Kunjungan

Setelah mengetahui bahwa Selatan memiliki seorang ibu dan ternyata ibunya pemilik café yang sudah terkenal di Bandung. Membuat Fano dan Vino memaksa pemuda tersebut memperkenalkan mereka pada Adel, mungkin saja mereka juga bisa menjadi anak angkat Adel. Bukan berarti tidak bersyukur dengan kehidupan mereka, tapi tidak ada salahnya. Lagi pula ibu dan ayah mereka terlalu sibuk sehingga jarang memperhatikan, sedangkan Adel terlihat sangat keibuan. Itu menurut mereka.

"Atan, kenalin kita sama bunda, Dong!"

"Ya, Tan. Mungkin aja bunda mau terima kita sebagai anak angkat."

Selatan yang tidak suka dipanggil Atan merasa kesal dan memilih mengabaikan kedua sahabatnya. Sebenarnya Fano dan Vino tahu tentang hal tersebut, tapi sengaja di ucapkan karena ingin menggoda teman mereka.

"Atan, kenalin." Nah suara Fano mulai menjijikan di telinga Selatan.

"Atan, sayang. Main yuk." Kini Vino malah menggoda Selatan dengan kata-katanya.

Teman sekelas yang kebetulan masih ada di kelas tertawa geli saat melihat tingkah abstrak ketiganya. Sebenarnya hanya Vino dan Fano yang suka membuat masalah pada Selatan, yang lainnya tidak berani. Selain Selatan anak orang kaya, dia juga galak.

Karena tidak kunjung diam, dan semakin menjengkelkan. Maka Selatan memutuskan pergi meninggalkan keduanya, hari ini ia memang berniat bertemu Adel, katanya rindu. Apalagi masakan sang bunda terasa sangat enak sehingga membuatnya lapar ketika membayangkannya.

Melihat Selatan pergi, keduanya semakin bersemangat. Beberapa kali memanggil Atan lalu berubah menjadi Tan dan akhirnya menjadi Setan karena tidak dipedulikan. Benar saja, saat mendengar namanya di panggil dengan kata Setan pemuda tersebut berhenti dan membalikan tubuhnya menatap kedua temannya.

"Mau ikut atau teriak-teriak di sekolah kayak di hutan?"

"Ikut, ikut, ikut!!!" teriak Vino dan Fano bersemangat. Hilang sudah wajah kakak kelas yang galak dan dingin. Keduanya seperti orang hutan, dan Selatan puas membuat keduanya menurunkan harga diri di hadapan adik kelas.

Ketiganya langsung pergi menuju kafe dengan berjalan kaki. Vino dan Fano juga baru tersadar bahwa reputasi mereka telah hancur akibat berteriak di depan adik kelas.

"Sial, hancur reputasi kakak kelas dingin yang gue perankan selama ini," ucap Vino sedih.

Fano juga merasa menyesal, namun memikirkan akan bertemu Adel. Semua penyesalan tidak lagi berguna, mereka bahkan sedikit berlari agar bisa segera sampai di kafe milik bunda baru Selatan.

"Lo udah kabarin bunda, Kan?" tanya Fano.

"Udah, tadi pagi gue chat bunda. Dan bunda nggak masalah kalau kita datang."

Mana mungkin Adel keberatan, ia malah senang karena akhirnya Selatan memiliki seorang teman yang baik. Setidaknya sekarang hidupnya bisa lebih baik.

Sesampainya di kafe, ketiganya berteriak kembali. Membuat pengunjung melihat kearah mereka, begitu juga dengan para karyawan. Untungnya ketampanan mereka bisa menutupi sikap bar-bar ketiganya, jika tidak. Melati mungkin sudah mengusir ketiganya.

"Kak Mel, bunda dimana?" tanya Selatan pada Melati.

"Bunda lagi meeting di atas, kalian duduk aja dulu." Karena cara panggil Selatan berbeda, maka Melati berusaha menyamainya dengan memanggil Adel sebagai bunda juga.

"Oke." Tidak ingin mengganggu Adel. Selatan membawa kedua temannya duduk di meja yang masih kosong. Para pelanggan yang kebanyakan anak perempuan mulai mencari perhatian ketiganya, hal itu membuat Fano dan Vino merasa semakin tampan.

Saat ketiganya sedang bercengkrama, tiba-tiba saja seorang anak kecil perempuan menghampiri lalu menarik-narik pakaian Selatan. Membuat pembicaraan berhenti, ketiganya langsung menatap anak kecil tersebut dengan bingung.

"Siapa, Tan?" tanya Vino.

"Nggak tau, gue baru liat. Tapi mukanya unyu banget." Tiba-tiba Selatan merasa gemas melihat wajah mengemaskan anak perempuan tersebut.

Vino dan Fano setuju dengan pendapat Selatan. Biasanya mereka tidak terlalu suka dengan anak kecil, namun saat melihat anak perempuan tersebut, tiba-tiba saja mereka menjadi gemas sendiri.

Anak perempuan berusia 1 tahun lebih tersebut kembali menarik pakaian Selatan, sepertinya ia ingin duduk di pangkuan Selatan. Dan dengan terpaksa Selatan menuruti keinginannya. Semua pelanggan menjadi semakin mengidolakan Selatan karena sikap baiknya.

"Tiba-tiba gue pengen punya adik cewek lagi," ucap Vino.

"Lo udah punya, Samsul!"

"Apa salahnya punya lagi?"

"Kagak salah, tapi nyokap Lo bakal pecat Lo dari kartu keluarga."

Pembicaraan keduanya menarik perhatian anak kecil yang ada di pangkuan Selatan, bukannya takut. Ia malah tertawa, Selatan yakin dia tidak mengerti setiap kata yang di ucapkan kedua temannya tapi ekspresi keduanya ketika berbicara memang sangat menggelikan.

"Maka nikmat Tuhan mu yang mana lagi yang kau dusta kan! Cantik banget ketawanya, pengen culik," ucap Fano.

"Nanti kalau udah gede sama Aa ya, Sayang." Vino mulai mengaktifkan mode rayuannya.

"Enak aja, Lo. Dia cantik Lo tua, dong."

"Berisik, Lu tong."

Selatan hanya diam, tangannya secara tidak sadar mengelus rambut pendek anak perempuan tersebut. Rasanya ia juga ingin memiliki adik perempuan, dan yang menjadi ibunya harus Adel. Dia bahkan tidak perduli dengan sang ayah.

"Ata." Panggilan itu menyebabkan keheningan di meja ketiga pemuda tersebut. Selatan bahkan langsung menatap arah suara tersebut berasal.

"Unda," teriak Teratai Farisa Asrindari. Anak perempuan yang ada di pangkuan Selatan. Ia turun dari pangkuan lalu berlari kearah Adel yang tersenyum.

"Hm, Ata pasti lari dari mama lagi?" Adel menggendong anak kecil yang merupakan anak Melati dan Bondan. Ia memang dipanggil bunda oleh Teratai.

Bukannya merasa bersalah, anak kecil tersebut terkikik geli. Membuat Adel merasa gemas lalu menggigit pelan pipi gembul nya. Selatan yang tidak tahu siapa anak kecil tersebut menjadi cemburu. Di tambah lagi nama panggilan mereka sama, sehingga membuat ia kesal.

"Bunda, dia siapa?" tanya Selatan.

"Uh, ada yang sedang cemburu," goda Adel. Membuat Selatan malu dan Vino serta Fano tertawa geli.

"Bunda, Ata serius. Siapa anak kecil itu? Dan kenapa nama panggilannya sama dengan Ata?"

Sekali lagi, Vino dan Fano tercengang dengan cara berbicara Selatan pada Adel. Teman mereka tidak menggunakan kata aku melainkan menyebut namanya. Ini perubahan yang membuat keduanya ingin mencatat di buku harian sebagai pengingat bahwa Selatan yang kasar di masa lalu telah menjadi Selatan yang baik.

"Namanya Teratai dipanggil Ata dan dia keponakan bunda."

"Terus kenapa dia pakai sebutan Bunda saat berbicara sama Bunda?"

"Memangnya ada yang salah dengan panggilan itu? Ata bisa kenapa Teratai tidak bisa? Lagi pula, sebutan tante dan sejenisnya terlalu tua untuk bunda."

Sebenarnya bukan itu alasannya, Adel tidak masalah dipanggil tante atau bibi oleh Teratai. Tapi, Melati dan yang lainnya berfikir lain, karena wanita tersebut masih belum memiliki anak hingga sekarang, dan berharap Teratai bisa menghiburnya. Maka mereka mengajari anak kecil tersebut memanggil Adel dengan sebutan Bunda.

"Bunda, benar. Tapi Ata tidak ingin memiliki saingan. Bunda hanya milik Ata, tidak pakai koma tanda seru apalagi tanda tanya." Kata-kata Selatan menghibur Adel. Pemuda tersebut sangat posesif padanya, dan itu membuat Adel terhibur.

Episodes
1 Perselingkuhan
2 Kecurigaan
3 Pernikahan Kedua Suamiku
4 Memilih Jadi Janda
5 Memulai Hidup Baru
6 Resmi Bercerai
7 Ditolak
8 Sampah
9 Pertemuan Pertama
10 Menyetujui
11 Bunda Adel
12 Kunjungan
13 Posesif
14 Bertemu Kembali
15 Berdiri Tegak
16 Nasehat
17 Salah Paham
18 Penyesalan Seorang Ayah
19 Memperbaiki
20 Salah Paham (2)
21 Perjodohan
22 Anak Panti
23 Mencoba Mendekati
24 Menghindar
25 Panti Asuhan
26 Wanita Tidak Tahu Malu
27 Bersaudara
28 Perasaan Aneh
29 Dituduh
30 Kebenaran
31 Pelaku Yang Sebenarnya
32 Meminta Maaf
33 Memanjakan
34 Penangkapan
35 Kantor Polisi
36 Ibu Yang Kejam
37 Dituduh Pelakor
38 Bertemu Kembali
39 Bundanya Anak-anak
40 Rasa Sakit Seorang Anak
41 Tiba-tiba Di Lamar
42 Mulai Menyesal
43 Tampak Lebih Bahagia
44 Mempermalukan Diri Sendiri
45 Meluruskan Kesalahpahaman
46 Tes DNA
47 Tentang Sifa
48 Keributan
49 Disegerakan
50 Niat Yang Baik
51 Hukum Tabur Tuai
52 Akad Nikah
53 Makna Rumah Sesungguhnya
54 Terasa Seperti Mimpi
55 Persaingan Ayah dan Anak
56 Fitnah
57 Hamil
58 Dia Istriku
59 Hancur Yang Sesungguhnya
60 Kebenaran Yang Menyakitkan
61 Cerita Kelam Di Masa Lalu
62 Roda Kehidupan Yang Berputar
63 Ingin Muntah
64 Mantan Istri
65 Penjelasan
66 Ini Karma
67 Mengadu Pada Ayah
68 Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69 Akhir Dari Wanita Penggoda (2)
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Perselingkuhan
2
Kecurigaan
3
Pernikahan Kedua Suamiku
4
Memilih Jadi Janda
5
Memulai Hidup Baru
6
Resmi Bercerai
7
Ditolak
8
Sampah
9
Pertemuan Pertama
10
Menyetujui
11
Bunda Adel
12
Kunjungan
13
Posesif
14
Bertemu Kembali
15
Berdiri Tegak
16
Nasehat
17
Salah Paham
18
Penyesalan Seorang Ayah
19
Memperbaiki
20
Salah Paham (2)
21
Perjodohan
22
Anak Panti
23
Mencoba Mendekati
24
Menghindar
25
Panti Asuhan
26
Wanita Tidak Tahu Malu
27
Bersaudara
28
Perasaan Aneh
29
Dituduh
30
Kebenaran
31
Pelaku Yang Sebenarnya
32
Meminta Maaf
33
Memanjakan
34
Penangkapan
35
Kantor Polisi
36
Ibu Yang Kejam
37
Dituduh Pelakor
38
Bertemu Kembali
39
Bundanya Anak-anak
40
Rasa Sakit Seorang Anak
41
Tiba-tiba Di Lamar
42
Mulai Menyesal
43
Tampak Lebih Bahagia
44
Mempermalukan Diri Sendiri
45
Meluruskan Kesalahpahaman
46
Tes DNA
47
Tentang Sifa
48
Keributan
49
Disegerakan
50
Niat Yang Baik
51
Hukum Tabur Tuai
52
Akad Nikah
53
Makna Rumah Sesungguhnya
54
Terasa Seperti Mimpi
55
Persaingan Ayah dan Anak
56
Fitnah
57
Hamil
58
Dia Istriku
59
Hancur Yang Sesungguhnya
60
Kebenaran Yang Menyakitkan
61
Cerita Kelam Di Masa Lalu
62
Roda Kehidupan Yang Berputar
63
Ingin Muntah
64
Mantan Istri
65
Penjelasan
66
Ini Karma
67
Mengadu Pada Ayah
68
Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69
Akhir Dari Wanita Penggoda (2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!