Memilih Jadi Janda

"Apa beginilah sifat asli mu, Raihan? Atau, karena kau merasa kaya, jadi kau bisa memperlakukan wanita seenak mu?" Adel sudah tidak lagi menghormati Raihan sebagai suaminya. Bagi wanita itu, pria seperti Raihan memang tidak pantas dihormati.

Pertanyaan Adel membuat Raihan semakin malu. Tapi, dia punya banyak pertimbangan jika ingin berbuat kasar pada Adel. Pria itu benar-benar takut kehilangan tambang uangnya. Dia sadar kalau perusahaan bisa hancur tanpa Adel. Tapi, dia tidak pernah menyesali keputusanya menikahi Sifa. Wanita itu sudah seperti candu baginya yang mulai kehilangan hasrat pada Adel yang terlalu sibuk di perusahaan.

Benar-benar menjijikan bukan? Seharusnya dialah yang bekerja, bukan membiarkan istrinya mencari uang. Bukannya malu, Raihan malah menganggap itu hal yang wajar dan Adel tergila-gila padanya.

"Jaga kata-kata mu, Adel! Aku masih suami mu dan kau harusnya menghormati ku." Reihan ingin menunjukkan pada Adel kalau wanita itu harus memberi hormat padanya.

"Hormat? Haruskah pria seperti mu diberi rasa hormat? Selalu bersembunyi di balik ketiak ibumu, dan menjadikan istri mu hilang punggung keluarga mu. Lalu, sekarang kau menjadi semakin serakah dengan menikah wanita yang sudah ku tolong perekonomiannya. Oh, astaga. Dunia ku kurang luas ternyata."

Keluarga Raihan menjadi sangat malu. Ayah Raihan yang bernama Haris menjadi sangat kesal. Sebenarnya, dia dan Raihan tidak ada bedanya. Menempelkan diri seperti benalu pada istrinya. Ternyata, kalimat 'buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya' benar adanya.

"Jaga ucapan mu, Adel! Raihan masih suami mu. Tidak sepantasnya kau menghinanya apalagi keluarga mertua mu. Kalau aku tahu kau akan menjadi wanita yang besar kepala hanya karena sedikit membantu putra ku mengelola perusahaan, aku tidak akan pernah sudi memberi restu pada mu. Sudah benar Raihan menikahi Sifa. Dia wanita baik dan sang cocok untuk menjadi ibu dari cucu ku."

"Suamiku benar! Aku sangat malu memiliki menantu sepertimu. Bahkan orang tua mu saja membuang mu. Mungkin saja kau anak dari hasil hubungan gelap. Sangat menjijikkan. Di keluarga ku tidak pernah bersedia menerima anak tidak sah seperti mu."

Lagi-lagi ibu Raihan menyebut identitas Adel. Sebenarnya, dia tidak ingin Adel pergi. Dia berkata kasar seperti itu untuk membuat Adel malu serta merasa tidak percaya diri sehingga tidak akan pernah meninggalkan putranya. Namun, siapa yang menduga kalau kalimatnya malah membuat sang menantu semakin mantap meninggalkan Raihan.

Sifa yang dibela menjadi sangat senang. Dia memberikan senyum mengejek pada Adel, tidak lupa tangannya mengelus perutnya yang masih terlihat rata.

Adel yang melihat hal tersebut tidak melewatkan kesempatan untuk membalas ibu mertuanya.

"Apa anda yakin dengan kata-kata anda, Nyonya? Lalu, bagaimana dengan kehamilan menantu kesayangan mu sebelum menikah? Bukankah dia anak haram juga? Atau, ada pengecualian untuk anak haram tertentu?"

Semua orang tercengang. Raihan dan keluarganya pun seperti itu. Tidak menduga kalau kalimat ibu Raihan untuk menyerang mental Adel malah berbalik mempermalukan mereka sekeluarga.

"Sudah cukup, Adel! Sekarang pulang lah dan tunggu aku di rumah. Jangan lupa kosongkan kamar utama karena mulai sekarang Sifa yang akan menempatinya. Dia lebih membutuhkan ku dibandingkan diri mu."

Lagi-lagi Sifa tersenyum penuh kemenangan. Walau dia dipermalukan di awal, tapi dia merasa itu bukan sesuatu yang harus di ributkan. Toh, orang-orang juga pasti akan menuduh Adel kasar sehingga Raihan memutuskan menikahinya.

"Maaf, ku pikir kau rumah dan juga teman ku saat menua. Tapi aku salah, kau tidak layak menjadi keduanya, kau benar-benar pria menjijikan, dan aku akan pergi dari rumah ini." Selingkuh bukan sebuah khilaf yang bisa di maafkan.

Bagi Adel, ada dua kesalahan seorang suami yang tidak bisa di maafkan sampai kapanpun. Pertama bermain kasar dan kedua bermain wanita. Selingkuh itu ibarat narkoba, membuat si pengguna kecanduan dan sulit untuk meninggalkannya.

"Jadi, kau memilih menjadi janda? Hidup miskin dan di hina oleh masyarakat?" Tentu saja Raihan terkejut dengan keputusan Adel, dia bahkan mulai panik tapi sebisa mungkin tetap berlagak paling hebat dan tidak pernah takut di tinggalkan. "Jangan berpikir kau bisa membawa seluruh kekayaan ini. Sejak awal, perusahaan dan juga rumah serta aset-aset sudah atas nama ku. Jadi, kau tidak akan pernah bisa mengambilnya dari ku." Raihan merasa beruntung karena di masa lalu dia menggunakan namanya di setiap aset miliknya bersama Adel.

Sifa yang mendengar hal itu semakin tersenyum puas. Dia tidak perlu lagi bekerja dan mulai sekarang dialah satu-satunya nyonya Raihan. Sebuah keberuntungan yang tidak membuat Sifa menyesal karena telah menurunkan harga dirinya demi mendapatkan Raihan.

"Ambilah. Aku juga tidak akan memperebutkannya di pengadilan. Uang bisa di cari, dan aku masih cukup muda untuk menjadi gembel serta tidak berguna. Tenang saja, aku tidak akan meminta apapun dari mu. Nikmatilah kekayaan atas kerja keras ku. Anggap saja aku sedang bersedekah pada pria miskin seperti mu."

Hati Adel sakit, dia nyaris kehilangan ketenangan dan kewarasannya. Tapi, harga dirinya jauh lebih tinggi dari hanya sekedar kekayaan semu yang dirinya capai. Toh, dialah yang membangun perusahaan itu dari nol, Adel yakin bisa melakukannya lagi di perusahaan baru.

"Selamat tinggal Raihan Maulana Santoso. Semoga, saat kita bertemu lagi aku melihat mu benar-benar menjadi pria miskin dan keluarga mu menjadi gelandangan." Lalu, Adel pergi meninggalkan kediaman keluarga Santoso. Tentu saja kepergiannya meninggalkan ketakutan tersendiri bagi orang-orang yang mendengar doa Adel.

Adel membawa mobilnya ke rumah yang ia serta Raiham bangun. Adel hanya akan membawa pakaian, perhiasan dan barang-barang mewah yang dia beli dengan uang nya sendiri. Tidak, Adel tidak akan pernah sudi membiarkan Sifa menggunakan barang-barangnya. Dia lebih suka membakar barangnya dari pada memberikannya pada wanita tidak tahu diri tersebut.

Para pelayan yang melihat hal tersebut terkejut. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, namun mereka bisa memastikan bahwa tuan dan nyonya mereka sedang bertengkar hebat sehingga nyonya mereka memutuskan keluar dari rumah mewah tersebut.

"Kemana anda akan pergi, Nyonya?" Tiba-tiba seorang penjaga menghampiri Adel yang sedang berjalan sambil menyeret kopernya menuju pintu gerbang.

"Aku akan pergi. Tolong jaga rumah ini dan terima wanita yang akan sebentar lagi menjadi nyonya baru kalian."

Penjaga tersebut terpana, dia tidak menduga bahwa tuannya berani mengkhianati wanita yang menemaninya dari titik nol. Bukankah ini sangat kurang ajar dan tidak tahu malu.

"Tapi Nyonya. Bagi kami, hanya anda yang pantas menjadi Nyonya di rumah ini, jika anda pergi. Maka sebaiknya kami juga pergi."

Perlu diketahui bahwa sebagian besar dari para penjaga dan pelayan di rumah mewah tersebut adalah orang-orang yang pernah Adel selamatkan. Mereka menganggap Adel malaikat  penolong versi dunia nyata sehingga bekerja tanpa di gaji pun mereka bersedia.

"Jangan seperti itu. Siapa pun nyonya kalian nantinya, kalian harus hormat."

"Tidak, bawa kami kemana pun anda pergi, Nyonya. Kami lebih baik hidup miskin bersama anda dari pada hidup dengan gaji banyak tapi membiarkan anda menderita." Kini semakin banyak pelayan dan penjaga yang berkumpul. Membuat Adel tidak berdaya, ia yakin bahwa setelah ini hidup mereka pasti akan menderita karena Sifa bukan orang yang baik hati, tapi jika ia membawa mereka. Apa yang bisa ia berikan pada mereka?

"Bi Inah benar, Nyonya. Kami tidak masalah hidup miskin, bahkan kami bersedia bekerja agar anda tidak menderita." Kini Bondan angkat bicara.

"Kami juga akan melindungi anda, Nyonya. Jadi tolong bawa kami."

Melihat keempat orang tersebut memaksa ikut, mau tidak mau Adel mengizinkannya. Hatinya yang lemah dan mudah merasa kasihan membuatnya sering merasa tidak enak ketika seseorang memohon padanya. Hal yang baik, sekaligus berakibat buruk untuknya.

"Baiklah, kalian boleh ikut. Tapi aku tidak bisa berjanji memberikan gaji yang tinggi untuk kalian di masa depan."

"Tidak masalah, tunggu kami bersiap-siap, Nyonya." Keempat orang tersebut langsung pergi ke kamar masing-masing untuk mengambil pakaian.

"Kemana kita akan pergi, Nyonya?" tanya bibi Inah.

"Ke Bandung. Kebetulan beberapa bulan yang lalu aku membeli salah satu rumah di sana, ku pikir itu bisa menjadi tempat tinggal ku dan pria itu ketika ingin berlibur ke Bandung. Tapi nyatanya, rumah tangga ku sudah hancur lebih dulu. Jadi lebih baik menggunakannya untuk kita hidup mulai sekarang."

Rumah yang ada di bandung Adel dapatkan dari salah satu rekan kerja samanya. Mereka menawarkan sebuah rumah sederhana namun dengan halaman yang memiliki pepohonan serta pemandangan yang indah. Awalnya Adel hanya sekedar membeli, tapi siapa yang tahu bahwa Tuhan sepertinya menyiapkan sebuah kejutan untuknya.

Terpopuler

Comments

LISA

LISA

Bagus Adel tinggalkan sj si Reyhan itu pasti dia tdk dpt mengurus perushan yg tlh kmu pimpin

2024-08-14

1

lihat semua
Episodes
1 Perselingkuhan
2 Kecurigaan
3 Pernikahan Kedua Suamiku
4 Memilih Jadi Janda
5 Memulai Hidup Baru
6 Resmi Bercerai
7 Ditolak
8 Sampah
9 Pertemuan Pertama
10 Menyetujui
11 Bunda Adel
12 Kunjungan
13 Posesif
14 Bertemu Kembali
15 Berdiri Tegak
16 Nasehat
17 Salah Paham
18 Penyesalan Seorang Ayah
19 Memperbaiki
20 Salah Paham (2)
21 Perjodohan
22 Anak Panti
23 Mencoba Mendekati
24 Menghindar
25 Panti Asuhan
26 Wanita Tidak Tahu Malu
27 Bersaudara
28 Perasaan Aneh
29 Dituduh
30 Kebenaran
31 Pelaku Yang Sebenarnya
32 Meminta Maaf
33 Memanjakan
34 Penangkapan
35 Kantor Polisi
36 Ibu Yang Kejam
37 Dituduh Pelakor
38 Bertemu Kembali
39 Bundanya Anak-anak
40 Rasa Sakit Seorang Anak
41 Tiba-tiba Di Lamar
42 Mulai Menyesal
43 Tampak Lebih Bahagia
44 Mempermalukan Diri Sendiri
45 Meluruskan Kesalahpahaman
46 Tes DNA
47 Tentang Sifa
48 Keributan
49 Disegerakan
50 Niat Yang Baik
51 Hukum Tabur Tuai
52 Akad Nikah
53 Makna Rumah Sesungguhnya
54 Terasa Seperti Mimpi
55 Persaingan Ayah dan Anak
56 Fitnah
57 Hamil
58 Dia Istriku
59 Hancur Yang Sesungguhnya
60 Kebenaran Yang Menyakitkan
61 Cerita Kelam Di Masa Lalu
62 Roda Kehidupan Yang Berputar
63 Ingin Muntah
64 Mantan Istri
65 Penjelasan
66 Ini Karma
67 Mengadu Pada Ayah
68 Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69 Akhir Dari Wanita Penggoda (2)
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Perselingkuhan
2
Kecurigaan
3
Pernikahan Kedua Suamiku
4
Memilih Jadi Janda
5
Memulai Hidup Baru
6
Resmi Bercerai
7
Ditolak
8
Sampah
9
Pertemuan Pertama
10
Menyetujui
11
Bunda Adel
12
Kunjungan
13
Posesif
14
Bertemu Kembali
15
Berdiri Tegak
16
Nasehat
17
Salah Paham
18
Penyesalan Seorang Ayah
19
Memperbaiki
20
Salah Paham (2)
21
Perjodohan
22
Anak Panti
23
Mencoba Mendekati
24
Menghindar
25
Panti Asuhan
26
Wanita Tidak Tahu Malu
27
Bersaudara
28
Perasaan Aneh
29
Dituduh
30
Kebenaran
31
Pelaku Yang Sebenarnya
32
Meminta Maaf
33
Memanjakan
34
Penangkapan
35
Kantor Polisi
36
Ibu Yang Kejam
37
Dituduh Pelakor
38
Bertemu Kembali
39
Bundanya Anak-anak
40
Rasa Sakit Seorang Anak
41
Tiba-tiba Di Lamar
42
Mulai Menyesal
43
Tampak Lebih Bahagia
44
Mempermalukan Diri Sendiri
45
Meluruskan Kesalahpahaman
46
Tes DNA
47
Tentang Sifa
48
Keributan
49
Disegerakan
50
Niat Yang Baik
51
Hukum Tabur Tuai
52
Akad Nikah
53
Makna Rumah Sesungguhnya
54
Terasa Seperti Mimpi
55
Persaingan Ayah dan Anak
56
Fitnah
57
Hamil
58
Dia Istriku
59
Hancur Yang Sesungguhnya
60
Kebenaran Yang Menyakitkan
61
Cerita Kelam Di Masa Lalu
62
Roda Kehidupan Yang Berputar
63
Ingin Muntah
64
Mantan Istri
65
Penjelasan
66
Ini Karma
67
Mengadu Pada Ayah
68
Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69
Akhir Dari Wanita Penggoda (2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!