"Oke, bunda hanya milik Selatan. Apakah sekarang sudah tenang?"
"Ya," ucap Selatan lalu pergi ke arah Adel dan memeluknya dari samping. Ia tidak memperdulikan Teratai yang ada di hadapan sang ibu angkat.
Sekali lagi, Vino dan Fano tercengang. Sahabat mereka berubah jadi kekanak-kanakan saat bersama Adel, wanita yang baru semalam resmi menjadi ibu angkatnya. Perubahan ini, mereka tidak akan pernah bisa melupakannya.
"Putra ku yang manja." Walau baru kemarin mereka resmi menjadi ibu dan anak angkat. Namun, Adel sudah bisa bertindak selayaknya ibu kandung yang hidup dalam satu rumah dengan Selatan.
"Ata sayang Bunda."
Mungkin terlalu cepat kata-kata sayang itu keluar dari Selatan. Namun, kalian harus tahu bahwa Selatan juga seorang anak, tidak perduli umurnya. Dia tetap membutuhkan sosok ibu dan ketika sudah mendapatkannya maka ia akan memberikan segenap cintanya hanya pada sang ibu.
"Bunda juga sayang pada Ata, jadi anak yang baik. Jangan suka berbuat onar dan bunda tidak suka kalau kamu jadi pria arogan atau sejenisnya."
"Siap, Bunda."
Begitu manjanya Ata, membuat mata Fano dan Vino hampir buta. Sangat menyilaukan, bahkan mereka yang memiliki ibu kandung saja tidak seperti itu.
"Anak pintar, oh ya. Apa Ata tidak memperkenalkan teman-teman Ata pada bunda?"
Sekarang Selatan baru ingat kalau kedua sahabatnya ikut bersamanya. Bukan berlebihan, namun saat bersama Adel dan di perlakukan sangat istimewa oleh sang ibu angkat. Ia jadi lupa segalanya.
"Ata hampir lupa, Bun. Vino, Fano. Kenalin ini Bunda Adel. Bunda kesayangan Selatan dan hanya milik Selatan." Pria itu langsung menggaris bawahi kepemilikan Adel. Tidak ada yang boleh mengambilnya apalagi mengalihkan kasih sayang sang bunda darinya.
"Halo, Bunda," sapa Fano dan Vino sopan. Mereka bahkan sudah memanggil Adel dengan sebutan bunda yang sama seperti Selatan lakukan.
"Halo, senang bertemu dengan kalian. Bunda harap kalian bisa berteman dengan baik dan tidak ada pertengkaran besar."
"Siap Bunda." Keduanya begitu patuh. Mungkin pembawaan Adel yang lembut, ditambah ia cantik serta pebisnis. Auranya tampak berbeda dan siapa pun pasti akan mendengarkan perintahnya dengan senang hati.
"Bagaimana sekolah kalian hari ini?"
"Lancar, Bu. Oh ya, apa kami juga bisa menjadikan Bunda sebagai ibu angkat kami?" tanya Vino.
"Tidak," ucap Adel tegas membuat kedua remaja tersebut sedih.
"Kenapa? Apa karena kami tidak setampan Ata, Bun?" tanya Fano.
"Bukan seperti itu. Kalian sudah memiliki ibu kandung, akan sangat kejam kalau aku mengambil alih peran mereka, berbeda dengan Ata yang sejak awal tidak memiliki ibu. Aku tidak keberatan jika kalian ikut memanggil bunda seperti Ata. Namun, aku tidak ingin kalian menganggap ku sebagai ibu angkat kalian. Apakah kalian paham?"
Jadi seperti itu. Kedua remaja tersebut mengangguk paham, dan tidak lagi mempermasalahkannya. Adel benar, Selatan berbeda dari mereka. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, jadi kalau Adel hanya ingin menjadi ibu angkat Selatan, semuanya terasa masuk akal.
"Paham, Bun. Maaf kalau kami sudah meminta hal yang tidak-tidak."
"Tidak apa-apa. Kalian masih bunda anggap anak bunda namun bukan dalam artian seperti Selatan."
"Terima kasih, Bunda."
Setelah perkenalan singkat dan menjelaskan alasan penolakan tersebut, Adel memutuskan membawa ketiga remaja itu ke atas. Kebetulan Adel juga memilik kejutan untuk Selatan.
"Tera, ingin ikut bunda atau kembali pada mama, Sayang?" Karena Selatan tidak suka memiliki nama panggilan yang sama dengan keponakannya. Maka Adel memutuskan memanggil nama lain.
"Ama." Itu artinya Teratai ingin menemui sang mama. Adel juga tidak keberatan, ia langsung memberikan keponakannya pada Melati yang kebetulan sedang tidak memiliki pekerjaan.
Setiap perlakuan Adel terekam jelas oleh Selatan. Baginya, sang bunda wanita paling sempurna, ibu yang baik serta paling lembut. Ia tidak akan pernah menyesali keputusannya menjadikan wanita tersebut sebagai ibu angkatnya.
"Apa kalian sudah makan siang?" tanya Adel.
"Belum, Bun," jawab ketiganya bersamaan.
"Kalau begitu ayo ikut bunda. Kebetulan bunda sudah menyiapkan makan siang untuk kalian dan bunda juga ingin memberikan kejutan pada Selatan."
Wajah Selatan cerah, ia bahkan penasaran kejutan apa yang sedang bundanya persiapkan untuknya. Ia langsung membawa sang bunda ke atas di ikuti oleh Fano dan Vino dari belakang.
Sesampainya di lantai tiga. Adel meminta Selatan membuka pintu kamarnya, dan betapa terkejutnya ketiga remaja tersebut saat melihat dekorasi kamar yang sangat mirip dengan kamar remaja pada umumnya.
"Ini, Bunda yang melakukannya?" tanya Selatan dengan wajah bahagia.
"Ya, walau Ata akan jarang menginap. Tapi bunda sudah mempersiapkannya lebih dulu, jadi saat nanti Ata ingin tidur di rumah bunda. Kamar sudah di perisiapkan dengan baik."
Sekali lagi, Selatan merasa terharu. Penyambutan dari sang ibu angkat sangat di luar dugaannya. Walau terkesan sederhana, namun Selatan merasa hidupnya sekarang sangat dibutuhkan.
"Terima kasih, Bun. Ata bahagia."
"Senang karena usaha bunda mampu membuat mu bahagia."
Sama halnya dengan Selatan. Adel juga merasa kalau hidupnya sekarang jauh lebih baik. Walau tidak bisa memiliki anak kandung, tapi kehadiran anak angkatnya bisa mengobati rasa kesepian dalam hidupnya.
"Apa kami juga boleh menginap bersama Ata, Bun? Setiap beberapa Minggu sekali kami selalu melakukan hal serupa namun sudah lama rasanya kami tidak menginap di tempat di mana Ata tidur." Yah, Fano benar. Mereka tidak lagi melakukan kunjungan ke rumah Ata. Bukan tidak ingin, namun suasana rumah yang sepi di tambah hubungan mereka yang sempat merenggang membuat semuanya semakin menjauh.
"Tentu saja boleh, asal kalian meminta izin dengan benar pada kedua orang tua kalian maka bunda tidak masalah."
"Terima kasih, Bunda. Kami akan meminta izin sebelum menginap."
Selatan bahagia, ia sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam kamar yang jauh lebih baik dari pada kamar aslinya. Perlu di ketahui, selama ini Ata jarang memperhatikan lingkungan apalagi desain kamarnya. Jadi, ketika kamarnya hanya di cat warna putih maka ia tidak memiliki masalah apapun.
Tapi, ketika melihat apa yang sudah Adel lakukan untuknya. Selatan merasa kamar aslinya sangat membosankan dan tinggal di kamar buatan sang bunda jauh lebih menyenangkan. Bahkan ia ingin tidur di dalam setiap harinya.
"Oh ya, bunda juga menyiapkan sebuah PlayStation 5 untuk kalian. Jadi, kalian tidak perlu pergi ke tempat internet."
Sebenarnya baik Selatan, Fano dan Vino tidak pernah main game ke tempat internet atau semacamnya. Mereka memiliki masing-masing di rumah, namun karena pemikiran Adel yang masih cukup kuno tentang pergaulan anak remaja maka ia menyamakan semua hal yang terjadi sekarang dan dulu.
"Terima kasih, Bun," ucap ketiga remaja tersebut kompak. Kini mereka menemukan tempat singgah yang nyaman dengan pemilik sebaik Adel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments