13
Posesif
14
Bertemu Kembali
15
Berdiri Tegak
16
Nasehat
17
Salah Paham
18
Penyesalan Seorang Ayah
19
Memperbaiki
20
Salah Paham (2)
21
Perjodohan
22
Anak Panti
23
Mencoba Mendekati
24
Menghindar
25
Panti Asuhan
26
Wanita Tidak Tahu Malu
27
Bersaudara
28
Perasaan Aneh
29
Dituduh
30
Kebenaran
31
Pelaku Yang Sebenarnya
32
Meminta Maaf
33
Memanjakan
34
Penangkapan
35
Kantor Polisi
36
Ibu Yang Kejam
37
Dituduh Pelakor
38
Bertemu Kembali
39
Bundanya Anak-anak
40
Rasa Sakit Seorang Anak
41
Tiba-tiba Di Lamar
42
Mulai Menyesal
43
Tampak Lebih Bahagia
44
Mempermalukan Diri Sendiri
45
Meluruskan Kesalahpahaman
46
Tes DNA
47
Tentang Sifa
48
Keributan
49
Disegerakan
50
Niat Yang Baik
51
Hukum Tabur Tuai
52
Akad Nikah
53
Makna Rumah Sesungguhnya
54
Terasa Seperti Mimpi
55
Persaingan Ayah dan Anak
56
Fitnah
57
Hamil
58
Dia Istriku
59
Hancur Yang Sesungguhnya
60
Kebenaran Yang Menyakitkan
61
Cerita Kelam Di Masa Lalu
62
Roda Kehidupan Yang Berputar
63
Ingin Muntah
64
Mantan Istri
65
Penjelasan
66
Ini Karma
67
Mengadu Pada Ayah
68
Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69
Akhir Dari Wanita Penggoda (2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!