Resmi Bercerai

"Akhirnya, sebentar lagi ibu akan jadi nenek."

"Iya, Bu. Tapi mas Raihan harus cepat-cepat nikahi ku. Aku nggak mau anak ini di sebut haram.

"Pasti, karena perempuan mandul itu sudah pergi. Jadi, kalian bisa langsung menikah."

"Ayah setuju, kalau bisa bulan depan dan sangat mewah.

Keluarga Raihan sedang merayakan kepergian Adel. Mereka memang tidak menyukai wanita tersebut, bukan karena jelek atau miskin. Bagaimanapun mereka juga berasal dari keluarga miskin.

Kebencian itu berasal dari kemampuan Adel yang mampu menghidupkan perusahaan hingga keluarga mereka bisa menjadi kaya.

Gengsi dan tidak tahu malu. Mereka gengsi karena kehebatan Adel, dan tidak tahu malu mengakui kehebatan Adel sebagai milik mereka.

Selain itu, Adel yang jarang ikut berkumpul dengan acara keluarga membuat pihak Raihan merasa sangat tidak senang. Seharusnya Adel menjilat mereka seperti yang di lakukan oleh Sifa.

Wanita itu memang sangat ahli dalam menarik perhatian orang banyak, suka bersilat lidah dan memfitnah Adel terus-menerus hingga kebencian tertanam di dalam hati setiap anggota keluarga Raihan.

Ditambah lagi, Adel yang tidak kunjung hamil. Semakin memperparah semuanya. Mereka memberikan lebel mandul pada Adel tanpa mengajaknya memeriksa kondisi di rumah sakit.

"Aku ikut kalian saja. Sekarang yang terpenting adalah mengurus perceraian ku dengan Adel."

Tidak ada rasa bersalah dalam diri Raihan. Dia bahkan ikut bahagia karena Adel, yang sudah ia anggap sebagi beban dan hal yang dapat mempermalukannya di depan para rekan bisnis telah pergi.

Akhirnya, ia terbebas dari sampul pria tidak berguna. Menikmati hasil kerja keras Adel dan merasa yakin bahwa dia mampu menjalankan perusahaan.

Andai Raihan sadar bahwa Adel sudah melakukan banyak hal. Merelakan jam tidur dan makannya, tidak pernah memperdulikan kondisi tubuhnya bahkan rela berada di kantor di akhir pekan tanpa ada liburan. Dia mungkin akan menyesali kebodohannya, tapi tidak. Untuk sekarang Tuhan sengaja menutup hatinya agar di masa depan dia akan mengerti arti pengorbanan yang di sia-siakan.

Dan lebih kejamnya lagi. Raihan sibuk dengan Sifa. Mereka memadu kasih hingga melewati batas sewajarnya. Menertawakan penderita Adel yang rela bekerja dari pagi hingga larut malam.

Sungguh, perbuatan mereka benar-benar tidak bisa di maafkan. Belum lagi Sifa yang Adel bantu kehidupannya. Dia seperti tidak puas hanya hidup dari uang Adel, dan kini berhasil menjadi nyonya sehingga bisa meraup semua kekayaan yang Adel kumpulkan.

"Aku juga ingin pergi bulan madu," ucap Sifa malu-malu.

"Oke, ke Bali atau Atau luar negeri?"

"Luar Negeri! Aku mau pergi ke Paris. Ku dengar kalau Negara itu terkenal sebagai tempat paling romantis.

Raihan dan keluarganya tertawa mendengar perkataan polos Sifa. Mereka tidak keberatan, begitu pula Raihan. Dia akan melakukan apa saja agar Sifa bahagia.

"Baik, kita juga akan tinggal di sana selama satu bulan."

"Beneran, Mas?" Sifa jadi semakin bersemangat.

"Ya, bagaimanapun kau sedang mengandung buah cinta kita, dan aku ingin memanjakan mu."

"Terima kasih, Mas."

"Apapun untuk mu, Sayang."

***

Hari ini adalah sidang perceraian Adel dan Raihan di gelar. Ada banyak hal yang sudah terjadi pada wanita tersebut. Di usia ke 26 tahun dia resmi menjadi janda dan harus memulai kembali usahanya.

Miris memang, Adel tidak tahu harus bagaimana. Hanya jalan satu-satunya adalah membuka lembaran baru, melupakan rasa sakit sambil menikmati hidup yang mulai hambar bagi Adel.

"Lihat, wajah mu semakin tua ketika memilih bercerai dan jadi miskin." Ejek mantan ibu mertua adalah hal pertama yang Adel dengar ketika mereka bertemu.

Sebenarnya, ini bukan hal baru lagi. Selama lima tahun menikah dengan Raihan, dia sudah sering mengalami hal-hal seperti itu. Di hina, di pandang sebelah mata dan di jadikan pelayan gratis.

"Resiko jadi wanita mandul. Lihat sekarang, suamimu memilih melepaskan mu dan hidup bahagia bersama wanita yang bisa memberikannya keturunan." Kini mantan kakak ipar perempuan Adel ikut menyerang.

"Memang cuman Sifa yang pantas untuk putra ku. Sedangkan kau hanya buang-buang waktu Raihan selama lima tahun."

Ingin rasanya Adel tertawa setelah mendengar perkataan ibu mertuanya. Membuang waktu katanya? Bukankah seharusnya dia yang mengatakan hal seperti itu. Dan Sifa adalah wanita paling pantas, maka Adel akan menunggu kehancuran keluarga mantan suaminya.

"Apa kau tahu apa alasan Raihan tidak bisa datang saat sidang perceraian kalian? Dia sedang menemani Sifa jalan-jalan dan berbelanja. Tiba-tiba saja putra mereka ingin dimanjakan ayahnya." Dia yang bertanya, dan dia pula yang menjawab. Adel ingin tertawa saat mendengarnya.

"Percuma, Bu. Dia tidak akan mengerti tentang hal seperti itu. Bagaimanapun dia wanita mandul, maka mungkin dia bisa paham dengan kebutuhan seorang wanita hamil."

"Astaga, ibu lupa! Kau benar, Sayang. Perempuan mandul memang tidak akan mengerti hal seperti itu."

"Mungkin juga karma, Bu."

"Bisa jadi, ibunya pasti pernah jadi simpanan dan melahirkannya. Sayangnya dia harus dibuang ke panti asuhan. Mungkin kutukan dari suami sah pria yang ibunya goda."

Nah, ini semakin membuat Adel ingin tertawa. Meskipun ia tidak tahu apa alasan orang tuanya membuangnya di panti asuhan, namun perkataan mantan ibu mertua dan kakak iparnya seperti tanpa rasa malu.

Bukankah Sifa adalah wanita simpanan. Bahkan ada anak yang di hasilkan dari sana, namun seolah-olah perbuatan menjijikan Sifa suci sedangkan kesalahannya yang belum memberikan anak pada Raihan adalah kutukan.

"Nyonya, ada baiknya sebelum berbicara bercermin lah dulu. Menantu anda seorang simpanan, begitu juga putra anda yang tidak bisa menahan hasratnya hingga menghasilkan anak tidak berdosa namun berasal dari hubungan yang Tuhan pun membenci mereka."

Kata-kata Adel membungkam kedua wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Mereka tidak menduga kalau Adel akan berani melawan.

"Beraninya kau menghina cucu dan menantu ku!!!" Teriakan mantan ibu mertua Adel menarik perhatian banyak orang.

"Aku tidak pernah menghinanya. Seharusnya anda sadar sebelum memberi komentar tentang hidup ku. Walau aku tinggal di panti asuhan, tapi aku tidak pernah sekalipun melakukan hal-hal tercela dengan bangga."

Secara garis besar, kerumuman yang melihat perdebatan ketiganya sudah tahu apa masalahnya.

Pihak pertama adalah korban orang ketiga dan pihak kedua merupakan keluarga dari pelaku.

"Benar-benar memalukan. Begitulah jaman sekarang, yang salah di benarkan dan yang benar menjadi titik hinaan." Komentar seorang ibu-ibu.

"Kasihan, masih muda dan cantik malah menikah sama pria tukang selingkuh. Pasti selingkuhannya hamil dan meminta di nikahi."

"Sudah, Nak. Jangan di dengarkan, kamu benar dengan memilih bercerai. Kamu masih cantik, dan masa depan kamu pasti cerah."

"Iya, anggap saja buang sial."

Komentar penonton semakin membuat ibu dan kakak perempuan Raihan malu. Sedangkan Adel merasa sedikit terhibur.

"Awas saja, kalau sampai kau sampai mengganggu putra ku lagi. Kau akan tahu akibatnya."

"Aku malah takut putra mu yang mengganggu hidup ku. Perlu Nyonya ketahui, perusahaan itu berdiri karena usaha ku, sedangkan putra kesayangan mu hanya menunggu di rumah. Bayangkan apa yang akan terjadi kalau pendiri asli pergi dan yang tertinggal merupakan seorang pengecut yang bersembunyi di bawah ketiak ibunya dan menunggu belas kasihan mantan istrinya."

"Beraninya kau!!!" Tangan wanita paruh baya tersebut terangkat dan akan memukul wajah mulus Adel, namun dihentikan oleh Adel.

"Jangan pernah menyentuh ku. Aku tidak suka ada tangan orang yang tidak tahu berterima kasih seperti kalian menyentuh ku, bahkan hanya sentuhan kecil sekalipun." Adel membuang tangan mantan mertuanya dengan kasar.

"Adel! Dimana sopan santun mu pada orang tua?!"

"Apa dia perlu di berikan hormat? Jangan lupa kalau kalian yang lebih dulu memulai. kau seharusnya takut sekarang, mungkin saja karma dari perbuatan adik mu terjadi pada mu.

"Kau menyumpahi rumah tangga ku?!"

"Tidak, aku tidak suka membuang waktu ku untuk orang-orang seperti kalian. Aku hanya memberi saran agar di masa depan kau bisa lebih waspada mengawasi suami mu." Lalu, Adel pergi meninggalkan kelompok mantan ibu mertuanya.

Setidaknya, rasa sakitnya mulai berkurang setelah membuat kedua wanita tersebut malu.

Episodes
1 Perselingkuhan
2 Kecurigaan
3 Pernikahan Kedua Suamiku
4 Memilih Jadi Janda
5 Memulai Hidup Baru
6 Resmi Bercerai
7 Ditolak
8 Sampah
9 Pertemuan Pertama
10 Menyetujui
11 Bunda Adel
12 Kunjungan
13 Posesif
14 Bertemu Kembali
15 Berdiri Tegak
16 Nasehat
17 Salah Paham
18 Penyesalan Seorang Ayah
19 Memperbaiki
20 Salah Paham (2)
21 Perjodohan
22 Anak Panti
23 Mencoba Mendekati
24 Menghindar
25 Panti Asuhan
26 Wanita Tidak Tahu Malu
27 Bersaudara
28 Perasaan Aneh
29 Dituduh
30 Kebenaran
31 Pelaku Yang Sebenarnya
32 Meminta Maaf
33 Memanjakan
34 Penangkapan
35 Kantor Polisi
36 Ibu Yang Kejam
37 Dituduh Pelakor
38 Bertemu Kembali
39 Bundanya Anak-anak
40 Rasa Sakit Seorang Anak
41 Tiba-tiba Di Lamar
42 Mulai Menyesal
43 Tampak Lebih Bahagia
44 Mempermalukan Diri Sendiri
45 Meluruskan Kesalahpahaman
46 Tes DNA
47 Tentang Sifa
48 Keributan
49 Disegerakan
50 Niat Yang Baik
51 Hukum Tabur Tuai
52 Akad Nikah
53 Makna Rumah Sesungguhnya
54 Terasa Seperti Mimpi
55 Persaingan Ayah dan Anak
56 Fitnah
57 Hamil
58 Dia Istriku
59 Hancur Yang Sesungguhnya
60 Kebenaran Yang Menyakitkan
61 Cerita Kelam Di Masa Lalu
62 Roda Kehidupan Yang Berputar
63 Ingin Muntah
64 Mantan Istri
65 Penjelasan
66 Ini Karma
67 Mengadu Pada Ayah
68 Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69 Akhir Dari Wanita Penggoda (2)
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Perselingkuhan
2
Kecurigaan
3
Pernikahan Kedua Suamiku
4
Memilih Jadi Janda
5
Memulai Hidup Baru
6
Resmi Bercerai
7
Ditolak
8
Sampah
9
Pertemuan Pertama
10
Menyetujui
11
Bunda Adel
12
Kunjungan
13
Posesif
14
Bertemu Kembali
15
Berdiri Tegak
16
Nasehat
17
Salah Paham
18
Penyesalan Seorang Ayah
19
Memperbaiki
20
Salah Paham (2)
21
Perjodohan
22
Anak Panti
23
Mencoba Mendekati
24
Menghindar
25
Panti Asuhan
26
Wanita Tidak Tahu Malu
27
Bersaudara
28
Perasaan Aneh
29
Dituduh
30
Kebenaran
31
Pelaku Yang Sebenarnya
32
Meminta Maaf
33
Memanjakan
34
Penangkapan
35
Kantor Polisi
36
Ibu Yang Kejam
37
Dituduh Pelakor
38
Bertemu Kembali
39
Bundanya Anak-anak
40
Rasa Sakit Seorang Anak
41
Tiba-tiba Di Lamar
42
Mulai Menyesal
43
Tampak Lebih Bahagia
44
Mempermalukan Diri Sendiri
45
Meluruskan Kesalahpahaman
46
Tes DNA
47
Tentang Sifa
48
Keributan
49
Disegerakan
50
Niat Yang Baik
51
Hukum Tabur Tuai
52
Akad Nikah
53
Makna Rumah Sesungguhnya
54
Terasa Seperti Mimpi
55
Persaingan Ayah dan Anak
56
Fitnah
57
Hamil
58
Dia Istriku
59
Hancur Yang Sesungguhnya
60
Kebenaran Yang Menyakitkan
61
Cerita Kelam Di Masa Lalu
62
Roda Kehidupan Yang Berputar
63
Ingin Muntah
64
Mantan Istri
65
Penjelasan
66
Ini Karma
67
Mengadu Pada Ayah
68
Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69
Akhir Dari Wanita Penggoda (2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!