Ditolak

Hidup Adel mulai membaik setelah perceraiannya. Dia juga semakin serius dengan rencana pembangunan kafe miliknya. Tapi, rencana hanya bisa terlaksana ketika ada yang bersedia memberikan modal padanya. Uang 10 juta yang diberikan Rai juga mulai habis. Dia juga memutuskan untuk menghancurkan kartu telepon serta memutuskan segela macam jenis komunikasi dengan keluarga Raihan.

"Maaf, walau kita pernah bekerja sama. Tapi aku tidak bisa membantu anda, Nona. Lebih lagi kafe yang anda rencanakan belum tentu menghasilkan keuntungan untuk ku."

Ini kali kedua Adel di tolak, namun percayalah bahwa ia tidak menyerah sama sekali. Masih ada beberapa koneksi yang belum ia temui, setidaknya salah satu diantara mereka pasti bersedia membantunya.

"Baiklah, terima kasih atas waktunya, Tuan."

Setelah pertemuan kedua, kini Adel pergi ke pertemuan ketiga. Tapi sayangnya lagi-lagi ia mendengar penolakan hingga pertemuan ke empat, kelima dan keenam pun ide tentang kafe yang Adel rencanakan tidak membuat mereka tertarik.

"Dari pada membuat kafe, akan lebih baik anda tetap di perusahaan dan menikmati hasil kerja keras anda, Nona. Lagi pula mendirikan kafe belum tentu mendatangkan keuntungan." Ini adalah kata-kata yang Adel terima ketika bertemu dengan orang keenam.

Sepertinya masih belum ada yang tahu tentang perceraiannya, atau memang mereka sengaja mengatakan hal tersebut agar ia kembali ke rumah yang akan menjadi neraka untuknya.

Kini, semangatnya mulai memudar. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang sengaja menyulitkannya, namun Adel tidak ingin menuduh sembarangan. Mungkin saja ini hambatan yang harus ia lalui menuju jalan kesuksesan.

"Kemana lagi aku harus mencari pinjaman," ucap Adel lesu. Ia mulai lelah dengan berjalan kaki, dan perutnya perlu di isi sekarang.

Karena tidak memiliki target, Adel memutuskan pulang ke rumah dan makan siang. Setelah perutnya terisi mungkin akan ada ide yang datang.

Untuk sekarang, uang yang Rai berikan sudah menipis sehingga bi Inah dan Melati harus bekerja sebagai buruh cuci, sedangkan Bondan dan mang Ujang bekerja di pasar mengangkat barang. Hal tersebut membuat Adel sedih, seharunya dia tidak membawa keempat orang itu, mungkin hidup mereka tetap baik-baik saja jika tidak ikut dengannya.

Saat makan siang, Adel mulai memutar otaknya kemana ia harus mencari pinjaman. Tidak mungkin ia meminta bantuan dari mantan suaminya, bisa jatuh harga dirinya akibat dihina oleh Rai dan Sifa. Lagi pula, ia tidak akan membiarkan keduanya menikmati hidup sengsaranya.

Waktu berjalan dengan cepat, sayangnya Adel masih belum mendapatkan bantuan apalagi mendapatkan ide yang bagus. Ia berfikir bahwa lebih mudah membangun perusahaan dari pada membuat kafe. Di masa lalu, ia tidak akan se mengenaskan ini untuk mencari pinjaman.

"Apa sebaiknya aku menggadaikan surat rumah ini ke pihak Bank." Entah kenapa, Adel baru menyadari tentang meminjam ke pihak bank. Ia merasa bodoh sekarang, jika ia memikirkannya sejak awal, mungkin sekarang kafe yang ia dambakan sudah berdiri.

"Ya, aku akan menggadaikan surat rumah ini besok." Adel mulai mencari-cari surat rumahnya, dan setelah mendapatkan apa yang di cari ia tersenyum bahagia.

Selesai menyiapkan beberapa dokumen pendukung, beruntung Adel cepat mengurus surat kepindahan dan memperbaiki KTP-nya sehingga ia tidak perlu cemas memikirkan berkas-berkas lain. Adel memutuskan keluar kamar dan membuatkan makan malam untuk mereka berlima sebagai ucapan maaf karena sudah membuat keempat orang tersebut bekerja keras.

Ketika bibi Inah, Melati, Bondan dan mang Ujang masuk ke dalam rumah, hidung mereka mencium aroma masakan yang sangat enak, hal itu membuat keempat orang tersebut langsung kelaparan. Setelah 2 bulan hidup bersama Adel sebagai keluarga, ini pertama kalinya mereka mencium aroma masakan Adel setelah sekian lama.

"Kalian sudah pulang? Ayo cepat mandi, aku akan menyiapkan makan malam kita di meja." Melihat wajah lapar keempatnya. Adel merasa sangat puas, ia menjadi yakin bahwa kafe yang akan ia bangun pasti sukses.

"Baik."

Keempat orang tersebut pergi menuju kamar masing-masing. Berlomba-lomba siapa paling cepat pergi ke ruang makan. Masakan Adel memang yang paling enak, mereka bahkan lebih rela makan masakan sederhana dari Adel dari pada makanan lezat di restoran. Bukan berlebihan, hanya saja itu merupakan sebuah kenyataan.

Bahkan, beberapa kali mereka bertanya mengapa Adel tidak menjadi seorang chef, mungkin hidupnya akan sukses tidak seperti sekarang dibuang setelah membantu pria tersebut menduduki puncak kejayaan.

"Aku pemenangnya." Bondan yang pertama tiba di ruang makan. Wajahnya bahkan terlihat berseri-seri, tidak ada tanda-tanda kelelahan setelah bekerja seharian.

"Kau bisa makan lebih dulu, aku akan menunggu yang lain."

"Tidak, Kak. Itu terasa tidak sopan."

"Kau pasti lelah dan sangat lapar. Jangan menolaknya, kita sekarang keluarga. Dan, aku juga memiliki berita bagus malam ini."

"Baik, aku akan makan dan menunggu berita baiknya dari Kakak."

Tanpa malu-malu, Bondan mengambil setiap hidangan yang ada di meja. Tidak berapa lama yang lain ikut bergabung, dan makan malam berlangsung seperti biasa. Ditemani suara sendok dan piring serta beberapa kali kata-kata lucu dari masing-masing pihak.

Selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruang tamu. Adel berniat memberitahu keputusannya tentang meminjam uang ke bank dengan surat rumah menjadi jaminannya.

"Besok aku akan pergi ke bank untuk meminjam uang, dan surat rumah menjadi jaminannya. Apakah kalian tidak keberatan?"

Meksipun rumah adalah miliknya, tapi Adel tidak ingin egois dengan melakukan tindakannya sendiri. Tidak ada salahnya mendiskusikan serta mendengarkan pendapatan anggota lainnya.

"Kami baik-baik saja dengan itu. Lagi pula rumah ini milik mu, jadi sah-sah saja jika kau ingin menggadaikannya, Nak."

"Ya, Kak. Kami tidak merasa keberatan, malah semangat kami akan semakin berkobar setelah kita berhasil mendirikan kafe."

"Betul, walau meminjam ke bank memiliki konsekuensi yang cukup berat. Tapi tidak ada salahnya jika kita mencobanya, Kak. Semoga usaha kafe ini berjalan lanjar sehingga rumah ini akan tetap menjadi milik kita." Bondan benar tentang konsekuensi meminjam uang ke bank. Jika mereka tidak bisa membayar maka rumah yang mereka tinggali akan di sita oleh pihak bank.

"Baik, kalau begitu bisakah salah satu diantara kalian menemani ku bank?"

"Aku akan menemani, Kakak. Dan kebetulan aku mendengar ada seseorang yang sedang menjual tokonya dengan harga murah karena ingin ikut suaminya ke luar Negri." Mungkin karena bekerja di pasar. Bondan mudah mendapatkan informasi.

Akhirnya, setelah dua bulan berusaha. Kini hasil dari kesabaran kelima orang tersebut berbuah manis. Walau pun Adel baru ingat tentang menggadaikan surat rumah, tapi Adel merasa ini berkah tersendiri untuknya, dan berita toko yang ingin dijual dengan harga murah adalah hadiah kedua dari usahanya.

....

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Kata-kata itu selalu Adel gunakan setiap kali mendapatkan masalah. Dan kini, masalah hidupnya mulai membaik setiap harinya. Usulannya meminjam uang ke bank mendapatkan respon positif ia bahkan di anjurkan meminjam dana melalui KUR (Kredit Usaha Rakyat). Semuanya berjalan lancar, bahkan pembayaran toko bisa dilakukan melalui cicilan selama 1 tahun.

Air mata Adel mengalir kembali, tapi ini tangisan bahagia. Kini penantiannya akan segera tercapai, semua orang mulai antusias. Beruntung lokasi kafe baru mereka berada di dekat kampus serta SMA, sehingga peluang keberhasilan sudah dapat diprediksi.

Mungkin, kata-kata bijaksana kedua yang Adel tanamkan dalam diri adalah 'usaha tidak pernah mengkhianati hasil' benar adanya memang. Usahanya berjalan ke sana kemari mencari pinjaman, bahkan terkesan berwajah tembok pun sudah ia lakukan. Dan hasilnya, Tuhan melancarkan semuanya hingga akhir. Tidak hanya itu sebenarnya, Adel juga mendapatkan pelajaran bahwa jangan mudah percaya dan menggantungkan harapan pada orang lain. Yakinlah hanya pada Tuhan, niscaya apa yang sedang menimpa mu bisa selesai dengan cepat tanpa melibatkan banyak orang lain.

Ini adalah bulan keempat setelah perceraiannya, Adel juga sengaja menulikan telinga dan membutakan mata terhadap berita Raihan dan Sifa. Pernah sekali ia mendengar tentang pernikahan keduanya, dan Adel tahu bahwa ia masih belum move on dari sang suami. Namun, Adel tidak berusaha menutupinya, ia menikmati setiap proses yang terjadi.

Bulan keempat juga menjadi bulan kebahagiaanya. Kafe sudah resmi dibuka. Hari pertama, Adel memberikan senyum terbaiknya untuk para pengunjung yang kebetulan anak sekolahan, walau ia tahu alasan mereka masuk karena penasaran dengan hal yang baru. Tapi Adel tetap optimis, ia dan yang lainnya melayani para tamu dengan sangat ramah. Bagaimana pun keramahan merupakan poin penting ketika membuka usaha.

"Kak, pesanan jus dan cake untuk kursi nomor 8," teriak Melati pada Adel.

"Oke."

Adel menyiapkan semuanya dengan penuh cinta, ia menghiasi makanan yang ada di piring dengan sangat unik, bahkan bentuk cake di kafe mereka sangat lucu-lucu sehingga anak-anak SMA yang perempuan merasa sayang untuk memakan cake tersebut.

"Silahkan di makan," ucap Melati sambil meletakan pesanan nomor 8. Tidak banyak memang yang datang, tapi setidaknya ini lebih dari yang mereka bayangkan.

Para anak perempuan yang melihat penampilan cake yang menggemaskan tersebut langsung memfoto dan memposting gambar makanan tersebut ke media sosial mereka sambil meletakan caption kafe Adel yang bernama Adelia Café, yang merupakan nama wanita itu sendiri.

"Lihat, Kak. Anak-anak SMA yang sering mampir mulai memperkenalkan kafe kita ke dunia internet." Melati sangat bahagia ketika melihat anak-anak SMA sangat antusias dengan makanan yang ada di kafe mereka.

"Syukurlah, semoga kedepannya milik kita bisa berjalan dengan lancar."

"Amin, Kak."

Adel berharap usahanya akan semakin maju di masa depan, sehingga bisa membuktikan pada dua orang yang sudah membuatnya terluka jika ia tetap baik-baik saja setelah dicampakkan.

***

"Bagaimana bisa dia membangun kafe setelah aku melarang orang-orang itu memberikan pinjaman." Sifa marah. Rencananya untuk terus membuat Adel menderita gagal, tidak hanya gagal dalam menghalangi membuat kafe, kini usaha milik mantan istri dari suaminya malah semakin berkembang pesat. "Tidak, seharunya kau tidak boleh bahagia setelah apa yang kau lakukan pada ku."

Sifa benar-benar kesal. Rencananya untuk membuat hidup Adel menderita malah gagal, dan dia tidak bisa mengabaikan hal tersebut begitu saja.

Bukankah itu sangat tidak tahu malu? Adel sama sekali tidak pernah mengganggunya. Tapi dia, yang sudah menjadi penghancur kebahagiaan wanita lain malah berbuat hal-hal menjijikan seperti itu. Seolah tidak puas dengan semua hal menyakitkan yang dia lakukan pada Adel.

"Aku harus berbuat sesuatu sebelum dia semakin sulit di jangkau." Kasihan sebenarnya, seumur hidupnya ia akan menderita akibat rasa iri dan dengki. Bahkan Adel pun tidak pernah memperdulikannya lagi, tapi lihatlah dia, merasa bahwa Adel merupakan musuh terbesarnya dan selalu menyiapkan segala macam trik untuk menghancurkan wanita tidak bersalah tersebut.

Saat Sifa sedang memikirkan cara menghancurkan usaha Adel. Raihan tiba-tiba saja memeluknya dari belakang, pria itu tampak sangat bahagia dan itu membuat Sifa lupa akan tujuannya.

"Aku membawa kabar baik, Sayang," bisik Rai di telinga Sifa.

"Oh ya, apa itu, Mas?"

"Perusahaan kita akhirnya berhasil bekerja sama dengan perusahaan milik tuan Samuel. Dan setelah ini keuntungan kita menjadi sangat meningkat." Ada rasa bangga dalam diri Rai tentang keberhasilannya. Ia bahkan mengejek Adel yang menyumpahi perusahaanya akan hancur setelah dia pergi.

"Beneran, Mas?"

"Ya, Sayang. Kita akan kaya, anak ini benar-benar pembawa berkah untuk ku." Kini Rai membalikan tubuh istrinya lalu mengecup perut buncit Sifa dengan sayang.

"Aku senang mendengarnya, Mas. Akhirnya usaha mu tidak sia-sia. Beruntung wanita mandul itu memilih pergi, kalau tidak. Mungkin perusahaan tidak akan berkembang seperti ini." Setiap pujian untuk Rai. Sifa tidak pernah lupa mengejek Adel.

"Jangan sebut wanita itu, Sayang. Dia hanya wanita mandul yang sok berkuasa. Sekarang aku bisa berdiri di atas kaki ku sendiri, dan membuktikan pada dunia bahwa aku bisa berdiri di atas kaki ku sendiri tanpa bantuan siapapun." Raihan merasa bahwa perusahaan berkembang karena usahanya, bukan atas dasar pengorbanan Adel.

"Aku senang mendengarnya, Mas. Kamu memang pria hebat. Perusahaan pasti akan semakin berkembang dibawah tangan mu."

"Pasti, Sayang. Aku berencana membuat beberapa cabang setelah proyek ini berhasil. Mulai sekarang, kita akan menjadi salah satu crazy rich di Jakarta." Reihan sangat yakin kalau dia mampu dan bisa mengembangkan perusahaan tanpa bantuan Adel yang sebenarnya pendiri perusahaan itu sendiri.

Benar-benar tipe pria tidak tahu diri dan memalukan. Raihan merasa harganya terinjak-injak saat Adel menjadi pimpinan perusahaan padahal jelas-jelas yang banyak berkorban waktu dan tenaga merupakan mantan istrinya, namun dia tidak puas dan menganggap dia yang paling berhak atas semua kekayaan selama lima tahun mereka kumpulkan.

"Aku akan selalu mendukung suami ku, dan doa ku selalu menyertai mu, Mas."

Rai memberikan kecupan di bibir Sifa. Ia merasa beruntung karena bisa mengenal dan menikahi wanita cantik serta mampu memberikannya kepuasan seperti Sifa. Sangat jauh berbeda dengan Adel yang hanya tahu bekerja tanpa pernah sekali pun memperhatikannya.

Bodoh memang. Alasan yang dibuat Rai sangat menjengkelkan, bukankah seharusnya dia malu Karena sudah membiarkan istrinya bekerja.

"Lalu bagaimana jika kau membangun usaha, aku tetap akan menjadi nyonya Raihan sedangkan kau hanya pemilik usaha kecil-kecilan, Adel," ucap Sifa dalam hati. Ia merasa senang bahwa usaha Rai semakin maju setelah menikah dengannya, tapi lupa bahwa apa yang ia ambil dengan cara kotor pasti akan memberikan efek samping yang mengerikan.

Episodes
1 Perselingkuhan
2 Kecurigaan
3 Pernikahan Kedua Suamiku
4 Memilih Jadi Janda
5 Memulai Hidup Baru
6 Resmi Bercerai
7 Ditolak
8 Sampah
9 Pertemuan Pertama
10 Menyetujui
11 Bunda Adel
12 Kunjungan
13 Posesif
14 Bertemu Kembali
15 Berdiri Tegak
16 Nasehat
17 Salah Paham
18 Penyesalan Seorang Ayah
19 Memperbaiki
20 Salah Paham (2)
21 Perjodohan
22 Anak Panti
23 Mencoba Mendekati
24 Menghindar
25 Panti Asuhan
26 Wanita Tidak Tahu Malu
27 Bersaudara
28 Perasaan Aneh
29 Dituduh
30 Kebenaran
31 Pelaku Yang Sebenarnya
32 Meminta Maaf
33 Memanjakan
34 Penangkapan
35 Kantor Polisi
36 Ibu Yang Kejam
37 Dituduh Pelakor
38 Bertemu Kembali
39 Bundanya Anak-anak
40 Rasa Sakit Seorang Anak
41 Tiba-tiba Di Lamar
42 Mulai Menyesal
43 Tampak Lebih Bahagia
44 Mempermalukan Diri Sendiri
45 Meluruskan Kesalahpahaman
46 Tes DNA
47 Tentang Sifa
48 Keributan
49 Disegerakan
50 Niat Yang Baik
51 Hukum Tabur Tuai
52 Akad Nikah
53 Makna Rumah Sesungguhnya
54 Terasa Seperti Mimpi
55 Persaingan Ayah dan Anak
56 Fitnah
57 Hamil
58 Dia Istriku
59 Hancur Yang Sesungguhnya
60 Kebenaran Yang Menyakitkan
61 Cerita Kelam Di Masa Lalu
62 Roda Kehidupan Yang Berputar
63 Ingin Muntah
64 Mantan Istri
65 Penjelasan
66 Ini Karma
67 Mengadu Pada Ayah
68 Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69 Akhir Dari Wanita Penggoda (2)
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Perselingkuhan
2
Kecurigaan
3
Pernikahan Kedua Suamiku
4
Memilih Jadi Janda
5
Memulai Hidup Baru
6
Resmi Bercerai
7
Ditolak
8
Sampah
9
Pertemuan Pertama
10
Menyetujui
11
Bunda Adel
12
Kunjungan
13
Posesif
14
Bertemu Kembali
15
Berdiri Tegak
16
Nasehat
17
Salah Paham
18
Penyesalan Seorang Ayah
19
Memperbaiki
20
Salah Paham (2)
21
Perjodohan
22
Anak Panti
23
Mencoba Mendekati
24
Menghindar
25
Panti Asuhan
26
Wanita Tidak Tahu Malu
27
Bersaudara
28
Perasaan Aneh
29
Dituduh
30
Kebenaran
31
Pelaku Yang Sebenarnya
32
Meminta Maaf
33
Memanjakan
34
Penangkapan
35
Kantor Polisi
36
Ibu Yang Kejam
37
Dituduh Pelakor
38
Bertemu Kembali
39
Bundanya Anak-anak
40
Rasa Sakit Seorang Anak
41
Tiba-tiba Di Lamar
42
Mulai Menyesal
43
Tampak Lebih Bahagia
44
Mempermalukan Diri Sendiri
45
Meluruskan Kesalahpahaman
46
Tes DNA
47
Tentang Sifa
48
Keributan
49
Disegerakan
50
Niat Yang Baik
51
Hukum Tabur Tuai
52
Akad Nikah
53
Makna Rumah Sesungguhnya
54
Terasa Seperti Mimpi
55
Persaingan Ayah dan Anak
56
Fitnah
57
Hamil
58
Dia Istriku
59
Hancur Yang Sesungguhnya
60
Kebenaran Yang Menyakitkan
61
Cerita Kelam Di Masa Lalu
62
Roda Kehidupan Yang Berputar
63
Ingin Muntah
64
Mantan Istri
65
Penjelasan
66
Ini Karma
67
Mengadu Pada Ayah
68
Akhir Dari Wanita Penggoda (1)
69
Akhir Dari Wanita Penggoda (2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!